
Daren mengendarai motornya menuju sekolah, dia terhenti saat melihat seorang perempuan yang berjongkok memberi makan kucing di bawah pohon.
Gadis itu memakai topi dan jeket hitam yang lebih panjang dari roknya sehingga ia tidak bisa melihat seragam yang dipakai gadis itu.
Tetapi Daren bisa melihat sedikit wajah gadis yang tengah menunduk itu.
"Masih lapar, hm?" Tanyanya pada kucing kecil yang ia elus-elus kepalanya.
Daren turun dan mendekatinya. Dia berdiri tepat di hadapannya hingga membuat kucing kecil di depannya kabur dan gadis itu berdecak dengan kesal karena orang yang tiba-tiba berdiri di depannya itu.
Perlahan gadis itu mendongak, melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
Gadis itu membulatkan mata, sedikit terkejut saat melihat ternyata Daren yang berdiri itu.
Gadis itu berdiri perlahan dan sedang memikirkan cara untuk kabur dari hadapan lelaki didepannya.
"Kau mau kabur, ya."
Ucapan Daren sukses membuat Via terkejut, dan membatalkan pikirannya untuk lari dari Daren.
"Kau tidak membalas pesanku, tidak mengangkat teleponku, dan tidak hadir ke tempat yang sudah aku pesankan padamu." Mata Daren menatap tajam pada Via yang tidak berani melihatnya.
"A-aku.. tidak membuka ponsel.." jawabnya tergagap.
"Benarkah? Aku melihatmu menelepon seseorang saat membuang sampah di depan rumahmu."
Via mengerutkan alisnya dan mulai marah. "Kau mengikutiku?"
"Aku tidak punya waktu untuk itu. Aku punya caraku sendiri untuk mengetahuimu, Olivia."
Via maju perlahan menatap tajam ke arah Daren yang tetap tegak di tempatnya.
"Kau tahu apa yang disebut Privasi?" Olive mendongak menatap Daren yang lebih tinggi darinya. Kini, jarak mereka kini sangat dekat.
"Dengan memberi nomor ponselku pada teman-temanmu, misalnya?" Tanya Daren balik tanpa berkedip melihat Olive.
Olive melengos, "lalu kau mau membalasnya padaku? Jadi, apa tujuanmu?"
"Iseng." Jawab Daren dengan senyum miringnya.
Dengan cepat Olivia menarik kerah baju Daren dengan kedua tangannya. "Kalau kau berani menyenggolku lagi, kau akan tahu apa yang terjadi padamu nanti". Bisiknya di depan wajah Daren yang tak perduli. Olive memilih pergi dengan gerutu di bibirnya.
"Aku belum selesai".
Langkah Olivia terhenti, dia berbalik menatap tajam pada Daren. "Kau pikir aku peduli?!" Pekiknya lalu pergi begitu saja meninggalkan Daren dengan senyum miringnya.
~
Richi berjalan di koridor sekolah menuju kantin sambil memegangi gelang di tangan kirinya. Ia masih belum terbiasa dengan benda kecil itu di tangannya.
"Ah, gelang seperti ini bukan seleraku. Kalau bukan dari Hugo, sudah aku buang ini." Gumamnya menatap gelang cantik itu.
__ADS_1
Richi melepasnya dan dia berjongkok, memindahkannya ke tempat yang lain.
Richi berjalan lagi dan mendapati Hugo tengah berdiri bersama tiga orang gadis.
Salah satu diantara mereka memberi Hugo sebuah makanan ringan yang berukuran besar. Richi menyipitkan mata, melihat makanan ringan yang diberikan gadis itu pada Hugo adalah makanan yang ia sukai dari luar negeri.
Richi melangkah mendekat dan langsung menarik makanan itu dari tangan Hugo yang ikut terkaget karena sambaran Richi.
Tanpa mengucapkan apa-apa, Richi hanya menggoyangkan makanan itu sampai berbunyi, menyeringai pada Hugo dan gadis-gadis itu lalu melangkah lagi ke dalam kantin.
"Sialan, biar aku ambil!" Pekik gadis itu ingin mengejar Richi lalu tangannya di tahan oleh Hugo.
"Tidak apa-apa". Ucap Hugo yang menahan tawa dengan sikap Richi yang dianggapnya cemburu.
"Tapi itu aku beli jauh-jauh hanya untukmu." Kata gadis itu lagi.
"Biar aku saja yang mengambilnya. Terima kasih, ya." Hugo melangkah, meninggalkan mereka yang masih dengan wajah kesal.
Hugo berdiri tak jauh dari Richi yang sedang mengobrol santai dengan Eric dan Frans sambil mengunyah makanan yang baru saja ia curi.
