
Hugo berlari kecil di koridor. Dia melewati banyak mata yang menatapnya sebab pakaian yang ia kenakan berbeda dari anak-anak di sekolah. Dia tidak memperdulikannya. Matanya hanya fokus mencari Richi.
Pertandingan basket melawan sekolah Columba dia lewatkan karena dia ketiduran. Dia pun tidak sadar saat bangun ternyata berada di rumah Axel.
Pelayan Axel mengatakan kalau Axel dan teman-teman lainnya juga menginap semalam. Saat Hugo terbangun, teman-temannya sudah berangkat karena jadwal pertandingan hari ini pagi-pagi sekali.
Mata Hugo menyoroti setiap ruang dan tidak menemukan Richi. Dia lalu menuju Gor sekolah berharap gadis itu ada disana walau pertandingan seharusnya sudah selesai.
Belum sampai di Gor, larinya terhenti. Dia melihat Richi tengah mengadahkan wajahnya ke atas langit. Entah apa yang di lihat gadis itu. Namun nampaknya dia seperti sedang mengharapkan sesuatu.
Richi memejamkan matanya. Membiarkan angin menyerakkan rambut di dekat telinga yang keluar dari ikatan. Richi sangat menikmatinya.
"Richi" Panggil Hugo dari sampingnya. Namun nampaknya Richi tak mendengarnya. Kedua telinga gadis itu tengah di tutupi headset seperti biasa.
Hugo berjalan ke hadapan Richi. Menghalangi sinar matahari yang hangat menerpa wajah gadis itu dengan tangannya yang menjuntai ke atas.
Merasa di ganggu, Richi membuka matanya dan melihat siapa sosok tinggi menjulang di hadapannya.
Richi tidak bergerak. Dia berdiam menatap wajah laki-laki yang sepertinya tidak berniat ke sekolah. Karena pakaian yang ia kenakan masih sama seperti tadi malam. Rambut depannya tersibak angin dengan lembut. Hugo terlihat berantakan, tetapi tidak memudarkan wajahnya yang bersinar cerah.
Hugo menatap wajah Richi cukup lama. Tangannya masih berada di atas seperti menutupi cahaya matahari yang tidak sengat supaya tidak mengenai wajah Richi.
Terdengar bisikan dari beberapa orang yang lewat. Memuji wajah tampan Hugo yang tampak cocok dengan jeket kulit hitam yang ia kenakan.
Ada pula yang berbisik menanyakan status hubungan mereka yang kian sering terlihat bersama. Melihat Hugo berlari menghampiri Richi dan menutupinya dari cahaya matahari, menguatkan gosip yang selama ini mereka dengar.
Richi menunduk. Dia tidak sadar menatap lelaki itu cukup lama. Lalu dia melepas headset yang menyantol di kedua telinganya.
"Ada apa?"
Pertanyaan Richi menyentakkan Hugo. Dia menurunkan tangannya. Dia tertegun beberapa saat. Napasnya sempat terhenti saat menatap wajah gadis di depannya.
"A-aku..."
Hugo terlihat bingung. Lalu mengernyitkan alisnya dan berpikir. Kenapa menemui Richi? Dia sempat lupa tujuannya menemui gadis itu dengan tergesa-gesa.
Dia entah mengapa seperti bermimpi bertemu dengan Richi malam tadi. Bahkan gadis itu menolongnya dari orang-orang yang sepertinya akan mencelakakannya. Itulah sebabnya dia mencari Richi karena ingin berterima kasih.
Tetapi, itukan hanya mimpi? terasa sangat nyata. Batin Hugo.
__ADS_1
"Apa kau sudah baik-baik saja?"
Hugo menoleh ke wajah Richi. Pertanyaan gadis itu semakin meyakinkan dirinya bahwa itu bukanlah mimpi.
"Apa kau menolongku? Sebenarnya aku bermimpi kau menolongku dari kerumunan orang jahat." Hugo tampak berpikir lagi. Mengingat apa yang ada di benaknya "Lalu kau mendorongku sampai terjungkal. Pinggangku sangat sakit sekarang."
Richi menahan tawanya. "Kau yakin aku melakukan itu?" Tanya Richi. Sebab dia melihat Hugo tak yakin dengan ingatannya.
"Entahlah. Apa aku bermimpi?"
"Ya, sepertinya begitu. Ternyata kau mempikan aku ya, Hugo." Goda Richi sambil tertawa.
Wajah Hugo memerah. Dia merasa malu karena kejadian yang di pikirannya terlihat sangat nyata. Lalu mendengar ucapan Richi tadi, sepertinya dialah yang terlalu mengkhayal.
"Ah. Sorry. Itu seperti sangat nyata". Ucapnya dengan malu-malu dan menunduk memegang leher belakangnya.
Richi menahan tawa melihat gelagat Hugo. Lelaki yang dilihatnya sangar di lapangan basket dan di ring ternyata juga bisa bersikap malu-malu bahkan memalukan.
