Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Pesta Topeng


__ADS_3

Richi melangkah, mengambil kertas undangan itu. Dia meremasnya, lalu menelepon teman-temannya untuk beraksi malam ini, hal yang lebih penting dari sekedar pesta undangan. Pikirnya.


Richi membuka lemari, matanya langsung tertuju pada satu gaun panjang yang belum pernah ia coba. Lalu menatap lagi pada undangan kusut yang sudah tergeletak pasrah di dalam tong sampah kecil sudut kamar, Richi termenung beberapa saat.


...🧸...


Acara pesta sudah ramai, tamu berdatangan dengan bergandengan dengan pasangan mereka dan beberapa pula yang datang sendiri.


Sebagian mereka sudah melepas topengnya, ada juga yang masih memakainya.


Hugo tengah duduk bersama beberapa gadis, dia tampak tidak bersemangat.


"Hugo, apakah kau mau berdansa denganku?" Ajak seorang gadis dengan topeng merahnya.


Hugo memberi kode tangannya tanda menolak, perempuan itu bukan yang pertama, entah yang keberapa, Hugo tidak juga tertarik. Pikirannya tengah di tempat lain. Padahal dia membuat acara ini supaya pikirannya lebih teralihkan dari Richi.


PRANG!


Suara benda pecah terdengar, alunan musik ikut terhenti. Seluruh mata tertuju pada pelayan yang menunduk minta maaf pada seorang gadis yang membuat Hugo terus menatapnya.


Gadis itu berdiri dengan anggun. Gaun hitam panjang semata kaki membentuk tubuhnya, tali di bahunya nampak tipis hingga memperlihatkan seluruh kulit mulusnya. High heels silver bertali ikut membuatnya tampak lebih anggun.


Rambutnya terurai panjang hingga menutupi pingganganya yang hanya di tutupi brukat hitam tipis hingga memperlihatkan warna kulitnya. Topeng senada menutupi sampai hidung membuat semua orang penasaran siapa dibalik topeng itu.


"Ma-maafkan saya." Pelayan laki-laki itu tertunduk.


Richi, gadis dibalik topeng itu berdegub kencang sebab seluruh mata kini memandang kearahnya.


"Pergilah". Ucapnya perlahan supaya tidak ada yang mendengar suaranya.


Richi berjalan dengan anggun, mendekati meja bartender yang tengah membuat minuman. Dia duduk dengan tenang disana, matanya sempat melihat Hugo bersama banyak perempuan disekelilingnya. Richi kesal dan menyesal, telah datang ke acara ini, jika yang ia lihat hanya hal semacam itu.


"Permisi, nona. Boleh minta waktunya.." seorang laki-laki menyapanya dari belakang, memintanya untuk berkenalan.


"Tidak". Jawabnya tanpa menoleh sebab dia tidak ingin diganggu, kecuali..


"Mau berdansa?"


Richi tertegun sesaat, suara yang ia sangat kenali mendekat.


Richi menoleh ke belakang, deguban jantungnya semakin kencang melihat sosok laki-laki berdiri menjulang dengan setelan jas dan topeng hitam mengulurkan tangan padanya.

__ADS_1


"Aku akan merasa sangat terhormat jika kau mau berdansa dengan si pembuat acara". Ucapnya dengan maksud memperkenalkan dirinya adalah Hugo.


Richi melihat ke arah sumber musik, pertanda tidak ada musik yang terputar disana.


Seperti mengerti, Hugo menepuk tangannya sekali, lagu yang ia kenali terputar. Bukan lagu yang biasa orang-orang dansa pakai. Tapi lagu itu, adalah lagu ungkapan cinta.


Richi menyipitkan mata, bertanya dalam hatinya apakah Hugo mengenalnya?


Dia lalu menyambut tangan Hugo, mengikuti dan menggenggam tangannya menuju ke tengah lantai.


Musik itu mengalun, lagu yang belakangan sering Hugo nikmati, dia menatap mata gadis itu dengan senyuman.


Richi terperangah, sekaligus keheranan dengan sikap Hugo yang amat berbeda.


Hugo meraih kedua tangan gadis itu lalu melingkarkannya di lehernya "Letakkan disini" ucapnya dengan senyum lebar yang merekah membuat Richi menahan napas, wajahnya kini amat berdekatan, hanya beberapa centi dari wajah Hugo.


Hugo melingkarkan kedua tangannya di pinggang gadis itu dengan mata yang tidak berhenti menatap.


Mereka mulai berdansa, dengan suasana yang tenang sebab semua mata tertuju pada mereka.


"Kau cantik sekali" bisiknya pada Richi, tanpa berkedip.


