Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Hugo Memuji


__ADS_3

"Bos, aku tidak sengaja bertemu Darrel, hampir saja aku tertangkap olehnya". Lexus berbisik, mendekatkan bibirnya dengan ponsel sambil sesekali mengintip apakah gadis yang mengejarnya masih disana atau sudah pergi.


"Kau gila, ya! Bagaimana bisa kau tidak hati-hati!" Suara diseberang terdengar marah. "Awas! kalau kau tertangkap, jangan sampai kau mengeluarkan sepatah katapun tentang rencana Stripe!" Ancamnya.


"Maafkan saya, bos. Saya akan lebih hati-hati". Ucapnya lalu menutup ponsel, menahan dirinya supaya tetap disana sampai beberapa menit dan yakin Richi telah pergi dari sana.


Hugo mengikuti Richi yang berjalan dengan cepat, dia masih mencari Lexus kesana kemari.


"Chi, jelaskan padaku, siapa Saver itu. Kau menyebut laki-laki yang menyiksaku adalah Saver, sementara aku mengenalnya sebagai Lexus".


Richi berhenti, dia mengertakkan gigi karena kesal kehilangan jejak Lexus.


"Lexus dan Saver adalah saudara kembar. Mereka selalu bermain trik untuk mengecoh lawan. Yang bersamamu waktu itu, adalah Saver, kakak Lexus. Sedangkan yang kukejar, adalah Lexus." Jelas Richi dengan menahan amarah. Dia mengepalkan tangannya, Ingin sekali dia menghajar mati-matian lelaki tadi, sayangnya dia kehilangan jejak.


Mendengar penjelasan Richi, membuat Hugo semakin bingung.


"Wajar kau bingung. Karena akupun begitu. Aku ingin sekali menangkapnya supaya dia memberitahuku siapa dalang dibalik kejadian dua tahun lalu." Ucap Richi dengan tegas.


"2 tahun lalu? Kau ada disana?" Tanya Hugo.


"Dari pertanyaanmu, sepertinya kau juga disana."


"Iya, aku disana."


Jawaban Hugo tak mengejutkan Richi, hanya saja yang ia pikirkan selama ini adalah Stripe yang berulah adalah kelompok satu lagi.


"Jadi, kelompokmu kah yang berulah itu?"


"Bukan."


Mendengar itu, Richi cukup lega.


"Baiklah, kita pulang saja."


Ucapnya sembari melangkah ke arah mobil Hugo.


"Bagaimana hubunganmu dengan Lexus, Hugo". Richi menatap ke jalanan yang kosong. Dia mulai menanyakan hal yang dia tidak bisa tahan lagi.


"Dialah teman yang kukatakan itu. Tangan kananku yang akhirnya membentuk kubu sendiri". Jawabnya tanpa menoleh. Hugo fokus pada jalan. "Kalau kau?"


"Dia menembak ketua kami. Itu yang membuatku marah sampai sekarang".


Hugo melirik sekilas Richi. "Apa ketuamu adalah Keen."


Richi langsung menoleh, "Kau tahu?"


"Ya, hanya tahu namanya saja. Aku tidak pernah bertemu karena Valiant selalu memakai masker dan menutup wajah."


Richi diam, dia tidak memberitahu Hugo bahwa yang lelaki itu maksud adalah kakaknya, Ricky Keen Wiley. Lalu jika Hugo tahu, akan jadi seperti apakah? Batinnya.


"Oh ya, kau sudah lama latihan menembak?" Tanya Hugo mengalihkan tema.


"Ya, dari usia 10 tahun."


Hugo mengangguk. "Pantas saja kau terlihat keren". Pujinya pada Richi.


Gadis itu menoleh, kalimat yang keluar dari mulut Hugo membuatnya sedikit senang.


"Kau jangan tertarik padaku, ya." Ucap Richi kemudian.


"Tidaklah. Aku menyukai gadis anggun, bukan gadis tangguh".

__ADS_1


Jawaban Hugo sungguh menohok, Richi langsung memalingkan wajah, bungkam dengan memanyunkan bibir. Padahal, dirinya sadar kalau Hugo memang menyukai gadis anggun. Lalu, kenapa dia sedikit merasa sedih?


"Kecuali kau berubah sedikit anggun. Coba saja kau uraikan rambutmu itu, berjalan dengan tenang, dan sering-sering memakai dress, kau pasti cantik." Ucap Hugo lagi, tanpa melirik Richi. Matanya lurus kedepan, namun nada bicaranya seakan benar-benar mengharapkan Richi melakukan apa yang ia katakan.


"Benarkah?"


"Tentu saja". Kata Hugo antusias. Harapannya meningkat mendengar itu dari Richi.


"Kau bahkan takkan melihat itu dalam mimpimu". Jawabnya sambil buang muka, menatap lampu jalanan yang berjejer di sebelahnya.


Jawaban Richi membuatnya bersedih. Padahal, dia sangat ingin melihat langsung gadis itu berdandan seperti foto yang Daren kirim padanya waktu lalu.


...✨️✨️✨️...


"Besok adalah hari Oberon's day. Yeay!" Teriak Frans sambil melambungkan Bola ke atas langit.


"Kau punya gandengan ya, Frans?" Tanya Isac sembari memandang bola yang melambung tinggi.


