Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Tawaran Model


__ADS_3

"Permisi, apakah anda Richi Wiley yang ada di foto itu?" Seorang laki-laki menyapa Richi, namun Hugo yang melangkah maju.


"Ya, saya kekasihnya. Ada yang bisa saya bantu?"


Lelaki itu tampak canggung. Dia tersenyum kecil dan memilih pergi. Tak lama, datang lagi seorang laki-laki bersetelan jas hitam.


"Maaf, apa anda Richi Wiley teman Aron di foto itu?"


"Be-benar."


Hugo menghela napas. Kenapa bernapaspun terasa sulit sekarang.


"Saya Andrey, CEO SN Enterteinment. Saya mengundang anda untuk hadir ke kantor saya, mengobrol-ngobrol sebentar." Ucapnya kemudian mengeluarkan sebuah kartu kecil.


Hugo menerima kartu itu. "Terima kasih, pak. Lain kali akan saya hubungi jika saya berminat."


Richi menahan senyum. Dia melihat wajah Hugo yang menahan diri untuk menghajar lelaki di depannya. Kenapa dia tampak emosional?


Sepeninggal lelaki itu, Hugo melonggarkan ikatan dasinya. "Mengesalkan saja!" Gumamnya sambil meremas kertas itu.


"Hugo, bisa kita percepat saja? Aku ingin bertemu Aron sebentar lalu kita keluar dari sini, bagaimana?" Richi yang paham bermaksud mengajak Hugo pergi saja dari pada melihat laki-laki itu menahan kesalnya jika terlalu lama berada di gedung ini.


"Darrel!"


Clair, Bella, dan Olivia menghampirinya. Untunglah, dia lega akhirnya bertemu dengan orang yang dia kenal.


"Rel, foto-fotomu sangat keren!" Puji Clair. "Sangat seksi dan aah, bagaimana cara mengatakannya, ya."


"Pantas saja kalian menang." Sambung Olivia.


"Bukan aku, itu memang Aron yang sangat bagus dan tampan."


Pujian Richi membuat mata Hugo mendelik tajam. Tampan katanya? Sialnya perempuan itu memuji sambil tertawa riang. Apa tidak merasa bersalah padaku? Batin Hugo.


"Tidak sangka kita bertemu dengannya di lampu merah dan malah berakhir seperti ini ya, Rel. Matamu memang bagus melihat laki-laki." Sahut Bella. Dia sudah melihat reaksi Hugo dan berniat membuatnya semakin panas.


"Kenapa aku? Bukannya kau yang duluan melihatnya."


"Kau kan, yang bilang kalau dia tampan saat pertama bertemu. Dia memang sangat tampan, kan?" Balas Bella lagi. Mereka cekikikan membicarakan banyak hal tentang Aron, tanpa Richi sadari telinga Hugo kian memanas mendengar itu.


"Permisi, apa bisa bicara sebentar?" Lagi-lagi seorang laki-laki paruh baya, bukan menegur Richi, tetapi menyapa Hugo.


"Saya sedang mencari model. Apa anda bisa menjadi model saya? Perawakan anda sangat cocok dengan tipe yang tengah kami butuhkan." Penjelasan lelaki itu membuat mata Hugo melebar.


"Bisakah?"


"Tentu. Saya menunggu kehadiran anda besok pagi di kantor saya. Ini kartu nama saya."


Hugo menerima kartu itu dengan senyum lebar. Tak lupa bersalaman sebelum lelaki itu pergi.

__ADS_1


Bella menyenggol lengan Richi dan berbisik. "Apa dia mau menjadi model?" Richi mengangkat bahu. Dia juga tidak tahu soal itu.


Hugo pula memandang kartu di tangannya dengan senyum lebar, merasa punya kesempatan emas. Bukan cuma Aron, dia juga akan membuat Richi memujinya dengan tertawa riang seperti tadi. Richi akan bangga jika dia menjadi model, kan? Richi akan terus membicarakannya di depan banyak teman-temannya seperti dia membicarakan Aron tadi.


"Hugo, kau mau menjadi model?" Tanya Bella. Diikuti oleh mata Richi yang menunggu jawabannya.


"Ya, aku ingin menjadi model. Bagaimana menurutmu, Chi?"


"Aku tidak tahu kau ingin jadi model." Jawab Richi. Rasa-rasanya Hugo tidak pernah menyenggol soal itu.


"Tiba-tiba saja ingin."


Richi menatap Hugo dengan dahi berkerut. Nampaknya ada yang aneh dari kekasihnya tapi entah apa, dia tidak tahu.


"Oh, Kalian melihat Aron?" Tanya Richi. Dia ingin segera keluar dari gedung itu.


Olivia menunjuk dengan matanya, lelaki yang dicari itu sudah berdiri di depan podium. Dia berdehem beberapa kali untuk menarik perhatian orang-orang, kemudian berpidato membuka acara.


"Terima kasih kepada semua kerabat yang sudah hadir. Terima kasih atas banyaknya ucapan selamat yang saya terima. Ini semua mungkin tidak bisa saya dapatkan apabila tidak berpasangan dengan Richi Wiley, partner saya dalam foto itu."


