
"Kau.." Aron menunjuk Richi. Entah kenapa penampilan lelaki itu tampak agak berantakan.
"Eh, kau kenal dengan Darrel? Sejak kapan?" Tanya Olivia.
"Apa? Siapa?"
"Darrel, teman yang sering aku ceritakan padamu." Tukas Olivia dan membuat mata Aron membulat. Pantas saja dia merasa pernah mendengar nama itu walau berulang kali berpikir pun ia tak bisa mengingatnya.
"Ooh, jadi kau yang katanya perempuan cantik dan hebat itu?" Tanya Aron. Kedua tangannya sudah berkacak di pinggang, menatap Richi dengan kesal.
"Ada apa denganmu, Aron?" Tanya Olivia heran, kenapa Aron malah marah-marah pada Richi.
"Orang yang selalu kau puja-puji itu, tidak tahu sopan santun. Padahal aku baru makan tiga suap tapi dia malah kabur meninggalkanku di kedai eskrim."
"Haah?" Seluruh mata menuju pada Richi. Mereka tengah bertanya-tanya apa yang terjadi diantara Richi dan Aron.
"Eee.. a-aku tadi ada urusan." Elak Richi.
"Lalu, apa perbuatanmu itu benar? Kau meninggalkanku seorang diri tanpa membayar eskrim itu. Padahal aku sengaja pilih yang mahal karena kau traktir. Tapi gara-gara kau, motorku harus kutinggal untuk jaminan pada penjual eskrim. Itu sebabnya aku datang dalam keadaan kacau!"
Richi merapatkan bibirnya demi menahan tawa. Jadi, dia tidak bisa membayar eskrim itu? Richi terkikik dalam hatinya.
"Kau kenapa mendadak miskin??" Tukas Olivia.
"Aku tidak bawa uang cash dan dompetku ketinggalan!"
Olivia malah terkekeh. "Tapi, kau tidak disuruh cuci piring, kan? Hahaha."
Wajah Aron kesal menatap Richi. Tapi gadis itu hanya senyam-senyum pada Aron. "Maaf, lain kali aku traktir. Aku serius."
Tangan Aron mengulurkan ponselnya, membuat Richi mengerutkan dahi.
"Nomormu. Sebagai jaminan kalau kau takkan kabur lagi."
Richi yang merasa serius dengan janjinya, langsung mengetikkan nomornya di ponsel Aron, membuat lelaki itu menahan senyum.
"Nah, nomor yang baru masuk, jangan lupa disimpan." Kata Aron menunjukkan layar ponsel yang memanggil Richi.
"Aron, kau mau makan apa? Aku traktir. Cepat duduk sini." Olivia menarik kursi untuk Aron.
"Selera makanku sudah hilang." Jawabnya sembari melirik Richi.
"Yakin? Biasanya suka gratisan." Sahut Olivia lagi. "Eh, perkenalkan dulu dong. Ini Bella, lalu yang itu Clair."
Aron mengulurkan tangan dan disambut oleh Bella dan Clair.
"Oh, kau yang di lampu merah." Katanya pada Bella, membuat mata gadis itu berbinar. Ternyata, lelaki tampan yang sejak tadi ia lirik mengingatnya.
"Ah, benar. Ternyata kau mengingatku."
"Tentu. Perempuan yang bisa bawa motor itu keren. Bukan yang nebeng saja dibelakang." Katanya lagi melirik Richi. Namun gadis itu tampak cuek tak merasa disindir.
__ADS_1
"Oh, hehe. Terima kasih." Ucap Bella malu-malu.
"Kalian udah pernah bertemu, ya?" Tanya Olivia.
"Ya. Tidak sengaja bertemu di lampu merah. Iya kan, Rel?"
Richi hanya mengangguk-angguk tanpa beralih ke ponselnya.
"Gas, Bells." Bisik Clair dan mendapat sikut dari Bella.
"Aron, aku sudah ceritakan padamu tentang hacker itu, kan? Sekarang, ini ponselnya. Aku gagal membukanya. Sialnya, aku malah menyambungkan ponsel ini ke laptopku hingga dia terus-terusan mengirimiku virus."
Aron mengambil ponsel itu, lalu mencoba melakukan boot untuk membuka kunci dengan paksa. Beberapa menit berlalu, ponsel itu berhasil dibuka.
"Wuaah. Tak sia-sia aku jadi pacarmu." Olivia mengacak-acak rambut Aron.
"A-apa??" Bella dan yang lain melongo. Olivia punya pacar?
"Bukan begitu. Kemarin aku menjadi pacar pura-puranya. Jadi sekarang dia tengah balas budi." Jelas Olivia dan mendapat anggukan dari Bella.
Olivia pun memeriksa ponsel itu, disaksikan Bella dan Clair. Aron tengah memulihkan laptop Olivia yang terkena serangan virus.
