
Eline berjalan cepat menuju kamar kembarannya. Sejak tadi dia mencari Erine di lounge tapi tidak ada. Ternyata gadis itu sudah pulang duluan, entah karena apa. Tebakan Eline, pasti saudara kembarnya itu merasa malu ada Hugo disana.
"Erine!" Eline membuka pintu kamar dan mendapati gadis itu tengah duduk di meja belajarnya.
Erine berdecak kesal karena kebiasaan Eline yang tak mau mengetuk pintu dahulu.
"Kau kenapa pulang duluan? Tidak memberi kabar pula. Aku sampai lelah mencarimu kesana kemari, tahu-tahu sudah pulang saja!" Eline kesal karena Erine malah meninggalkannya disana.
"Kau malu ya, karena bertemu Hugo?"
"Keluarlah. Aku sibuk." Jawabnya tak menoleh sedikitpun.
"Hugo kirim salam padamu. Dia minta maaf soal kemarin. Tadinya dia mau bicara langsung padamu, tapi kau malah pergi."
Erine bergeming. Dia pura-pura membaca buku padahal pikirannya sudah melayang ke memori saat bertemu Hugo tadi. Apalagi lelaki itu sangat tampan dengan jeket kulit hitam.
"Oh ya, Hugo juga mengajakmu bertemu untuk sekedar mengobrol."
"Kau mau mati, hah?" Kini Erine memutar badannya menghadap kearah pintu dimana Eline masih berdiri.
"Aku sudah sangat malu pada Darrel karena kau yang terus menerus mengarang cerita. Aku bahkan dicap perempuan yang merebut kekasih orang karena perbuatanmu!" Erine akhirnya mengeluarkan kekesalannya pada Eline yang tak lagi bisa ia tahan.
"Tapi kali ini benar, Rin. Aku-"
"Sudah. Sana keluar!" Titah Erine dengan nada tinggi, kemudian kembali fokus menghadap depan. Namun Eline tidak melangkahkan kakinya keluar kamar. Dia malah berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang.
"Kenapa sih, kau tidak berjuang sedikit saja. Aku tahu kau menyukai Hugo. Dia persis kriteriamu, kan? Dia tipe laki-laki kesukaanmu, kan?"
"Aku tidak suka padanya." Bantah Erine.
"Untuk apa sih, kau berbohong padaku. Tidak ada gunanya karena tanpa kau katakanpun, aku tahu."
Erine tak menghiraukannya. Dia terus membaca buku dengan tenang.
"Rin, aku yakin Hugo juga menyukaimu. Kau dengar kata Camilla kemarin? Hugo menyukai perempuan berambut panjang, sepertimu. Sedangkan Darrel, dia berambut pendek, kan? Hugo juga suka perempuan tinggi dan tangguh. Kau mempunyai itu. Tidakkah jalanmu lebih mudah?"
"Stop it. Aku tidak punya masalah dengan Darrel. Kalau kau sangat ingin memberinya pelajaran, jangan libatkan aku." Erine menggeser kursinya dengan kasar lalu keluar dari kamarnya.
...🦋...
Richi masuk ke dalam kafe, mendorongkan pintu kaca itu dengan bahunya karena kedua tangan gadis itu mengangkat sekotak penuh buku-buku miliknya.
TRING
Suara lonceng pintu tak membuat Olivia beralih. Gadis itu termenung di depan meja kasir sambil memegangi ponselnya.
"Hah. Berat juga." Richi menyugar rambut yang berserakan di dahinya. Sejenak Richi diam memperhatikan Olivia. Gadis itu masih saja melamun.
"Liv.." Richi berdiri di depan meja kasir.
Olivia tak menjawab. Matanya menatap kosong ke arah dimana ponselnya terletak.
"Olivia."
Gadis itu tersentak. Dia menoleh kesana kemari seperti mencari kesadarannya yang telah hilang beberapa menit lalu.
"Kau kapan datang?"
Richi menggelengkan kepalanya, heran dengan sikap Olivia yang baru tiga hari ditinggal Daren.
