Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Karena Harry


__ADS_3

Tak lama, Isac dan Axel pun keluar ruangan. Mereka membiarkan Hugo beristirahat.


Tetapi Hugo sudah tidak bisa memejamkan matanya. Melihat Camilla terisak, pikirannya terbang ke Richi.


Gadis itu juga menangis malam itu. Walaupun Hugo sendiri tidak tahu dengan pasti apa yang membuat Richi menangis.


kejadian itu masih amat jelas di ingatannya. Bagaimana gadis itu memintanya untuk tetap hidup, membuatnya tersenyum kecil. "Apa dia menyukaiku?" Gumam Hugo dengan suaranya yang berat. Dia memandang lagi foto Richi yang dikirim Daren.


Hugo memegang jantungnya. Degupannya begitu terasa di dadanya, menggelitik hingga membuatnya terus ingin tertawa karena rasa senangnya.


Hugo mengelus lembut foto Richi.


Tidak mungkin Richi tidak merasakan sesuatu saat dirinya memeluknya. Dia bahkan menurut saat diminta tetap disana. Batinnya.


Hugo lalu mengecek sosial medianya. Dia ingin melihat Richi di dunia maya.


Hugo membuka laman web sekolah, dimana laman itu hanya berisi anak-anak sekolah Oberon.


Kotak masuk Hugo tampak menumpuk. Dia bahkan tidak membukanya karena berisikan anak-anak perempuan yang menggodanya.


Hugo mengetik sebuah nama, lalu matanya berbinar saat sebuah akun bernama Richi D. Willey muncul.


Hugo tersenyum melihat akun itu. Dia segera membukanya, berharap bisa melihat gadis itu disana.


Tapi nyatanya tidak ada apa-apa disana. Hanya foto-foto skate board, bola basket, lapangan, hingga teman-temannya yang bermain basket.


Hugo tidak menemukan satupun foto Richi. Dia bahkan tidak benar-benar meletakkan informasi dirinya dengan benar. Hanya hobi yang diisi, setelah itu...


Hugo tersenyum, foto Mouza yang tertidur disebelah buku yang tampaknya tengah dibaca Richi di kedai Clair.


Tidak ada apa-apa yang bisa ia curi. Hugo kembali mengecek laman lainnya. Dua hari tidak ke sekolah sudah membuatnya banyak ketinggalan informasi. Dan yang paling ramai menjadi populer di laman itu, membuat Hugo tergerak melihatnya.


Laman itu dibagikan banyak siswi dengan ragam caption tanda tanya, 'siapa gadis cantik yang bersama ketua osis?'


Hugo memperhatikan foto itu. Sebuah foto perempuan menghadap belakang dengan rambut panjang indah yang Hugo kenali milik siapa.


"Richi?"


Hugo mengingat lagi, sepatu dan jeket yang perempuan di foto itu gunakan sama persis dengan apa yang Richi pakai. Kecuali bajunya. Walau begitu, Hugo sudah yakin, dia memang Richi.


Dia melirik tanggal dan jam postingan itu. Tanggal yang sama dengan kejadian saat dirinya di siksa dan Richi menyelamatkannya.


Hugo tak bergeming. Ada segoret rasa kecewa dalam hatinya, sebab gadis itu ternyata pergi bersama Emerald setelah membantu menyelamatkan dirinya. Padahal, Hugo juga mengorbankan diri demi Richi yang juga hampir tertembak.


Hugo membuang ponselnya dengan asal hingga terjatuh ke lantai. Dia memiringkan badan, menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.


'Dia pergi berkencan setelah kejadian itu?' Batin Hugo bertanya-tanya.


Untuk apa Richi menyemangatinya, memintanya supaya tetap hidup?


Bukankah dia juga menanangis?


Jika setelah itu dia bisa bersenang-senang, artinya...


Hugo terenyak. Dia sadar, ternyata Richi memang tidak menyukainya.


