
"Bukan dibuang". Jawabnya dengan melirik kesal. Bukankah Richi memilih kata-kata yang buruk?
"Aku pernah kan, mengatakannya padamu di kedai kopi Clair? Kalau mereka terbagi dua?"
Ah, iya. Yang itu. Richi mengira Hugo bercanda. Ternyata memang benar dia ketuanya.
"Aku memang membentuk Stripe. Tapi hanya keisengan saja. Aku menyukai anak-anak yang handal dalam bela diri. Jadi, aku mengumpulkan mereka yang kebetulan menyukaiku sebagai pemimpin. Tangan kananku, entah bagaimana orang-orang bisa memintanya menjadi ketua baru saat aku bilang akan berhenti sebentar". Hugo melirik Richi yang hanya memandang ke depan. Dia mendengarkan dengan baik.
"Ternyata, mereka sudah membentuk kubu baru di dalam Stripe. Anehnya, mereka malah merampok dan merampas karena merasa apa yang kami berikan kurang. Karena kami menentang, akhirnya mereka memisah diri dengan tetap memakai nama Stripe". Jelas Hugo panjang lebar. Tentang bagaimana dia bisa dimusuhi oleh kelompoknya sendiri.
"Jadi, apa kau dan teman-temanmu.."
"Ya, kami Stripe. Aku hanya membuat vakum beberapa tahun. Jika memang mereka berulah lagi, kami akan menghadang mereka".
Richi berdiam. Jika memang begitu, tanpa dijawab pun, dia tahu Stripe yang berulah 2 tahun lalu adalah kubu sebelah Hugo. Lalu, yang bertarung dengan Ricky, apakah Hugo? dan kenapa dia bertarung dengan Ricky kalau memang dia tidak berkaitan dengan insiden 2 tahun lalu?
Ah, pelik sekali. Richi ingin bertanya tetapi bukankah dia terlalu jauh?
"Aku juga minta maaf karena salah mengenalmu. Aku menganggapmu sebagai pembantu waktu itu." Ucapnya menyesal. Bukankah dia terlalu memandang rendah Richi?
Richi hanya tersenyum. "Kau bukan orang pertama yang mengatakan itu."
"Aku tidak suka kamarku disentuh pelayan. Aku mengerjakannya sendiri. Bersih-bersih kamar, belanja apa yang mau ku makan, juga berkebun." Richi lalu menatap ke depannya dengan sedikit tawa yang membuat Hugo terheran. Richi mengingat sesuatu.
"Kau tahu, Hugo. Waktu itu aku menyiram tanaman di halaman. Lalu tamu Ayahku datang dan menyuruhku ini itu. Aku tahu dia menganggapku pelayan. Aku turuti saja. Lalu Ayahku yang melihat itu, marah kepada tamunya yang memperlakukanku seperti itu. Mereka sampai berlutut meminta maaf karena ketakutan". Richi tertawa-tawa. Mengingat wajah tamu ayahnya membuat perutnya tergelitik.
Hugo menyunggingkan segaris senyum di sudut bibirnya. Dia tidak begitu fokus untuk tertawa karena cerita Richi. Dia hanya baru kali ini melihat Richi tertawa bersamanya.
Melihat garis tawa Richi membuat jantungnya berdegup kencang. Bagaimana mungkin, Richi bisa secantik ini. Jika tertawa, Richi terlihat mempesona. Hugo berhenti tersenyum. Menatap Richi yang mulai mengoceh lagi sambil sesekali tertawa, entah membicarakan apa. Hugo terpikat dengan senyum yang menggoda itu. Apa karena itu dia jarang sekali memberi senyum kepada orang-orang?
"Hugo".
Richi merasa sedari tadi bicara sendirian. Hugo hanya melihatnya tanpa ekspresi.
"Hugo, apa kau tidak mendengarkanku?"
Hugo tersentak. "Ah. Iya aku dengar."
Dia lalu memikirkan sesuatu. "Richi, ayo kesana. Aku ingin minum kopi". Ajak Hugo ke tempat yang lebih terang lagi. Dia belum ingin berpisah karena terlalu betah.
Richi melirik ponselnya untuk melihat jam.