__ADS_1
"Barusan. Bisa buatkan aku yang biasa?" Pinta Richi. Dia duduk menghadap satu kotak besar yang berisikan buku-bukunya.
"Oke. Oh, kau meletakkan buku-buku lagi?" Tanya Olivia sambil membuatkan pesanan Richi.
"Iya. Clair bilang banyak yang meminta novel, jadi dari pada tidak berguna di lemariku, lebih baik aku pindahkan kesini."
Olivia datang dan meletakkan 2 minuman di atas meja. "Tapi efeknya seperti itu." Olivia menunjuk beberapa orang dengan matanya. "Mereka sudah tiga jam duduk disana membaca buku dan hanya pesan americano - menu yang paling murah."
Richi terkikik. "Biarkan saja. Yang penting Kafe Clair ini terus berjalan karena satu-satunya kafe yang masih menyediakan buku."
"Benar juga."
"Mana Clair?" Menyebut nama perempuan itu membut Richi ingat gadis itu tidak ada disana.
"Jangan ditanya, nanti kau tahu sendiri."
Tak lama setelah Olivia mengatakan itu, Clair keluar sembari mengikat rambutnya yang berantakan. Dibelakangnya, tentu saja Simon.
"Pantas saja aku hubungi tidak diangkat." Keluh Richi pada Olivia. Padahal dia tadi ingin meminta Simon mengangkatkan buku-buku itu, tapi lelaki itu sama sekali tidak mengangkat teleponnya.
Mendengar itu Olivia cuma terkekeh.
"Kalau begitu, aku pulang dulu." Ucap Simon yang merasa sungkan dengan Richi yang ada disana. Dia mengecup sekilas bibir Clair dan sedikit menunduk pada Richi sebelum melangkah pergi.
Dengan wajah cengengesan, Clair duduk dan menyeruput minuman Olivia.
"Sudah puas??"
"Sangat puass.." Clair semakin menggoda Olivia yang tahu tengah kesal padanya. Tentu saja Olivia cemburu karena Clair bisa bermesraan dengan pacarnya sementara dia harus menjalani hubungan jarak jauh dengan Daren.
Bella turun dari ruang atas sambil menguap. Dia masuk ke meja bartender dan menuang segelas air.
"Selamat siang, nona Bella. Apa tidurmu nyenyak??" Sapa Olivia dengan sedikit sindiran.
"Kenapa kau tidur disini?" Richi bingung. Pasalnya Bella bukanlah orang yang mau tidur di sembarang tempat. Apalagi kedai Clair ini tidak semewah kamarnya.
"Dia mabuk. Tiba-tiba supir taksi masuk dan bilang menemukan seonggok perempuan yang tumbang di jalan. Untungnya dia masih bisa menyebut nama kafe ini." Jelas Clair pada Richi.
"Kau terlalu sembarang, Bells. Bagaimana kalau kau bertemu dengan orang jahat dan melakukan yang tidak-tidak padamu?"
Bella menggaruk kepalanya mendengar omelan Richi.
"Bayar ongkos taksimu semalam!" Clair menagih utang.
"Iyaa, nanti aku bayar."
"Kau bersama siapa tadi malam?" Tanya Olivia.
"Aku sendirian."
"Apa kau melakukan one night stand lagi?" Tanya gadis itu lagi dan Bella hanya cengengesan menanggapinya.
"Hah. Menyebalkan. Pilihlah satu dan jangan tukar-tukar pasangan. Apa kau tak takut penyakit??" Omel Olivia.
"Aku kan, pakai pengaman. Lagi pula, aku masih nyaman seperti ini." Jawabnya santai. "Lalu kau, aku terbangun karena mendengar suaramu yang sampai ke atas!" Bella menunjuk wajah Clair. Gadis itu langsung menutup mulutnya.
"Upss, aku kelolosan." Ucapnya sambil cekikikan.
Mendengar kikikan kedua orang itu membuat Olivia kesal. Lain hal dengan Richi yang tampak tak peduli.
