
Richi dan Hugo bergandengan tangan. Melangkah perlahan menikmati suasana taman yang ada dibawah mereka. Saat ini, mereka sedang berada di balkon belakang gedung. Acara pesta masih berlangsung di dalam, tapi dua orang ini lebih memilih menikmati waktu berdua sementara dari riuhnya suasana di dalam gedung.
Wajah Hugo sedikit cemberut. Richi bisa melihat itu dan tentu dia paham apa yang membuat lelaki itu tampak berbeda. Karena pernikahan Simon dan Clair.
"Kau sudah membuat Ricky marah, tapi gurat sedih terlihat nyata sekarang. Kau menyesal?" Gadis itu tersenyum, karena dia tahu bukan itu yang membuat Hugo begitu.
"Aku senang dia terus sendiri." Ejek Hugo pada calon kakak iparnya itu. "Aku hanya merasa.. pernikahan ini sangat istimewa. Aku ingin pernikahan kita lebih baik dari ini."
Richi tak menyahut. Terserah pada Hugo saja. Dia tak menyangkal apapun keinginan lelaki itu.
"Memangnya harus ya, mereka menikah dini?" Tanya Hugo lagi.
"Awalnya Clair menolak juga, sih. Dia yakin bisa membesarkan anaknya walau tanpa menikah dengan Simon. Tapi Simon yang menginginkan pernikahan." Richi memiringkan tubuh menatap Hugo. "Kenapa kalian para lelaki terlalu suka pernikahan?"
"Bukan suka, sayang. Pernikahan itu yang mengikat. Supaya kalian tidak mencari lelaki lain."
Richi terkekeh. Mencari lelaki lain? Yang dihadapannya ini saja tidak ada habisnya.
"Kalau bukan karena Ayah, kurasa Simon masih gagal membujuk Clair untuk menikah." Tawa Richi kemudian, saat mengingat ayahnya meminta Clair dan Simon datang ke rumah dan menyuruh Clair menerima lamaran Simon karena gadis itu sudah hamil. Tentu Simon yang meminta bantuan itu. Apalagi karena keduanya sudah tidak mempunyai orang tua. Maka peran Jenderallah yang diperlukan.
"Kenapa Clair sampai tak mau menikah dengan Simon?" Tanya Hugo dan Richi mengangkat bahu.
"Aku juga tidak paham." Richi memang tak banyak tanya pada temannya itu. Menurutnya, Clair punya hak untuk memilih kehidupannya sendiri.
"Hugo, aku mau ke toilet dulu. Masih ada sesi dansa. Kalau mau berdansa, masuk saja kedalam."
"Berdansa? Aku berdansa sendiri?"
"Siapa tahu kau mau berdansa dengan gadis lain." Cebik Richi.
"Hei, kau jangan mulai!"
Richi terkekeh lalu melingkarkan tangannya di pinggang Hugo. Membuat lelaki itu terheran.
"Aku tahu kau tidak akan memikirkan perempuan lain. Aku cukup percaya diri untuk tetap berdiri tegak disampingmu."
__ADS_1
Hugo tidak paham kenapa Richi mengatakan ini tiba-tiba. Dia tersenyum mendengar ucapan manis kekasihnya.
"Tentu kau harus percaya diri. Karena hanya kau yang mampu menaklukkan aku. Tidak ada siapapun yang bisa berdiri menggantikanmu. Kau harus tahu itu."
Richi melepaskan pelukannya. "Tentu aku tahu itu." Ucapnya kemudian berjalan pergi masuk ke dalam salah satu pintu gedung.
Hugo membalikkan tubuh, menghadap hamparan bunga di taman bawahnya. Bahagia tak bisa lepas dari diri Hugo sejak mendapatkan cinta dari seorang Richi. Bukan hal mudah, perjalanan cinta mereka tidak seperti orang-orang biasa. Hari-hari mereka penuh perjuangan dan pertumpahan darah. Walau begitu, cinta keduanya semakin erat dan kuat. Hugo pula semakin yakin bahwa cintanya pada Richi adalah sebuah jalan paling baik yang pernah ia pilih.
Suara alarm gedung membuyarkan senyuman Hugo. Dia mendengar orang-orang berteriak dari dalam.
"Hugoo!!" Teriakan dari bawah membuat Hugo menengok. Itu Jonathan, dengan pistol di tangannya, dia memerintahkan sesuatu.
