Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Hugo Salah Panggil


__ADS_3

Axel yang berjalan dengan teman-temannya menyadari ada sesuatu yang menarik di depan mading.


"Hei, dude. Ada apa disana?" Tanya Axel pada lelaki yang lewat didepan mereka.


"Itu adalah foto ketua osis yang sedang berkencan dengan gadis cantik". Ucapnya lalu pergi.


Mendengar itu, Isac menggerutu. "Astaga. Gadis-gadis ini selalu membahas hal yang tidak penting".


"Dia itu tampan dan pintar. Wajar bila disukai banyak gadis" sambung Axel memuji.


"Hei, Hugo. Lihat disebelah sana. Pacarmu sedang selingkuh". Ucap Isac lalu cekikikan.


Mereka menoleh ke arah tangan Isac menunjuk.


"Wah wah. Wajahnya cerah sekali bertemu ketua osis. Tak seperti saat bertemu denganmu". Ledek Daren yang melihat Richi tersenyum sesekali tertawa saat berbicara pada Emer.


Hugo tidak panas. Dia malah mengejek. "Siapa sih, yang mau sama anak yang gayanya seperti laki-laki".


"Aku malah lihat ketua osislah yang naksir. Lihat tuh, ya, gak?" Axel memperhatikan gerak-gerik Emer yang menatap Richi lekat-lekat.


"Tak perlu mengurus hal yang tak penting" Hugo berjalan dengan memasukkan tangannya ke kantong celana. Dia benar-benar tidak peduli.


📙📙📙📙


"Kak, ada apa?" Tanya Richi yang dihampiri oleh Emer.


Dia menyerahkan tiga buah novel. "Kau lupa membawanya".


"Ah, astaga. Terimakasih kak."


Emer menganggukkan kepalanya.


"Kak, itu disana.." Kalimat Richi tergantung. Ia bingung harus bicara apa.


"Iya, aku tahu. Lagi pula mereka tidak tahu itu siapa. Aneh sekali. Padahal jelas itu wajahmu"


"Tolong ya kak, jangan kasih tau siapapun itu aku." Pintanya pada Emer dengan memelas.


Emer memasang wajah bingungnya.


"Aku gak mau jadi bahan gosip lagi".


"Lagi?" Emer semakin bingung.


"Ya, beberapa waktu lalu, aku ketimpa gosip. Tolong jangan bilang siapapun soal itu dan soal aku memakai baju seperti itu."


Emer malah tertawa. Dia benar-benar heran melihat gadis yang tadi malam sangat memukau dirinya.


"Baiklah, Nona. Akan saya lakukan" Ucapnya tersenyum cerah. Merasa beruntung bahwa hanya dirinyalah yang tahu pesona Richi yang sebenarnya.


~


Pada jam istirahat, tampak Richi sedang makan dengan Emer. Beberapa orang melirik merasa iri dengan gadis tomboi itu. Namun tidak ada yang curiga sebab Richi memang akrab dengan laki-laki.


Tak lama, Hugo dan teman-temannya masuk ke kantin. Melihat Richi dan Ketua osis, Axel mulai lagi.


"Lihat, Hugo. Pacarmu itu benar-benar ya". Axel terkikik. Baru kali ini dia melihat sahabatnya mempunyai pacar yang hanya sebagai status. Gadis itu bahkan tidak memanfaatkannya.

__ADS_1


Hugo hanya melihat sekilas. Dia duduk dan mulai menikmati makanannya.


Tak lama, datang dua orang siswi ke meja mereka. Salah satunya memberikan surat kepada Hugo yang sedang asyik makan.


"Kak, terimalah surat dariku". Ucapnya malu-malu " Ku harap kakak membalasnya" lanjutnya lagi sambil menyerahkan amplop berwarna merah jambu.


Hugo tak menggubrisnya. Dia hanya menyendokkan nasi ke mulut.


"Ah, terimakasih, ya. Nanti akan dibaca Hugo." Melihat Hugo tak mengopeninya, Axel mengambil suratnya. Memberi kode supaya gadis itu pergi.


Melihat masih ada saja yang mendekati Hugo, Isac mengingat sesuatu.


"Aku ingat julukanmu, Hugo. Si Penakluk para gadis". Mendengar kalimat yang diucapkan Isac, yang lain terkikik.


"Benar. Aku ingat itu. Siapa sih, yang tidak bisa ia taklukkan". Sambung Axel sambil melahap makanannya.


"Ada, satu". Ucap Daren santai. Dia menikmati coklat hangat di tangannya.


Mendengar itu, badan Hugo tegak. Dia juga ingin tahu.


"Tuh". Daren menunjuk Richi dan Emer yang duduk berdua sambil sesekali tertawa.


"Dia bukan gadis". Hugo menyambung makannya lagi. Mendengar ucapan Daren tak seperti dugaannya, membuatnya lega. Sebab Richi memang bukan tipe gadis kesukaannya.


"Semenjak kau menyatakan pacaran padanya, dia mulai dilirik cowok. Aku lihat, dia mendapat beberapa surat". Ujar Axel yang kemudian kalimatnya ditertawakan oleh Hugo.


"Hahaha. Kenapa bisa suka sama perempuan yang bahkan tidak ada sisi gadisnya sama sekali". Hugo tergelak mengingat cara Richi minum air meniral di botol saat pertama kali mereka berbicara.


"Tapi, kau bahkan tidak dilirik" Ucapan menohok Daren menghentikan tawanya.


