
"Hugo, apa yang kau unggah di akunku?" Tanya Richi yang tiba-tiba merasa banyak notif di ponselnya.
"Foto kita." Jawabnya tanpa menoleh. Dia tengah fokus menyetir.
"Astaga. Kapan kau memotret ini?" Richi bahkan tidak sadar dengan foto itu.
"Sesekali foto berdoa, dong. Yang normal, gitu. Aku juga kan, ingin punya foto berdua." Tukas Hugo yang sesekali melirik kekasihnya.
"Iya, iya. Aku hapus ya, fotonya?"
"Lho, kenapa dihapus? Jangan!" Hugo dengan cepat menarik ponsel Richi dan menyembunyikannya di kantong celananya.
Richi meraih ponsel Hugo di atas dashboard mobil dan membuka lagi foto tadi.
"Kau sudah baca komentarnya? Mereka bahkan tahu kalau yang mengunggahnya bukan aku. Orang-orang juga tahu aku bagaimana, kan. Hehe.."
Hugo tak menyahut, dia diam saja dengan wajah ketat.
"Kau tahu, isi kotak masukku sudah penuh dengan makian dari fans mu. Ada yang bilang, aku tidak cocok denganmu. Ada juga yang bilang, katanya aku tidak memenuhi kreteria perempuan idaman Hugo. Hahaha." Richi tertawa sendiri mengingatnya.
Hugo menahan tawa melihat Richi. "Kau bahkan melebihi kreteriaku." Jawabnya sambil tersenyum cerah.
"Ya, memang begitu. Aku ini idaman para lelaki. Hanya saja, aku tidak pernah mau diganggu." Ucapnya membanggakan diri dan Hugo hanya menggelengkan kepala walau dia membenarkan dalam hatinya.
"Aku juga dibully." Sambung Hugo.
"Dibully siapa?"
"Fans-mu. Katanya aku hanya akan mempermainkanmu, aku playboy dan tidak cocok untukmu."
Bukannya prihatin, Richi malah gelak dan tertawa lebar. "Memang benar kan, kalau kau playboy."
"Itu kan, dulu." Jawabnya sambil mencebikkan bibir. "Chi, pacaran yuk."
"Sudahlah, terakhir jalan-jalan juga tidak lancar dan kau malah menghajar orang." Jawab Richi.
"Berita untuk menangkapmu dan Ricky sudah sangat tersebar. Makanya, semua orang terus mengejarmu. Karena mereka tidak tahu saja siapa yang mereka incar. Nanti malam akan berakhir dan kita sudah bisa tenang." Jelas Hugo.
"Eh, itu bukannya Olivia?" Richi menoleh ke arah jalan kecil. Olivia tengah berjalan pincang sambil mendorong sepedanya.
Hugo menepikan mobil, Richi memanggil gadis itu sambil menutup pintu mobil, berjalan ke arah Olivia.
"Kenapa?" Tanya Richi sambil melihat lutut Olivia yang diperban.
"Jatuh."
"Tumben."
__ADS_1
Olivia hanya diam sembari menatap lututnya.
"Apa bisa bergerak nanti malam dengan lutut yang seperti itu?" Tanya Hugo.
"Bisalah. Cuma gini doang."
"Tapi jalanmu pincang, tahu." Tukas Richi. "Kau tidak bekerja?"
"Aku baru dipecat."
"Kok bisa?"
"Gara-gara Daren sialan itu." Gerutunya sambil mengepalkan tangan sementara Hugo dan Richi saling pandang.
"Naik dulu. Biar kami antar pulang." Richi mengajak Olivia masuk, sementara Hugo melipat sepeda Olivia dan memasukkannya kedalam bagasi mobil.
"Kenapa Daren melakukan itu padamu?" Tanya Hugo sambil sesekali melirik ke belakang dari spion depan.
"Dia memerintahku supaya jadi supir pribadinya. Memangnya dia bisa melakukan itu?? Sialan kan, dia!!" Pekik Olivia dengan wajah geramnya.
"Bukannya Daren punya supir pribadi?" Tanya Richi pada Hugo.
Hugo diam saja, dia tahu Daren pasti menyukai gadis yang duduk di belakang itu.
"Terima saja. Lagipula pasti Daren memberikan gaji besar." Tukas Hugo tiba-tiba.
"APAA!! Kau gila?? Bisa-bisa aku mati berdiri karena aku tahu dia pasti akan terus mengerjaiku!!"
"Seram ya dia kalau marah." Bisik Hugo pada Richi yang terkekeh.
"Aku dengar, tahu!!"
"Aku rasa Daren suka padamu, Liv." Celetuk Richi lagi.
