Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Trauma (2)


__ADS_3

"Richi. Kemarilah."


Suara seorang laki-laki mengganggu telinga Richi. Gadis itu berlari di lorong entah dimana. Berkali-kali Richi menoleh ke belakang tapi tidak ada seorangpun di tempat itu. Dia terus saja berlari namun selalu kembali ke tempat yang sama.


"Richi, kau suka dengan hadiah yang ku berikan?"


Suara itu muncul lagi, membuat Richi semakin mengencangkan langkahnya.


"Aku suka padamu sejak dulu. Apa kau menyadari itu? Aku akan melakukan apapun asal kau senang."


Richi berhenti dan menutup telinganya. Dia memejamkan mata kuat-kuat, berharap suara itu lenyap.


Namun saat dia membuka matanya kembali, tiba-tiba Richi sudah berada di sebuah ruangan bercat putih. Diatasnya banyak sekali kamera yang bergerak dan mengikuti langkah Richi.


Richi berlari lagi, kemanapun dia pergi, kamera-kamera selalu ada di atas kepalanya.


"Kemanapun kau pergi, aku selalu ada."


Langkah Richi tertahan saat seorang laki-laki bertubuh kurus dan berkacamata muncul entah dari mana. Di ruas ibu jari kanannya terdapat tato kecil bertuliskan Dachi. Wajahnya tak terlihat jelas, namun senyumnya terasa mengerikan bagi Richi.


"Jangan takut. Aku ada disini untukmu." Ucap lelaki itu sembari merentangkan tangan, meminta Richi untuk memeluknya.


Richi merasa napasnya mulai sesak. Keringat membasahi wajahnya. Richi berlari lagi saat laki-laki itu berjalan mendekat ke arahnya. Gadis itu terus berlari sampai tanpa sadar ternyata dia terjatuh ke dalam lubang yang besar.


"Aaaahhh.."


Richi terduduk dengan napas tersengal dan peluh di keningnya.


"Chi, kenapa?" Ricky yang disebelahnya ikut terbangun. Melihat adiknya yang tampak pucat, Ricky langsung meraih segelas air putih di atas nakas.


"Minum ini." Katanya, dan Richi langsung meminum air itu sampai habis.


Gadis itu mencoba mengatur napas dan mulai tenang setelah kakaknya mengelus-elus punggungnya.


"Kau mimpi buruk?" Ucapnya. Ricky menurunkan suhu ruang supaya lebih dingin, keringat Richi membuat baju tidurnya basah.


Richi mengangguk dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasanya benar-benar menakutkan baginya.


"Jangan terlalu dipikirkan, itu hanya mimpi. Olivia meneleponku tadi. Katanya, mereka sudah menemukan hacker yang memantaumu. Jonathan juga sudah menemukan alamatnya."


"Siapa?" Tanya Richi disela kekhawatirannya.


Ricky mengambil ponselnya dan menunjukkan pada Richi sebuah foto laki-laki berkacamata dengan beberapa teman sekelasnya berseragam Oberon.

__ADS_1


"Dia orang yang dalam enam bulan belakangan ini terus memantaumu."


"E-enam bulan?"


Richi memperhatikan wajah itu. Perawakannya mirip dengan yang baru saja ia mimpikan.


Richi menggeser layar untuk melihat beberapa foto lainnya. Ada satu foto yang memperlihatkan wajah Dachi begitu jelas.


Ya, Richi mulai ingat. Dia laki-laki yang pernah beberapa kali memberi surat pada Richi. Tapi ia tak pernah membacanya. Bahkan satu surat dicuri oleh Hugo waktu itu. (Bab7)


"Namanya Damian Moon. Kau mengenalnya?"


Richi mengangguk. "Aku tau karena dia beberapa kali mengirimiku surat."


Helaan napas terdengar dari mulut Ricky. "Besok kami akan pergi mencari orang ini. Kau tidak perlu ikut."


Richi mengangguk lagi. Dia menurut saja sebab dirinya memang terus gemetar setiap membahas Dachi Moon.


"Kak."


"Ya?"


"Jangan beritahu Ayah dan Ibu soal ini." Pinta gadis itu.


"Aku tidak mau mereka khawatir."


"Aku akan bilang setelah orang ini tertangkap. Karena aku tidak mau Ayah ikut turun tangan. Aku ingin menghabiskannya sendiri."


Richi tak menjawab. Dia tahu kakaknya pasti akan melakukan apapun demi melindungi dirinya. Hal itu pernah Ricky ucapkan bahwa dia menjadikan Richi nomor dua dalam hidupnya setelah sang Ibu.


