Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
A promise


__ADS_3

Mereka sampai di suatu tempat, lapangan tembak yang bukan biasa Richi datangi.


"Sediakan tempatku". Ucapnya pada pelayan yang menyambut, lalu pelayan itu menunduk dan pergi dari tempatnya.


"Ini tempatku. Jadi, kau bisa datang kemari sesukamu, aku akan memberikan kartunya." Ucapnya lalu tersenyum. "Ayo."


Richi mengikutinya ke salah satu tempat, disana sudah tersedia dua buah senjata api jenis M4A1.


Ingin sekali Richi bertanya kenapa hanya memakai itu, tetapi pertanyaan itu pasti akan dicurigai kenapa dia bisa tahu tentang senjata.


"Richi.."


Lamunannya buyar, "Iya?"


"Lihatlah, aku akan menembak benda yang bergantung disana". Harry mulai membidik dan menembak pada ketepatan titik yang hanya 65%.


Richi menahan tawa, ternyata dia tidak benar-benar lihai.


Namun Richi bertepuk tangan. "Wah, kau mengenainya, hebat". Pujinya pada Harry yang hanya diam.


"Itu kurang tepat, biar aku coba lagi." Dia membidik lagi, dan menembak hampir mengenai titik.


'Lebih baik dari yang tadi. Ingin sekali aku menunjukkanmu cara menembak yang benar' batin Richi sambil memutar jarinya di pelatuk senjata yang tergolek di depannya.


"Mau bermain?"


"Apa? Tidak, terima kasih."


Harry menarik tangan Richi dan memberikannya senjata. "Pegang seperti ini". Harry mengajari cara memegang dari belakang.


"Kau harus memperhatikan depanmu." Ucapnya di telinga Richi, membuat bulu kuduk gadis itu naik. Ingin sekali dia menghantam Harry dari belakang tapi ia tahan sekuat tenaga.


"Bidik, setelah itu tekan pelatuknya.."


Dan Richi menembakkan dengan asal hingga tidak mengenai titik disana.


"Ah, maaf. Aku tidak bisa."


"Tidak apa, aku juga seperti itu dulu." Jawabnya dengan tertawa renyah.


"Richi, kita makan siang dulu, bagaimana?"


Richi mengangguk dan mengikuti arah Harry berjalan.


Richi di hidangkan dengan banyak makanan Eropa.


"Aku sengaja pesan ini karena sepertinya seleramu makanan Eropa". Ucap Harry yang duduk disebelahnya.


Richi tersenyum cerah mendapati banyak makanan kesukaannya disana. "Terima kasih, Harry. Kau perhatian sekali." Ucapnya lalu mulai menyantap.


"Aku suka melihatmu senang." Ucap Harry lalu membersihkan sedikit noda di bibir Richi hingga gadis itu terkesiap.


"Ah, maaf. Makanku berantakan."

__ADS_1


Harry tertawa, dia mulai menyantap makanannya.


"Richi, aku senang sekali akhirnya bisa makan denganmu, aku serius." Ungkap Harry. "Aku jarang berselera makan, tetapi bersamamu, selera makanku meningkat."


"Wah, benarkah? Ajak saja aku jika kau tak berselera makan". Jawabnya sambil mengunyah.


Harry tertawa lagi. "Tentu, jika kau bilang begitu."


Harry mengelus lembut rambut Richi, membuat gadis itu menoleh dengan heran. Dia ingin mengelak, lalu setelah mendengar ucapan Harry..


"Kau mirip sekali dengan Ibuku.."


Mata Richi mengerjap beberapa kali, dia melihat gurat kesedihan disana.


"Melihatmu membuatku merindukannya, dia meninggal dunia saat aku kelas 3 SMP."


Bola mata Richi menatap mata Harry yang berkaca.


"Kau bisa memanggilku Ibu".


"Apa?" Harry tertawa lebar. Richi berhasil membuatnya gagal bersedih.


Ternyata Hugo dan Harry sama-sama kehilangan Ibu, batin Richi. Lalu dia meneguk minumannya.


"Richi, kau benar-benar gadis yang menyenangkan. Aku banyak tertawa bersamamu." Harry lalu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.


"Ini Ibuku, lihatlah. Dia mirip denganmu".


Richi melihat foto kecil yang diserahkan Harry padanya. Memang benar, dibeberapa titik wajah, Richi mirip dengan Ibunya yang berambut pendek.


"Pasti cantik sekali." Sahut Harry menatap Richi lekat-lekat dan gadis itu hanya tersenyum.


