Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Boneka Beruang


__ADS_3

"Kita break saja, Hugo." Bukan penjelasan, namun malah itu yang keluar dari mulut Richi.


"A-apa?


Richi merasa lelah. Ketakutan yang dia alami benar-benar menguras tenaganya. Ditambah kehadiran Hugo malah membuatnya semakin kesal.


"Chi, tunggu. Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin kau katakan padaku dengan jujur. Itu saja."


"Aku sedang tak ingin bicara, Hugo. Nanti saja bicaranya." Richi berdiri dari tempatnya. Dia ingin istirahat supaya punya tenaga. Untuk masalah hacker sialan itu, Richi sudah mempercayakan kakaknya.


"Kau tidak bisa melakukan ini, Richi. Katakan padaku, Kenapa mau break?"


Richi berjalan saja tanpa ingin bicara. Namun langkahnya terhenti, Hugo menahan lengannya. "Katakan sesuatu, Chi. Aku tidak bisa terima."


"Hugo.."


"Apa karena laki-laki itu? Hah?"


"Aku lelah, Hugo. Pergilah." Richi melepaskan tangannya dari Hugo dan masuk ke kamar kakaknya.


Hugo masih berdiri di tempatnya. Dia memang melihat Richi tak seperti biasa. Gadis itu juga tampak pucat. Tapi, kenapa Richi malah meminta berhenti? Padahal dia sudah bilang akan berhenti melatih dua kembar itu. Tapi jika laki-laki itu alasannya, Hugo benar-benar tidak bisa menerimanya.


Richi masuk ke dalam kamar kakaknya. Rasanya dia ingin tertidur karena tadi malam ia gelisah dan tidak benar-benar terlelap.


Tetapi dia mengurungkan niat. Richi memilih untuk membuka laptop Ricky dan mengakses internet untuk mencoba menenangkan perasannya melalui video-video tentang menghadapi trauma kamera mata-mata seperti yang dia alami. Tentu Richi tak mau mentalnya terus jatuh karena hal semacam ini.


Sementara Hugo, dia masih memikirkan Richi di dalam mobilnya. Rasanya belum terima dengan apa yang Richi katakan tadi. Apa Richi semarah itu sampai minta break?


Hugo merogoh ponsel saat terdengar deringnya. Itu Clair, dia yang menelepon.


'Hugo, kau dimana?'


"Kenapa?" Tanyanya dengan malas.


'Begini, aku tengah sibuk. Bisa tidak kau antarkan kartu dan memori card Richi?'


"Kenapa bisa ada padamu?"


'Kemarin Richi menghancurkan ponselnya. Jadi, aku mengutip kartunya. Dia lupa saking syoknya.'


"Tunggu. Kenapa dia menghancurkan ponselnya??"


'Karena ponselnya diretas Dachi Moon. Itu sebabnya hacker brengsek itu bisa tahu semua foto-foto bahkan menyelipkan kamera tersembunyi di kamar Richi.' Jelas Clair diseberang.

__ADS_1


"A-apa kau bilang?"


'Lah, Kau tidak tahu, ya? Astaga, kemana saja kau? Sialan, kau terlalu banyak bermain dengan tiga kembar sialan itu, ya!' Berang Clair dari sana sementara Hugo langsung menepikan mobil.


"Clair, bisa kau jelaskan padaku secara rinci???"


'Tidak! Kau tidak perlu tahu karena Komander yang akan turun tangan.'


Clair menutup teleponnya. Hugo pula langsung memutar mobilnya menuju ke tempat dimana Clair berada.


~


"Apa kata Komander?" Tanya Bella pada Clair.


"Menunggu. Karena kak Jo juga masih menyelidiki." Jawabnya.


"Hebat si Dachi Moon. Aku saja sampai kewalahan." Puji Olivia. "Aron juga lagi berusaha di rumahnya. Nanti dia akan beritahu kalau ada kemajuan."


TRING!


"Benar-benar datang tuh." Bella melirik ke arah Hugo yang berlari kecil ke arah meja mereka.


"Sesibuk apa sih, sampai kasus pacar sendiri tidak tahu." Tukas Clair tanpa beralih dari ponselnya.


Hugo duduk. Dia tahu, rasanya memalukan bertanya pada teman-teman Richi. Tapi gadis itu pula sudah tidak ingin bertemu dengannya. Hal itu saja sudah membuatnya kalut setengah mati.


Bella dan yang lain saling pandang. Mereka bisa melihat wajah kusut Hugo sejak tadi dan tentu saja mereka tahu hubungan Richi dan Hugo sedang tidak baik-baik saja.


"Damian Moon. Kau kenal?" Tanya Bella.


Hugo menggelengkan kepala. "Siapa dia?"


