Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Kiss Her


__ADS_3

Hugo tengah berada di ruang tinjunya, sejak tadi tak ada yang bisa mengajaknya keluar walau Ayahnya sendiri.


Sejak sepulang sekolah, Hugo sudah berwajah masam. Dia terus berada di ruang tinjunya.


Hingga malam, Hugo terus meninju sampai tubuhnya penuh dengan keringat, dia terus berlatih tanpa henti hingga membuat sang ayah khawatir dan menghubungi Daren, salah satu lelaki yang tumbuh besar bersama Hugo.


Daren datang, lalu mengetuk pintu ruangan yang terdengar rusuh dari dalam.


"Hugo, ini aku. Bukalah."


Hugo membukakan pintu. Ruangan itu redup tanpa jendela. Lelaki itu pula tampak kusut dengan lilitan kain di tangannya.


Setelah membukakan pintu, Hugo meninju lagi samsak di depannya.


Daren hanya diam, melihat kelakuan sahabatnya itu. Setiap ada masalah, dia pasti suka meninju samsaknya untuk melampiaskan kemarahan dalam hatinya.


"Hugo, ayo keluar."


Hugo tidak mendengarkan, dia terus menghajar samsak didepannya padahal napasnya sudah tersengal.


"Aku akan membawamu ke tempat yang membuat pikiranmu lebih baik."


Hugo tak juga menjawab dan masih dengan samsaknya.


Daren menghentikan tangan Hugo dan mencengkramnya dengan kuat saat lelaki itu berusaha melepas.


"Kau tidak bisa seperti ini terus. Ayo, ikut aku sebentar."


Hugo menarik tangannya dengan kasar, lalu berjalan menuju kamarnya.


"Aku mengerti kalau kau..."


Hugo berhenti berjalan. "Kau takkan mengerti. Dia membenciku sampai seperti itu. Kau dengar ucapannya?" Sanggahnya lalu berjalan lagi dan masuk ke kamarnya mengambil handuk dan mandi, sementara Daren berdiri di depan meja belajarnya.


Dia menghela napas. Benar, Richi mengucapkan itu dengan wajah yang terlihat berang menatap Hugo. Apakah karena itu Richi memangkas rambutnya hingga sependek itu?


Mata Daren tak sengaja menangkap sesuatu di meja belajar Hugo. Sebuah jepit rambut dan foto Hugo yang berdansa dengan Richi malam itu. Entah dapat dari mana, yang jelas di foto itu tampak Richi tengah melingkarkan tangan di leher Hugo dan mereka saling menatap.


Tak lama, Hugo keluar sudah dengan bajunya. Dia meraih jeket di atas kursi lalu keluar.


"Kau mau kemana?" Tanya Daren.


"Jalan sebentar." Ucapnya dan diikuti Daren dari belakang.


Daren dan Hugo berjalan ke taman kota. Hugo sejak tadi hanya diam, begitu juga Daren hanya menemaninya supaya tidak sendirian. Berdasarkan pengalaman, Hugo adalah tipe yang suka meracau jika terlalu larut dalam kesedihan.


Hugo mengambil bola basket yang tergeletak di lapangan besar itu, lalu bermain sendirian karena Daren lebih memilih duduk.


Gerimis tiba-tiba datang, sementara Hugo tampak tidak peduli.


"Hugo, ayo pulang. Sudah hujan!" Teriak Daren pada Hugo yang terus bermain basket.

__ADS_1


Daren mencari tempat untuk berteduh, dia lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.


~


Richi tengah menulis dan menyusun rencana untuk menghadirkan Harry hidup-hidup dan menyerahkan diri tanpa menghancurkan apapun.


"Ah, rasanya sangat sulit. Aku harus cepat membuat dia percaya padaku." Gumamnya sendirian. Richi lalu mencoret salah satu list yang ia tulis.


Dia lalu menghembuskan napasnya pelan-pelan sambil berpikir. "Apakah dia tahu aku anggota Valiant? Bagaimana kalau dia ternyata pura-pura sepertiku?"


Richi mengetuk-ngetukkan penanya di atas meja.


"Tidak salah lagi, pasti dia orang tertinggi Stripe mengingat Carina juga anggotanya. Lalu jika aku gabung, bagaimana anggota bawah yang sudah pernah berhadapan denganku dan Hugo waktu itu?" Gumamnya lagi sambil menyipitkan matanya.


Richi tersentak dan langsung menyembunyikan kertasnya saat pintu kamarnya terbuka dan Ricky langsung masuk ke dalamnya.


"Duh, ketuk dulu kalau masuk!"


"Kenapa? Bukannya biasa begitu?" Tanya Ricky lalu duduk di tempat tidur adiknya. "Kau habis melakukan hal yang tidak-tidak, ya?"


Richi menatap kesal ke arah Ricky. "Ada apa? Ganggu saja."


"Heeh? Kau potong rambut??" Ricky memegangi rambut adiknya. "Pendek sekali!"


"Hiss!" Dia menangkis tangan kakaknya. "Sudahlah, ada apa?"


"Aku sudah meletakkan kertas ini di atas peta kota, tetapi tidak ada apa-apa. Aku sudah melacak tempat yang sesuai dengan titik-titik ini. Tidak ada markasnya. Malahan titik ini mengenai beberapa gedung perusahan Ayah."


