
Hugo terburu-buru masuk ke dalam kelas. Seharusnya dia sudah ada di kelas sejak sepuluh menit yang lalu. Tapi, karena banyaknya yang meminta foto, mau tak mau ia melayaninya.
Hugo mengetuk pintu, semua mata tertuju padanya. Dia tersenyum canggung pada seorang lelaki tua yang memimpin di depan.
"Bukankah dia Hugo Erhard?"
"Aku melihatnya di majalah."
"Wah, tidak kusangka aku satu kelas dengan model terkenal."
Bisik-bisik mulai terdengar. Hugo masih membeku menatap dosen di depannya.
Dosen itu melirik jam di tangannya. "Baru hari pertama, kau sudah terlambat sebelas menit. Hari ini kumaafkan. Tapi sekali lagi terlambat, jangan coba-coba masuk." Dengan tegas pria tua itu mempersilakan Hugo masuk.
"Terima kasih, pak." Hugo berjalan menuju deretan bangku yang sudah diisi oleh beberapa orang. Lalu matanya terhenti pada seorang perempuan yang juga menatapnya dengan menganga.
"Hei, kau disini juga." Bisik Hugo lalu duduk disebelahnya.
Dosen memulai lagi pembahasannya, dia memperkenalkan mata pelajaran apa yang akan ia bawa.
"Dimana Eline?" Hugo melihat kesana kemari, tapi tak ada kembaran gadis itu di ruangan.
"Diamlah, aku tengah fokus." Jawab Erine sambil menatap ke depan.
~
Dihari pertama kuliah, nampaknya semua berjalan dengan santai. Tidak ada pembelajaran, hanya perkenalan antar mahasiswa dan dosen.
Richi juga demikian, banyak sekali laki-laki yang mengulurkan tangan untuk berkenalan baik dari yang seangkatannya, maupun senior yang merasa beruntung dengan kelas itu, sebab ada perempuan cantik di kelas mereka.
Sebenarnya, bukan Richi satu-satunya perempuan di kelas. Ada dua orang lagi. Namun mereka seakan tenggelam karena laki-laki disana hanya memandang Richi.
"Kau dipaksa masuk kesini, ya?" Tanya seorang lelaki pada Richi yang berjalan keluar kelas, diikuti beberapa yang masih ingin mengenal Richi.
"Tidak. Ini kemauanku." Jawab gadis itu dengan senyuman manisnya.
"Serius? Kau tidak takut kulitmu rusak atau berkeringat? Ini olahraga, lho." Tanya yang lain.
"Ahaha. Tidak."
"Kupikir kau salah jurusan. Seharusnya kau ini ada di jurusan fashion."
"Haha, tidak. Aku tidak suka fashion." Jawab Richi dengan tawa kecilnya.
__ADS_1
"Kau dari sekolah mana?"
"Oberon."
"Oooo." Serentak mereka semua.
"Kudengar Oberon memang surganya gadis cantik." Celetuk yang lain.
"Apa kau punya pacar?"
"Ahaha. Apa menurutmu aku punya?" Richi melempar pertanyaan balik.
"Aku rasa tidak."
"Richi, Kalau kau mengalami kesulitan, katakan saja padaku."
"Benar. Kami akan menolongmu."
"Wah. Haha. Terima kasih, banyak." Richi mengobrol sambil berjalan dengan beberapa siswa lain. Tentu kejadian itu ditangkap oleh dua mahasiswi yang duduk tak jauh dari mereka.
Dua mahasiswi itu juga berasal dari kelas yang sama dengan Richi. Tapi mereka terlihat tak suka, sebab di mata mereka, Richi hanya berdandan dan masuk ke kelas olahraga hanya untuk menggaet laki-laki.
"Kau lihat, perempuan centil seperti itu memang selalu diagung-agungkan."
"Apa dia pikir ini jurusan fashion? Lihat, pakai rok mini dan sepatu hak tinggi ke kelas olahraga."
Perempuan itu tersenyum miring. "Mari taruhan, aku yakin dia hanya bertahan satu bulan."
"Satu bulan terlalu lama. Satu minggu."
Mereka berdua tertawa bersama. Bagi mereka, perempuan seperti Richi hanya untuk menarik perhatian, bukan benar-benar belajar.
"Aku bertaruh, dia akan bertahan sampai akhir."
Mendengar itu, kedua perempuan tadi menoleh kebelakang. Ternyata ada seorang laki-laki duduk tak jauh dari tempat duduk mereka.
"Haaii, kau juga penggemarnya?" Cibir perempuan itu.
