
Olivia menunduk. Ia tak berani menatap sang bunda yang duduk di hadapannya. Sementara Daren berusaha bersikap tenang karena dia merasa perlu bertanggung jawab tentang apa yang baru saja dilihat Elisa.
"Bi.."
"Apa kalian pacaran?"
Elisa memotong ucapan Daren. Dia langsung bertanya tanpa berbasa-basi.
"Iya, Bi."
Elisa menghela napas kuat. Dia menahan air mata yang tak ingin ia lepaskan.
"Lepaskan Olivia."
Gadis itu mengangkat kepala saat namanya disebut. "Tidak, Bunda."
"Diam, Olivia!" Sentak Elisa. Dia lalu menatap Daren. "Bibi minta, jangan lagi berhubungan dengan Olivia. Mulai saat ini, tidak ada hubungan diantara kalian. Daren, silakan pulang. Jangan sampai tuan besar tahu kalau kau ada disini." Tukas Elisa kemudian berdiri.
Daren lantas ikut berdiri. "Bi, aku-"
"Ada banyak hal yang harus kau pelajari, kan? Masa depanmu sangat panjang, begitu juga Olivia."
"Bunda! Bunda tidak bisa melakukan ini!" Tukas Olivia. Dia memegang lengan Daren yang berdiri disebelahnya.
"Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi nantinya. Jangan buat masa depanmu hancur karena perasaan sesaat. Begitu juga Daren, kau pasti tahu apa yang akan terjadi, kan?"
Daren diam seketika. Dia menundukkan pandangan karena jelas ia tahu apa yang akan terjadi apabila ia tidak melaksanakan sesuaty yang telah menjadi kewajibannya.
"Daren, apa maksudnya?" Tanya Olivia pada Daren. Lelaki itu hanya diam, dia tidak bisa menjawabnya.
"Nanti akan aku jelaskan." Daren sedikit menunduk pada Elisa. "Aku pulang dulu, Bi. Jangan marah pada Olivia. Dia tidak bersalah. Akulah yang mendekatinya terus menerus. Aku akan berusaha supaya Olivia tidak dikenali oleh keluargaku."
Daren keluar rumah, diantar oleh Olivia. Dia memegangi tangan Daren dengan wajah sedih.
"Daren, sebenarnya ada apa?" Tanya Olivia saat Daren sudah di depan mobilnya.
"Nanti akan aku ceritakan. Untuk sekarang, dengarkan saja apa yang dikatakan Bibi. Ingat, jangan melawan apapun ucapannya."
"Tapi Bunda meminta kita putus." Keluh Olivia.
Daren menatap wajah sedih Olivia. "Sebaiknya kau masuk dulu. Aku akan menghubungimu setelah sampai di rumah."
__ADS_1
Daren masuk dan menjalankan mobilnya. Sementara Olivia terus merasa resah. Bagaimana bisa sang Bunda tiba-tiba marah dan meminta putus? Apa karena Daren adalah orang kaya? Yah, setidaknya itu juga menjadi pemikiran Olivia sejak awal.
Olivia masuk. Dia masih melihat bundanya berdiri di tempat tadi.
"Putuskan dia, Olivia. Dia bukan satu-satunya laki-laki di dunia ini."
"Bunda, bisakah bunda beritahu alasannya?"
"Aku bekerja padanya selama belasan tahun. Aku kenal dengan ayahnya. Dia takkan membiarkanmu hidup tenang jika kau bersama Daren. Sejak bayi, hidup anak itu sudah ditentukan. Kau bersamanya hanya buang-buang waktu." Jelas Elisa pada Olivia.
Gadis itu hanya diam. Dia sampai lupa siapa Daren sebenarnya.
"Ini salah bunda. Seharusnya sejak awal Bunda melarangmu punya hubungan apapun dengannya. Bunda tidak sangka, kalian sampai punya perasaan seperti ini."
"Bukankah bunda bilang tuan besar itu baik?"
Elisa mengangguk. "Tuan besar memang orang yang baik, tapi jangan sampai apa yang menjadi jalannya dihalangi. Termasuk Daren memiliki pasangan. Jangan jadi penghalangnya, Olivia. Bunda tidak bisa melakukan apa-apa jika tuan besar sudah mengenalimu sebagai kekasih anaknya." Mata Elisa mulai berair. Dia tidak ingin Olivia berurusan dengan keluarga Daren.
Melihat bundanya menangis, Olivia sadar bahwa itu bukan perkara yang main-main. Tapi dia sendiri bingung harus bagaimana, apalagi dia baru saja memulai hubungan dengan Daren.
