
Eline berjalan dengan langkah lebar melewati Erine yang sudah menenteng jeket Hugo. Perempuan itu tersungut-sungut mendapati perlakuan tak mengenakkan dari Richi. Dia tak menyangka, kalau gadis itu ternyata juga ada disana.
"Kau saja yang bodoh. Sudah aku bilang, tidak perlu dihampiri. Tapi kau malah bertingkah!"
Seruan dari mulut Erine membuat Eline semakin tersungut. "Kau kan, yang menembak duluan!"
"Kau yang menyuruh!" Sentak Erine tak mau mengalah.
"Aah, sudahlah! Aku kesal setengah mati!" Eline mengeluarkan ponselnya. Mengetik-ngetik lalu meletakkan ponselnya di telinga.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Erine, namun kembarannya malah pergi menjauh darinya.
Setelah berhasil menyudut, Eline menunggu sampai orang diseberang mengangkat ponselnya.
Diseberang, Hugo merogoh ponselnya yang bergetar di kantong celananya.
"Yaa. Ada apa.." Ujar Hugo dengan lemas.
'Hugo, Erine tertembak!! Apa kau bisa kesini segera??' Pekik orang yang diseberang dengan suara melengking yang panik, 'Tolonglah akuu, Hugoo.'
Hugo memandang Daren. "Kau serius?"
'Bisakah langsung datang kesini, Hugo. Please help me..'
Suara dari seberang terdengar putus asa. Tapi tak membuat Hugo ingin segera bergerak mengingat kedua kembar itulah yang menyebabkan hubungannya dengan Richi berantakan.
"Eline, E... apa bisa meminta tolong pada orang lain?? Aku sedang ada urusan."
'Hugo, aku tahu kau sibuk. Tapi ini genting. Erine sangat membutuhkan pertolonganmu. Aku takut...'
Hugo menggaruk kepalanya. Dia mulai bimbang.
'Hugo. Aku dilapangan tembak. Darrel menembak Erine. Kuharap kau segera kemari karena kami membutuhkanmu.'
"A-apa?"
Hugo menutup ponsel dan segera bangkit sambil menarik tangan Daren. "Ayo, temani aku."
"Aaaah. Kau sendiri saja sana!"
"Ayolah. Aku tak mau nanti jadi masalah panjang. Aku ingin melihat kondisi Richi." Hugo berhasil membuat Daren berdiri dengan paksaan. Dia mendorong tubuh Daren supaya berjalan menuju mobilnya.
~
Richi menembak burung terbang dengan tepat. Semua pecah padahal kecepatan terbang yang diatur sangat cepat.
Perempuan itu tampaknya pun sedang tak baik-baik saja. Beberapa kali dia melakukan doubleshot untuk satu burung.
"Richi.."
Hugo datang bersama Daren. Mata Daren pula langsung menatap Olivia yang membuang wajah saat tahu ada Daren disana.
"Chi, katanya kau menembak Erine. Apa benar? Apa ada sesuatu?" Tanya Hugo. Sebenarnya dia tidak yakin dengan ucapan Eline. Tapi saat menyebut nama Richi, dia langsung tergerak ingin menemui kekasihnya.
Richi yang melihat kehadiran Hugo secara tiba-tiba dan menanyakan hal seperti itupun membuatnya tercengang. Hugo datang karena siapa? Siapa yang melapor? Ah.. tentu saja mereka.
"Ya, aku menembaknya. Dia sudah mati terkapar disana. Kau datang ingin menguburnya? Mau kubantu?"
__ADS_1
"Pppfttt..." ketiga temannya itu menahan tawa. Richi melempar senjatanya ke atas rumput dan bersiap pulang.
"Hugo. Ah, syukurlah kau datang.." Eline dan Erine juga muncul disana.
Erine menyerahkan jeket Hugo yang ia pakai tadi dan sudah bolong karena tembakan Richi.
"Ini jeketmu. Maaf, jeketnya aku pakai dan malah rusak. Bagian pinggangnya bolong karena tembakan." Ucap gadis itu. Sesekali dia melirik Richi, khawatir salah bicara.
Hugo merasa ingin mengubur saja jeket itu. Apalagi Richi mengarahkan pandangannya pada jeket yang masih menggantung di tangan Erine.
"Tidak apa.." jawab Hugo mengambil jeketnya.
"Nampaknya hubungan kalian sangat baik." Celetuk Richi. Menatap Hugo dan Erine secara bergantian.
"Hugo sangat baik. Dia mengajari Erine sampai pintar seperti Hugo. Dia juga mengajari kami tinju. Yah, hanya sebatas itu." Jelas Eline dengan sedikit tawa. Ada kepuasan baginya setelah mengucapkan kata itu.
Penuh pujian. Itu yang Richi tangkap dari ucapan Eline.
"Erine dan Hugo juga saling menyukai. Ah, maksudku sebatas teman juga antara pelatih dan murid saja, kok, Darrel. Jangan khawatir.." sambung Eline lagi. Merasa puas dengan raut Richi walau gadis itu hanya diam saja.
"Aku tidak khawatir. Kalau kau suka sekali pada Hugo, kenapa tidak kau ambil saja?"
"Aah.." Eline merasa kikuk mendengar ucapan Richi. Ia mengira gadis itu akan mempertahankan Hugo. Tapi malah melepasnya begitu saja.
Hugo pula tak lepas pandangan dari Richi. Dia ingin sekali berbicara tapi takut membuat gadis itu semakin marah padanya.
