Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Menjebak Virgo


__ADS_3

Richi melangkahkan kakinya masuk ke dalam markas. Tadi dia menelepon Jonathan saat tak mendapati Ricky di rumah, dan dia mengatakan bahwa kakaknya ada disana.


Baru masuk, Richi berhadapan dengan Saver. Lelaki itu memakai tongkat karena sebelah kakinya dipatahkan oleh Ricky. Namun sekarang, Saver dan Lexus tinggal di markas. Tentu saja karena permohonan Lexus sendiri.


"Dia tidak ada disini." Ujar Saver saat Richi melanjutkan langkahnya.


Gadis itu menatap tajam. Dia tak suka pada pengkhianat itu.


"Aku tahu kau mencari Keen. Dia sudah pergi." Ucapnya lagi.


"Aku tidak bertanya padamu, sialan." Richi keluar setelah mengatakan itu. Tapi lagi-lagi langkahnya terhenti saat mendengar panggilan Saver.


"Darrel."


"Apa!" Ketus Richi.


Saver menunduk. Dia tahu gadis itu tidak pernah bersikap baik setelah ia berkhianat.


"Aku.. minta maaf."


Kali pertama Saver mengucapkan kata itu pada Darrel. Selama ini, Lexus cukup sabar membujuknya untuk meminta maaf saja, walau Saver terus berkilah dan mengatakan bahwa Darrel bisa saja akan membunuhnya jika ia bicara pada gadis itu.


"Aku.. telah melakukan kesalahan. Aku akan melakukan apapun untuk Valiant."


"Memang harus seperti itu. Kau pikir ada yang tinggal gratis dan diberi uang pula? Kalau saja bukan karena kakakku, kau sudah habis di tanganku!"


Saver tak berani menatapnya. Ingatannya kembali dimana Richi mengejarnya dengan dua belati di tangannya.


Suara deru mobil membuat Richi berpaling dari Saver. Dilihatnya sang kakak keluar dengan pakaian rapi.


"Mau kemana?" Tanya gadis itu saat Ricky mendekat.


"Kuliah."


"Apa?"


"Aku sudah bilang, kan, kalau aku mulai masuk kuliah." Ucapnya sembari melewati Richi, menuju ruangannya untuk mengambil barangnya yang tertinggal.


"Serius? Kupikir kau bercanda." Richi mengikutinya dari belakang.


"Minimal biar ayah tidak menyindirku terus." Ricky duduk di kursi besarnya. "Ada apa kau mencariku?"


Richi duduk di hadapan kakaknya. "Aku akan bercerita. Dengarkan sampai selesai."


Richi menceritakan detail apa yang dia alami, mulai dari kejadian di kampus sampai apa yang ia lihat pagi tadi.


Ricky memutar-mutar kursi yang dia duduki. Pikirannya ikut berputar terlebih ini sebenarnya memasuki masalah pribadi.


"Ini menyangkut namaku." Tukas gadis itu.


"Ya, aku tahu. Tapi, belum tentu Eline tahu kalau kekasihnya itu bagian dari Blackhole. Apalagi dia hanya menunggu diluar."


Richi juga berpikir demikian. Kalau begitu, dia hanya perlu mencari tahu soal itu, kan?


...🦋...

__ADS_1


Sejak pagi Richi hanya di rumah. Dia berbaring di ayunan taman sambil menutup wajahnya dengan novel. Dia tidak tidur, tetapi tengah berpikir, apa yang harus dia lakukan kedepannya. Pasalnya, kakaknya itu tak mau membantu karena informasi yang masih menggantung.


Ponselnya berbunyi. Alarm, Richi tadi memasangnya karena sore ini dia hendak ke Ventown lagi.


Richi bergerak dari tempatnya, menelpon tim untuk bersiap bersamanya.


~


Richi masuk ke dalam kafe yang berada disebelah gang markas Blackhole.


Dia duduk di depan Virgo, lelaki yang sejak tadi sudah menunggunya. Senyum lelaki itu membuat Richi mual, namun ia harus menahankannya.


"Aku senang sekali saat kau mengajakku bertemu."


Richi mengaduk minuman yang sudah dipesakan Virgo.


"Aku melihatmu tadi pagi." Ucap Richi, memulai penyelidikan.


"Dimana?"


"Disini. Kau bersama perempuan."


Virgo seketika gelagapan. Apalagi kalau bukan Erine, kekasihnya.


Sebelumnya Richi sudah menemui Andrew. Lelaki itu bilang, kalau Virgo memang suka berpacaran dengan perempuan lain namun akan terus kembali kepada Eline. Ya, bisa dibilang, Eline adalah golnya Virgo. Sejauh apapun dia pergi, akan terus kembali kepelukan Eline.


"Aku pikir kau salah lihat. Pagi-pagi aku masih di rumah." Elak Virgo berbohong. Richi hanya mengangguk-angguk.