"Tapi, ada yang bilang, gadis yang berkencan dengan Ketua osis itu adalah Richi. Bahkan teman-teman basketnya sendiri yang mengatakan." Axel mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto yang menjadi bahan gosip tadi pagi.


"Lihat, wajahnya juga hampir sama kalau melihatnya dari samping. Apa kalian tidak ingat rambut Richi juga panjang seperti ini. Apalagi melihat dia dekat dengan Emer di sekolah, aku juga yakin itu".


"Mirip juga, ya." Ucap Isac yang melihat Richi lalu memandang foto itu lagi.


Hugo melirik ponsel Axel. Lalu tiba-tiba dia terkejut seperti melihat sesuatu yang aneh. Dia merampas ponsel Axel.


"Lihat, kau sendiri terkesima, kan. Hahaa". Ledek Axel yang tiba-tiba ponselnya direbut dari tangannya.


Hugo mengamati. Sebab tampilan gadis di foto, mirip dengan orang yang menabraknya. Dia ingat rambut dan baju gadis ini.


Lalu dia menepis. 'Kenapa bisa gadis tomboi ini ada di acara pesta? Tidak mungkin, kan. Apalagi gadis yang menabraknya memakai hak tinggi dan dress pendek'. Batinnya. Ia melihat gadis di depan ketua osis. Lengan bajunya di gulung. Rambutnya di ikat asal. Senyum miring muncul di bibirnya. 'Benar. Mana mungkin'.


"Kalau membuat cerita, tolong yang masuk akal". Ucap Hugo sambil meletak kasar ponsel Axel lalu menyudahi makannya.


🐌🐌🐌🐌


Hugo berdiri di lorong kelas. Dia menunggu gadis tomboi itu lewat. Dia sedikit terbawa suasana soal murid laki-laki yang mulai meremehkannya tadi. Lantaran, Richi selalu bermain dan dekat dengan ketua osis. Sementara tak melihatnya dekat dengan Richi.


"Hugo, apa kau putus dengan Richi?"


"Sepertinya putus. Soalnya Richi sudah dengan ketua osis"


"Hugo, sepertinya kau kalah dengan ketua osis"


"Hugo, kenapa pacarmu bersama orang lain."

__ADS_1


"Hugo, kau ditinggalkan karena ketua osis?"


"Hugo si penakluk sepertinya tidak lagi"


Aargghhh.. kata-kata itu sangat berisik di telinganya. Mendengar dia dibanding-bandingkan dengan ketua osis membuatnya berpikir untuk memberi peringatan pada gadis itu.


Gadis itu sepertinya tidak menyadari Hugo yang berdiri tak jauh darinya. Karena dia berjalan sambil manggut-manggut mendengarkan musik melalui headset. Pakaiannya sudah tidak rapi. Ujung seragam sudah keluar dari roknya. Membuat Hugo menggeleng heran kenapa bisa ada gadis seperti itu di sekolah ini.


Dia berhenti, membuka headset, lalu mendengarkan laki-laki yang mencegatnya berbicara. Lelaki itu memberikannya sepucuk surat kemudian berlalu begitu saja.


Tampak Richi membolak-balikkan surat itu. Dia terlihat tidak peduli. Hugo sedikit mengingat perkataan Axel bahwa gadis ini, mulai dilirik siswa-siswa lain.


Hugo yang tidak sabar, mendekatinya. Dia berdiri tegak di depan Richi. Gadis itu masih memegang ponsel, menyetel lagu yang akan diputar. Lalu, dia berjalan tanpa melihat ke depan dan...


BUK!


Kepalanya menabrak dada Hugo.


"Aw! Ah maafkan sa.."


Kalimatnya terhenti saat mendongak dan melihat siapa sosok orang yang ditabraknya. Lelaki itu menampilkan wajahnya yang super dingin.


"Bagus, ya. Kau dekat-dekat dengan ketua osis".


"Apa?" Richi sebenarnya sedikit mendengar, lalu dia beralasan karena sedang memakai headset di telinganya karena tidak ingin mengobrol dengan lelaki ini.


"Kau ini harus jaga sikap. Kau kan, sudah punya pacar!"


"Kau bilang apa?" Richi benar-benar mempermainkan emosi Hugo.


Wajah Hugo terlihat mulai sebal. Dia merampas surat yang ada di tangan gadis itu.


"Permisi ya saya tidak punya urusan dengan anda". Richi beranjak tanpa memperdulikan surat tadi.


"Hei Nichi! Aku belum siap bicara!"


Langkah Richi terhenti. Dia melepas headsetnya. 'Apa tadi katanya?'


"Temui aku di lapangan basket pulang sekolah nanti ya, Nichi".


Richi menghela napasnya. Dia salah memanggil namanya.


"Namaku bukan Nichi" Richi melangkah pergi. Bahkan ia tidak mempedulikan permintaan gadis itu.


"Oh, salah ya. Hei Niki!"


Richi berjalan saja tanpa memperdulikan Hugo.


"Hei, Hugo. Namanya Richi, tahu." Isac tiba-tiba sudah dibelakangnya bersama teman-temannya yang lain. Mereka menahan tawa sejak tadi.


"Hahaha. Bagaimana ini ya? Dia tidak tahu nama pacarnya". Axel terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya yang menggelitik.


Daren yang menahan tawa sejak tadi, berjalan sambil menepuk-nepuk bahu Hugo.


Dia berlalu di ikuti Axel dan Isac yang masih tertawa bebas. Hugo hanya diam saja diperlakukan seperti itu. Sebab, dia memang salah memanggil dua kali.


To Be Continued....

__ADS_1


__ADS_2