"Gila! Tidak mungkin, lah. Dia memang gila. Kau tahu tidak, dia itu Daren Wycliff, Tuan muda yang dirawat bundaku sejak bayi!!"
"Apaa?!" Serentak Richi dan Hugo saling pandang.
"Wah, sepertinya kau akan melanjutkan perjuangan Bunda untuk merawat tuan muda Daren, hahahah." Richi malah terbahak-bahak.
"Kalau begitu, mana bisa kau menolak. Sudahlah, terima saja. Kalau kau tidak terima, dia akan terus mengerjaimu." Jelas Hugo sambil memikirkan cara mendekatkan Olivia dengan Daren.
Olivia tampak berpikir.
"Seenaknya saja, sih, dia." Ucapnya sambil menyandarkan punggung.
"Berarti kau jatuh karena memikirkan dia, ya." Ledek Richi sambil cekikikan. "Atau jangan-jangan dia yang mengobati lukamu."
__ADS_1
Olivia diam saja diledek Richi. Biasanya perempuan itu juga tidak pernah bercandaan mengenai laki-laki.
"Eh, kalau diam saja berarti benar dong, Daren yang mengobati lukamu. Waah.."
"Semakin jelas, aku jadi ikut semangat." Tukas Hugo.
"Apa sih, kalian! Aku tidak suka pada lelaki itu!" Tegas Olivia.
"Richi dulu juga bilang gitu padaku. Hahahaha."
Olivia menatap tajam pada Hugo yang langsung menahan tawanya.
"Tapi, bukannya kau bilang Daren suka pada Camilla ya, Hugo?" Tanya Richi yang ingat cerita Hugo tentang Daren.
"Iya, sih. Berarti Daren memang murni mau menjadikanmu pembantunya." Sahut Hugo sambil melirik Olivia yang diam saja dari spion depannya.
"Apa itu, kenapa wajahmu terlihat kecewa, Liv?" Ledek Hugo lagi.
"Mau mati ya kau, Hugo!!" Murka Olivia pada kedua orang yang tertawa di depannya itu.
...🦋...
Richi duduk di taman rumah sambil memandangi deretan huruf di lembaran novel yang dia pegang. Dia membaca namun pikirannya melayang memikirkan misi Valiant yang tidak bisa ia ikuti.
Sebenarnya, dia ingin sekali melanggar dan datang saja. Tapi, dia khawatir Hugo akan disemprot Ricky karena lelaki itu tidak bisa mengatasi satu orang saja. Posisi Hugo yang berada di tim Elang membuat Richi mau tak mau menurut saja.
Richi menutup novelnya. Percuma saja membaca tapi tidak masuk ke otaknya. Dia memilih keluar saja mencari udara segar. Ingin ke toko Clair juga percuma, gadis itu pun ikut bertugas.
Richi mendengar suara dari arah ruang tamu. Awalnya, dia tidak peduli karena mungkin itu tamu ayahnya. Tetapi saat mendengar suara yang seperti ia kenali, Richi memilih mendekat dan melihatnya.
"Siapa yang datang?" Gumam Richi sambil berjalan perlahan, melihat ke arah ruang tamu yang lebar itu.
Mata Richi terbelalak saat melihat tamu ayahnya itu. Dia membeku di tempatnya. Bagaimana mungkin dia disini? Bukankah seharusnya dia berada di ruang bawah tanah, tempat yang saat ini Valiant datangi??
Dia melihat Saver di sana. Tersenyum samar melihat wajah Richi yang menegang. Seolah tengah mengejek dan mengatakan bahwa mereka lebih pintar dari Valiant.
Richi langsung bergegas menjauh dari ruang tamu, mencoba menelepon Hugo, namun tidak tersambung. Jelas saja, mereka tengah bertugas.
"Ahhh, sialan!!" Pekik Richi geram. Sudah pasti ini jebakan. Seluruh anggota Valiant, apakah terjebak dalam ruangan itu?
Richi terus memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Dia memikirkan nasib Hugo, kakaknya, dan teman-temannya jika saja mereka memang terjebak dan gudang bawah tanah itu ternyata penuh dengan bom.
"A-aku harus bagaimana.." gumam Richi dengan nada yang bergetar.
"Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa diam saja. Mereka semua pasti terjebak dan sedang berada dalam bahaya."
Richi terduduk. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia juga tidak tahu harus kemana.
__ADS_1
"Ke-kenapa jadi seperti ini..." lirihnya dengan tubuh yang bergetar hebat. Dia mengingat pesan Saver padanya waktu itu. Sesuatu yang besar akan terjadi, apakah ini maksudnya?
TBC