Richi, dia menatap layar ponsel. Menonton rekaman lima menit yang dimulai dari Aron menabrak siswa Apollo sampai ia menyelesaikan pertarungannya. Komentar pun sudah mencapai ratusan yang diisi oleh pendukung maupun pembenci.
'Itu Aron Hamlet, bukan?'
'Richi, lagi-lagi kau bersama lelaki keren!'
'Ya ampuuun kak Hamlet!! Kereen!'
'Pinter banget cari lelaki ya, Richi.'
'Apollo memang👎'
'Lelaki idaman, melindungi bangeet👍'
'Tolong ya, Richi Darrel! Kalau sudah bosan dengan Hugo, cepat lepaskan!'
'Aku sejak awal minder dengan Richi. Menyapa pun tidak berani.'
'Apollo mau menyerang Richi lagi?? Tidak tahu malu.'
Itu baru di video. Richi membuka komentar di foto saat dirinya dan Aron duduk di kedai eskrim.
'Selingkuh?'
'Aku penasaran dengan anonim yang selalu mengintai Richi.'
'Paparazzi.'
'Wah, aku penasaran dengan reaksi Hugo saat melihat ini.'
__ADS_1
'Richi proplayer.'
'Aron Hamlet, ganteng bangett!!'
"Darrel, Lihat!!" Olivia berteriak, membuat Richi seketika berdiri dan mendekat ke arahnya.
"Gilaaaaa. Aku merinding!" Kata Clair memegangi kedua bahunya.
Richi tak bisa berkata-kata. Karena di ponsel itu benar-benar tersimpan ribuan foto dan video tentang dirinya.
"Rel, kebanyakan foto-foto itu diambil saat di sekolah. Aku yakin dia benar-benar siswa Oberon." Ujar Bella.
"Lihat, ini fotomu saat kecil. Dia juga memilikinya." Tukas Olivia.
"Astaga, sesuka apa dia padamu sampai seperti ini??" Clair benar-benar dibuat merinding.
"Lihatlah, ini video cctv di rumahmu. Saat kau berenang. Dia bahkan memperbesar ukuran videonya!" Olivia lalu menutup ponsel itu. Dia ikut merinding, sementara Richi mematung di tempatnya. Dia tidak pernah bayangkan ada orang semenjijikan itu sampai masuk ke dalam cctv di rumahnya.
"Berikan padaku ponsel itu. Malam ini juga aku akan menemukan pemiliknya." Kata Aron pada Olivia.
Gadis itu dengan cepat menyerahkan ponsel dengan kasar karena merasa jijik. Tak pernah ia melihat ada orang seperti itu selama hidupnya.
Aron memeriksa ponsel itu, lalu matanya mengarah pada Richi. "Dimana kau meletakkan foto-foto lamamu?" Tanya lelaki itu.
Richi merogoh ponselnya. "Disini."
"Berikan padaku."
Richi menyerahkan ponselnya, lalu entah apa yang dilakukan Aron sampai ia meletakkan saja ponsel Richi di atas meja.
"Ponselmu diretas."
"A-apa?"
"Yang benar, kok bisa?" Pekik Olivia dan yang lain ikut terperangah.
"Coba kau pikir-pikir. Siapa orang yang meminjam ponselmu, pernah tertukar atau semacamnya?" Tanya Aron pada Richi yang mencoba berpikir. Namun ia tak menemukan jawaban. Rasanya semua itu tak pernah terjadi.
"Kalau terjatuh?"
"Terjatuh? Tidak. Ponselku tidak.." Richi langsung membulatkan mata saat di pikirannya terputar ulang dimana ia tak sengaja tersenggol seorang laki-laki dan dia bilang, ponsel Richi terjatuh. Padahal saat itu Richi yakin dia meninggalkan ponsel di dalam loker.
"Rel?" Clair mencoba menyadarkan Richi yang terbengong.
"Dachi Moon, aku pernah bertemu dengannya." Tukas Richi tiba-tiba.
"Yang benar? Dimana, Rel??" Tanya yang lain mulai merasa ada lampu kuning.
"A-ku tidak terlalu memperhatikan wajahnya. Tapi dia menyerahkan ponsel yang aku yakin tidak membawanya. Entah bagaimana ponselku berada di tangannya."
"Astaga. Benar-benar orang gila!"
__ADS_1
"Dachi. Di ruas ibu jari kanannya, dia memiliki tato bertuliskan Dachi. Aku ingat karena sempat lihat saat dia menyerahkan ponsel itu padaku." Jelas Richi lagi dengan tangan yang sedikit bergetar. Rasanya seperti berhadapan dengan pembunuh kelas kakap.
"Aku akan mengirimkan foto dan alamatnya. Besok, kalian bisa menangkap orang itu." Kata Aron sambil berdiri. "Darrel, aku akan membantumu menangkap sialan ini." Tukasnya pada Richi yang sudah menutup wajahnya dengan tangan, merasa sangat takut pada Dachi Moon yang terlalu mengerikan baginya.