
Daren menepuk-nepuk pundak Hugo, dia tengah mendengar cerita temannya yang pagi-pagi sudah menderita karena perasaannya yang setiap hari gundah akibat cinta tak terbalas.
Padahal, siapapun yang ia dekati selalu saja mau tanpa ada yang menolak sekalipun.
Berhadapan dengan Richi, hatinya amat lemah. Baru mendengar ucapan cinta dari orang lain untuk gadis itu, dia sudah menyerah.
"Kau kan, belum tahu jawabannya.."
"Aku sudah duga. Karena wajahnya ituuu". Ucap Hugo dengan nada meninggi.
"Kau tahu, dia membawaku ke tempat yang dia dan Emerald jalani lebih dulu."
Daren tampak diam, dia yakin Richi punya perasaan pada Hugo. Anehnya lelaki ini malah kalah dengan perasannya sendiri.
"Sulit, ya?" Tanya Daren.
"Sangat sulit. Kau saja yang tidak pernah merasakan!"
"Siapa bilang? Setiap hari aku merasakannya."
Hugo mengerutkan alisnya lalu menatap Daren.
"Kau hanya belum mendengar jawaban langsung dari Richi secara jelas tapi sudah mengambil kesimpulan ini dan itu. Kau tahu aku menyukai Camilla tapi kau memacarinya. Lalu apa kau memikirkan bagaimana perasaanku melihat Camilla bersamamu setiap hari?"
Hugo terdiam, dia tidak memikirkan hal itu.
"Aku masih berjuang dengan perasaanku padanya walau lidahnya selalu menyebut namamu. Karena aku yakin dengan perjuanganku." Ucap Daren dengan tersenyum kecut.
"Maafkan aku.."
Daren tertawa renyah. "Richi memang hebat, dia bahkan bisa membuatmu meminta maaf." Ledek Daren pada Hugo yang terlihat amat lesu.
"Haah.. Kau yang dianggap sang penakluk para gadis, ternyata tidak bisa menaklukkan satu gadis saja."
Axel dan Isac turun dari mobil, mereka langsung menemui Hugo dan Daren yang masih mengobrol di parkiran motor mereka.
"Ada apa, kenapa Hugo terlihat sedih?" Tanya Isac penasaran.
"Dia galau.." Ejek Daren.
"Ah, yang benar, Hugo?" Tawa Axel yang tak menyangka Hugo bisa galau.
Mereka lalu bersenda gurau. Tak lama, seseorang dengan motor sport berwarna merah mendekat.
Mereka mengerutkan alis sebab yang menaikinya adalah seorang gadis jika dilihat dari roknya. Dia memakai helm berwarna hitam yang Hugo kenali sebagai kepunyaan Richi.
"Motor siapa itu? Keren sekali.." Kata Axel.
"Benar, aku jadi menginginkannya". Balas Isac.
Richi berhenti tak jauh dari mereka berkumpul. Dia membuka helm dan beberapa pasang mata terkejut melihat penampilannya yang berbeda.
Hugo mengerutkan alis. Richi berjalan saja dan menghiraukan orang-orang yang menatapnya dengan terkaget-kaget.
"Richi, kau rambut baru?" Sapa Axel pada Richi yang berjalan melewatinya.
Richi hanya mengangkat dagu dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Padahal rambutmu bagus, kenapa kau potong?" Tanya Axel lagi.
Richi berhenti, dia tersenyum lalu melirik Hugo. "Sebab seseorang yang aku benci menyukai rambutku." Tukasnya lalu melanjutkan jalannya.
"Ah.. sayang sekali. Padahal rambutnya sangat bagus." Ujar Isac sambil melihat rambut Richi yang hanya sebahu itu mulai menjauh.
"Yang dibenci?" Daren melirik Hugo.
"Siapa? Hugo maksudmu?" Tanya Axel penasaran.
Hugo menatap sendu ke arah gadis itu berjalan. 'Dia.. memotong pendek rambutnya, karena aku?' Tanyanya dengan wajah semakin melemas.
~
Siswa-siswi saling berbisik melihat Richi yang berjalan dengan santai sambil mengenyah permen karet di mulutnya. Gadis itu jalan saja walau sangat sadar banyak mata memandangnya dengan terheran-heran.
Padahal baru saja kemarin siswa memujinya dan siswi merasa iri dengan rambut indahnya, lalu hari ini dia muncul dengan rambut yang tergerai di bahunya.
"Rel?" Bella langsung berlari menghampiri Richi. "Ada apa dengan rambutmu? Astaga, kau sedang buang sial?"
Richi menatapnya dengan heran. "Kau bicara apa? Minggir!"
"Sebentar, sebentar." Bella mengelilingi Richi, melihati rambut gadis itu.
"Rel, are you kidding me? Rambutmu..." ucapnya dengan wajah sedih.