"Tidak. Aku hanya senang saja. Siapa tahu bajuku penuh dengan stiker besok. Hehe".


"Kalau kau, Richi?" Eric melemparkan tanya kepada Richi yang mengemut permen di mulutnya.


Richi menatap Eric tanpa ekspresi.


"Sia-sia aku bertanya padamu". Lanjutnya sambil berdiri lalu mengadahkan wajah ke atas langit. "Tuhan, bantu aku supaya aku diterima olehnya. Amin".


Frans tertawa terbahak-bahak. "Giliran ada maunya, kau berdo'a. Haha".


Eric ikut tergelak.


"Kalian tidak bertanya siapa yang kusukai?" Eric menoleh pada Frans dan Richi bergantian.


"Coba lihat wajahku, Ric". Ucap Richi.


"Apakah kau melihat aku peduli?"


Frans tergelak lagi. Eric langsung manyun dan melemparkan bola dengan keras ke arah Frans yang terbahak-bahak.


"Tidak seru. Padahal aku berharap adanya teman perempuan bisa membantuku mengatasi perasaanku terhadap wanita." Keluh Eric.


"Kau gila, ya. Richi bahkan tidak pernah menyukai lelaki, apalagi berpacaran. Haha". Frans tergelak lagi.


"Kau benar, Frans. Memangnya aku berharap apa pada gadis itu". Liriknya pada Richi yang tampak tak peduli dengan berselonjor santai di lantai lapangan basket.


"Hei, Richi. Hugo datang". Bisik Frans pada Richi.


"Richi" Hugo memanggil dari belakangnya.


"Hei, Richi".


Gadis itu tak juga menyahut.


"Hei Keong!"


Richi tersentak lalu berdiri menghadap Hugo. "Apa kau bilang?"


"Keong. Kenapa? Bukannya kau kalah tadi malam?"


"Aku kalah karena kau curang!" Bentaknya.


"Curang kau bilang? Bukannya kau yang dari awal sudah curang?" Balasnya pada Richi. Mereka bertekak di hadapan Eric dan Frans hingga membuat kedua orang itu bingung.

__ADS_1


"Itu bukan curang, aku juga mulai dari tangga pertama, tahu!"


"Kau sendiri? Kenapa kau turun saat aku kesakitan? Kau peduli, ya, padaku!"


Balasan Hugo membuat semua terdiam, tak kecuali Hugo sendiri, dia merasa kata-kata itu terlalu berlebihan.


Suara tawa pelan terdengar dari belakang mereka, Frans dan Eric sangat terhibur pada kedua orang di depannya.


Richi tidak bisa menjawab. Dia juga bingung karena memang dirinya khawatir saat Hugo menipunya dengan rasa sakit di dadanya.


"Sudahlah, cepat ikut aku." Titah Hugo.


Richi tak bergeming. Dia masih diam disana.


Hugo dengan cepat menarik tangkai permen di mulut Richi, gadis itu menahan dengan giginya dan mengikuti Hugo berjalan.


"Argh!" Richi melepaskan permennya.


"Eh?" Hugo melihat permen merah jambu di tangannya.


"Apa?" Bentak Richi.


"Besok bagaimana?"


"Apanya?"


"Konser idolamu!"


Richi menepuk jidatnya. "Ah iya, aduh bagaimana ini, Hugo. Aku ingin sekali kesana." Richi menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.


"Kau tinggal pergi, apa susahnya?"


"Iya tapi aku lupa ada janji dengan kak Emer untuk datang ke acara sekolah".


Mendengar itu, Hugo sedikit kesal. Dia melengos. "Jadi bagaimana?"


Richi menggigit jari dan menggelengkan kepala.


Hugo menyodorkan permen tadi ke mulut Richi. "Nah!"


Richi membuka mulutnya tanpa sadar, Hugo langsung menyuapinya. "Kau pikirkan itu, kalau sudah, kabari aku". Ucapnya dengan lembut lalu pergi.


Sementara Richi masih bingung karena besok sudah hari H.


"Romantis sekali, ya". Bisik dua orang yang lewat.


Richi tidak juga mengerti. Dia masuk ke dalam kelasnya.


"Richi, kau dan Hugo manis sekali, ya. Hahaha" Gelak seorang temannya dari bangku tengah, disambut tawa yang lain.


"Richi, kau benar-benar pacaran dengan Hugo, ya. Belakangan kalian semakin mesra." Greta memeluk lengan Richi.


"Apa, sih". Richi melepas paksa tangan Greta. Dia duduk di bangkunya. Richi langsung mengeluarkan ponselnya. Kalau sudah begini, pasti ada sesuatu, batinnya.


Benar saja, foto dirinya yang disulangi Hugo makan permen tadi, membuatnya membelalakkan mata. "Kapan ini terjadi??" Pekiknya.


"Ya mana kami tahu, yang pacaran kan, kau!" Jawab Greta lalu duduk di bangkunya.


Richi menghantukkan kepalanya di atas meja. "Aku tidak sadar tenyata dia tadi begitu padaku". Gumamnya pelan.


Padahal tadi dia sedang berpikir dan menimbang tanpa menyadari perbuatan Hugo padanya.

__ADS_1


Richi melirik lagi foto itu dari kolong meja. lalu tersenyum samar. Walau kesal, dia juga sedikit menyukai foto itu.


TBC


__ADS_2