"Kau ingin jalan-jalan?"


Ponselnya bergetar, pesan dari Clair bilang bahwa anak dengan ciri-ciri yang Richi sudah jelaskan tengah lewat.


"Ah, iya. Aku ingin jalan-jalan. Ayo." Richi bergerak dari tempatnya. Dia dengan cepat keluar, tak ingin anak itu lewat begitu saja.


Tak menunggu lama, anak kecil yang biasa Richi lihat pun lewat.


"Hei." Richi menangkap tangan anak itu. Seketika ia terkesiap hingga menjatuhkan kaleng yang berisikan uang.


"Ah, maaf, aku tidak sengaja." Richi membantu anak itu memasukkan uang yang berserak.


"Maaf, ya. Siapa namamu?"


Anak itu tidak menjawab. Matanya menatap Virgo dengan takut.


"Ah, jangan takut. Kakak itu orang baik, kok." Ucap Richi padanya. Lalu ia berdiri dan menyerahkan sekaleng uang kertas dan koin pada bocah itu.


"Siapa namamu?" Tanya Richi lagi. Anak itu masih diam tak menjawab. Dia lalu menunduk.


"Kau menakutinya, ya?" Richi memukul lengan Virgo.


"Tidak. Aku bahkan tidak mengatakan apa-apa." Ucap Virgo. Dia menatap anak itu lagi saat Richi beralih pandang darinya.


"Te-terima kasih, saya pergi dulu." Anak itu berlari kecil meninggalkan Richi.


"Hei, tunggu!" Richi mengejarnya, membuat Virgo mau tak mau mengikuti dari belakang.

__ADS_1


"Richi, berhentilah. Untuk apa mengejarnya?"


"Uangnya ketinggalan." Richi memegang selembar kertas yang tadi belum ia kembalikan.


Melihat bocah itu berbelok, Richi pun ikut masuk kedalam gang lalu ia terhenti.


"Virgo.." Richi menunjuk kearah dimana seorang anak kecil disiksa di gang itu.


"Dari mana saja kau, hah? Sialan!" Seorang pria itu menghajar si bocah dengan tangannya. Memberinya beberapa pukulan, membuat bocah itu meringis namun ia tak menangis. Padahal pukulannya cukup keras.


"Cepat tolong mereka." Richi mengguncang lengan Virgo.


"Richi, itu bukan urusan kita."


"Kalau kau tak mau, biar aku saja." Richi hendak melangkah, namun ditahan Virgo. Dia maju menghadap lelaki yang menghajar anak kecil itu, lalu dia terhenti dan menunduk saat melihat Virgo.


"Apa yang kau lakukan pada anak kecil? Kau gila?"


Lelaki itu langsung pergi dari sana. Sementara bocah itu masih menunduk takut.


"Kau juga, sana masuk ke rumahmu. Jangan berkeliaran saat mau gelap seperti ini." Virgo membukakan pintu dan mendorong anak itu masuk. Ia lalu menutup kembali pintu itu.


"Hah, dasar anak-anak." Katanya sembari menggelengkan kepala. "Sudah beres."


Richi tak menyahut. Dia diam menatap Virgo.


"Apa? Kenapa kau melihatiku seperti itu?"


Richi menatapnya dengan tajam, "Kau.. dari mana tahu kalau ini rumah anak itu?"


Seketika Virgo membeku. Dia mulai gelisah, mencari alasan dalam pikirannya.


"A-aku.. sebenarnya.. hanya asal menebak."


Richi mengepalkan tangannya. Rasanya dia ingin sekali masuk kedalam kalau saja bukan karena banyak pertimbangan, salah satunya kota ini bukan kota asalnya. Bentrokan besar bisa terjadi kalau Richi memaksakan kehendaknya.


"Kalau begitu, aku pulang." Richi sudah tak ingin berada disana. Dengan mengetahui bahwa Virgo memang pagi tadi keluar dari sana sudah membuatnya yakin kalau Virgo memang bagian dari Blackhole.


"Aku antar!"


Richi mengabaikan Virgo. Dia berjalan cepat dan masuk di keramaian orang demi menghilangkan jejaknya dari pandangan Virgo.


Richi menghela napas saat masuk ke dalam mobil.


"Bagaimana?" Tanya Clair yang sudah menunggu di dalam.


"Dia memang bagian dari mereka."


Di dalam hening, hanya napas Richi yang terdengar. Dia masih menahan emosi dalam dirinya. Dia tidak tahan, dia ingin markas itu hancur.


"Kita pulang saja. Besok kita harus mendobrak markas itu. Aku akan mencari cara." Tukas Richi, lalu Olivia pun menjalankan mobilnya.


TBC


**Mau up lagi nih tp butuh likebooster dari kalian😉**

__ADS_1


__ADS_2