Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
STRIPE (2)


__ADS_3

Pernyataan Hugo tidak begitu mengejutkannya. Walau awalnya dia hanya menduga Hugo hanya berhubungan dengan Stripe, namun nyatanya Hugolah bekas ketua mereka.


Sekelompok orang jahat tadi sempat mengatakan kalau Richi adalah kekasih Tuan Hard yang dilindungi. Ucapan mereka mungkin berdasarkan malam di Wallpox waktu itu. Itulah sebabnya mereka ingin menjadikan Richi sebagai sandraan untuk melemahkan Hugo.


Richi berdiri dan melangkah dari kursinya. Dia tidak punya alasan lagi untuk tetap berada di ruangan Hugo.


"Tunggu, Richi. Aku tahu kau menjauhiku".


"Aku tidak pernah merasa dekat denganmu sampai harus menjauh".


Mendengar ucapan Richi, Hugo agak terenyak. Tidak ada yang salah dari ucapannya. Hubungannya dengan Richi memang tidak akrab. Bahkan saat mulai terasa dekat, masalah datang hingga membuat Richi menghindar dari pandangannya. Entah mengapa, hal itu terasa menyedihkan.


"Temui aku di taman kota malam nanti. Aku akan menceritakan semuanya padamu. Aku janji. Aku tahu masih banyak yang ingin kau tanyakan padaku". Hugo berharap agar hubungannya dengan Richi tidak berakhir. Bagaimana pun, perempuan itu telah banyak membantunya.


Richi tidak menyahut. Dia langsung keluar ruangan tanpa menoleh lagi ke belakang.


...🌒...


Richi keluar dari taksi dan melihat penjaga gerbang yang berdiri ternganga melihat ke arahnya.


Dia buru-buru mempersilakan majikannya masuk dengan perasaan tegang. Baru pertama dia melihat gadis itu bebercak darah di bajunya. Biasanya, Richi akan menghajar orang dengan trik mematikan tanpa darah setitikpun.


"Si-silakan, Nona". Ucapnya dengan Suara kaku sambil tertunduk, dia masih bisa melihat memar di wajah gadis itu.


Richi berjalan masuk. Dia sangat sadar mata para pelayan mengarah padanya sambil sesekali tertunduk saat Richi memandang ke arah mereka.


Richi berhenti. Dia menatap deretan pelayan wanita dengan seragam yang menyambutnya pulang.


"Hei, kau!" Richi menunjuk salah satu dari mereka.


Pelayan itu tertunduk dengan gemetar. Richi seperti orang yang tengah diselimuti amarah. Apalagi bajunya berlumur darah. Membuat mereka berpikir yang tidak-tidak.


"Ma-maafkan saya, Nona". Pelayan itu membungkuk hingga membuat Richi terheran. Padahal, dia belum bicara apa-apa.


Richi membuang napasnya. "Kau! Berapa kali sudah kukatakan. Jangan membungkuk seperti itu. Kalian jangan menyambutku di depan begini. BUBAR SANA!". teriaknya pada 6 orang pelayan sisi kanan dan kiri, hingga membuat semua orang berhamburan dari tempatnya.


Dia lalu menyeret langkahnya ke kamar. Namun belum sampai disana, kakaknya sudah merangkulnya dari belakang.


"Berkelahi lagi, ya. Seru sekali kelihatannya".


Richi tidak bergerak. Selalu, Ricky pasti mendapat info dari penjaga depan kalau saat ini dirinya penuh darah.


Ricky melirik adiknya yang sudut matanya membiru. "Kau kalah?"


"Aku menang. Sana, pergi" Richi melepaskan rangkulan kakaknya.

__ADS_1


"Pfftt. Biasanya tanpa tersentuh. Kali ini kau babak belur. Berapa lawanmu?" Tanya Ricky sambil mengejek. Dia tidak begitu khawatir karena tahu adiknya tidak pernah menyerang orang tanpa sebab. Apalagi, keahlian Richi dalam pertahanan diri sudah diakuinya.


Richi berhenti berjalan. Menoleh ke arah kakaknya. Kalau dia memberitahu berkelahi dengan Stripe, pasti akan melebar masalahnya.


"Enam lelaki." Richi lalu menegakkan badannya menghadap sang kakak.


"Kau tahu, kak. Ada satu orang yang wajahnya mirip sekali denganmu."


"Benarkah? Tidak seganteng aku, kan?"


Richi menggeleng. "Wajahnya sial. Karena mirip denganmu membuatku menghajarnya berkali-kali hingga darahnya sampai sini". Ucapnya dengan nada pelan sambil menunjuk noda darah di bajunya.


"Apa! Maksudmu kau mau menghajarku?" Ricky dengan cepat mengunci leher adiknya dengan tangan kirinya hingga membuat Richi menepuk-nepuk badan kakaknya karena sesak.


"Ricky!" Teriak Mary lalu memukul-mukul kepala Ricky dengan majalah yang di gulungnya.


"Aduh, Ibu. Ampun. Aku hanya bercanda!" Teriaknya sambil mengaduh. Padahal, Richi yakin, pukulan Ibunya tidak terasa di badan kakaknya.


"Kau ini, adikmu cuma satu! Bukan disayang malah dihajar!" Omel Mary pada Ricky yang selalu jahil pada adiknya.