"Erine, mungkin kau terbiasa dengan sifat berbagi dengan kembaranmu. Membuat suatu barang milik kembaranmu juga menjadi hak milikmu. Berbeda denganku yang menguasai semuanya sendiri."
Ucapan Richi membuat Erine menghela napas, mengarahkan pandangan ke tempat lain.
"Kalau kau mau, kau bisa bersama Hugo dan menguasainya sendiri." Sambung Richi lagi. Membuat Hugo kecewa dalam hatinya, merasa tidak dipertahankan oleh Richi.
Hugo langsung menghela napas lega dengan tawa pelan. Richi tengah memamerkan dirinya sebagai orang yang dicintai Hugo. Tentu itu sangat benar dan membuat Hugo semakin menyukai gadis itu.
"Thank you, jeketnya." Hugo mengangkat jeket di tangannya, dan berlari kecil mengejar Richi.
Olivia sudah duluan masuk ke dalam mobil demi menghindari Daren. Hal itu ditangkap Clair yang duduk dibalik kemudi.
"Kau sebegitunya pada Daren." Celetuk Clair. Menatap Olivia dari spion depan.
"Padahal Daren tak lepas pandang darimu." Bella memperhatikan Daren yang masih saja memandang ke arah mobil mereka.
"Liv, percaya padaku. Daren menyukaimu." Tukas Bella lagi.
"Terserah padamu. Aku lelah dipermainkan olehnya." Jawab Olivia. Dia menghempaskan tubuh ke kursi mobil Richi yang nyaman.
Sementara diluar, Hugo menahan tangan Richi. Dia juga tidak bisa menyembunyikan senyumnya dari gadis itu.
"Chi.."
"Kenapa mengejarku? Bukankah kau kesini karena perempuan itu tertembak?" Richi bahkan tak mau menyebut namanya.
"Aku memang dihubungi Eline tapi aku kesini karena mengkhawatirkanmu, Chi.."
"Begitukah? Aku tidak apa-apa. Sekarang aku mau pulang."
"Chi.." Hugo menahan tangan Richi. "Bisakah nanti malam kita bertemu? Aku.. ingin mengajakmu makan malam di tangga seribu, tempat kita dulu."
__ADS_1
"Not now, Hugo." Richi melepaskan pegangan Hugo dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Padahal dia sudah merasa lebih baik sebenarnya. Tapi, dia memang sudah ada rencana malam ini.
"Semua orang dalam masalah. Hah, kalian benar-benar." Celoteh Bella.
"Kau saja yang jomblo. Makanya, hiduplah dengan pasangan, supaya kau tahu apa itu masalah." Sahut Clair sambil terkikik dibalik kemudinya.
"Hahaa, dasar gila."
"Rel, Aron bilang padaku, dia akan menjemputmu jam 6 ini. Bagaimana?" Tanya Olivia.
"Ya, terserah padanya." jawab perempuan itu.
...🦋...
Aron menjemput Richi. Dia membawa mobil dan berpakaian rapi tak seperti biasa.
"Kau serius kan, mengabulkan permintaanku?" Aron melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Dia sudah punya rencana untuk Richi.
"Iya. Aku bawa duit. Jangan khawatir."
"Sudah kubilang bukan itu. Kau ikut saja dulu." Ucap Aron sambil tersenyum. Terlihat aneh di mata Richi, tapi dia tak merasa curiga.
Mobil berhenti di depan sebuah gedung besar. 'TheMost', itu nama yang terpampang besar di atasnya.
"Kenapa kesini?" tanya Richi.
"Nanti saja. Sekarang masuk dulu."
Aron masuk ke dalam, disambut oleh banyak orang. Dia memang terkenal dan ramah pada semua orang yang ada di dalam gedung. Berbeda dengan Richi yang kaku dan senyum seadanya saat orang-orang menatapnya dengan senyuman juga.
Sesampainya di studio foto, Aron memanggil salah seorang laki-laki bertubuh gempal dan agak melambai.
"Ya, sayang? Ada apa, cinta?" Katanya pada Aron.
"Ini orangnya." Aron menunjuk Richi.
Lelaki bertubuh gempal itu memindai Richi dari atas sampai bawah. "Ah. Ya ampun.. Cantik. Tubuhnya juga bagus sekali.. Tingginya pas. Wah, kau hebat dan pintar memilih." Setelah memuji Richi, dia memuji Aron pula, kemudian pergi untuk mengambil sesuatu. Menyuruh Aron menunggu.
Richi mulai curiga. Nampaknya dia tahu kemana arahnya saat ini.
"Ada apa? Katakan padaku."
Aron menyerahkan selembar kertas pada Richi. Gadis itu membaca perlahan kertas pemilihan model internasional.
"Apa hubungannya denganku?" Tanya Richi tak paham.
"Pemilihan model internasional ini harus berpasangan dan aku membutuhkan bantuanmu. Jadilah pasanganku. Kumohon..." Aron mengapitkan kedua tangannya, memohon pada Richi yang matanya membulat dan menganga mendengar permintaan Aron.
TBC
♡♥︎♥︎ Rate lagi yaa Pen🥺 Terima kasih banyaaakk.. ðŸ˜ðŸ˜
Eh mau nanya, kalian mau ngga baca cerita model AU di instagram? Misal seperti ini...
Kalau Ada yang mau baca, ntar aku buat di IG.
__ADS_1
Eh btw yang diatas cerita Syahdu lho.. Udah pada baca belooommm...