Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Lipstick


__ADS_3

Richi duduk diatas meja teras kafe Clair. Disana sudah ada beberapa orang menunggu truk yang membawa majalah Hugo sebanyak 12ribu eksemplar tengah mangatur posisi parkir.


Bella melirik Clair, menanyakan hal gila apa yang Richi lakukan untuk Hugo. Tetapi Clair hanya menggeleng lambat.


Gadis yang tengah menjadi bahan ghibah dibelakang, ternyata menatap kosong ke depan. Kakinya menekuk sebelah dan punggungnya menempel sempurna di tembok. Dia mulai bimbang, mau diapakan majalah setinggi truk itu?


"Nona Richi Darrel Wiley." Seorang lelaki pengantar majalah itu menatap orang-orang yang berdiri disekitarnya.


Tangan Olivia menunjuk gadis yang duduk diatas meja. Pengantar majalah itu langsung mendekatinya.


"Silakan tanda tangan disini, nona."


Richi membubuhkan tanda tangannya, lalu berdiri mengambil satu majalah. Begitu juga Bella dan yang lain, penasaran seperti apa isinya sampai Richi bela-belain memborong semuanya.


"Wuaah. Hugo buka-bukaan disini. Gilaaa.." Pekik Bella menatap halaman kedua dimana poster itu berada.


"Kalau begini sih, bisa jadi 'bahan' perempuan-perempuan di negara ini untuk... Ehm." Clair berdehem, tidak melanjutkan ucapannya karena dia yakin teman-temannya sudah tahu. Clair lalu menyentuh gambar seksi itu. "Tapi, badan Hugo memang sangat bagus, ya."


"EHEM!!"


"Ehehee." Clair langsung menutup majalah itu dan berhambur kepelukan Simon. "Aku hanya bercanda, sayang." Katanya takut Simon marah.


"Aku tidak sangka, Hugo bisa juga berpose seperti ini. Bukankah ini terlalu panas? Wajar kau memborong ini semua. Itu sebabnya aku melarang orang itu mengikuti jejak Hugo." Olivia melirik Daren yang asyik membolak-balik majalah.


Ya, waktu Daren menemani Hugo pemotretan, Daren sempat ditawari juga. Tapi dia meminta izin Olivia terlebih dahulu dan tentu saja gadis tomboi yang berubah menjadi gadis manja itu menolak.


"Lalu, mau diapakan majalah sebanyak ini?" Tanya Daren, menutup majalah di tangannya.


"Entahlah. Aku juga bingung."


"Tidak mungkin kau menyimpan sebanyak ini, kan? Mau kau apakan foto Hugo? Bawa tidur?" Tanya Bella.


"Kenapa fotonya, sedangkan dia memiliki aslinya." Sahut Clair.


"Inilah efek dari tidak menikmati yang asli. Hihi." Bisik Bella pada Clair.


"Bakar saja!" Usul Richi.


"Apaa? Kau mau membakar satu setengah miliyar ini??" Olivia menggelengkan kepala. "Jangan, dong. Memangnya kalau bulan-bulan depannya TheMost mengeluarkan foto Hugo, kau mau membelinya seperti ini lagi?"

__ADS_1


"Lagi pula, kalau Hugo tahu dia pasti akan sangat sedih, Rel." Sahut Bella.


"Kenapa tidak terus terang saja. Bilang kalau kau tidak suka dia menjadi model." Sahut Daren.


Terus terang? Richi hampir tidak pernah terus terang pada siapapun kecuali pada musuh. Begitu juga dengan Hugo. Sejak awal lelaki itu memutuskan menjadi model, sebenarnya Richi kurang setuju. Tapi, tidak mungkin dia membatasi lelaki itu. Apalagi sekarang, Hugo sangat menikmati karirnya.


"Sudahlah. Bantu aku mengoyakkan poster dari majalah ini. Setelah itu, bagi-bagikan majalahnya secara gratis." Richi mulai mengoyak plasti pelindung majalah, lalu mengoyak halaman dimana foto seksi Hugo berada.


Yang lain masih melongo. Maksudnya, apakah mereka akan menghabiskan waktu untuk mengoyak 12ribu majalah ini?


"Cepat. Aku akan bayar waktu kalian!" Tukas Richi lagi dan mendapat pergerakan semangat dari Clair dan Olivia.


~


Pukul 4 sore, Hugo menanyakan posisi Richi untuk pulang bersama. Namun gadis itu mengatakan kalau dia sudah di kafe Clair, pulang duluan karena ada sesuatu yang harus ia bereskan. Dan tak lama, Hugo pun menyusul kesana.