Richi berdiam, hangat napas Hugo bisa ia rasakan. Dia sangat berharap Hugo mengetahui bahwa perempuan yang tengah berdansa dengannya adalah dirinya.


"Tetap disini, kau bisa terjatuh." Ucapnya sambil meletakkan lagi tangan kanan Richi yang kini pindah ke dadanya hingga gadis itu bisa merasakan degup jantung yang sama dengannya.


Hugo, getaran di jantungnya bisa ia rasakan, bahkan melebihi getaran di dadanya. 'Dia, berdegup karenaku?' Batin Richi.


Hugo menaikkan tangannya, mengelus lembut rambut gadis itu.


"Rambutmu sangat indah."


Ucapan itu membuat Richi menyunggingkan senyum, dia tahu lelaki itu menyukai rambutnya.


"Indah, hingga mengingatkanku pada seseorang."


Senyum Richi perlahan memudar, seutas kecewa muncul di hatinya. dia mengira dirinya dikenali oleh lelaki itu. Ternyata Hugo tidak mengetahuinya.


Lagu It's You masih mengalun, banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. Tak sedikit yang mengagumi perempuan yang berdansa dengan Hugo.


Richi berputar, lalu Hugo memeluknya dari belakang, merapatkan tubuhnya dan melingkarkan tangan ke pinggang Richi. Meresapi harum rambut gadis di dekapannya.

__ADS_1


"Apa kau gadis Oberon?" Bisiknya di telinga Richi.


Richi diam tak menyahut, mengikuti gerakan tubuh Hugo yang bergerak lambat.


Richi memutar tubuhnya ke depan, dia berniat mengakhiri dansanya.


Hugo malah mendekap tubuhnya.


"Aku harap kita bisa bertemu lagi, gadis anggun." Bisiknya di telinga Richi. Membuat darahnya mengalir deras, namun dia merasakan kesedihan.


Hugo menundukkan pandangan, dia terus menatap ke arah bibir merah yang menggugahnya. Perlahan, Richi ikut terhanyut. Hugo semakin mendekatkan bibirnya, dia ingin sekali mengecup bibir yang lembut itu.


Richi menahan napasnya saat Bibir Hugo semakin mendekat. Dia lalu teringat sesuatu, Richi membuang wajahnya, melepaskan diri dan melangkah mundur.


Dia terus melihat mata Hugo, kekecewaan menggores hatinya. Hugo tidak mengenalinya, Hugo menganggapnya perempuan lain. Perempuan yang ingin Hugo kecup adalah orang lain, bukan dirinya.


Richi berbalik badan, dia berlari pelan meninggalkan Hugo yang masih diam di tempatnya.


Richi berjalan masuk ke dalam toilet. Dia melepas topengnya, dan mengahapus air mata yang keluar dari sudut matanya. Bagaimanapun, dia berharap Hugo mengenalnya tadi, ternyata tidak. Harapan sia-sia yang ia ciptakan justru lebih menyayat hatinya.


Richi memasang lagi topengnya, berlari keluar menahan sesak di dadanya. Ia menyesali kehadirannya yang dianggap orang lain oleh Hugo. Laki-laki itu memang tidak mengenalnya dengan baik.


Richi berdiri di sebelah mobilnya, Simon sudah membukakan pintu untuknya.


Sebelum masuk, dia melihat ke dalam ruangan, Lelaki itu ternyata tidak mencarinya.


Richi melepas topengnya, membuangnya dengan sembarang lalu masuk ke dalam mobil.


Sementara dari lantai atas gedung, Hugo memperhatikan Richi yang sudah masuk dalam mobilnya. Dia meletakkan ponsel di telinga, berbicara dengan seseorang di atas atap gedung.


"Ambil barang yang dibuang gadis itu". Ucapnya sambil terus menatap ke arah mobil yang perlahan menghilang di pandangannya.


~


Richi memegang dadanya, menahan sesaknya, dia mencoba kembali fokus pada tugasnya.


"Simon."


"Baik, Nona". Jawabnya langsung paham maksud majikannya. Simon membalikkan spion di depannya.


Richi membuka bajunya, memasukkan rambutnya yang terurai panjang ke dalam jeket hitam dan mengancingkannya hingga ke dagu, ia memakai masker dan topi untuk menutupi indentitas pada misi malam ini.

__ADS_1


"Kalian sudah siap?" Tanyanya pada orang yang ia telepon. Setelah mendengar jawaban, Richi memeriksa senjata yang akan ia pakai, dan menyelipkan di kantong celana panjangnya. Penghancuran yang kedua, akan dimulai malam ini.


TBC


__ADS_2