"Bunda mohon, jangan lagi berhubungan dengan dia. Jangan bermain api. Kita tidak setara dengan mereka. Kalau mereka melakukan sesuatu padamu, bunda tidak bisa bantu apa-apa. Bunda harap kau mau mendengarkan bunda." Elisa langsung masuk ke dalam kamar. Sementara Olivia masih berdiri di tempatnya. Bagaimana pun, ini terlalu mendadak dan sulit ia cerna.
Olivia memilih masuk ke dalam kamar. Dia menatap ponselnya, menunggu Daren menelepon.
~
"Bagaimana.. keren, kan?"
Hugo menunjukkan hasil photo shoot-nya pada Richi. Gadis itu tersenyum melihat beberapa foto Hugo yang akan dijadikan sampul majalah dalam waktu dekat untuk mempromosikan salah satu rancangan designer terkenal.
"Kau tampak senang sekali dengan pekerjaan barumu."
"Hehe. Entah kenapa aku jadi suka. Padahal dulunya tidak kepikiran."
"Tapi Hugo.." Richi menjeda kalimatnya. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi nampaknya Hugo masih terus fokus dan tersenyum melihat foto-fotonya itu.
"Nah, ambil ini." Hugo menyerahkan beberapa lembar fotonya pada Richi.
"Buat apa." Tolak Richi, enggan menerima foto-foto itu.
"Buat apa katamu? Kau tidak mau menyimpan fotoku? Minimal kau harus punya satu dan simpan dalam dompetmu."
__ADS_1
Tangan Hugo membentang. "Sini dompetmu."
Dengan malas Richi mengeluarkan dompetnya dan menyerahkannya pada Hugo. Lelaki itu langsung memasukkan fotonya di dalam.
"Nah, begini baru benar. Ingat, ya, kau harus menunjukkan fotoku saat ada yang mengajakmu berkenalan!" Tukas laki-laki itu sambil membenarkan posisi fotonya di dompet Richi.
"Ah, by the way, fotomu dan Aron menempel jelas di kantor. Sempat membuatku frustrasi, tapi foto itu menjadi favorit di negeri sebelah dan tentu saja menambah rating the most. Mereka juga sering menyayangkan keputusanmu yang tak ingin bergabung dengan mereka."
"Tapi Hugo.. apa mereka tahu kalau kita pacaran?"
Hugo sedikit berpikir. "Hmm. Sepertinya tidak ada pembahasan kesana."
"Bagus. Jangan tahu, aku tidak ingin dikenali. Kau juga, kalau ada yang bertanya, bilang saja kita teman sekolah." Perkataan Richi spontan membuat Hugo protes.
"Tidak bisa! Kau pacarku dan aku kekasih seumur hidupmu. Aku akan memperkenalkanmu sebagai kekasihku." Terang Hugo dengan tegas.
"Hugo, aku tidak mau ikut terkenal karenamu. Kau tahu aku, kan?"
"Tapi aku lebih tidak suka kalau dianggap jomblo padahal aku ini milikmu. Apalagi karena status itu kau bisa saja didekati laki-laki lain. BIG NO!!" Hugo membuat tanda silang di depan dadanya. Dia menentang usul tak masuk akal Richi.
Pandangan kedua orang itu teralihkan saat mendengar suara lonceng pintu. Daren masuk ke dalam dan duduk di meja mereka.
"Hei, kau sudah pulang?? Cepat lihat ini. Aku keren, kan? Ini akan menjadi foto sampul majalah The Most, kau tahu?"
Daren hanya memandang Hugo dengan wajah kusutnya. Dia tak tertarik dengan foto-foto yang berserak di atas meja.
"Hei, ada apa denganmu? Apa ujianmu gagal?" Tanya Hugo lagi.
"Bukan itu. Huff.." Daren menghembuskan napas. "Hubunganku dilarang oleh bunda Olivia."
"APA??" Teriak Clair dari balik meja bartender. Gadis itu langsung mendekati meja Richi. "Kenapa dilarang?? Apa Olivia tidak diizinkan pacaran? Tapi tidak mungkin, kan?" Tanya Clair dengan rasa penasarannya.
Daren hanya diam. Dia tidak bisa menceritakan tentang keluarganya pada orang lain. Tapi Hugo, dia sudah menduganya.
"Kau masih bisa melakukannya, kan?" Tanya Hugo.
"Masih bisa kuusahakan. Tapi, aku juga khawatir pada Olivia." Ucap Daren dengan menunduk.
"Untuk sementara, jalani dulu dibelakang. Sampai kau mampu melampauinya, kau akan menang dan bebas." Kata Hugo, membuat Richi dan Clair saling pandang karena tak paham dengan topik pembicaraan.
TRING
__ADS_1
Olivia masuk dengan wajah yang bertekuk. Langkahnya terhenti saat melihat Daren juga ada di tempat itu.
Daren langsung memeluk Olivia. Di dekapannya, tangis Olivia pecah.