
Wiley menarik kursi, dia duduk di depan Henry yang wajahnya sudah penuh darah. Napas lelaki itu tersengal saat melihat Wiley duduk dan menyalakan rokok dengan santai di depannya.
"Untuk mafia sepertimu, kau terlihat sangat lemah. Pertahananmu..." Wiley menggelengkan kepalanya. "Bahkan anak perempuanku pun bisa merobohkannya."
"Kau sangat mencoreng citra seorang Brigjen." Lanjutnya lagi. Wiley mencondongkan wajah dengan bibir mengapit rokok.
"Kau mau aku langsung membunuhmu, atau kau disiksa dulu. Jangan request penjara karena targetku bukan membuatmu berada disitu."
Tubuh Henry mulai bergetar. Di dahinya juga sudah mucul titik-titik kecil keringat. Bagaimana pun dia takut saat mendengar ucapan Wiley, karena hari ini adalah hari terakhirnya hidup.
Sementara di sudut lain, Hugo mulai mengamati benda yang melekat pada Marry. Wanita itu sejak tadi hanya diam dengan wajah ketakutan.
"Hugo, Jonatahan, pergilah. Waktunya sudah tinggal 20 menit. Jangan sampai kalian ikut mati gata-gara aku."
"Ibu bicara apa? Kami akan memadamkan bom ini. Jangan takut." Sahut Jonatahan yang ikut memperhatikan kabel-kabel bom.
Hugo tengah serius. Dia tidak bisa diajak bicara saat tengah melihat aliran kabel supaya tidak salah. Apalagi menyangkut nyawa calon ibu mertua. Bahaya kalau sampai meledak disaat yang tidak tepat.
"Ibu, apa itu sakit?" Hugo menunjuk luka lebam di pelipis Marry.
"Tidak." Marry menghapus air matanya.
"Ibu ternyata mirip sekali dengan Richi, ya." Hugo tertawa kecil. Tangannya mulai memotong kabel.
"Heh. Pasti mirip, namanya juga anak." Sewot Jonathan.
"Soal perasaan, ibu dan Richi memang mirip." Ucapnya sambil tersenyum mengingat Richi kecil. Matanya menatap kearah Richi yang masih sibuk dengan tawanannya.
"Richi memang terlihat garang dan galak. Padahal sebenarnya hatinya sangat gampang tersentuh. Dulu dia sering dimanfaatkan orang lain karena kebaikannya, sampai dia sakit hati dan tak mau tahu lagi urusan orang lain." Jelasnya.
"Ibu memang sangat terbawa perasaan. Mirip Richi dulunya. Sekarang gadis itu sudah mulai bisa mengendalikannya." Sambung Marry lagi.
Hugo menoleh sekilas pada Wiley yang juga tengah menangani Henry.
"Jenderal juga hebat. Pantas saja Ibu memilihnya dari pada ayahku." Hugo menahan tawa dengan ucapannya sendiri.
"Kalau itu..." Kini mata Marry beralih pada suaminya. Sosok yang gagah di mata Marry, lelaki yang mampu menghipnotisnya sejak dulu. Lelaki yang terkadang hangat, terkadang humoris. Tetapi aslinya cukup mengerikan.
"Dia laki-laki yang paling baik yang pernah kutemui."
Hugo mengangguk lambat. Dia bisa melihat tatapan Marry pada suaminya yang begitu dalam.
__ADS_1
"Ah, bukan maksudku mengatakan ayahmu tak baik, hanya saja.."
"Saya paham kok, bu." Jawab Hugo langsung, walau dia tidak tahu apa yang ia pahami. Dia mengatakan itu supaya Marry tidak canggung padanya.
"Lagi pula, kalau ibu menikah dengan ayahku, itu artinya aku dan Richi akan jadi kakak adik? Jelas aku tidak mau itu terjadi."
Marry malah tertawa. "Kau begitu mencintai anakku?" Tanya Marry dengan menatap mata Hugo.
Lelaki itu pula membalas tatapan Marry dengan tulus. "Sangat, Bu." Jawabnya dengan anggukan kecil.
Marry menyentuh pipi Hugo. "Richi belum pernah jatuh cinta kecuali denganmu, Hugo. Hari pertama saat dia menyadari perasaannya, dia menangis di kamarnya. Ibu tidak ingin membebankan apapun padamu. Tapi, berusahalah menenangkan hatinya."
Hugo tersenyum lalu mengangguk. Dia mengerti kenapa Marry memintanya untuk menenangkan hati Richi, karena gadis itu punya emosi dalam diri yang sulit dikompromikan yang mirip dengan Wiley dan Ricky. Jika emosi itu menyala, maka tidak ada tempat untuk bernafas bagi musuhnya.
Sementara Richi, setelah menembakkan peluru pada kedua lutut Albern, dia merasa belum puas.