__ADS_1
"Emm.. aku mau bertanya." Olivia mengambil jeda sebelum bertanya perihal penting. "Bagaimana rasanya.. saat pertama kali..." Olivia menggantungkan kalimatnya. Dia menatapi satu-satu temannya yang kini menatapnya, termasuk Richi.
"Making love?" Sambung Clair dan Bella malah tertawa.
"Renyah. Kau coba saja." Jawab Bella masih terkekeh.
"Renyah bagaimana? Katanya sakit.."
"Ya, pada awalnya saja. Lama-lama.." tatapan Bella terlihat nakal pada Clair.
"Kau akan ketagihan.." Clair mengecilkan suaranya.
"Masa, sih?"
"Kalau tidak percaya, tanya saja Darrel." Sambung Clair.
Richi menoleh. "Kenapa aku?" Dia bingung, padahal dia juga tidak tahu menahu.
"Kau kan, baru merasakannya kemarin dengan Hugo." Jawab Clair dengan leluasanya.
"Hm. Aku tak percaya akhirnya kau memberinya pertama kali pada Hugo. Cepat beritahu Olivia pengalaman pertamamu." Sambung Bella sementara Richi menganga. Bicara apa mereka?? Pikirnya.
"Serius, Rel? Kau sudah melepaskannya untuk Hugo?" Kini Olivia yang bertanya.
"Bukankah Hugo sangat mencintanya? Kupikir sepadan jika Richi sudah memberikan itu untuknya." Sahut Clair.
"Tinggal kau yang masih suci disini. Bagaimana? Kau tergoda melakukannya?" Bella bertanya dengan menaik-naikkan alisnya.
"E-entahlah. A-aku masih ragu.." Jawab Olivia.
"Hei, Rel. Cepat ceritakan pada kami soal malam itu. Apa Hugo sangat gagah?" Tanya Bella.
"Kurasa begitu. Kau tidak lihat postur tubuhnya yang bagus itu? Aku saja sangat kagum saat pertama kali melihatnya." Ujar Clair.
"Kau juga? Ah, tidak heran. Pasti dia sangat hot, kan?" Bella dan Clair malah diskusi berdua.
"Pasti, Darrel sangat-"
BRAK!!
Semua terperanjat sampai Bella menaikkan sebelah kaki saking terkejutnya.
"Ke-kenapa.. kau marah??" Tanya Bella mulai takut karena Richi memukul meja dengan sangat keras. Terlihat pula gurat kemarahan di wajah gadis itu.
"Siapa yang bilang aku dan Hugo sudah melakukan itu?!" Tanya Richi tegas, menatapi teman-temannya dengan sorot yang mengerikan.
"Ah, itu.. kami mendengarnya dari Axel. Dia bilang pagi-pagi melihatmu dan Hugo di kamar sedang..." Clair menggantung kalimatnya saat melihat Richi mengepalkan tangan dan menatapnya dengan tajam.
"Kalian dapat gosip seperti itu kenapa tidak cerita padaku?"
Bella dan Clair malah mengutuk kesal pada Olivia. Bisa-bisanya dia mengatakan itu ditengah kegaduhan yang akan tercipta beberapa detik lagi. Clair sampai menyesal sudah mengatakan hal seperti tadi. Nampaknya Axel yang mengada-ngada.
"Bella, Clair.." Suara Richi sebenarnya amat tenang, tapi seperti anak panah yang menusuk di telinga mereka.
"S-siap ketua tim.." serentak keduanya dengan takut menunggu hukuman karena nampaknya mereka sudah sangat lancang.
"Push up 50 kali."
"A-apa.." Clair mengulang. Dia pikir Richi akan memerintahkannya 25 kali seperti biasa. Tapi ini..
__ADS_1
"SEKARANG!!!"
"SIAAAP!!" Spontan Clair dan Bella mengambil posisi dan mulai push up yang dipimpin hitung oleh Clair dengan suara keras dan tentu saja sampai menarik perhatian pengunjung yang ada disana.