"Cepat bawa semua orang keluarr!!" Teriak lelaki itu lalu berlari entah kemana. Dilihatnya semua orang sudah berhambur kebawah dan mulai menjauhi gedung. Alarm merah yang berbunyi menandakan adanya bahaya. Tapi Hugo tidak tahu jenis bahaya apa yang mengintai dari dalam.
Lelaki itu bersiap ingin membantu orang-orang yang masih ada di dalam gedung. Tapi matanya mengarah ke tempat dimana Richi tadi masuk. Hugo memilih berlari kesana, ingin melihat keadaan gadis itu, tetapi kakinya tertahan saat seseorang berteriak meminta tolong.
"Tolong! Tolong anakku. Dia masih di dalam."
Hugo bimbang. Kakinya sudah bersiap melangkah menolong ibu itu, namun hatinya khawatir tentang Richi. Berulang kali ia menatap ke tempat dimana Richi masuk tadi.
Hugo berlari masuk ketempat yang ditunjuk untuk menyelamatkan anak itu, menuntun sang ibu untuk keluar dari gedung dan juga orang-orang yang masih ada di dalamnya.
Selagi orang-orang berlari keluar, mata Hugo terus mencari Richi. Dia tidak menemukan gadis itu. Apa dia sudah keluar duluan?
"Hei!" Teriak Hugo pada salah satu anggota Valiant. Dia mendekat sembari mengawasi orang-orang yang berhambur keluar.
"Apa yang terjadi?"
"Dua orang dari Rajawali berkhianat!" Jawabnya.
Alis Hugo menyatu. "Berkhianat? Apa maksudmu?"
Baru bertanya, suara gemuruh terdengar. "Ayo, semua keluar!" Teriak Hugo dan dia ikut keluar setelah memastikan tidak ada orang lagi diruang itu.
Hugo langsung mencari Richi saat matanya menangkap Olivia yang tengah membantu orang-orang tua berjalan cepat menjauh dari gedung.
__ADS_1
"Oliv, kau lihat Richi?"
"Richi? Aku tidak lihat. Mungkin sedang mengawasi semua tamu!" Teriaknya yang membawa perempuan tua berjalan menjauh.
Hugo kembali berlari kecil memperhatikan sekitar. Lalu dia berhenti, menengok ke balkon tempat ia dan Richi tadi berdiri. Nampaknya gadis itu masih ada di dalam sana.
"Sial!" Makinya, kemudian berlari. Namun suara ledakan yang amat besar membuat Hugo menunduk.
Hugo seketika berdiri tegak dengan mata yang membulat. Dilihatnya tempat Richi masuk tadi meledak dan hancur. Asap dan abu menjadi satu, tubuh lelaki itu bergetar. Richi masih disana.. apa gadis itu..
"RICHIIIII!!"
Teriakan Hugo membuat semua pasukan Valiant yang masih sibuk mengevakuasi orang-orang pun menoleh kearahnya. Hugo berlari kencang masuk ke dalam gedung.
"HUGOO! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Pekik Axel dari jauh. Gedung itu tidak aman, tetapi temannya itu malah berlari masuk.
Sementara Olivia, Clair dan yang lain mematung. Apa maksud teriakan Hugo tadi? Dia memang mencari Richi sejak tadi, tapi apa Richi masih di dalam?
Melihat reaksi Hugo, Ricky mulai mencari adiknya ditengah kerumunan orang-orang.
"RICHIIII!" Teriak Ricky. Berlari kesana kemari mencari wajah sang adik. Dirinya mulai panik. Sekuat tenaga Ricky berusaha menenangkan hatinya dan meyakinkan bahwa adiknya pasti sudah keluar.
"RICHIIII!!" Tangan lelaki itu mengepal. Dia tak menemukan adiknya dimana pun. Lalu matanya menatap gedung besar yang ia tahu akan meledak. Hugo sudah mengejarnya kedalam, tapi apa benar Richi juga masih di dalam?
"RICHIIIIII!!" Ricky ingin berlari masuk, tapi tangannya ditahan Jonathan.
"Jangan!!"
DUARRR!!
Ledakan itu kembali terdengar. Sebagian badan gedung hancur. Membuat air mata Olivia terjatuh tanpa sadar. Tubuhnya bergetar dengan pertanyaan yang tak terjawab, apakah benar Richi masih ada di dalamnya?
TBC
**Harini upload 3 bab ya. Biar kita kupas sampai cerita ini tuntas. Jangan lupa bacanya sambil dengerin lagu HEIZE _ Round and Round**
__ADS_1