"Ah, bagaimana mungkin kau tidak terdetak sedikitpun. Padahal aku mendekap tubuhmu dengan erat. Aku yakin kau bahkan bisa merasakan hembusan napasku di wajahmu" Gumam Hugo dengan lirih. Melihat Richi di laman ketua osis membuatnya merasa sendu.

__ADS_1


Hugo terus termenung. Ada rasa amarah dalam dirinya.


"Dia, berkencan dengan Emerald?"


Hugo bergumam lagi. Seperti tidak terima dengan kenyataan yang ia hadapi sekarang.


Mendengar ucapan Isac tentang mereka yang berdansa, juga laman yang dibagikan Emerald, sepertinya dia memang berpacaran dengan gadis itu.


Hugo memejam paksa matanya. Dia ingin tidur dan menghilangkan perasaannya pada gadis yang bahkan tidak punya perasaan sedikitpun padanya. Sayangnya, dia semakin tidak bisa tertidur. Rasa sedih, kecewa, dan marah bercampur dalam hatinya saat mengingat Richi yang masih saja melayang dalam pikirannya.


...🦫...


Richi duduk di bangku lapangan basket. Matanya fokus pada teman-temannya yang bermain dengan riang, sementara dia, pikirannya tidak dk tempat dan belum lepas dari kejadian itu. Apalagi, rumor Hugo sakit sudah tersebar entah dari siapa asalnya.


Tadi malam, dia bahkan sulit tidur lagi ketika tersentak karena memimpikan potongan kejadian saat Hugo tertembak karena melindunginya.


'Kenapa dia sampai melakukan itu?'


"Richi! Awas!"


Teriakan Frans terlambat, bola basket menghantam dahi Richi hingga kepalanya tertolak kebelakang dan ikat rambutnya terlepas.


"Aargh!" Richi mengerang. Menatap ke arah anak-anak yang menegang karena sepertinya Richi akan mengamuk.


"Siapa!" Teriaknya berdiri pada mereka yang mulai tunjuk-tunjukan sebagai pelaku.


"Aish! Main basket kaya main bola kaki!" Teriaknya kesal sambil memegang jidatnya yang sebenarnya tidak begitu sakit.


"Kau nampak stres ya, Richi."


"Apa kejadian itu membebanimu?"


Richi duduk perlahan dan seketika lupa akan amukannya barusan.


"Kalian sudah sekolah?" Tanyanya balik tak menghiraukan pertanyaan Daren.


"H'em. Kecuali Hugo, dia belum benar-benar pulih." Jawabnya tanpa menoleh Richi. Pandangan mereka tertuju pada anak-anak yang mulai bermain basket lagi.


"Kau merasa bersalah? Kenapa?" Tanya Daren saat melihat Richi tertunduk.


"Tidak mungkin aku tenang, dia yang menolongku". Ucapnya dengan lesu sembari mengikat lagi rambutnya.


Daren menahan senyumnya. Walau terlihat tidak peduli, ternyata gadis itu justru terbebani.


"Anggap saja itu harga yang dia bayar karena kau menolongnya." Daren berdiri dari tempatnya. "Lagi pula, dia sudah semakin membaik setelah aku mengiriminya obat yang tepat". Ucapnya dan berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Richi yang tampak tidak mengerti ucapannya.


...🌻...


Langkah Richi terhenti saat tiga perempuan menghadang jalannya. Richi bergerak ke samping, perempuan itu mengikuti.


"Permisi, aku mau lewat". Richi melembutkan suaranya supaya terdengar lebih sopan.


Namun dua diantaranya memegang tangannya kiri dan kanan. "Ikut!" Ucap salah satu dari mereka.


"Sebentar! Aku tidak kenal dengan kalian". Richi mencoba melepaskan tangannya. Kedua tangan gadis itu dengan kuat menggenggam Richi.


"Ayo, bawa dia". Kata seorang perempuan yang kemudian memimpin jalan.

__ADS_1


Richi dengan pasrah mengikuti mereka yang langkahnya menuju gudang belakang sekolah.


