Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Mempermalukan Erine


__ADS_3

Richi berdiri di depan gedung fakultas bisnis, tempat Hugo menuntut ilmu. Tadi Hugo sudah mengatakan lokasi dimana ia berada. Tapi, Richi tak tahu letak-letaknya karena ini kali pertam ia datang.


Richi, sekali lagi mengambil napas. Dia mencoba menarik kebawah dress yang amat pendek itu. Beberapa kali dia meyakinkan kalau outfitnya hari ini tidak salah. Ya, dia sengaja membeli dress ini kemarin karena pastinya ingin tampil lebih anggun dihadapan gadis-gadis yang berusaha mendapatkan Hugo.


Richi berjalan masuk, ia tentu saja dilirik banyak pasang mata. Richi berjalan saja seolah ia terbiasa dengan tatapan seperti itu. Ya, dress amat tipis dan pendek ini sebenarnya bukan gayanya.


Richi terhenti tepat di lobi gedung. Matanya mencari dimana tempat yang namanya Dezzerd kafe. Kata Hugo, tempat itu di lantai satu, ujung koridor. Hugo, lelaki itu masih dikelas. Tiba-tiba ada pelajaran tambahan yang membuat Richi ternyata harus menunggu.


Di depan, ada cermin besar. Richi melirik penampilannya. Dia tersenyum kecil sambil memaki diri. Sial, sejak kapan dia seperti ini? Berpakaian mini dan berusaha membuat gadis-gadis itu tahu kalau Hugo sudah memiliki kekasih yang sangat cantik. Cemburu tidak jelas, Richi menggeleng kepala, pusing dengan tingkahnya sendiri. Tapi ini harus.


"Hai."


Seorang perempuan berambut pendek menyapa Richi. Tak jauh di belakangnya, tiga laki-laki tengah saling senggol. Entah kenapa.


"Emm.. maaf mengganggumu. Tapi, kau takkan bisa bertemu dosen dengan penampilan ini."


Richi mendongak kebelakang gadis itu saat mendengar suara berisik. Ada tiga laki-laki yang saling senggol, lalu melambai kecil pada Richi dengan senyum kikuk.


"Maaf, tapi aku bukan mahasiswa disini."


"Oh, benarkah? Aku pikir kau mahasiswa disini."


"Aku memang mahasiswa disini tapi aku jurusan olahraga."


"APA?" ketiga lelaki tadi serentak kaget. Mereka memindai tampilan Richi dari atas sampai bawah. Olahraga katanya? Dengan penampilan yang seperti ini?


"Maaf, tapi apa kau bisa memberitahu dimana ruang kelas Hugo Erhard?" Tanya Richi, mengacuhkan keheranan laki-laki dibekakang gadis berambut pendek itu.


Mendengar pertanyaan Richi membuat mereka saling pandang.


"Biasanya dia di lantai dua. Tapi aku tak tahu apakah dia ada atau tidak hari ini." Jawab perempuan itu.


"Apa kau pengemarnya?" Tanya lelaki dibelakang.


"Aku pacarnya."


HAH


Bukan cuma empat orang itu. Tetapi yang lewat juga jadi menghentikan aktifitas mereka dan menatap Richi dengan rahang terbuka.


"P-pacar?"


Richi mengangguk dengan senyuman.


"Ah, be-begitu, ya. Maaf sudah lancang mengajak mengobrol." Ujar lelaki dibelakang.


"Tidak masalah. Aku permisi dulu." Richi tersenyum lalu melangkah menuju dimana kafe itu berada.


Richi masuk kedalam. Dua orang yang ia kenali tengah duduk disana. Obrolan mereka terhenti saat melihat Richi berdiri di depan pintu kafe.


"I-itu.." Sarah menunjuk ke arah Richi, membuat Joy juga menoleh kearahnya.


Richi tersenyum kecil, lalu menghampiri keduanya.


"Halo." Sapa Richi dengan tersenyum manis.


"Apa yang kau lakukan disini?" Sentak Sarah, tak suka dengan kehadiran Richi.


"Aku? Menemui pacarku."


"Ppfftt.." Joy sampai tak bisa menahan tawanya.


