
Richi berjalan lunglai memasuki gerbang sekolah. Mendengar pernyataan Bella tadi malam membuatnya bingung untuk menyusun rencana seperti apa selanjutnya.
Dia melirik ponsel, Harry meneleponnya.
"Halo, Richi."
"Hai, Harry.."
"Kau terlihat lesu. Ada masalah apa?"
Richi melihat sekelilingnya, mencari Harry yang mengetahui keadaannya. Dia lalu membalikkan badan dan mendapati Harry berdiri disebelah mobilnya sambil melambaikan tangan kanannya sementara tangan kirinya meletakkan ponsel di telinga.
"Aku hanya ingin melihatmu saja, tak perlu menghampiriku." Ucapnya di telepon sambil tersenyum menatap Richi.
"Bukankah malam nanti bertemu?"
"Terlalu lama, aku merindukanmu sekarang."
Richi tertegun, matanya tetap memandang wajah Harry yang mulai dilirik banyak orang.
"Aku akan menjemputmu, jangan berdandan terlalu cantik, aku tidak mau kau dilirik orang. Kau mengerti?"
Richi menangguk tanpa bersuara. Harry tersenyum, lalu masuk ke dalam mobilnya dan pergi begitu saja.
Setelah mendengar cerita Hugo, dia sedikit menaruh simpati dan kasihan pada Harry, dia sampai seperti itu karena mengira ibunya akan dicuri oleh Hugo.
Dia juga berbeda sekali dengan Hugo. Kalau Hugo selalu memintanya berdandan, Harry justru tidak suka kalau Richi berdandan.
"Kau menyukainya?"
Richi tersentak, Emerald berdiri tegak di sebelahnya.
Richi memasukkan ponselnya ke saku roknya. "Kapan kakak kembali?" Tanya Richi mengalihkan pembicaraan.
"Baru kemarin. Apa ada sesuatu yang terjadi sepeninggalku?" Ucap Emerald sambil berjalan dan diikuti Richi disebelahnya.
"Tidak ada, semua berjalan dengan lancar." Jawabnya lalu mereka mengobrol sepanjang jalan, membicarakan apa saja yang Emerald lakukan saat mengikuti Olimpiade di luar negeri. Apakah dia menang atau tidak. Sesekali Richi tergelak karena candaan Emerald.
Hugo yang berjalan dibelakang mereka menatap tajam pada Richi di depannya yang sejak tadi malam tidak mengangkat telepon dan pagi-pagi sudah bermesraan dengan Harry, setelah itu Emerald pula.
"Luar biasa hidupnya." Gumam Hugo dengan kesal.
Saat menapaki tangga, Richi dan Emerald malah berhenti di tengah sambil mengobrol seru. Hugo yang geram, naik dan berjalan di tengah mereka dengan tangan yang memisahkan keduanya.
Richi spontan mundur satu langkah karena tangan Hugo yang dengan pelan mendorongnya.
Dia berhenti di tengah, melihat Richi dan Emerald bergantian.
"Jangan menghalangi jalan!" Ucapnya lalu pergi dengan langkah panjangnya. Dari ekor matanya, dia melihat bahu Richi berguncang.
Ternyata gadis itu tengah menutup mulutnya sambil tertawa tanpa suara, menatap kepergian Hugo yang terlihat amat kesal.
__ADS_1
"Kenapa dia?" Emerald memandang bingung. "Padahal jalan di belakangku masih lebar."
"Biarkan saja, kak. Ayo.." ucap Richi disela tawanya.
~
Hugo datang membawa nampan makanannya dan duduk di meja Richi dan teman-temannya tanpa memperdulikan pandangan tajam gadis itu.
Tanpa merasa terancam, Hugo memakan makanannya sambil tersenyum pada Eric dan Frans yang bengong.
"Sedang apa kau?"
Hugo menatap Richi sambil mengunyah. "Makan." Jawabnya santai.
Richi melengos dan melihat beberapa pandangan mata beralih pada dirinya dan Hugo.
Richi menyibakkan rambutnya kebelakang dan itu membuat wajahnya semakin cantik di mata Hugo yang terus menatapnya.
"Hugo, perhatikan sekelilingmu dulu sebelum melakukan sesuatu" bisik Richi.
"Iya, sayang".
Bbbftt
Minuman yang hampir di teguk Frans tersembur keluar mendengar ucapan Hugo yang sepertinya keluar begitu saja. Mata Hugo terus menatap Richi yang semakin mempesona dengan rambut pendeknya.
Richi menutup matanya dengan kesal, lalu garpu di tangannya ia genggam dan ia tusukkan dengan kuat di atas steaknya.
"Pergilah".
"Hugo, ayolah. Kita sudah membicarakannya, kan!" Bisik Richi penuh tekanan menatap kekasihnya itu.
"Ya, ya. Baiklah." Hugo berdiri dengan kesal, membawa nampannya dan duduk bersama Daren dan yang lainnya.