"yang benar?" Richi menarik kertas dari tangan Ricky dan mencoba melihatnya lagi.


Ricky mengangguk, "Ya, gedung itu yang ini." Ricky menunjuk satu titik di tengah kertas.


Richi lalu mengangkat kertas, menerawangnya di bawah lampu. "Apa ini tidak terlihat seperti titik yang dihapus?" Tanyanya sambil menunjuk satu bekas titik.


"Mana, coba lihat". Ricky ikut menatap yang ditunjuk Richi.


Richi lalu menyadari sesuatu. "Jangan-jangan ini tempat yang ada bomnya!" Pekik Richi.


"A-apa kau bilang.." Ricky merampas kertas ditangan Richi.


"Kau bilang salah beberapa titik ini mengarah ke gedung perusahaan Ayah, kan?"


"Benar. Bisa jadi seperti itu." Gumam Ricky. Dia lalu berdiri. "Biar tim Elang yang akan bergerak malam ini." Ucapnya.


"Bawa Jaguar, jika memang lokasi itu terdeteksi Bom, bukankah Tim Jaguar bisa langsung mengatasinya?" Tukas Richi dan mendapat anggukan dari kakaknya.


Setelah kakaknya keluar, Richi tampak berpikir. "kalau memang benar titik itu bermaksud sesuatu, bukankah Stripe sudah terlalu jauh?" Gumamnya.


Lamunannya terhenti, saat ponselnya berdering dan Daren menghubunginya.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Richi, bisa keluar sebentar?"


"Kau gila ya, Hujan deras seperti ini?"


"Ini penting!" Teriak Daren dari tempatnya. "Hugo, dia tengah depresi!"


"Apa urusannya denganku?"


"Hei, dia sendirian di lapangan basket tengah kota. Kau segeralah kesana. Karena dia sedang tidak baik-baik sajaa". Teriaknya lalu memutuskan sambungan teleponnya.


Richi menatap ponselnya. "Kenapa dia malah menghubungiku?"


Petir menggelegar, Richi menoleh ke jendelanya. Dia lalu mengingat Hugo yang tengah bersedih dan menghancurkan kursi-kursi di kelasnya.


"Ah, apa itu yang dimaksud Daren?" Gumamnya pelan.


~


Richi berdiri dengan payungnya di tengah hujan, menatap Hugo yang bermain basket sendirian.


Dari sudut yang agak jauh, Daren berdiri dengan menyunggingkan senyum. Melihat Richi datang, dia yakin gadis itu memiliki rasa. Diapun beranjak dari tempatnya, menerpa hujan dan membiarkan saja apa yang terjadi pada mereka berdua disana.


Richi berjalan perlahan, Hugo membelakanginya dan terus bermain dengan kasar.


Hugo terpeleset, badannya tergeletak dan dia meringis. Dia menutupi wajahnya dengan tangan, menghalangi rintikan hujan yang menyerbu wajahnya.


Richi melihatnya dengan heran. "Ada apa dia? Apa karena Ayahnya lagi?" Gumam Richi.


Richi mendekatinya, "Hugo, bangunlah". Ucap Richi dengan nada yang agak meninggi.


Hugo membuka wajahnya, melihat Richi di depannya mengulurkan tangan padanya.


Hugo bangkit tanpa menyentuh uluran tangan Richi. Dia berdiri sendiri dan menatap gadis yang tiba-tiba di depannya.


Hugo tertawa pelan. "Sialan, dalam keadaan beginipun, kau terus ada dipelupuk mata." Ucap Hugo lalu mendekatkan diri pada Richi.


Dia lalu menatap Richi dengan wajah sendu. "Kau membenciku sampai seperti itu?" Hugo melangkah maju dan Richi mundur dengan perlahan.


"Aku tidak pernah sesengsara ini. Katakan, apa yang harus aku lakukan supaya kau melihatku walau sebentar."


"Kau bahkan tidak tahu betapa sulitnya aku bernapas saat ini. Betapa aku enggan menjalani hari-hariku karenamu."


Hugo terus memandang gadis di depannya. "Aku sangat tersiksa karena perasaanku padamu, tetapi kau amat membenciku dan malah berpacaran dengan orang lain."


"Hugo, apa yang kau katakan?"


Hugo tertawa pelan, "Aku sangat menginginkanmu, bisakah aku menyentuhmu walau hanya halusinasiku?"


Hugo menggenggam tangan Richi yang memegang payung, menurunkan payung itu kebawah. Richi tersentak saat dinginnya air hujan menembus pakaiannya. Hugo menarik tengkuk leher gadis itu, dengan cepat menyentuhkan bibirnya dengan bibir Richi yang sejak tadi menatapnya dengan sendu.


Richi terkesiap, Hugo mengecupnya secara tiba-tiba. Dia menahan napasnya sebab kini darahnya berdesir dan jantungnya berdegub sangat kencang. Hugo membasahi bibirnya dengan lembut hingga membuatnya terhanyut.

__ADS_1


Richi memejamkan mata, membiarkan saja apa yang Hugo lakukan padanya, karena diapun kini menikmatinya.


TBC


__ADS_2