
Setelah berberes dan makan siang, sebagian dari mereka beristirahat dan sebagian lagi memilih keliling dalam Villa Hugo yang sangat luas. Banyak tanaman hijau di sekelilingnya. Dan yang lebih menakjubkan lagi, salah satu sudut balkon Villa itu menghadap air terjun.
Richi dan Hugo duduk bersantai di teras atas itu. Menyesap teh hangat yang sudah disiapkan pelayan.
Hugo memandangi wajah Richi yang tak berkedip menatap air terjun itu. Wajah indahnya tak mengalahkan pemandangan Villa milik keluarga Hugo. Villa yang tak bisa dimasuki oleh siapapun. Bahkan Daren dan yang lain harus rela menunggu Hugo yang mau datang kesini supaya mereka bisa ikut menikmati surga dunia itu. Walau sudah beberapa kali, nyatanya teman-teman Hugo itu tidak juga bosan ke tempat ini.
Hugo mengeluarkan ponselnya dan memotret wajah Richi dari samping hingga memperlihatkan pemandangan air terjun disana.
Dia mengunggah foto itu di akunnya.
'Nothing is beautiful as you are.'
Dia tersenyum sendiri menatap wajah Richi di ponselnya. Kenapa wajahnya sangat menggugah hatinya padahal gadis itu ada disampingnya sekarang.
'Wow, indah sekali. Kalian dimana?'
'Richi lebih indah, iya kan, Hugo.'
'Aku belum terima Richi bersama orang ini' Hugo membalas. 'Mau mati, ya?'
'Pemandangan yang indah. Keduanya indah'
'Dimana itu? Aku ingin kesana juga.'
'Pemandangan yang sama dengan unggahan Axel dan Daren.'
'Seru sekali liburannya'
'Richi, tinggalkan Hugo. Aku akan memberikanmu lebih dari itu.' Hugo membalas. 'Blocked!'
Sial, malah membuat moodku buruk. Batinnya setelah membaca komentar laki-laki yang masuk ke lamannya.
"Ada apa, Hugo?"
Hugo langsung menyimpan ponselnya. "Tidak ada apa-apa. Mau jalan-jalan?"
Richi mengangguk cepat. Hugo menggenggam tangannya dan keluar menuju arah taman yang belum ia perkenalkan dengan siapapun.
Mereka menapaki jalan kecil yang berada di tengah bunga-bunga bermekaran sambil saling bergenggaman.
"Apa Daren dan yang lain sudah sering kemari?"
Hugo mengangguk. "Mereka suka disini. Orang tua Daren sampai menawarkan jumlah fantastis supaya ayah mau menjual Villa ini. Tapi ayah menolak karena dia tahu aku juga sangat suka tempat ini."
__ADS_1
"Tempat ini memang sangat indah. Sangat cocok untuk menenangkan pikiran. Udara dingin, taman bunga, pemandangan bukit dan air terjun, benar-benar paket komplit." Richi menarik napas, menghirup udara sejuk yang sejak tadi membuat perasaannya lebih baik lagi.
"Kita akan sering kesini jika kau menyukainya." Hugo menarik tangan Richi dan mendudukkannya di atas bangku. Sementara dia berjongkok di depan gadis itu.
"Aku sebenarnya ingin melamarmu disini. Terus terang aku tidak sabar sampai aku mengatakannya sekarang."
Richi malah tertawa melihat reaksi lucu Hugo.
"Aku tahu, aku sangat kekanakan. Sejujurnya kulakukan ini semata-mata karena aku takut kehilanganmu."
Richi menangkup kedua pipi Hugo. "Harus kukatakan berapa kali padamu, aku tidak akan kemana-mana. Percayalah. Aku bukan perempuan yang gampang jatuh cinta pada laki-laki lain."
"Aku percaya padamu. Ini hanya ketakutanku saja." Hugo merogoh kantongnya, memberikan Richi dua buah cincin.
"Aku sengaja membuat ini sendiri. Aku mengukirnya supaya cincin ini hanya kita berdua saja yang punya." Hugo menyematkan ke jari manis Richi. Cincin yang di dalamnya tertulis nama dirinya, sementara di dalam cincinnya tertulis nama Richi.
"Suka atau tidak, kau tidak boleh melepasnya."