Hugo hanya menggelengkan kepalanya, dia duduk bersama Isac, Daren dan Axel yang tengah makan sambil mengobrol.
"Hugo, pas sekali kau datang". Ucap Isac saat melihat Hugo duduk di depannya.
"Kau bilang akan melanjutkan belajar ke negara A, kan?"
Hugo mengangguk, "Kenapa?"
"Kalau gitu, aku ikut kesana juga!" Seru Axel.
"Itu juga belum pasti". Tukas Hugo. "Ada beberapa hal yang membuat aku berubah pikiran." Ucapnya sambil melihat Richi yang masih mengunyah di ujung sana.
"Aneh sekali, bukannya kau sampai ingin melakukan apapun asal bisa belajar disana?" Tanya Isac lagi.
"Someone has changed his mind." Jawab Daren sambil bermain game di ponselnya dan membuat Axel dan Isac mengerutkan alis.
Isac menyikut Daren sampai ponselnya terjatuh. "Apaan?"
"Ck! Dia pacaran dengan Richi." Jawabnya dengan kesal.
"APAAA!!" Teriak Axel dan Isac berbarengan hingga membuat seisi kantin menoleh pada mereka termasuk Richi yang berhenti mengunyah karena pandangan mata keduanya mengarah padanya.
"Jangan berisik!" Pekik Hugo dan kedua temannya itu langsung menutup mulut mereka.
"Hugo, sejak kapan?" Bisik Axel.
"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Isac lagi yang bingung.
Hugo tak menjawab, dia menyeruput minuman kaleng milik Daren di depannya dengan santai.
...🐥...
__ADS_1
"Wah, kemampuanmu terus bertambah, ya." Ucap Bella pada Olive yang menembak dengan ketepatan 90%.
"Aku kan, tetap latihan." Ucapnya sambil mulai membidik lagi.
"Ah, sebal. Aku tidak pernah latihan semenjak di negara F." Pekik Bella di hadapan Clair dan Richi yang duduk di belakang mereka. "Clair, ajari aku, dong!"
"Nanti, aku masih malas berdiri." Jawab Clair asal.
"Bell, bagaimana? kau sudah membaca file yang kukirim?" Tanya Richi yang tengah berselonjor sambil memperhatikan Olivia.
"Sudah. Aku juga sudah mendapatkan jadwalnya, nanti malam aku akan berusaha mendapat perhatiannya"
Richi manggut-manggut. "Akan ada pesta 2 malam lagi, acara ulang tahun Sonia, mantan ketua Cheerleader Oberon. Dia mengajakku kesana, kau juga harus datang bagaimanapun caranya."
"Hah, aku paling tidak suka datang ke acara pesta orang yang aku tidak kenal". Desahnya sambil duduk di sebelah Richi.
"Eh, bukannya itu Hugo?" Bella menunjuk arah kanan Richi. Lelaki itu berjalan dengan Daren ke arah mereka.
"Tidak heran". Kata Clair sambil menatap ke depannya lagi, melihat Olive yang tengah menembak.
Hugo tersenyum melihat Richi memakai jeket merah miliknya. "Sudah lama?" Tanyanya pada Richi.
"Lumayan. Kau mau latihan juga?"
Hugo mengangguk, melihat Olive di tembakan terakhirnya yang semakin membaik.
"Hah, lumayan.." Ucap Olive sambil membalikkan tubuhnya dan terkesiap melihat sosok laki-laki di belakang Hugo.
"Kau!" Pekiknya sambil menodongkan senjatanya.
"Eh, ada apa?" Hugo terkesiap saat Olive mengarahkan senjata ke arahnya, membuat Richi dan yang lain berdiri.
"Olivia, ada apa?" Tanya Richi dengan raut wajah yang panik.
"Kau mengikutiku lagi, hah?" Olive mengarahkan matanya pada Daren yang tenang saja sejak tadi.
Hugo membalikkan badan, melihat ke arah Daren. "Kau, ada apa dengan gadis itu?"
"Tidak ada apa-apa". Jawabnya santai.
"Kau kenal dengan Daren, Liv?" Tanya Richi dan Olivia menaikkan alisnya.
"Daren?" Olivia mencondongkan wajahnya, berbisik pada Richi. "Apakah dia Daren Wycliff?"
"Oh, kau kenal?"
Mata Olivia membulat. "Mati aku." Gumamnya lalu menundukkan wajahnya.
"Kalian saling kenal, ya? Tidak disangka.." Ucap Richi dengan riang sementara Olivia meleyot di sampingnya karena tatapan dingin Daren padanya.
TBC
__ADS_1