"Kau mencuri dengar kalau aku dan Hugo Erhard bertemu disini??" Mata Sarah membulat. Jelas ia tak suka jika Richi ikut-ikut berkenalan dengan Hugo.


"Bukankah kau yang sengaja mengeraskan suara supaya aku dengar?"


Sarah mengalihkan wajah. Ya, dia memang sengaja membuat Richi iri. Tapi tak sangka, gadis itu ternyata membuntutinya.


"Hugo belum datang, ya? Kalau begitu, aku ke toilet dulu." Richi melangkah pergi dengan seringai kecil. Karena ia tahu kedua perempuan itu pasti akan menyekapnya di toilet.


Sementara di kelas, dosen baru keluar dan para murid berangsur pergi. Hugo mengecek ponsel dan mendapati pesan Richi yang sudah sampai di gedungnya.


"Hugo." Erine sudah berdiri di depan lelaki yang masih duduk itu.


"Kita jadi diskusi sekarang?" Tanyanya dengan senyum bahagia.


"Tentu. Pergilah duluan ke kafe dibawah. Aku masih ada urusan sebentar."


Erine mengangguk cepat, lalu keluar dari kelas. Tak lama, ponselnya bergetar. Ia mengangkat telepon dari Joy.


'Erine, cepatlah ke lantai 1. Kau tahu, perempuan centil yang kuceritakan itu, dia ada disini. Dia mengikuti kami supaya bisa bertemu Hugo Erhard juga!'


"Sialan." Maki Erine.


'Dia sedang ditoilet. Kalau kau mau, kau bisa merebut poster langka itu darinya. Cepat kebawah!'

__ADS_1


Erine menutup ponselnya dan dengan segera menuruni tangga. Dibawah, dia langsung bertemu Joy dan Sarah.


"Cepat, kesini." Sarah memimpin jalan menuju toilet wanita.


"Dia di dalam?" Tanya Erine saat mereka sudah di depan pintu.


"Ya, ayo masuk." Joy membuka pintu, mereka semua masuk ke dalam dan Sarah langsung mengunci pintu dengan cepat.


Richi, dia tersenyum kecil melihat pantulan Erine di cermin. Gadis itu masih mengaplikasikan lipstik merah jambu di bibirnya. Tak sangka, ternyata mereka juga membawa Erine. Ya, walau bukan seperti ini yang Richi rencanakan sejak awal, namun begini juga tidak masalah. Erine, dia hanya akan menerima rasa malu.


"Erine, dialah orangnya!" Joy tersenyum miring. Dalam pikirannya sudah terbayang bagaimana Erine akan menghabisinya dan pasti, Richi akan mengampun dan menyerahkan poster Hugo, jika Erine mengerahkan tenaganya itu.


Erine sejak tadi membeku di tempatnya. Jantungnya berdetak lebih cepat saat mendapati ternyata perempuan yang memiliki poster langka itu adalah Richi. Apalagi gadis itu menatapnya dari cermin.


"Hei, sialan! Sebaiknya kau cepat serahkan poster Hugo Erhard pada kami sebelum bajumu kami robek-robek!" Ancam Sarah pada Richi.


Richi menutup lipstiknya, lalu menyimpan kedalam tas tanpa memperdulikan ocehan Sarah.


"Poster.." Richi mencuci tangan, lalu berbalik badan menatap Erine. "Poster yang mana, ya?"


"Poster yang kau dapatkan edisi bulan depan! Kau mendapatkannya, kan? Serahkan itu pada kami atau kau rasakan akibatnya!" Ancam Joy lagi.


"Aku tidak membawanya."


"Jangan bohong!" Joy dan Sarah dengan cepat menahan bahu Richi ke tembok. Namun kali ini Richi pasrah. Dia diam, ingin tahu apakah Erine berani mengganggunya.


"Erine, cepat habisi dia!" Pekik Joy lagi, kedua tangannya sudah memegangi tangan kanan Richi, sementara Sarah memegangi tangan kirinya.


"Erine." Joy memanggil lagi dan spontan membuat Erine tersadar.


"A-apa yang.." Erine sampai tak tahu harus bicara apa. Apalagi dia sudah tertangkap basah telah menyukai kekasih gadis itu. Dia menunduk, tak berani menatap Richi.