"Tidak ah. Sudah jam segini. Aku pulang, ya." Richi berdiri dari tempatnya.
"Tunggu". Hugo ikut berdiri. Degub jantungnya yang kencang sedari tadi menandakan dia tidak ingin berpisah.
"Aku akan mengantarmu."
Richi mengerutkan alisnya. "Mengantar? Yang benar saja".
"Aku juga mau pulang. Rumah kita searah". Jawabnya dengan berbohong. Searah apanya. Rumah Richi arah timur dan rumahnya arah barat. Sangat melawan arah.
"Aku jalan kaki".
"Aku juga". Ucapnya sambil mengangkat satu kakinya. Entah apa maksudnya.
Richi mengangguk. Dia lalu berjalan perlahan dan Hugo mengikut disebelahnya.
"Aku pikir kau tidak akan datang". Hugo melangkahkan kakinya mensejajari Richi.
__ADS_1
Richi tidak menjawab. Memang dia tidak berniat datang pada awalnya. Dia entah mengapa malah memikirkan nasib lelaki ini yang akan menunggunya lama. Dan benar saja, Richi hanya iseng mengecek sekaligus jalan-jalan mencari angin. Ternyata, Hugo masih menunggu disana.
"Kau berhati-hatilah nanti. Aku tahu kedepannya kau mungkin akan terus mengalami hal seperti tadi."
Richi hanya mengangguk. Karena memang Hugolah yang membuatnya terlibat begitu banyak perkelahian.
Mereka banyak diam. Berbicara dengan batin masing-masing. Richi masih mempunyai banyak pertanyaan. Tetapi dia tidak berani bertanya karena tidak cukup akrab.
Tidak terasa, sudah sampai di depan gerbang Richi.
"Sudah sampai. Kau juga hati-hati".
Hugo mengangguk dengan senyum tipis.
"Dimana rumahmu? Dekat sini juga?" Tanya Richi sambil melihat kiri kanan.
"I-iya. Masuklah. Aku pulang".
"Oke." Richi langsung melangkah dan masuk ke dalam gerbangnya.
Hugo masih memandang gerbang yang tertutup itu. "Begitu saja?" Gumam Hugo yang berharap lebih. Walau dia tahu gadis itu memang tidak tertarik padanya.
Diapun melangkah sedikit menjauh dan menelpon asistennya untuk menjemputnya. Setelah Richi pergi, kakinya baru terasa pegal. Hugo berdiri di tempat yang agak jauh. Dia tidak sanggup berjalan lagi.
Tak lama, seseorang dengan motor sport hitam dan setelan jeket kulit hitam memasuki gerbang rumah Richi yang terbuka langsung seolah tahu ada yang akan masuk.
Hugo memicingkan matanya. Dia tidak mengenal orang yang wajahnya tertutup helm itu. Tapi, melihat motor dan postur tubuh orang itu, dia seperti tahu. Tapi siapa? Hugo hanya memandang sampai sosok itu masuk ke dalam gerbang.
...🍿...
Richi masuk ke ruang latihan tinju. Disana, dia melihat Velly yang sibuk dengan ponselnya dan Jessica yang meninju samsak dengan tangan kosong.
"Eh, kau datang?" Velly beralih dari ponselnya saat melihat seseorang meletakkan tas di dekatnya.
Richi hanya tersenyum sambil melakukan peregangan.
"Kupikir kau menyerah." Sambung Jessica yang menghentikan aktifitasnya.
"Kenapa tidak datang seminggu ini?" Tanya Velly lagi karena dia dan Jess sempat berpikir Richi tidak lagi sanggup melanjutkan latihannya.
"Ada urusan". Jawabnya singkat dengan senyum tipis.
"Kau kembali karena ingin balas dendam dengan orang yang mengganggumu?" Suara Jess membuat Richi menaikkan alisnya.
"Lihat wajahmu itu". Ucapnya lalu terkikik karena melihat bekas luka di wajah Richi.
"Sini, biar kuajari kau". Jess berkacak pinggang dengan senyum sinis. Seperti ada sesuatu yang akan dia lakukan. Richi pun bisa merasakan itu.