Richi memperhatikan ukiran abstrak di cincin silver itu. Tidak ada model, cincin itu terlihat biasa jika dilihat dari jauh.
"Untuk sementara, aku hanya bisa memberikan itu. Cincin lamarannya, masih kupikirkan bentuknya."
Richi malah terkekeh melihat keseriusan Hugo. Dia mengecup kening lelaki itu.
"Kau itu lucu sekali ya, Hugo. Ketakutanmu itu, aku menyukainya. Tapi jangan berlebihan, karena itu bisa menjadi racun bagi hubungan kita berdua. Saling percaya adalah kuncinya."
Richi meraih tangan Hugo, lalu melingkarkan tangannya di lengan laki-laki itu. Persis seperti perempuan yang memang membutuhkan sosok laki-laki, sekuat apapun perempuan itu.
~
Olivia berjongkok sendirian tak jauh dari air terjun. Percikan airnya sudah membuat bajunya sedikit basah. Tetapi dia mengacuhkannya, karena kini dirinya tengah fokus dengan kamera hitam di tangannya. Dia memotret dua kupu-kupu yang bermain di atas genangan air. Kupu-kupu berwarna oranye dengan sayap yang amat indah.
TAK!!
Olivia terperanjat saat cipratan air mengenai baju dan kameranya. Kedua kupu-kupu itupun kabur entah kemana.
"Sialan! Siapaa!!" Pekik Olivia yang kesal karena lemparan batu tadi berhasil merusak hasil jepretannya.
"Jangan berlagak fotographer berkelas!"
Olivia menoleh dengan kesal. Daren, tentu saja. Dari suaranya pun Olivia sudah tahu. Lelaki itu bersandar di batu besar. Melihat orang itu, Olivia langsung menutup kameranya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Kenapa udahan? Kalau perlu model, aku dengan suka rela akan melakukannya."
__ADS_1
"Lebih baik aku menggunakan anak buaya daripada kau!"
Daren terkekeh lalu berjalan mendekat. "Foto anak buaya tidak bisa menghasilkan uang. Sedangkan Foto-fotoku bahkan bisa dijual. Tidak percaya? Kau bisa coba." Daren berdiri di tepi bebatuan. Dia melirik ke bawahnya yang cukup jauh sampai ke bawah air terjun.
"Hei, menjauh dari sana!" Teriak Olivia untuk menyaingi suara air terjun yang cukup deras.
Daren tersenyum. "Kau mencemaskanku rupanya."
Olivia melengos. Bisa-bisanya dia bercanda. "Aku hanya khawatir, kalau kau mati, aku akan kehilangan pekerjaan lagi."
"Haha. Begitu, ya." Daren berdiri tegak lalu menatap ke Olivia. "Sudah, cepat potret aku."
Olivia mengerutkan dahi. Kenapa laki-laki itu jadi sepercaya diri itu?
"Aku tidak mau!"
"Aku akan bayar. Berapa sewanya?"
"Kau pikir semuanya bisa kau dapatkan? Nampaknya kau belum pernah diajari bahwa semua yang kau inginkan tak selalu kau dapatkan."
Daren terkekeh lagi. "Aku memang selalu mendapatkan apa yang kumau. Bahkan kau sekalupun."
Mata Olivia terbelalak. "Apa kau bilang??"
"Lihat, buktinya kau sekarang bekerja padaku, kan? Itu tidak sulit."
"Hah! Aku sudah duga itu semua perbuatanmu!"
"Lupakan saja. Kau lebih untung jika bekerja padaku. Sekarang, cepatlah, kakiku sudah pegal!"
"Sudah kubilang, aku tidak mau memotretmu!" Kata Olivia lalu bergerak pergi.
Daren dengan sengaja menggelincirkan sedikit ujung kakinya.
"Eeeehh.." Teriak Daren.
"Heeeii!!" Dengan cepat Olivia menarik kerah baju Daren. Kini mata mereka bertemu sangat dekat.
"Hahaha. Aku bercanda. Kau benar-benar khawatir ternyata."
"Sial! Kau jangan bercanda di tempat seperti ini." Pekik Olivia sambil mengguncang tubuh Daren dengan kesal. Sementara Daren tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Hei, hei, Oliviaa!"
__ADS_1
"Aaaaa..." Daren dan Olivia terjatuh ke bawah air terjun.
"OLIVIAAAA.." Teriak Richi dari jauh.