
"Apa anak laki-laki yang menendang dengan keras itu, yang pernah menjemputmu kemari, Chi?" Tanya Ibu sambil meletakkan gelasnya di atas meja.
"Hm. Iya." Jawabnya sambil mengangguk-angguk.
"Apa? Dia pernah datang kemari?" Ricky terbelalak. Dia tidak mengira hubungan adiknya dan Hugo sampai sedekat itu.
"Iya. Anaknya sangat sopan dan lucu. Dia juga memanggilku dengan sebutan Ibu, loh". Tutur Mary semangat lantaran melihat anak tampan yang datang ternyata sangat kuat berkelahi. Pasti dia bisa melindungi Richi, batinnya.
"Hah? Apa-apaan itu!" Bentaknya tidak terima. "Mana bisa begitu. Memangnya dia siapa sampai memanggil ibuku dengan Ibu juga?" Ricky tidak terima. Emerald saja, memanggil Mary dengan sebutan Tante.
Plak!
"Aww.."
Bahu Ricky dipukul sang ibu. "Kenapa memangnya? Toh, istrimu nanti juga memanggilku ibu!." Mary tersungut mendengar ucapan anaknya itu.
"Ah, Ibu. Apa bagusnya anak itu! Lebih baik Emerald yang menjadi menantu ibu." Ucapnya sambil mengelus-elus bahunya.
"Kau ini, suka sekali ikut campur urusan adikmu! Kau urus saja masalahmu itu. Dasar!"
Sang Ayah hanya tertawa melihat kelakuan istri dan anaknya itu.
Richi menggelengkan kepalanya. Dia melihat kakaknya terlalu berlebihan menanggapi hubungannya dengan Hugo.
"Siapa dia?" Tanya Wiley yang penasaran pada seseorang yang diributkan anak dan istrinya.
"Dia anak tuan David Erhard, Ayah. Pemilik Lovvi Group yang sedang dalam masa jayanya." Jawab Ricky lalu menggeser duduknya menjauh dari Mary. Bahunya habis dicubit ibunya.
"Benarkah? Wah, dia setampan itu ternyata." Ucap Mary dengan wajah sumringah.
Wiley mengangguk lambat. "Kau berhubungan dengannya?" Wiley melirik anak gadisnya.
Richi menggeleng. "Tidak, Ayah. Ichi bahkan baru mengenalnya. Tidak ada apa-apa diantara kami."
"Ada apa-apa juga tidak apa-apa". Ucap Mary senyum-senyum membayangkan anak gadisnya bisa menikah dengan lelaki seperti Hugo.
Richi melongos. Dia tidak pernah membayangkan ada apa-apa dengan anak itu. Bahkan dia tak habis pikir, apa yang harus dia sukai dari lelaki itu.
"Apakah ibu tidak tahu, siapa dia itu?" Tanya Ricky yang kesal melihat reaksi ibunya.
__ADS_1
"Tentu saja. Kan, kau yang bilang dia anak David Erhard."
"Citra keluarganya tidak baik, Ibu. Dia punya banyak wanita simpanan. Yang benar saja jika harus berhubungan dengan kita."
"Itu cuma gosip. Kau ini! Dia orang yang baik dan sangat menghargai perempuan". Reaksi Mary membuat sang Ayah angkat bicara.
"Kau sangat mengenal dengan baik mantanmu itu ya, sayang".
"APAAA!!" Ricky dan Richi spontan terjekut mendengar ucapan sang Ayah yang terlihat santai menyebut Ayah Hugo sebagai mantan kekasih Ibu mereka.
🌴🌴🌴🌴
"Hugo, apa kau tidak dipanggil Ayahmu?" Tanya Axel yang duduk di atas sofa sambil melirik Hugo yang duduk dibawah. Ia sejak tadi menatap layar besar di depannya.
"Aku kan, sedang menjengukmu". Ucapnya tanpa menoleh.
"Jenguk apanya. Kau bahkan bermain PS saja sejak tadi." Geramnya pada Hugo. Axel tahu Hugo hanyalah lari dari Ayahnya. Dia paling tidak suka jika Ayahnya menasehatinya.
"Ayahmu menelponku beberapa kali." Lanjut Axel lagi.
"Aku tahu kau pandai beralasan untukku."
Axel menghela kasar napasnya.
"Jelas saja marah. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Tapi sepertinya Ayahku akan mengirimkan hadiah untuk keluarga Richi". Ungkapnya tadi saat Will Dominic berang melihat rekaman CCTV yang dikirimkan oleh sekolah.