"Lepaskan saja dia."


"A-apa.." Sarah merenggangkan pegangannya pada lengan Richi.


"Erine, ini kesempatan. Bukannya kau yang ingin-"


"Tidak." Erine memotong dengan cepat ucapan Sarah. Dia tak ingin Richi mendengar ucapan menjijikkan itu.


Richi melepaskan tangannya dari Joy dan Sarah. Matanya masih menatap kearah Erine, walau gadis itu berusaha mengalihkan pandangannya agar mata mereka tak bertemu.


Richi berjalan lurus kearah Erine yang masih tertunduk. Dia berhenti sebentar di depan Erine, membuat gadis itu mengangkat kepalanya.


Richi menunduk, melihat kebawah kaki Erine. Gadis itu memakai high-heels silver.


Erine langsung merapatkan kakinya, dia tentu saja merasa sangat-sangat malu.


Richi memberikan senyuman disudut bibir kirinya. Seolah memberitahu bahwa apa yang Erine lakukan adalah suatu hal yang sangat menjijikkan.


Richi menghela napas, menggeleng kecil, lalu menyenggol bahu Erine sambil berjalan keluar toilet.


Erine sampai mundur selangkah karena senggolan Richi, sampai membuat Sarah dan Joy membelalakkan mata.


"Erine, kenapa kau diam saja?!" Joy kesal, karena dia juga ingin memberi pelajaran pada Richi melalui Erine. Tapi gadis itu malah diam saja. Tidak mungkin takut, Erine itu hebat. Pikir Joy.


"Sudahlah. Aku sedang tak berminat soal itu." Erine keluar dari sana. Sarah dan Joy saling pandang, tak paham dengan apa yang terjadi padahal sebelumnya Erine sangat bersemangat.


Joy dan Sarah mengikuti Erine. Gadis itu melewati kafe tempat ia dan Hugo janjian. Dia tak ingin lagi berdiskusi karena tahu Richi ada disini.


"Hei, Erine, kenapa kau melewati kafe begitu saja?" Joy menyamakan langkah, namun Erine tak juga berhenti.


"Erine, tunggu."


Erine berhenti. Bukan karena ucapan Joy, melainkan Hugo. Lelaki itu tengah berdiri di tengah sambil menunduk menatap ponselnya.


"Hugo Erhard!"


Panggilan itu membuat Hugo menaikkan wajah, melihat kearah suara yang memanggil.


Sarah melambaikan tangan dengan mata dan mulut yang menganga, dia kaget saat melihat Hugo secara nyata.


"Dia.. tampan sekali." Bisik Sarah pada Erine.


"Erine, cepat hampiri dia. Aku ingin berkenalan secara langsung. Ayo." Sarah menggamit tangan Erine. Tapi gadis itu tak bergerak.


Hugo masih melihat kearah mereka. Tiba-tiba saja ia tersenyum cerah dan melambaikan tangan. Tentu Sarah berjingkrak senang.


"Erine, dia membalas lambaian tanganku!" Kata Sarah antusias.


Melihat itu, Erine menyunggingkan senyum. Untunglah, Darrel tidak ada, pikirnya.


Hugo melangkahkan kakinya, dia berjalan kearah Erine.


"Astaga, Erine. Dia kesini! Dia kesini!" Sarah sampai menggenggam kuat lengan Erine saking senangnya. Begitu juga Erine, dia membalas senyuman Hugo.

__ADS_1


"Hai, Hug.." Sarah menahan kalimatnya saat ternyata Hugo melewatinya begitu saja. Senyuman Erine juga ikut pudar saat ia menoleh dan Richi sudah berdiri dibelakangnya. Gadis itu menerima pelukan Hugo yang datang padanya.


"Kau dari mana saja, hm?" Hugo mengecup sekilas bibir gadis itu.


"Aku dari toilet."


"Kau pakai apa, ini? Lihat bajumu." Oceh Hugo.


"Kenapa memangnya?" Richi ikut memperhatikan penampilannya.


"Ini pendek sekali. Siapa yang mengajarimu memakai ini?"


"Kenapa? Bukannya kau suka?"


"Aku tidak suka!" Tukas Hugo.