Mata Richi membulat, terlebih saat Aron menunjuk dirinya. Dia terpaksa tersenyum kecil pada orang-orang yang bertepuk tangan sembari menatap ke arahnya.


"Dia yang membantu saya dan ucapan terima kasih saja tidak cukup. Tapi, terima kasih banyak sudah membantuku tanpa balasan apapun."


Seorang datang membawa bucket yang sangat besar dan menyerahkannya pada Richi. Semua bertepuk tangan, termasuk Hugo dengan wajah datarnya.


Acara itupun dibuka dengan selesainya pidato dari Aron. Lelaki itu turun menemui Richi.


Richi menyerahkan bunga besar itu ke tangan Hugo. "Tunggu sebentar ya, Hugo. Setelah ini kita akan keluar dari sini." Bisik Richi padanya lalu mengikuti Aron.


"Sabar ya, Hugo." Ucap Clair sambil terkikik. Apalagi wajah Hugo sangat tidak bisa ia kontrol. Benar-benar bertekuk sepuluh.


...🦋...


Hujan deras mengguyur kota malam itu. Hugo dan Richi masih di dalam mobil, tepat di depan rumah Richi. Mereka belum keluar, apalagi dengan keadaan yang seperti tadi. Tak sangka Richi ternyata lama meninggalkan Hugo sendirian di pesta itu. Richi juga sulit menolak berbagai permintaan orang-orang disana untuk berkenalan dan mengajaknya mengobrol. Alhasil, wajah Hugo sudah tidak tertolong. Dia merasa kesal karena Richi malah asyik sendiri.


Kini gadis itu masih terus menggenggam tangan Hugo, mengelus lembut dengan ibu jarinya. Dia merasa bersalah.


"Hugo." Panggil Richi dengan lembut.


Lelaki yang bersandar itu menoleh, wajahnya belum juga berubah sejak tadi.


"Besok mau kemana?" Tanya Richi mengalihkan perasaan Hugo. Siapa tahu lelaki itu punya rencana. Tapi tidak, Hugo menggeleng dengan lesu.


"Mau ke pantai?" Tawar Richi.


"Kau tidak suka pantai." Jawab Hugo.


"Eum.. kalau menonton?"

__ADS_1


"Kau tidak suka nonton." Jawabnya lagi.


"Jadi.. apa, ya? Kau ingin melakukan sesuatu? Aku akan menemanimu."


Hugo menarik tangan Richi, mencium tangannya cukup lama. "Peluk saja, boleh?"


Richi mengangkat tangan, dia membuka kedua tangannya. Tentu Hugo langsung memeluk Richi. Dia mencium bahu gadis itu yang terasa harum. Sejak tadi bahu itu nampak menggoda. Besok-besok dia akan menyuruh Richi memakai baju yang menutup semua bagian atasnya.


Hugo menjalarkan ciumannya ke leher Richi, membuat gadis itu mengedik dan merasa geli.


"Hugo, apa-apaan.."


"Harum. Aku suka." Bisiknya sambil menutup mata, menikmati sentuhan langsung ke kulit bahu Richi.


"Chi.."


"Hm.."


"Kau suka laki-laki yang seperti apa?" Tanya Hugo.


Richi mengelus rambut Hugo dengan lembut. "Kenapa tanya begitu? Aku suka semua yang ada padamu."


"Begitukah?"


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?" Tanya Richi.


Hugo melingkarkan kedua tangannya di pinggang Richi. "Ngga ada. Aku cuma ingin terus disukai olehmu. Aku ingin apa yang kau suka dari laki-laki, semua ada di aku."


"Eem.. aku tidak punya kriteria khusus. Yang penting kau jangan coba-coba cari perhatian dengan perempuan lain."


"Walaupun kekasihku ini sangat cuek, aku tidak akan melakukan itu, kok."


Richi menahan tawa. Itu memang sulit dia rubah. Karena Richi bukan orang yang terus-terusan memegang ponsel.


"Dingin.." gumam Hugo sambil mengeratkan pelukan.


"Mau masuk aja?"


Hugo menggelengkan kepala. "Di dalam tidak bisa memelukmu."


"Dasar, kau ini."


Hugo melepaskan pelukannya. "Chi, cepat cium aku."


"Hah?"


"Cium aku. Aku suka kau melakukannya duluan."


Richi menghela napas, tetapi menuruti kemauan Hugo. Dia berniat mencium pipi lelaki itu, tapi dengan cepat Hugo mengarahkan bibirnya hingga terjadilah ciuman tak terduga.

__ADS_1


"Hugo, kau.."


Hugo tak memberi Richi kesempatan berbicara. Dia menarik tengkuk perempuan itu dan mellumat bibirnya dengan lembut. Richi pula memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan yang Hugo berikan padanya. Sampai di tahap Richi membalas ciuman itu, membuat jantung Hugo semakin berdegub kencang. Biasanya Richi hanya diam dan menikmati, tapi untuk pertama kalinya, Richi akhirnya membalas ciuman di bibirnya.


__ADS_2