Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Memo untuk Hugo


__ADS_3

"Anda mengenali suaraku?"


Olivia tampak santai walau pistol Orlando mengarah padanya.


Orlando terkejut dengan mata membulat sempurna. Nampaknya gadis itu sangat mengenali dirinya. Orlando diam sejenak, dia sudah mencoba mengingat, namun gagal. Dia tidak mengenali siapa gadis di depannya itu.


"Sedang apa disini, tuan? Apa anda bagian dari Blackhole?" Tanya Olivia perlahan memajukan langkah.


"Siapa kau? Jangan bergerak atau aku tidak akan segan membunuhmu." Ancamnya sembari mundur beberapa langkah.


"Atau riwayat anda yang akan tamat saat seluruh masyarakat tahu bahwa anda melakukan perbuatan ilegal." Sambung Olivia dan sukses membuat Orlando bungkam.


Orlando bukan tidak tega untuk menembak gadis itu, dia hanya tak mau salah mengambil jalan, apalagi nampaknya gadis itu sangat mengenalnya.


"Kau.. Siapa?!"


Orlando semakin gelagapan ketika Richi datang tanpa memakai penutup wajah, yang sejak tadi Orlando tidak sadari.


"Sudah selesai disini?" Tanya gadis itu, lalu tersenyum kecil pada ayah Daren. "Halo, tuan. Selamat sore."


"K-kalian.. Valiant?" Orlando merasa kini hidupnya sedang ditepi jurang. Kalau Valiant tahu apa yang ia lakukan, bukankah ini mengerikan?


"Mari kita selesaikan baik-baik, tuan." Richi tersenyum kecil.


"Tidak, kau salah paham. Biar aku jelaskan-"


"Silakan jalan." Richi memberikan ruang pada Orlando untuk berjalan duluan. "Aku peringatkan untuk tidak kabur karena itu akan mempersulit diri anda."


Orlando berjalan dengan lunglai. Pasalnya, dia baru saja mengirim pesan pada Jenderal Wiley namun memang belum mendapatkan jawaban. Tapi kini, dia malah ditangkap anak jenderal yang dikenal dalam kelompok Valiant.


Richi menahan tangan Olivia. "Aku akan memberimu sedikit rencana." Bisiknya pada gadis itu lalu menjelaskan rencana apa yang akan dibuat oleh Richi melalui Olivia untuk membuat Orlando tak berkutik pada Olivia.


...🐈‍⬛...


Hugo melirik jam di tangannya. Sejak tadi dia ingin lari dari acara perayaan teater yang berjalan lancar bagi mereka. Bahkan menarik banyak pihak termasuk dari luar universitas. Tentu membuat petinggi kampus merasa bangga.


Hugo tak bisa pergi. Dia duduk diapit rektor dan dekan jurusannya. Sudah pukul 7 malam, seharusnya Hugo bersama Richi saat ini mengingat satu jam lagi gadis itu akan mendobrak markas Blackhole.


"Hugo, jangan sungkan untuk memakan makanannya." Kata Mira sembari tertawa kecil.


Hugo menatap tak suka. Dia benar-benar tak sangka ketua panitia itu sangat licik.

__ADS_1


Dia ingin menemui kekasihnya, tapi tidak tahu ada dimana gadis itu sekarang. Apalagi ponselnya juga tertinggal.


"Sa-saya permisi dulu." Hugo beranjak. Dia menemukan salah seorang temannya di depan tengah merokok.


"Hei, bilang pada mereka, ada hal penting yang harus kulakukan. Oke." Hugo langsung berlari menuju mobilnya tanpa menunggu respon dari temannya itu.


Sesampainya di mobil, Hugo menemukan secarik memo menempel di kaca mobilnya.


'Temui aku di hotel Dalton setelah acara sialanmu itu selesai'


Hugo langsung masuk ke dalam mobil dan menjalankannya. Dia dengan kecepatan penuh menuju hotel yang pernah ia dan Richi datangi.


Sesampainya disana, Hugo menuju resepsionis untuk menanyakan ada di kamar berapa Richi berada.


"Apakah dengan tuan Hugo?" Tanya resepsionis itu.


"Ya, benar."


"Kamar 373, tuan. Tapi ada pesan untuk tuan." Resepsionis itu memberikan sebuah kartu kunci dan kotak yang berukuran cukup besar pada Hugo.


"Cardlock?" Hugo mengernyit. Apa artinya Richi tidak ada di dalam?