"Kenapa kau tidak bergabung dengan gerombolan laki-laki?" Tanya yang lain.
Lelaki itu tertawa pelan. "Aku hanya tidak suka saat kau meremehkan seseorang."
"Meremehkan? Hei, aku sudah berulang kali melihat perempuan sepertinya. Pura-pura ikut olahraga hanya untuk menggaet gebetannya. Lalu setelah tujuannya didapat...." perempuan itu menggoyangkan lima jarinya di dekat leher. "Dia out!" Sambungnya.
__ADS_1
"Well, lihat saja nanti." Kata perempuan yang lain. "Apa kau mahasiswa baru juga? Aku Sarah." Perempuan berambut pendek sebahu itu mengulurkan tangan.
"Evan." Dia menyambut tangan perempuan itu.
"Dan.. ini Joy." Sarah memperkenalkan Joy. Perempuan dengan rambut yang lebih pendek dan berpenampilan seperti laki-laki itu mengulurkan tangan.
"Kalian sudah berteman lama?" Tanya Evan.
"Oh, tidak. Kami juga baru bertemu disini."
"Seharusnya kalian menambah satu lagi. Perempuan itu." Evan menunjuk Richi yang sudah sampai di mobilnya dan melambaikan tangan pada kerumunan laki-laki yang sejak tadi mengikutinya.
"Ah, untuk apa? Toh, sebentar lagi dia akan pergi." Ucapan Sarah disambut tawa Joy.
"Yah, baiklah kalau begitu. See you tomorrow." Evan berlalu, sementara Joy menyenggol lengan Sarah yang masih menatap kepergian Evan.
"Mengakulah, kau menyukainya, kan?"
"Yaaa, tampan juga." Jawabnya kemudian cekikikan bersama Joy.
...🦋...
"Haaahhh." Richi menghela napas. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil. Hari pertama begitu melelahkan. Apalagi para lelaki itu terus saja mengikutinya.
Richi meraih ponselnya. Banyak panggilan dan pesan dari Hugo yang dia abaikan. Senyum miring muncul disudut bibirnya. Pasti Hugo akan marah, karena dia sudah berani tidak menepati janji di hari pertama berkuliah.
Richi menjalankan mobil. Dia ingin ke kafe Clair sebelum terlalu siang dan terik. Hari ini, dia akan latihan dengan tim Fox karena belakangan Valiant mengalami beberapa masalah. Salah satunya, banyak kelompok yang mengaku menjadi mereka, hingga melakukan kejahatan dimana-mana. Persis dengan kejadian Stripe dulu. Apalagi, ada yang mengaku sebagai Keen dan Darrel. Entah siapa itu.
Namun saat mobil dalam kecepatan sedang, dan Richi setengah melamun, dia harus menginjak rem cukup dalam karena seorang anak tiba-tiba berlari ke tengah jalan.
Dia terkesiap. Memegang jantung yang berdegub kencang karena hampir saja ia menabrak bocah laki-laki yang terjatuh di depan mobilnya.
Saat akan keluar, seseorang dengan jeket hoodie di kepalanya, juga masker hitam mengangkat anak itu dengan kasar. Sekilas Richi bisa melihat wajah bocah laki-laki itu dengan luka di beberapa bagian. Tentu hal itu membuat Richi keluar dari mobilnya.
Namun, orang itu dengan cepat menarik sang anak untuk ikut dengannya. Richi hanya diam, dia menatap kepergian anak yang tampak ketakutan. Dia ingin membantu, tapi, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Bukankah itu orang tuanya? Tapi, jika itu orang tuanya, kenapa wajah anak itu ketakutan dan seperti memberontak kecil tak ingin ikut dengan orang itu?
Tanpa Richi sadari, Hugo turun dari motornya. Dengan wajah jengkel laki-laki itu berdiri di depan Richi.
"Dari mana saja??"
Richi mengalihkan pandang ke arah Hugo sebentar, lalu melihat lagi ke arah dimana bocah laki-laki itu menghilang masuk ke dalam sebuah gang.
"Hei, ada apa?" Tanya Hugo yang melihat perubahan di wajah Richi. Ia ikut melihat ke arah dimana Richi memandang, tapi tak ada apa-apa disana.
__ADS_1
"Ayo, kau harus dihukum karena membuatku kesal!" Hugo memutar Richi masuk dan duduk di kursi penumpang, sementara dia masuk ke belakang kemudi dan menjalankan mobil, meninggalkan motornya yang masih terparkir disana.