Richi mendekatinya dan diam sampai Jess memberi arahan.
"Kepalkan tanganmu seperti ini" Jess mengepalkan tangannya di bawah dagu.
"Sekarang, lihat ini." Jess mengarahkan badannya menghadap Samsak dan meninju keras ke benda panjang itu.
"Begitu. Itu namanya Jab. Badanmu harus kau tekuk sedikit seperti ini" Jess memberi contoh dengan tubuhnya yang hanya berbalut kaos hitam.
"Yang ini, namanya Hook". Jess memerikan contoh.
Richi mengikutinya dengan benar. Walau entah mengapa dia merasa senyum miring Jess mengartikan sesuatu.
__ADS_1
"Sekarang, ayo bertarung." Ucapnya sambil mengepalkan tangan dan menyeringai.
"Apa?"
"Ini hanya latihan. Supaya kau lebih mengerti. Tapi jika terasa sakit, tidak boleh menangis, ya". Ujarnya sambil terkikik.
"Ayo, kepalkan tanganmu. Aku hitung sampai tiga dan kau harus memberi pertahanan. Kau kemarin sudah belajar itu dari Hugo, kan?" Ucapnya dengan wajah sebal dan membuat Richi mengerti mengapa Jess bertindak seperti itu.
"Bersiaplah. Satu dua.."
BAK!
Jess meninju ke arah Richi dengan sekuat tenaga. Namun sayang, Tinjunya tertahan di tengah.
"Rexi! Kenapa kau?" Jess berang. Rexi malah menghalangi tinju Jess dengan telapak tangannya.
"Kau yang kenapa. Dia kan, anak baru. Tapi kau meninjunya dengan kuat seperti itu". Rexi melepas tangan Jess yang langsung pergi begitu saja.
"Maaf ya, siapa namamu?" Rexi tersenyum ramah.
"Richi"
"Baiklah, Richi. Apakah kau mengganggunya sampai dia berbuat begitu?" Tanya Rexi sambil melirik Jess yang berjalan dengan kesal.
Richi hanya diam. Dia tidak mengerti kenapa Hugo selalu memberikannya dampak buruk. Apalagi Jess pasti mengira dirinya ada apa-apa dengan Hugo.
Tak lama Hugo masuk ke ruangan, matanya langsung berkeliling mencari seseorang.
Bola mata Hugo berhenti di satu tempat. Dimana Richi tengah berlatih dengan Rexi. Membuat lelaki itu tersenyum. Ternyata, tidak sia-sia dia latihan hari ini.
...🦁...
"Richi!" Axel berlari kencang mengejar Richi yang berjalan menuju keluar gerbang sekolah.
Richi mengerutkan alis melihat Axel yang terengah-engah dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Ga-gawat! tolong, bantu kami!" Suara Axel mengecil, tidak ingin siswa-siswi yang lewat mendengarnya.
"Ada apa kau sampai begitu?"
"Hugo, Dia ditahan Stripe!"
"Kau bercanda? memangnya dia bisa diculik begitu"
"Aku tidak bercanda. Kami butuh bantuan. Kami akan bergerak ke bekas kilang padi di dekat Wallpox." Ucapnya dengan napas terengah-engah.
"Tidak bisa. Aku sudah terlibat terlalu jauh. Kau hubungi saja Ayah Hugo". Jawab Richi enteng. Dia enggan berkelahi lagi. Apalagi melawan Stripe. Kalau orang taunya tahu. Bisa habis dia.
"Apa? Itu tidak mungkin". Axel memasang wajah sedih. Dia sangat bingung harus bagaimana lagi.
"Kau panggil saja polisi. Hari sudah mulai gelap. Kalian tidak bisa sendiri. Aku duluan". Ucapnya lalu pergi begitu saja.
"Ah sial!" Axel mengerang. Dia berlari sambil menelepon Daren supaya cepat bergerak sebelum Hugo tidak terselamatkan.
To Be Continued...
Hallo♡
Terima kasih ya sudah mendukung Author dengan Like, Komen, Vote, dan Hadiahnya💐
__ADS_1
Jangan lupa baca cerita Author "Duka dua Garis Merah" 🙈