Albern benar-benar tidak bisa berdiri. Dia menangis sambil terus memohon ampunan pada Richi.
Richi mengarahkan pistol ke kepala Albern. Lelaki itu sudah pucat dan gemetaran, dengan darah yang terus mengalir dari kedua lututnya.
"A-ampun..."
Suara Richi, entah bagaimana terasa mengerikan terdengar.
"Aku masih bisa memaklumimu waktu itu. Tapi karena kau sudah menyeret ibuku.. artinya hidupmu yang kau pertaruhkan."
Albern tak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya menangis karena hidupnya yang berakhir.
Ricky menyentuh bahu adiknya. "Biar ini jadi urusanku. Kau temuilah ibu. Aku tahu, tubuhmu pasti sangat lelah."
Richi masih terus menatap Albern. Dia sangat ingin mengabisi orang itu langsung. Tapi benar kata Ricky, tubuhnya sudah sulit berdiri dengan tegak. Kepalanya masih terasa pusing dan berdenyut dibagian pelipis.
Richi menurunkan senjatanya. Kini dia membiarkan Ricky menyeret kerah baju Albern hanya dengan satu tangan. Sepanjang Albern diseret, sepanjang itu pula darah yang memberi jejaknya.
~
"Kau akan mendapatkan karmamu."
Wiley mengeryitkan dahi, sedetik kemudian dia memadamkan rokoknya di paha Henry, membuat lelaki itu mengeraskan rahang menahan sakit.
"Kau berbicara seolah kaulah yang terintimidasi dan disiksa oleh orang-orang kriminal."
__ADS_1
Wiley berdiri, dia mengangkat kaki tepat di wajah Henry. "Sebelum karmaku yang datang, terima dulu karmamu."
BRAK! Henry terjungkal saat dengan sekuat tenaga Wiley mendorong wajahnya dengan kaki kanan.
Henry meringis menahan beban kaki Wiley yang kini menginjak pipi kanannya.
"Kau lebih rendah dari binatang. Mengambil kesempatan dalam keterpurukan anak-anak yang terlantar di jalan dan menjadikan mereka budak mafia. Mengizinkan semua barang dan pekerjaan ilegal dengan meminta persenan kepada mereka. Kau banyak membunuh dan mengancam orang-orang tak bersalah. Perlakuanmu sungguh mencoreng abdi negara."
Henry malah tertawa di tengah kepalanya yang terasa sakit dengan tekanan kaki Wiley.
"Kau.. kau pikir.. kau melakukan hal bersih? Hah?.." Henry tertawa pelan. "Tidak ada petinggi negara ini yang bersifat jujur. Termasuk kau."
"Aku tahu.. kau.. sama sepertiku." Henry menjeda ucapannya saat merasa kaki Wiley semakin berat.
"Orang-orang kotor memang selalu merasa orang lain sama sepertinya. Hah. Lebih baik aku mati dari pada melakukan hal yang mirip denganmu."
"Apa karena hidupmu yang bersih itu, kau bisa memiliki istri yang cantik?"
"Kau semakin tidak bis menjaga lidahmu." Tendangan keras Wiley berikan pada wajah Henry persis seperti menyepak bola. Tendangan itu langsung membuat wajah Henry berdarah-darah seketika.
Henry mencoba bangkit sambil tersenyum sinis. Untuk apa dia memohon jika pada akhirnya dia juga akan mati, pikirnya.
"Kenapa? Kau tidak suka istrimu dipuji orang lain? Aku hampir memperkosanya tadi. Sebelum mati, setidaknya aku ingin merasaka-"
Lagi, tendangan keras tepat di rahangnya hingga kepala Henry terjatuh dan terhantam ke lantai.
Tidak memberi jeda, Wiley mengangkat tubuh Henry dengan satu tangan, dan tangan lain menghantam wajah Henry yang sudah penuh darah.
Henry terkapar. Dia tidak bergerak di atas lantai dengan darah yang sangat kental keluar dari mulutnya.
"Aku tau kau belum mati. Berdiri." Titah Wiley, tapi tak ada jawaban dari bawah.
"Ah, rasanya aku ingin segera membunuhmu." Wiley mengangkat tangan, membuat Simon segera berlari kearahnya dan mendudukkan Henry ke kursi yang ada disana.
Pria itu duduk dengan wajah yang tak karuan. Dia menyeringai dengan gigi yang penuh darah. "Ka-kau.."
BRUK! Satu hantaman keras lagi di perut Henry, membuat pria itu tersungkur kedepan karena tak kuat menahan sakit dan beban dirinya.
Ricky datang dengan menghempaskan tubuh Albern tepat disebelah Henry.
"Jangan lupakan anakmu. Pergi ke neraka berdua, jauh lebih baik."
__ADS_1