"Kau tidak perlu masuk. Antar saja aku pulang." Richi sudah keluar duluan saat melihat Hugo keluar dari mobil. Dia tak ingin lelaki itu melihat tumpukan poster-poster yang sudah dilepaskan dari majalah. Untung truk majalah itu sudah dibawa Clair duluan.


"Kalau gitu, ayo." Hugo masuk lagi ke dalam mobil, begitu juga Richi.


"Chi, aku ingin memberitahumu sesuatu." Sesekali Hugo melirik Richi disebelahnya. Dia tampak begitu bersemangat hari ini.


"Kau tahu, majalah keluaran bulan depan sudah ludes terjual. Aku sampai tidak bisa berkata-kata. Padahal itu hanya majalah, tapi sepertinya orang itu benar-benar mengidolakanku."


"Pihak TheMost tidak memberitahuku. Tapi aku bersyukur sebab mereka semua sangat senang. Bulan ini para karyawan lebih santai bekerja."


Richi manggut-manggut. Dia tidak tahu harus merespon seperti apa, karena dia tidak bisa berpura-pura senang.


Melihat Richi yang tanpa respon, membuat Hugo berpikir, mungkin Richi sedang punya masalah.


"Sayang, ada apa?"


"Tidak, aku hanya sedikit pusing."


"Benarkah? Mau aku bawa ke dokter?"


"Tidak perlu. Nanti akan sembuh sendiri."


Hugo meraih tangan Richi. Dia menggenggamnya dengan erat, sementara satu tangannya lagi fokus memegang setir.

__ADS_1


"Kalau ada yang mengganggu, cepat beritahu aku." Ucap lelaki itu. Melirik Richi berkali-kali.


Entah bisa atau tidak Richi mengatakan kalau dia tidak suka foto-foto Hugo tersebar dimana-mana. Selama ini dia tidak pernah begitu peduli tentang majalah Hugo. Mungkin di Oberon khususnya, orang-orang sudah tahu Hugo adalah milik Richi. Jadi mereka menjaga sikap apalagi mereka tahu siapa Richi itu.


Berbeda dengan Ventwon, saat tahu bahwa di kota itu Hugo sangat digemari bahkan majalah TheMost laku karena kebanyakan orang-orang hanya ingin melihat foto Hugo Erhard, membuatnya kesal sendiri.


"Oh, ya. Ini, lipstikmu jatuh dibawah. Aku menemukannya siang tadi." Hugo menyerahkan pewarna bibir itu pada Richi.


Richi menerimanya, lalu membuka lipstick yang sudah terpakai itu. Dia tahu benar kalau lipstick itu bukan miliknya. Lalu, punya siapa?


"Kau bertemu siapa tadi?" Tanya Richi sambil mengamati lipstick itu.


"Aku bertemu banyak orang, sayang."


"Maksudku perempuan."


Hugo langsung menoleh sebentar, lalu fokus lagi pada jalan di depan. "Perempuan..." dia berpikir. "Erine?"


Richi mendesah pelan, lalu menyerahkan lagi lipstick itu pada Hugo. "Kembalikan padanya."


"A-apa.."


"Itu punya Erine." Richi melempar pelan lipstick itu ke dashboard depan Hugo.


"Ah, aku tadi memang bertemu dengannya dijalan. Lalu karena satu arah, jadi sekalian saja aku mengajaknya." Terang Hugo dan Richi hanya membuang wajahnya ke jendela luar.


"Baby, jangan cemburu padanya. Kau tahu, dia itu tidak normal. Maksudku, dia penyuka sesama jenis."


Richi tersenyum miring, lalu menatap kekasihnya. "Aku tidak cemburu." Ucapnya lalu, mengalihkan lagi pandangan keluar jendela.


'Penyuka sesama jenis, uh? Dia mengatakan itu supaya bisa dekat dengan Hugo secara bebas? Baiklah, mari kita lihat seperti apa permainanmu, Erine.' Batin Richi.


"Besok aku masuk pagi. Kalau kau masuk siang, sebaiknya aku pergi sendiri."


"Tidak. Aku ada meeting besok, jadi sekalian kuantar, ya." Ucap Hugo. "Mau jalan-jalan? Aku dengar disana ada sebuah permainan seru. Kau selesai siang, kan? Aku tidak ada kelas. Jadi, setelah meeting, aku akan menjemputmu."


Richi tidak menjawab. Pikirannya sudah penuh soal Erine dan cara memberi pelajaran pada perempuan itu.


TBC

__ADS_1


**Kalau mau up, harus like 50 ya. Kenapa? Karena pembaca ini sedikitnya 200 org Setiap Hari tp yang apresiasi karya aku dikit banget🥺


Terima kasih🦋


__ADS_2