"Oke, baiklah."
Richi berbalik dan meninggalkan lelaki yang masih berdiri disana. Tangannya menutup mulut karena tak berhasil menahan wajahnya yang terasa geli.
"Ah sial. Dia pasti menertawakanku!" Gumam Hugo yang merasa kesal dan malu yang menjadi satu.
...πΆβπ«οΈ...
Hugo masuk ke dalam ruangan yang biasa ia dan teman-teman basketnya pakai untuk diskusi. Disana sudah ada Daren, Isac, dan Axel yang duduk di sofa.
"Bagaimana? Kau ingat apa yang terjadi padamu?" Tanya Daren saat melihat Hugo muncul dari pintu.
Hugo menghempaskan tubuhnya. Merentangkan tangan di sandaran sofa dan menggolekkan kepalanya. Apa yang terjadi kemarin malam membuatnya bingung. Karena dia memang merasa pusing lalu Carina mengantarnya menaiki taksi dan entah bagaimana dia terbangun di rumah Axel.
Tok.. Tok..
Mata mereka beralih ke pintu. Richi sudah bersandar di daun pintu yang terbuka.
"Masuk, Chi." Ucap Axel pada Richi.
Hugo menegakkan tubuhnya. Rasa malu masih menyelimuti tubuhnya. Dia tidak berani menatap gadis yang sudah duduk di sofa depan kanannya.
__ADS_1
"Hugo, apa yang kau ingat dengan kejadian tadi malam?"
Pertanyaan Isac membuatnya sedikit terkejut. Apakah dia akan menceritakan bahwa Richi menolongnya? 'Mereka pasti akan menertawakanku' Batin Hugo.
"A-aku.." Hugo melirik Richi sekilas.
"Kau tidak ingat, ya?" Tanya Axel.
"Apa kau merasa minuman yang kau pesan sudah dicampur obat?" Sambung Daren.
"Apa?" Hugo tersentak. Dia tidak berpikir sampai sana. Ada apa sebenarnya? Karena dia hanya ingat sampai Carina memapahnya menuju pintu keluar.
"Ya, menurutku minumanmu pasti sudah tercampur obat-obatan yang membuatmu tidak sadarkan diri." Lanjut Daren.
Hugo mengerutkan alis. Dia yang sibuk memikirkan antara nyata dan tidaknya Richi yang hadir tadi malam, membuatnya lupa dengan apa yang mulanya terjadi pada dirinya.
"Aku hanya ingat bertemu perempuan itu, lalu aku merasa pusing dan dia memapahku keluar bar. Dan.." Hugo menghentikan kalimatnya. Dia mengingat Richi ada disana. Tetapi dia tidak berani mengatakannya. " dan Carina membantuku menaiki taksi. Setelah itu aku lupa. Tiba-tiba bangun di rumahmu" Tunjuknya pada Axel. Yang lain ikut mengangguk.
Daren mengeluarkan ponsel dan menyambungkannya dengan layar di depan mereka. Layar itu menunjukkan hasil rekaman CCTV mulai dari pelayan bar datang sampai Hugo dipapah Carina menuju pintu exit bar. Carina lalu membawa Hugo ke seberang jalan. Di belakang, seseorang ber-hoodie membelakangi kamera CCTV. Entah berbicara apa, Carina seperti menolak dengan memberi kode tangan pada seseorang yang di belakangnya itu.
Rekaman CCTV beralih ke seberang jalan. Disana, Richi menarik tangan Hugo dan berkelahi dengan dua orang laki-laki sampai adegan Hugo yang menjatuhkan diri ke pelukan Richi dan dengan sigap Richi mendorong tubuh Hugo hingga tersungkur ke belakang.
"Pffftt" Seseorang di ruangan itu menahan tawanya saat melihat apa yang Hugo lakukan pada Richi.
Hugo menahan napasnya. Dia bukan fokus pada apa yang Carina lakukan padanya. Melainkan pada rasa malunya saat ini, di hadapan Richi juga teman-temannya.
Hingga video berakhir, Hugo masih menegang. Apalagi melihat sekilas reaksi teman-temannya.
Richi terlihat tenang. Dia melipat tangannya di dada dan menyilangkan kakinya.
'Ah, jadi itu bukan mimpi..' batin Hugo. Entah mengapa dia merasa dipermainkan oleh gadis itu. Dia menatap kesal ke arahnya.
"Apa?" Tanya Richi yang merasa dilihati oleh Hugo.
"Hei, Hugo. Kenapa wajahmu seperti marah pada Richi? Dia sudah menolongmu kemarin." Kata Axel yang memperhatikan tatapan Hugo pada Richi.
"Aku tidak tahu masalah kalian, yang pasti saat ini kita harus fokus pada apa yang hampir dilakukan gadis itu padamu, Hugo". Sambung Daren memulai diskusi mereka.
"Aku tahu.." Ucap Richi dengan santainya.
__ADS_1
To be Continued...