Richi di belakang ibunya tertawa tanpa suara sambil mengejek.


Mary berbalik badan, menatap anak perempuannya. "Richi! Astaga. Kau kenapa?"


Panik, Mary sangat panik melihat Richi yang tidak pernah bebercak darah sebelumnya.


Mary semakin menjadi. Dia menelepon dokter dan lainnya untuk mengecek kesehatan Richi. Gadis itu sudah tahu apa yang akan terjadi. Dia hanya mengikuti saja supaya cepat selesai dan Ibunya tenang.


...🦋...


Angin malam membuat Rambut Hugo berserakan. Dia datang dengan berjalan kaki sambil menenangkan perasaannya yang entah bagaimana terasa sesak.


Dia duduk di bangku tepi lapangan basket kota yang tengah sepi. Hanya ada beberapa orang yang lalu-lalang. Sisanya, hanya kebisingan dan lampu-lampu kendaraan yang lewat secara bergerombol.


Hugo menunduk. Wajah Richi menggantung di pelupuk matanya. Gadis itu telah mengalami kesulitan bahkan saat belum begitu dekat dengannya.


Benar kata Daren, dia tidak bisa melibatkan Richi terlalu dalam. Tujuannya menjauhi Stripe hanya bertahan sebentar. Pada akhirnya, kedatangannya ke Wallpox membuat Stripe memiliki alasan lagi untuk mengacaukan Hugo.


Hugo termenung sampai dia sendiri tidak sadar, sudah berapa lama dia menunggu dan Richi tidak juga muncul.


Hugo melirik ponselnya. Melihat begitu banyak pesan dan panggilan yang dia lewatkan dari Camilla.


Sudah lebih dari dua jam dia menunggu. Memandang seluruh sudut tempat. Siapa tahu Richi muncul dari sana.


Dia mulai mendesah. Richi tidak juga datang. Hugo mengingat raut wajahnya saat dia mengatakan bahwa dia ketua Stripe, membuat Hugo menganggukkan kepala. Ya, sepertinya gadis itu memang tidak akan datang.

__ADS_1


Hugo menelisik jalanan sepanjang matanya memandang. Setelah meyakinkan diri kalau richi tidak akan datang, diapun beranjak dari duduknya.


"Sudah mau pergi?"


Hugo menoleh ke belakang. Richi berdiri denga tangan yang dimasukkan ke dalam saku hoodie-nya.


Wajah kusamnya berubah cerah. "Kau datang?" Hugo mengikuti Richi yang duduk di bangku tempat ia duduki tadi.


Dia melihat wajah Richi yang sudah lebih baik.


"Aku lama, ya? Dari jam berapa kau disini." Tanya Richi tanpa menoleh pada Hugo. Dia menatap jalanan yang banyak dilalui kendaraan.


"Tidak, kok. Dari jam 7"


Jawabannya membuat Richi menoleh. Sekarang jam 10. Sudah tiga jam dan dia bilang tidak lama?


"Apa itu sudah membaik?" Tanya Hugo sambil menunjuk wajah Richi.


"Lumayan".


Hugo terdiam. Dia tidak tahu bagaimana lagi memulai percakapan yang panjang dengan Richi.


Begitu juga Richi. Gadis itu mengangkat kakinya ke atas bangku dan memeluk lututnya. Dia merasa canggung. Padahal kemarin tidak begitu. Lalu Hugo, bukankah dia terlalu banyak diam?


"Bagaimana kau melakukannya sendiri?" Hugo bertanya dengan tatapan terkesima. Richi, perempuan yang bahkan tidak banyak dikenal orang ternyata punya banyak keunggulan dalam dirinya.


"Maksudmu penculikan tadi?"


Hugo mengangguk.


Richi menatap langit gelap yang tidak menunjukkan banyak bintang.


"Aku lebih suka berkelahi di ruang sempit. Bukan cuma luka, mereka bahkan bisa kehilangan nyawa". Jawabnya tanpa menoleh Hugo. Matanya terus melihat ke langit. Dia mengalahkan enam orang dengan cepat di ruang sempit karena gerak yang terbatas membuat penjahat itu tidak bisa banyak berjurus.


Hugo diam sambil mengingat peristiwa tadi. Benar, orang-orang itu memang tidak ada yang bergerak. Bahkan Daren mengatakan mereka semua pingsan cukup lama.


Hugo mengangguk lambat. Setiap orang memang punya kelebihan masing-masing dalam bertarung. Kalau Hugo, dia lebih menyukai bertarung di atas ring. Di lihat banyak orang membuatnya lebih bersemangat untuk menang.


"Aku minta maaf." Hugo tiba-tiba merasa sendu. Walau Richi bisa melewatinya, dia akan terus diintai oleh Stripe.


"Kau selalu minta maaf. Aku sampai pusing".


"Maaf.." ucapnya lagi karena membuat Richi pusing.


Richi menoleh. Benar-benar orang ini. Batinnya.

__ADS_1


"Kau akan terus di incar oleh mereka"


Richi mengangguk. "Ya, karena mereka mengira aku ada hubungannya denganmu waktu di Wallpox. Sekarang, ceritakan. Kenapa kau sampai dibuang oleh Stripe?"


__ADS_2