Dia berjalan menuju dimana nomor kamar berada, sambil terus berpikir dan meyakinkan diri bahwa itu memang tulisan Richi dan kata-katanya juga nampak seperti Richi.


Hugo duduk disana, membuka kotak yang diberikan resepsionis tadi.


Di dalamnya ada minuman kaleng kesukaan Hugo dan juga secarik kertas.


'Tunggu di kamar, nikmati saja apa yang ada. Setelah dari markas Blackhole aku akan menyusul.'


Dia tersenyum setelah menyadari ternyata pesan itu memang dari Richi. Biarlah dia dihajar gadis itu, tidak masalah baginya asal Richi masih mau betemu dengannya. Nanti, pelan-pelan ia akan jelaskan bahwa sejadian itu adalah jebakan.


Hugo membuka tutup kaleng dan menenggak minumannya. Setelah itu, Hugo merebahkan tubuhnya yang lelah. Dia berniat mandi, tapi punggungnya sejak tadi tak bisa bersantai. Satu hari ini, entah kenapa waktu berjalan sangat lambat, padahal jika bersama Richi begitu terasa cepat berlalu.


...🦊...


"Kalian harus tahu, aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya diundang olehnya." Orlando menunjuk Benny yang ada disebelahnya. Dia terus mengoceh membela diri.


Pria bernama Benny itu tak terkejut saat dituduh. Dia hanya penasaran dengan empat orang yang jika dilihat sajapun sudah tahu mereka perempuan. Tapi kenapa bisa seperti ini? Dia bertanya-tanya dalam benaknya.


"Hallo, Dekan Olahragaku."

__ADS_1


Benny tersentak, ternyata gadis di depannya adalah mahasiswa jurusan olahraga?


"Senang akhirnya bisa bertemu setelah lama membuntutimu."


Benny menatap Richi dengan tajam. Ternyata yang mengikutinya hanyalah anak kecil, pikirnya.


"Aku Darrel, dari Valiant."


Mata Benny membulat, sementara Orlando menunduk.


Darrel, dia bukankah laki-laki? Tapi yang dihadapannya ini perempuan.


"Aku butuh penjelasan mengenai semua yang kalian lakukan hari ini."


"Ini bukan apa-apa." Jawab Orlando cepat. "Mereka menyekap anak-anak lalu menjadikan mereka sebagai kelinci percobaan dan aku-"


"Orlando!" Sentak Benny tak mengizinkan Orlando membongkar rahasianya.


"Pelik sekali ternyata." Richi mengangguk-angguk saat merasa dia akan sulit mendapatkan informasi kalau kedua orang itu duduk berdampingan. Lalu matanya teralihkan kepada Eline yang masih tertunduk lemas.


"Selesaikanlah sesuai rencana." Bisik Richi pada Olivia dan gadis itu mengangguk.


Richi berjalan mendekati Eline. Dia tampak pucat, begitu juga Virgo yang sudah kesakitan menahan nyeri di kakinya.


"Bagaimana ya, jika ayahmu tahu." Ucap Richi sembari menarik kursi, duduk di depan Eline.


Gadis itu menghapus air matanya. Dia takut apalagi kini hidupnya seperti diujung kehancuran.


"Darrel, ada satu hal yang kau tidak tahu." Tukas Eline dengan nada bergetar. "Aku merasa bodoh sudah merahasiakan ini padamu, tapi.." Eline memberanikan diri menatap Richi.


"Erine.. dia dan Hugo sebenarnya punya hubungan sejak lama."


Richi tak merubah ekspresinya walaupun hatinya meledak mendengar itu.


"Hugo, dia ingin mengakhiri hubungan denganmu melalui pertunjukan seni teater bersama Erine. Kau.. sudah lihat sendiri, kan? Hugo tidak berani memutuskanmu karena ayah dan kakakmu."


Richi menatapnya dengan tenang seperti biasa. Dia sangat ingin menghajar Eline, namun ia mengerti keprofesionalan. Masalah pribadi, tidak boleh disangkut pautkan dengan pekerjaan.


"Kalau kau menganggapku membual, pergilah ke hotel Dalton kamar nomor 373, seingatku setelah acara teater itu, mereka berdua akan mengadakan perayaan di hotel itu."


Richi melipat kaki dan bersedekap, menatap kearah Eline dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Ada hal yang harus kau pedulikan dari itu, Eline. Yaitu dirimu. Karena aku akan mengeluarkanmu secara tidak terhormat dari Valiant." Ancam Richi dengan tegas walau dalam hatinya, dia sangat tidak tenang dan segera ingin mengecek itu secara langsung.


TBC


__ADS_2