Perdebatan kecil dua orang itu membuat Erine, Sarah, dan Joy termangu.


"Di-dia.." Sarah sampai tak bisa melanjutkan ucapannya sendiri. Apalagi ia jelas melihat kecupan singkat Hugo di bibir Richi. Bukankah itu artinya...


Erine melangkah pergi. Rasa kesal, malu, dan marah menyatuh dalam dirinya.


"Erine."


Suara Richi membuat langkah gadis itu terhenti. Dia berbalik.


"Bukannya kalian ingin diskusi kelompok?"


Erine mengatur napasnya. Dia ingin sekali berteriak pada Richi, namun itu tak mungkin ia lakukan.


"Hugo, sorry, tiba-tiba ada sesuatu yang harus kelakukan. Penting, nanti aku akan hubungi- maksudku, kita kerjakan sendiri-sendiri saja. Aku akan mengirimkan hasilku padamu nanti."


"Kalian.. saling kenal?" Tanya Joy bingung.


"Tentu. Kami saling mengenal satu sama lain selama.. emm.. empat tahun kurasa." Jawab Richi dan tentu saja Joy terkejut. Bukankah itu artinya Erine juga tahu kalau Hugo sudah memiliki kekasih dan dia adalah Richi? Kenalannya?


Erine berbalik badan dan pergi, meninggalkan Joy dan Sarah yang masih terpaku disana.


"Cepat pakai ini." Hugo melepaskan jeketnya.


"Kenapa, sih?"


"Cepat pakai." Hugo membantu Richi memakai jeket.


"Ayo." Hugo menyematkan jari-jarinya pada Richi dan menarik gadis itu.


"Kemana?"


"Kencan."


Richi mengikuti Hugo, dia melewati Sarah dan Joy tanpa menoleh sedikitpun. Dia hanya tersenyum karena Hugo menggandengnya di depan banyak orang termasuk Joy dan Sarah.


Kedua orang yang saling bergandengan tangan itu tentu saja menjadi pusat perhatian. Sesekali mereka berbisik, ada pula yang memotret keduanya.


"Ternyata dia benar-benar kekasih Hugo." Ucap gadis berambut pendek bersama ketiga temannya yang lelaki tadi.


"Lihatlah, gadis itu memakai jeket Hugo Erhard." Bisik yang lain.


Hugo merasa puas bisa menunjukkan Richi dihadapan banyak orang. Dia menatap kekasih disebelahnya. Richi sudah menepati janjinya, memperkenalkan diri sebagai kekasihnya dan itu merupakan hadiah terbesarnya saat ini.


Di tempat lain, Joy dan Sarah mengejar Erine yang berjalan cepat.


"Erine, sebentar." Joy menahan tangannya, membuat Erine mau tak mau menghentikan langkahnya.


"Kau tidak bilang kalau kau mengenal Hugo sejak dulu." Tukas Joy.


"Itu artinya kau menyukai kekasih temanmu diam-diam?" Tanya Sarah lagi dan tentu membuat Erine menahan napasnya. Dia tak bisa menjawab pertanyaan itu.


"Ah, aku tidak paham. Kenapa kau pura-pura menjadi orang yang beruntung sekelas dengan Hugo, sementara kau dan kekasih Hugo berteman."


"Aku tidak berteman dengannya!" Sentak Erine.


"Tapi tetap saja, kau mengenal Richi dan menyukai kekasihnya?" Pekik Joy.


"Ah, pantas saja kau diam saat di toilet tadi. Ternyata begitu." Sarah menggigit kuku jarinya. Dia juga merasa malu sekarang.


"Erine-"


"Sudahlah. Kalian takkan bisa mengerti!" Sentaknya pada Joy dan Sarah kemudian ia pergi berlalu begitu saja. Dia berjalan sambil menghapus air matanya. Malu, perasaan itu mendominasinya saat ini dan dia ingin segera menghilang dari sana detik itu juga.



(Style Richi saat ini)


TBC

__ADS_1


**Panjangnya juga 2bab ini mah. Jangan lupa Vote, like dan komen walau cuma tanda hati. Biar rame. Thanks ya pen. Kalian luar biasa. Jangan lupa baca Teman Tidur Kontrak. Gue maksa😠**


__ADS_2