
"Kalau kau menolak, aku akan menghajar teman-temanmu."
Lelaki itu semakin mendekatkan tubuhnya pada Richi. Dia tersenyum pada gadis itu. "Aku memaksa. Jika kau tak ingin terjadi perkelahian, maka-"
BUK! Satu hantaman mendarat di wajahnya dan itu belum berakhir. Tanpa jeda, Richi memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan tajam tepat di rajang lelaki itu. Lagi, Richi menendang ulu hati dan tangan kanannya menghantam hidung lelaki itu hingga ia terjatuh tak bergerak.
Suasana menjadi hening seketika. Melihat itu, Clair dan Bella duduk lagi. Mereka sangat tahu apa yang sedang disalurkan oleh ketua tim. Begitu juga Olivia, dia menyuruh yang lain untuk diam saja dan membiarkan Richi yang bekerja.
"Hei, jangan." Bella menahan tangan Daren yang hendak membantu Richi.
"Kau gila? Teman kalian itu sedang.."
Ucapan Daren terhenti seketika, saat mendengar rintihan dari dua orang sekaligus. Baru saja Richi menghantam yang lain, saat mereka menyerang dengan maju sekali dua. Tapi gadis itu, langsung membuat keduanya memegang bagian yang sakit pada tubuh mereka.
"Wuah, kuyakin yang baju kuning patah dibagian tulang rusuk." Kata Clair sambil mengunyah roti, serius menatap ke depannya.
"Sayang sekali, dia harus keluar banyak uang untuk itu." Sambung Bella.
Ketiga perempuan itu sudah sangat paham kalau Richi tengah menyalurkan emosinya pada berandal-berandal itu. Sebab, Richi adalah tipe perempuan yang malas berkelahi jika tidak darurat. Kalau ada yang mengganggu, Richi pasti akan mengalah pergi, atau merespon dengan baik sebisa mungkin.
Tapi, jika ia sudah menghajar tanpa kompromi, artinya Richi memang sengaja melampiaskan emosinya pada orang yang tepat. Lagipula, jika dilihat dari bentukannya, para berandal ini tidak bisa diajak kompromi baik-baik. Maka jalan yang Richi ambil, sudah benar. Begitu pemikiran Clair dan yang lain.
Setelah bertarung tanpa waktu yang lama, Richi berjongkok dihadapan lelaki yang tadi berani mengajaknya berkencan.
Lelaki itu menatapnya dengan mata yang sudah lebam salah satunya.
"Terima kasih."
Suara berat Richi membuat lelaki itu mengangguk cepat. Walau dia bingung kenapa gadis itu mengucapkan terima kasih, tetapi dia tetap merasa ngeri dengan apa yang baru saja dia lakukan. Padahal, wajah gadis itu kini berseri dan tampak seperti gadis lugu lainnya.
Beberapa temannya sudah lari dengan wajah yang babak belur, begitu juga dirinya yang berusaha bangkit dan cepat-cepat berlari.
Richi merasa sedikit lebih baik. Luapan emosi yang sejak tadi ia tahan akhirnya bisa disalurkan dengan baik tanpa cedera sedikitpun.
"Sudah baikan?" Tanya Olivia menghampiri Richi.
"Hehehe." Richi tertawa pelan sambil mengacungkan jempolnya.
"Baddassss!!"
"Luar biasa."
"Aku sampai menahan napas melihatnya."
__ADS_1
"Hebat, sudah lama aku ingin melihatmu berkelahi, Ri!" Frans ikut-ikut terkagum.
Richi pun langsung mengakhiri basketnya dan memilih duduk beristirahat bersama Clair, Bella, dan Daren. Sementara yang lain masih melanjutkan permainan mereka.
"Kerass! Senggol dikit nyawa melayang." Kata Bella menggoda Richi.
"Jauh dikit, Bells. Nyawa bisa sampai kerongkongan nanti." Sambung Clair sambil terkikik sementara Richi tersenyum santai sambil mengikat rambutnya kebelakang.
"Untung juga mereka datang, ya. Jadi kau bisa menyalurkan rasa cintamu." Clair terkikik lagi.
Richi membuang napasnya dengan kasar. "Merepotkan, tapi menyenangkan." Katanya sembari menerima sebotol air mineral dari Bella.
"Tumben Hugo tidak ikut." Daren memulai membahas satu topik.
"Sekarang dia punya kesibukan sendiri." Jawab Richi kemudian menenggak air dalam botol sekali habis.
"Kesibukan apa?" Tanya Daren.
"Tanya langsung, dong. Temennya, kan?" Jawab Bella cepat.
Padahal Daren tidak pernah ingin tahu dengan orang-orang disekitarnya. Tapi jika itu mengenai Hugo dan Richi, lain ceritanya. Hugo sepertinya melakukan sesuatu yang Richi tidak suka tapi dia tidak menyadarinya.
Hari itupun belalu tanpa kendala. Keesokan harinya Richi baru sampai gerbang dan tatapan orang-orang mengarah padanya.
Richi sedikit heran dengan apa yang terjadi, sebab memang semua siswa menatapnya dengan wajah yang tak bisa ditebak. Lalu beberapa siswa mengatakan kalimat yang Richi bingungkan.