Apalagi Richi selalu bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Tapi jika sudah begini, artinya gadis itu memang memerlukan bantuan. Ricky tidak akan tinggal diam. Jika ada seseorang yang mengganggu adiknya itu, ia pastikan, hidupnya tak akan aman.


"Sekarang, tidurlah lagi." Ricky membantu adiknya berbaring, lalu menyelimutinya. Dia ikut berbaring, sambil menepuk-nepuk punggung Richi supaya gadis itu terlelap kembali.


~


Richi duduk berayun sembari membaca novel di taman. Matanya sesekali melirik ke atas, menatap kamera cctv yang mengarah ke taman dimana tempatnya duduk di atas ayunan yang bergoyang perlahan.


Pagi-pagi sekali Ricky sudah pergi. Katanya perlu melacak lagi Dachi Moon karena mendadak servernya hilang atau entah bagaimana Richi tak mengerti. Walau Jonathan bilang dia sudah memblokir Dachi Moon, tapi Richi yakin hacker sialam itu pasti masih menonton dari sana. Kemampuan Dachi Moon dalam bidang IT nampaknya luar biasa.


Di tempat lain, seorang lelaki berkacamata duduk menatap layar besar di depannya. Dia tersenyum setiap kali melihat seorang gadis di layar itu menatap ke arah kamera.


Walau aksesnya sempat terhambat, Dachi Moon itu sudah berhasil lagi menyusup ke alamat Richi. Dia tahu perempuan itu sudah mencarinya, tapi kemenangan bagi dirinya karena dia selalu mampu menutup diri.

__ADS_1


"kau melihatku lagi, hm?" Ucapnya saat Richi lagi-lagi melirik ke arah kamera. Baginya, sebuah kesenangan bisa melihat Richi pagi-pagi. Gadis itu tampak lesu tak seperti biasa.


"Manis sekali.." ucapnya dengan berbisik. Lalu mengambil keripik kentang yang menjadi cemilan kesukaan Richi.


Dia menyaksikan Richi bagai menonton drama romantis, membuat perutnya bergelitik dan terasa menyenangkannya.


Tapi itu hanya sebentar sebab tiba-tiba saja dia menegakkan tubuh, saat melihat orang yang dia benci muncul di layar besar itu.


"Sialan itu, apa yang dia lakukan disana.." ucapnya dengan meremas bungkus cemilan di tangannya. Sayang, dia tidak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan disana namun nampaknya keadaan keduanya sedang tak baik-baik saja.


"Chi.."


Richi menoleh. Hugo sudah berdiri di sebelahnya.


"Kemana aja?"


Richi tak langsung menjawab. Dia menutup novelnya dan menepuk tempat disebelahnya, menyuruh Hugo duduk.


"Aku tau kau marah padaku. Tapi apa ini?" Hugo menunjuk satu gambar di ponselnya. Gambar dimana dia dan Aron duduk berdua di kafe eskrim kemarin.


Richi menghela napas. Dia tak punya banyak tenaga sekarang, apalagi harus bertengkar.


"Aku terus meneleponmu tapi kau tidak bisa dihubungi. Apa kau semarah itu? Oke, aku akan menyelesaikan urusanku dengan mereka. Aku akan menghentikan latihan kalau kau tidak suka aku mengajari mereka."


"Hugo, bukan seperti itu."


"Kau tahu aku sangat mencintaimu, Richi. Tidak pernah sedetikpun terpikir untuk beralih ke yang lain semarah apapun aku. Tapi ini.." lagi, Hugo menunjuk gambar di layar ponselnya.


"Hugo, dia sudah menolongku." Ucap Richi dengan nada lemah.


"Aku juga bisa membantumu, Chi. Tapi kau menolak. Apa karena menerima bantuan darinya? Kalian bertemu disaat kita bertengkar kemarin, kan?"


Richi hanya mendengarkan semua keluh kesah Hugo padanya. Walau ingin sekali dia mendebati Hugo, mengatakan semuanya, namun lidah itu terasa tertahan.


"Sebenarnya kau ingin aku bagaimana, Chi? Aku akan mengabulkannya asal kau tidak lagi marah padaku."


Richi menatap wajah Hugo. Padahal dia tengah pusing dan tak bertenaga. Tapi Hugo datang dengan sebuah perdebatan panjang lebar yang membuat Richi bosan. Richi sangat tahu, lelaki itu juga sayang padanya. Jika Richi ceritakan pasti Hugo juga akan bereaksi seperti kakaknya. Richi tahu ini hanya salah paham, dia membuka mulut, dia ingin menceritakan semua pada Hugo.


"Kita break saja, Hugo." Bukan penjelasan, namun malah itu yang keluar dari mulut Richi.


"A-apa?"


To Be Continued...

__ADS_1


__ADS_2