Mereka mendudukkan Richi di sebuah kursi. Ketiganya berdiri tegak melipat tangan di dada.


"Begini saja? Terlalu mudah! Dia bahkan terlihat lemah". Ucap seseorang dan tersenyum miring.


"Kita hanya mengurungnya disini, kan?"


"Tidak. Kita perlu memberinya sedikit pelajaran karena telah bermain-main dengan bos". Jawab yang lain.


"Bos? siapa?" Tanya Richi penasaran.


"Tentu saja, Carina. Kau telah membuatnya marah. Kau pikir siapa yang berani menyenggolnya". Jelas perempuan itu. Dia memandang rendah pada Richi yang terlihat tidak pandai melawan.


Richi memandang dengan malas. Rasanya dia selalu saja harus repot karena sesuatu yang terus berkaitan dengan Hugo.


"Kita apakan?" Tanya yang satunya.


"Lepaskan saja aku. Aku sangat lemah dan takut." Richi meringkuk di kursi, dengan nada yang dibuat seolah-olah ingin dikasihani.


"Haha, enak saja! Kau sudah berani menyentuh tuan Harry di pesta dansa, kau takkan selamat dari Carina!" Sentaknya pada Richi yang membelalakkan mata.


"Apa? Harry?" Richi menepuk jidatnya. Tidak heran jika dia sering diganggu karena gosip yang dibuat Hugo. Tapi ini, Harry?


"Kau berdansa dengannya kemarin malam. Beruntung sekali kau. Tapi keberuntunganmu itu hanya sebentar, Karena kau akan menyesal mulai sekarang!"


"Kalian salah paham, aku tidak sedikitpun menyukai Harry. Tidak se-di-kit-pun!" Richi menekankan kalimat akhirnya supaya para gadis itu mengerti.


"Hei, kau berani berkata begitu? Dia itu tuan Harry, pemilik perusahaan besar, tampan, dan jenius. Berani-beraninya kau berkata begitu!" Gadis-gadis itu menggerutu dengan ucapan Richi yang terdengar tidak masuk akal.


"Haduh!" Keluh Richi karena merasa serba salah.


Richi berdiri. "Sampaikan pada bos kalian, aku tidak menyukai Harry. Justru dialah yang memintaku menjadi pasangannya. Kalau kau datang, pasti kau tahu."


"Kau benar. Tapi tetap saja Carina marah padamu, ditambah kau menggagalkan rencananya. Sekarang, kau harus dihukum". Jawab perempuan itu dengan polosnya.


"Minggirlah. Aku tidak punya waktu mengurus hal semacam ini. Orang gila mana yang mau dituduh suka dengan laki-laki sepertinya."


Mendengar ucapan Richi, salah satu gadis itu berang. "Kau sombong sekali, kau pikir tuan Harry menyukaimu?" Dia lalu melingkarkan jarinya di leher Richi.


Richi menendang tulang kering gadis itu hingga ia kesakitan dan melepaskan cekikannya.


"Aku tidak ingin melukai sesama perempuan." Ucapnya lalu melangkah pergi. Namun, salah satu gadis itu malah menarik rambutnya. Richi dengan sigap mengarahkan sikunya ke arah belakang dan mengenai hidung gadis itu hingga dia merintih.


"Kau!" Dia memegang hidungnya yang terkena siku kiri Richi.


"Aku sudah bilang kan, aku tidak mau melawan perempuan." Richi memandang perempuan yang satu lagi. Gadis itu mundur dan terlihat tegang.


"Jangan mengangguku lagi!" Ancam Richi dan langsung pergi meninggalkan ketiganya.


"Dia kuat sekali". Gadis itu meringis memegang hidungnya yang hampir patah.


Hanya seperti itu saja, Richi sudah membungkam ketiganya yang mulai bingung untuk melaporkannya pada Carina.


"Hei." Richi berbalik. "Katakan pada bosmu, aku sudah kalah".


To Be Continued...

__ADS_1


__ADS_2