"Ri.. kau.."
"Diam!" Senggaknya dan kedua orang itu langsung menutup mulutnya.
Eric membuat tanda seolah mengancingkan mulutnya dan Frans mengangguk-angguk, sebab mereka sudah mengerti kalau kedua orang itu tengah berpacaran diam-diam.
Sepulang sekolah, Hugo berjalan cepat dengan wajah ketusnya memandang Richi di depannya berjalan sendirian, hingga gadis itu sadari Hugo berjalan dengan terus menatapnya.
Richi terkejut saat Hugo melewatinya sekaligus menarik tangan gadis itu hingga mau tidak mau kaki Richi melangkah mengikutinya. "Hugo, ada apa?"
Hugo tak menyahut, dia terus berjalan sambil menarik tangan Richi yang berjalan cepat di belakangnya.
"Hugo.. kau.."
Hugo masuk ke dalam ruang basketnya, menutup pintu dan menyentakkan tubuh Richi di tembok, dia membuat pagar dengan tangannya supaya gadis itu tidak bergerak.
Richi tersentak, Hugo merapatkan wajahnya pada Richi yang tengah bersandar di dinding.
__ADS_1
"Hugo, ada apa?"
Hugo menatap kesal ke arah Richi. Mengingat semua ucapan Shera tentang perilaku berbeda Harry pada Richi membuatnya panas sendiri.
"Aku rindu." Jawabnya lalu semakin mendekatkan wajahnya ke Richi.
"Hugo, kau kenapa?!" Richi mendorong dada Hugo dengan tangan kanannya.
"Apa kau benar-benar mencintaiku?" Tanya Hugo dengan wajah serius.
"Kau kenapa, sih?"
Hugo membuang napasnya. "Kau didekati banyak laki-laki, tapi aku bahkan tidak bisa duduk bersamamu." Keluhnya dengan wajah sendu.
"Hugo, hanya sementara. Aku hanya khawatir berita kita sampai ke telinga Harry dan itu akan buat rencanaku gagal". Jelas Richi pada Hugo yang tampak tak peduli.
"Kau juga tidak bertanya apa yang kulakukan pada Shera, kau tidak cemburu, kan?" Tukasnya.
"Aku percaya padamu, Hugo."
"Aku yang berat menjalaninya. Lihat, tadi pagi Harry mendatangimu karena rindu, katanya? lalu Emerald bisa bercanda dan berjalan denganmu. Kau juga mendapat surat cinta lagi, kan?
"Hugo.."
"Katakan, apa yang kau rasakan pada Harry. Kenapa kau ingin tahu sekali tentangnya!"
"Aku tidak ada perasaan apa-apa! Aku bertanya untuk misi ini saja, tidak lebih." Jelas Richi dengan penuh penekanan.
"Benarkah? Bukankah kau juga tadi mendapat hadiah darinya?" Tanya Hugo lagi, mengingat ucapan Shera bahwa Harry memilih langsung gaun yang dipakai Richi, padahal dia tidak pernah begitu pada Shera yang sudah dua tahun menemaninya.
"Itu hanya dress yang dia kasih untuk nanti malam, bukan apa-apa. Waktu itu juga begitu, tapi aku kan, tidak menganggapnya spesial!" Jelas Richi dengan tekanan supaya Hugo lebih mengerti.
"Apa waktu malam ulang tahunku, gaun itu juga darinya?" Tanya Hugo dengan mata yang mengintimidasi, membuat Richi diam.
Hugo melepaskan tangannya dari tembok sebelah Richi dan tersenyum miring. "Jadi, kau datang dengan pakaian yang Harry hadiahkan, ya."
"Karena waktu itu aku dengan dia kan....."
"Dinner romantis, di atas gedung tertinggi? Apa aku benar? Apa kalian juga berdansa bersama?" Tanya Hugo mengingat ucapan Shera tadi malam. Dia bahkan tak bertanya tentang Stripe, namun dia bertanya rencana Harry pada gadis itu.
Richi diam saja, dia juga sedikit kesal, padahal dia sudah bilang berkali-kali pada Hugo tentang misinya ini, namun lelaki itu malah marah-marah.
"Wah, sudah sampai seperti itu, ya. Membayangkannya saja aku mau muntah. Lalu sebentar lagi apa? Apakah kau akan tidur dengannya?"
Richi mengerutkan alisnya. "Apa kau bilang?"
"Apa? Bukankah kau juga terlihat menyukainya? Mendengar ucapan rindu dari Harry pagi tadi, membuat hatimu terhenyuh, kan."
"Kau menganggapku perempuan seperti itu?"
Tanpa menjawab, Hugo membuka pintu secara kasar dan berjalan kesal dengan langkah lebarnya.
__ADS_1
Richi melihat Hugo yang berjalan meninggalkannya. Dia mengepalkan tangan. Hugo sudah membuatnya marah.
TBC