'Cool sekali, Richi Darrel!'
'Tidak disangka, hebat sekali!'
'Hei, sesekali ajari aku juga, dong!'
Hampir semua laki-laki yang menyapanya mengatakan itu dan cukup mengganggu bagi Richi. Respon berbeda dari perempuan.
'Bukankah dia mengerikan?'
'Aku jadi takut'
'Aku menyesal pernah mengirim pesan jahat padanya.'
'Bukankah dia keren?'
'Aku jadi ingin belajar bela diri'
__ADS_1
Richi menghela napas panjang. Padahal dia belum belajar untuk ujian kali ini dan berniat membaca buku sebentar sebelum bel berbunyi. Tapi melihat anak-anak membuka ponsel dan seperti menonton sesuatu, membuat Richi tergerak untuk mengecek ponselnya.
Dia menganga lebar saat melihat satu video di dalam web sekolah. Yaitu video dirinya menghajar para berandal itu sendirian. Video berdurasi satu menit itu benar-benar sudah ditonton semua siswa Oberon dan nampaknya itu juga tersebar ke sekolah lain.
Richi menggenggam erat ponselnya. Siapa yang berani melakukan itu?? Dia paling tidak suka hal seperti ini. Tapi jika dilihat, video itu diambil dari sudut lain. Yaitu arah depan. Jadi, mustahil teman-temannya yang disana yang merekamnya. Apalagi sebagian besar dari mereka mengenal sedikitnya tentang Richi yang tak suka ketenaran.
"Rel, kau tidak apa-apa?"
Bella menepuk pundak Richi yang berdiri mematung di koridor sekolah.
"Siapa?" Tanya Richi pada Bella yang langsung paham maksud Richi.
"Aku juga tidak tahu. Tapi aku sudah memberitahu Clair. Dia akan mengecek Cctv taman." Jawab Bella. "Kau tenang saja. Clair pasti langsung menangkap orang itu dengan segera." Lanjut Bella lagi.
Richi hanya diam, dia terus menatap layar ponselnya. Kenapa tiba-tiba ada orang yang merekamnya?
"Yang menyebar Video itu juga anonim. Jadi, aku tidak bisa menyelidikinya." Bella merangkul Richi sambil menaiki tangga.
"Bentar lagi ujian, aku tahu kau belum belajar. Sana, baca buku sebentar." Bella melambaikan tangan saat sudah berada di depan kelas Richi.
Richi pula langsung masuk dan duduk sambil terus melihat videonya yang diambil dari jarak dekat, tapi kenapa tidak ada yang menyadari itu?? Jika di-upload di laman sekolah, artinya seseorang yang merekamnya juga dari Oberon.
"RICHII!"
Hugo, dengan wajah panik, muncul dari pintu. Dia segera menghampiri Richi yang duduk di bangkunya. Wajah gadis itu tampak biasa saja, hanya tangannya yang menggenggam ponsel menampilkan layar dirinya yang tengah bertarung.
Hugo berdiri di dekat gadis itu, lalu memeluk tubuh Richi, mendekap kepala gadis itu ke tubuhnya hingga Richi bisa merasakan bagian perut Hugo yang membentuk itu.
"Chi, kau tidak apa-apa? Kenapa tidak kabari aku? Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau ada di taman? Aku kan, bisa menemanimu."
Richi melepas pelukan Hugo. Dia merasa tidak enak lantaran menjadi pusat perhatian beberapa orang yang ada di dalam kelasnya.
Ingin sekali Richi mengatakan bahwa dia melakukan itu karena dirinya ingin menyalurkan rasa ketidaksukaan Richi pada kepedulian Hugo terhadap dua perempuan kembar itu.
"Aku tidak apa-apa."
Hugo berjongkok, dia mendongak melihat kekasihnya itu.
"Benar tidak apa-apa?"
"Hei, Hugo. Kau tidak lihat videonya? Richi bahkan tidak tersentuh, untuk apa kau sekhawatir itu." Sewot Greta yang merasa terganggu dengan pertanyaan Hugo yang terus berulang.
Hugo menatap kekasihnya. Dia memang sudah melihat video itu dan tahu bagaimana kekasihnya menyelesaikan itu dengan baik. Tapi ada rasa bersalah dalam hatinya, karena dia tidak berada disana. Dia juga bertanya-tanya kenapa orang-orang itu tidak membantu Richi dan malah menonton seperti itu.
__ADS_1
Hugo menggenggam tangan Richi dengan erat, menatap mata gadis itu. Richi bukan perempuan yang selalu intens berhubungan via chat atau semacamnya. Chat Hugo saja, dia bisa membalasnya saat sudah 5 jam berlalu. Kejadian ini juga Richi tidak cerita, padahal dia sempat meneleponnya sebentar tadi malam.
"Chi, bisa tidak, apapun yang terjadi, apapun yang kau lalui, atau yang kau alami, kau bilang padaku, beritahu aku, supaya aku tidak menjadi orang terakhir yang tahu soal ini. Aku kekasihmu, kan?"