"Dia siswa Oberon kelas 2-6. Dia juga peretas yang mengupload semua foto-foto Richi. Dia juga meletakkan kamera tersembunyi di kamar Richi pada boneka yang dia berikan saat Oberon's day. Dia pun selalu memantau Richi melalui cctv rumahnya selama 6 bulan."


"A-apa.." Hugo menganga. Apa yang dikatakan Olivia terdengar tak masuk akal. Tapi itu cukup mengerikan.


"Kau tahu kan, apa yang Richi rasakan saat ini. Dia sangat syok bahkan tidak tidur di kamarnya sendiri." Sambung Clair.


Hugo mengepalkan tangannya dengan kuat. Rasanya ingin menghajar orang itu dengan tangannya sendiri.


"Dimana alamat lelaki sialan itu?" Tanya Hugo dengan berang.


"Kami sudah kesana tadi. Ibunya bilang dia kerja part time dan memberitahu lokasi kerjanya. Tapi dia tidak benar-benar kerja disana. Aku rasa dia menipu ibunya." Kata Bella.

__ADS_1


"Dia pasti mempunyai ruang pribadi. Itu yang kami tengah cari. Aku akan menghubungimu jika sudah ketemu." Lanjut Clair pada Hugo.


Wajah lelaki itu menunduk. Dia merasa bersalah pada Richi karena sudah langsung meledak begitu saja. Padahal gadis itu tadi menyuruhnya untuk duduk dahulu.


"Kau kenapa?" Tanya Clair.


"Richi memutuskan untuk break dulu." Katanya dengan nada yang pelan.


"Break? Kenapa?" Tanya Olivia.


"Apa lagi, jelas karena si Hugo ini malah sibuk mengurusi masalah orang sementara pada Richi, dia tidak peduli." Sahut Bella.


"Kau tahu, Richi punya masa lalu yang kelam. Hal seperti ini pasti membuat jiwanya terguncang. Kau tunggulah sampai hatinya lebih tenang." Ucap Clair memberi saran.


"Kalau aku jadi Richi, bukan cuma break. Aku bahkan akan memutuskanmu dan cari yang baru." Celetuk Olivia tanpa beralih dari laptopnya.


Hugo merasa dipojokkan oleh teman-teman Richi. Dia memilih pergi dan meminta Clair melaporkan padanya apapun yang terjadi nanti.


...🦇...


Damian memutar-mutar kursi, merasa suntuk sebab Richi tak kelihatan di sudut manapun. Dia menuju kulkas mini, mengambil satu botol minuman soda sembari menunggu gadis kesukaannya muncul.


Damian langsung duduk saat melihat Richi keluar dari kamar kakaknya. Dia mengikuti gadis itu melalai cctv, memantaunya yang kemudian masuk ke dalam kamarnya sendiri. Spontan Damian kegirangan, karena dia bisa melihat Richi dari kamera yang ia sisipkan di dalam sebuah boneka yang tak hanya gambar, tapi juga bisa mendengar suara Richi dari kamera itu.


Damian membesarkan layar bagian Richi yang menutup pintu kamar. Gadis itu membuka kaos lengan panjangnya, membuat mata Damian melebar dan tertawa riang melihat gadis kesukaannya hanya memakai tanktop hitam.


Wajah Richi tampak semakin dekat karena gadis itu berdiri tepat didekat dimana boneka itu berada. Richi membuka lemarinya, diam disana untuk berpikir baju mana yang akan dia pakai.


"Ah, perempuanku ini memang seksi sekali." Ucapnya. Dia menggeser tempat duduknya supaya bisa melihat Richi lebih dekat.


Tapi, Damian dikejutkan dengan aksi tiba-tiba Richi. Gadis itu melirik ke atas, dimana arah kamera itu berada.


"Ke-kenapa dia melihatku begitu?" Damian sampai mengangkat kakinya ke atas kursi, menekuk karena takut dengan tatapan itu.


Richi mengeluarkan pisau dari belakang tubuhnya, memutar-mutarkan pisau di jari, lalu mengarahkan mata pisau ke arah kamera dengan wajah yang tak biasa. Tentu hal itu membuat Damian merasa agak takut.


Lama Richi menatap, sampai dia meraih boneka beruang coklat yang sudah berdiri disana selama sebulan.


"A-apa yang dia lakukan pada bonekaku..."


Wajah Richi terlihat amat dekat di layar, membuat Damian semakin berdebar dengan tatapan Richi yang persis mengarah ke kamera.


"Haaakkk!!" Damian terkejut dan langsung menutup wajah saat Richi menancapkan mata pisaunya ke kepala boneka yang seolah-olah terlihat seperti mengarahkan pisau kepadanya. Layar itu bergoyang dan berisik sebab Richi mengoyak-koyak boneka di tangannya. Dia berhasil mengeluarkan kamera itu dari kepala boneka beruang.

__ADS_1


'Kau menungguku, Damian?' Ucap Richi di depan kamera dengan senyum miringnya.


TBC


__ADS_2