Setelah selesai, Harry meninggalkan Richi untuk menerima telepon. Dia datang dengan wajah kecewa. "Richi, maaf. Aku harus mengerjakan sesuatu. Aku akan mengantarmu pulang".


"Pergilah, aku akan pulang sendiri."


"Tidak bisa seperti itu. Aku kan yang mengajakmu." Ucap Harry.


"Aku serius, aku juga ingin ke sesuatu tempat." Richi melambaikan tangan dan Harry dengan wajah berat meninggalkan Richi, sampai mobilnya lenyap, Richi melepas ketegangannya.


"Hah, tidak buruk juga dia." Gumamnya lalu mulai berjalan.


Richi terkejut saat seseorang menariknya dari balik tembok dan orang itu mendekapnya dengan erat. Richi menghirup parfum Hugo di dada orang yang menariknya.


"Kau sudah puas bermain-main dengannya, hm?" Suara Hugo membuat Richi mendongak, dia lalu melingkarkan tangannya di pinggang Hugo.


"Ah Hugo. Lega rasanya kau disini". Ucap Richi mengalihkan pertanyaan Hugo, dia meletakkan pipinya di dada lelaki itu.


"Kenapa? Jelas-jelas aku melihatmu senang bersamanya." Kata Hugo cemburu.


"Kau ini, aku kan hanya pura-pura."


"Seru ya, dipeluknya dari belakang begitu. Apa itu tadi, dia menyentuh bibirmu!" Ucapnya cemberut tetapi tangannya mengelus rambut kekasihnya.

__ADS_1


Richi mengembangkan senyum miringnya. "Mengerti kan rasanya, kalau kau bermain-main dengan gadis-gadis itu?"


"Tapi aku tidak pernah sampai seperti itu! Awas saja kalau kau jadi tertarik padanya!"


Richi terkikik. "Tidak akan. Ayo, pulang."


Hugo mengecup puncak kepala Richi, lalu menggenggam erat tangan gadis itu. "Ayo.."


Mereka berjalan bergandengan, menuju mobil Hugo.


"Kau bawa mobil ke sekolah? Tumben." Tanya Richi sambil memasang seatbelt-nya.


"Sekarang akan sering sebab ingin membawamu terus bersamaku." Jawabnya santai lalu menjalankan mobil.


"Jadi, Kau tidak latihan tinju?" Tanya Richi lagi.


"Mana bisa aku tenang setelah tahu kau bersama orang itu."


Richi memandanginya sambil tersenyum. Rasanya menyenangkan diperhatikan oleh orang yang disayangi.


"Kau ada masalah dengannya? Kenapa kau tidak suka pada Harry?" Tanya Richi penasaran.


"Yah.. masalah kecil yang belum terselesaikan sampai sekarang."


"Artinya kau mengenalnya dari dulu?"


"Ya, bahkan dari kecil."


Richi mengerutkan dahinya. "Sejak kecil? Kalian berteman? Atau apa?"


Hugo mengambil napas panjang. "Richi, aku sangat malas membahas dia. Nanti saja, ya. Jangan bahas dia sekarang, bahas saja aku yang kau cintai ini." Ucap Hugo dengan percaya diri dan Richi tertawa mendengarnya.


"Hugo.."


"Hm.." Liriknya sekilas.


"Berjanjilah kau akan selalu percaya padaku, apapun yang akan terjadi kedepannya."


"Kenapa tiba-tiba bicara begitu?"


"Aku merasa, sesuatu hal yang besar akan terjadi. Valiant dan Stripe mungkin akan terlibat hal besar lagi. Aku akan mendekati Harry lebih jauh supaya tidak terjadi kejadian seperti 2 tahun lalu. Jadi, aku minta kau terus mempercayaiku. Berjanjilah, karena akupun akan berjanji untuk menjaga hatiku untukmu."


Hugo menarik senyum kirinya saat mendengar ucapan manis dari Richi yang bahkan sulit bersikap romantis.


"Aku percaya padamu. Aku janji, akan selalu dipihakmu apapun yang terjadi". Ucapnya lalu menyentuh pipi Richi.


"Terima kasih, Hugo."


Richi menyandarkan kepalanya, hari ini memang dia belum mendapatkan apa-apa. Tetapi melihat Harry yang terlihat tulus membuatnya yakin jalan yang ia ambil akan lebih mudah dari pada harus berperang. Apalagi Harry sudah menyiapkan 10 bom di gedung-gedung besar, entah apa tujuannya, belum diketahui.


"Kita kemana, Hugo?"


"Kerumahku, bertemu Ayahku." Jawabnya tersenyum senang.

__ADS_1


"Apa!!"


TBC


__ADS_2