Awalnya, Will akan memperkarakan kasus ini, namun karena kepala sekolah mengatakan kasusnya telah diurus oleh keluarga Wiley, Will pun mereda. Baginya, itu saja sudah cukup.
"Benar-benar diluar dugaan. Richi itu seperti wonder woman. Hebat.." Isac bertepuk tangan. Saat melihat rekaman tadi, dia girang sendiri melihat Richi yang dengan hebatnya memukul lawannya hingga menanggalkan gigi lawannya.
"Aku juga terkejut. Saat melihat anak itu datang dan tidak kabur membuatku khawatir. Aku berpikir, aku sudah tidak bisa menopang diriku, lalu harus apa kalau dia malah dilecehkan oleh mereka?" Axel memegang dagunya yang diperban saat dia berbicara terlalu semangat.
"Perempuan itu hebat sekali. Satu tinju di wajah Gary sudah membuat giginya putus. Hahaha". Isac tertawa terbahak-bahak.
"Kau mengenalnya?" Tanya Daren yang mendengar Isac menyebut salah satu nama mereka.
"Ya. Kami satu kelas waktu sekolah dasar. Yang ku tahu, sekarang ini dia sering ditakuti lantaran ayahnya naik jabatan sebagai ketua anggota dewan." Jelas Isac.
"Pantas dia lagak sekali. Tapi syukurlah, Richi Darrel memberinya pelajaran." Kata Axel dengan senyuman puas di wajahnya.
__ADS_1
"Hugo, sepertinya anak yang kau tendang dengan kuat itu hampir sekarat. Kurasa kau terlalu berlebihan". Ucap Daren pada Hugo yang duduk di bawah kakinya.
Hugo mendongak kebelakang. Melihat Daren yang menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Menurutmu begitu?" Ucapnya lalu mentap layar didepannya lagi. "Baguslah. Semoga dia tahu cara yang tepat untuk melawan adalah dari depan. Bukan belakang".
"Tapi entah mengapa aku merasa Richi akan dalam masalah. Sepertinya Gary tidak akan tinggal diam setelah ia merasa dipermalukan oleh Richi. Ku dengar dia terus mengamuk dirumahnya". Ucap Isac yang tadi mendapat kabar dari grup alumni sekolah dasar. Banyak teman-teman yang mendoakannya, namun banyak pula yang menasehatinya supaya lebih baik kedepannya.
Hugo tersenyum miring. Laki-laki itu pasti dalam kesulitan besar. Apalagi orang-orang tahu dia dihajar seorang perempuan. Pasti sangat merusak harga dirinya.
"Permisi, Tuan. Tuan kedatangan tamu. Katanya teman Tuan Hugo". Seorang pelayan rumah datang dan melapor pada Axel.
"Suruh saja masuk". Jawab Daren.
"Siapa? Kau mengundang seseorang?"
Belum terjawab pertanyaan Axel, seseorang itu langsung masuk dengan gaya manjanya.
"Hugoo". Dia langsung menyerbu Hugo. "Hugo, kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" Tanya Camilla sambil memeriksa seluruh badan Hugo.
"Hei, Camilla. Akulah korbannya. Bukan Hugo!" Tutur Axel kesal. Padahal yang seharusnya mendapat perhatian adalah dirinya. Hugo bahkan hanya muncul di akhir.
"Kau terlihat baik." Kata Camilla yang meliriknya sekilas. Lalu dia duduk disebelah Hugo dengan ocehannya.
Axel sampai tidak bisa berkata-kata.
"Hugo, maaf ya. Aku datang terlambat. Aku ketua Cheers jadi harus selesai sampai pertandingan akhir. Aku dengar Apollo di eliminasi. Hah.. untunglah. Beritanya pun sudah tersebar." Ucapnya panjang lebar.
"Berita apa?" Tanya Isac.
"Berita kalau salah satu anggota tim Oberon dikeroyok oleh tim Apollo dibelakang Gor sekolah kalian. Terus, apa benar perempuan yang membantumu, Axel? Siapa dia? Semua orang bertanya-tanya."
Mereka saling pandang. Ingin mengatakannya tapi Richi jelas-jelas ingin menutupinya.
"Kau sudah makan?" Hugo mengalihkan topik.
"Sudah. Ini aku bawakan kau makanan kesukaanmu. Ayo, makan. Jangan hiraukan mereka". Ucapnya lalu membuka kotak bekal makanan dan menyuapi Hugo makan.
Yang di atas sofa, hanya diam melirik dan kasihan pada Axel, korban yang sesungguhnya.
__ADS_1
To be Continued....
Dukung Author dengan cara Like setiap Episode ya. Terima Kasih🤗