Richi berjalan saja, memasuki kelasnya dan tak menghiraukan Bella yang mengikutinya dari belakang.
Richi duduk dan meletakkan tasnya di atas meja, mengeluarkan beberapa cemilan dan mulai mengunyah keripik kentangnya.
Bella menarik kursi dan duduk disebelahnya.
Richi tak menjawab, dia terus mengunyah.
"Kalau Hugo bagaimana? Dia tampan kan..." Ucapnya sambil menyentuh kedua pipinya yang memerah, sementara Richi menghentikan kunyahannya.
"Aku beruntung bisa satu kelas dengannya."
"Ya, yang penting kau cantik, anggun dan rambutmu panjang, dia pasti melirikmu" sambung Richi.
"Benarkah?" Ucapnya kegirangan sambil memegang rambutnya. "Eh tapi, kau tahu dari mana? Biasanya tidak pernah peduli pada siapapun." Ucapnya dan hanya mendapat suara pecahan kripik dari mulut Richi yang sengaja ia kunyah dengan kasar.
...🐳...
Richi duduk di salah satu kafe yang tak jauh dari sekolah Palmy. Hari ini dia melonggarkan waktunya untuk melihat seseorang yang ia tidak sukai.
Dia sengaja memilih meja yang berada di teras kafe supaya lebih leluasa. Kafe itu di dilewati para siswa-siswi Palmy dan sesuai yang ia harapkan, seseorang menemuinya dengan senyum lebar.
"Hai, Richi Wiley."
Harry berdiri dengan kacamatanya. Dia tampak membosankan dimata Richi.
"Ah, kau rupanya." Ucap Richi sambil berdiri.
"Sedang apa disekitar sini?"
"Aku dengar kafe ini menyediakan makanan Eropa, aku hanya mampir karena ingin makan disini." Ucap Richi dengan tersenyum ramah.
__ADS_1
"Aku boleh duduk?"
"Tentu."
Harry duduk berhadapan dengan Richi.
"Kau sudah pesan makanan?" Tanya Harry lalu tangannya bersiap memanggil pelayan.
"Belum".
Pelayan datang, lalu mereka memesan makanan. Harry merekomendasikan makanan yang menurutnya enak.
"Kau memotong rambutmu, ya?"
"Ah.." Richi menyentuh rambutnya. "Aku hanya mencoba model baru. Apakah jelek?" Tanya Richi.
"Tidak, kau sangat cantik. Seperti apapun akan tetap cantik." Ucapnya dengan penuh ketertarikan yang membuat Richi ingin muntah.
Richi mendengarkan ocehan Harry yang menurutnya tidak penting. Lelaki itu bercerita panjang lebar tentang dirinya dan prestasi yang Richi bahkan tidak ingin tahu.
Yang membuat satu-satunya menarik perhatian Richi adalah Harry yang naik helikopter malam itu.
Lelaki itu, benarkah dia ketua Stripe yang misterius?
Richi memainkan rambutnya sambil menatap Harry yang tengah mengoceh hingga membuat lelaki itu salah tingkah.
"Ada apa? Kau menatapku begitu, apa ada yang salah?" Harry melihat baju dan menata rambutnya.
"Tidak. Aku hanya berpikir kenapa banyak yang mengidolakanmu, ternyata kau lumayan tampan juga".
Pipi Harry memerah. Dia tampak salah tingkah.
"Kau bisa beladiri? Ada nilai plus untuk itu. Karena dia pasti mampu menjaga pacarnya."
Harry mendongakkan badannya mendekat ke Richi, dia sedikit berbisik. "Aku jago menghajar dan mematahkan tulang orang". Ucapnya dengan senyum yang terlihat menyeramkan.
"Awsome!" Balas Richi tanpa ekspresi, dan Harry tertawa renyah.
Harry menyerahkan sebuah kartu padanya.
"Ini, datanglah ke restoranku. Jika kau membawa itu, makanan apapun akan menjadi gratis dan nomorku ada disitu."
"Nomormu? Apa aku boleh menghubunginya?"
Harry menatap Richi tanpa berkedip, "Aku menantikannya."
Richi tersenyum lalu berdiri dari tempatnya.
"Baiklah, aku permisi."
"Tunggu, makanannya belum datang". Ujar Harry sambari berdiri dari tempatnya.
"Aku sudah mendapatkan apa yang kumau." Ucap Richi sambil menunjuk kartu ditangannya, lalu melangkah pergi.
Richi memutar bola matanya, berhadapan dengan Harry saja sudah membuatnya mual.
Sementara itu, Harry merekahkan senyuman lalu duduk lagi ditempatnya. "Tak kusangka, Richi Wiley ternyata sangat menyukaiku". Gumamnya dengan senyum cerahnya.
__ADS_1
TBC