Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
New Mission


__ADS_3

"Dari yang kudengar, Komander kalian adalah kakak Richi. Apa dia Keen? Apa Keen adalah kakak Richi?"


Olivia melirik tajam pada Clair, nampaknya ada hal yang mereka lupakan dari tadi, adalah Hugo yang belum tahu tentang Keen yang merupakan kakak Richi. Padahal Richi sudah mengingatkan mereka untuk tutup mulut sejak dulu. Karena panik, mereka melupakan itu dan sekarang, Hugo sudah bisa menebaknya dengan benar.


"Ah, sudah sampai!" Olivia mengalihkan perhatian Hugo yang langsung membelokkan mobil ke arah Allende Hotel.


Kedua orang itu langsung keluar saat Hugo baru saja menghentikan mobilnya.


Daren duduk di lobi. Dia sudah sampai duluan dan mengecek semuanya namun tidak menemukan apa-apa.


Dia melihat Hugo berlari kecil menuju ke arahnya. Nampaknya laki-laki itu langsung pergi saat mendengar kabar kekasihnya, karena Hugo masih berpakaian lengkap dengan setelan jas hitam, kemeja putih, dan dasi yang masih rapi di kerah bajunya.


"Hei, bagaimana?" Tanya Hugo tanpa basa-basi.


"Aku sudah tanya, tidak ada tamu hotel atas nama Richi Darrel Wiley atau Harry Draw."


"Apa?" Serentak kedua gadis itu kaget saat mendengar nama Harry. Apa Richi menjalankan rencananya malam ini? Batin mereka bersamaan.


"Aku juga sudah berusaha membujuk, namun pihak hotel tidak mengizinkanku untuk mengecek cctv mereka." Sambung Daren lagi.


"Kau sudah pakai nama ayahmu?" Tanya Hugo memastikan, karena keluarga Daren sangat dihormati di negeri ini.


Daren mengangguk. "Sudah, sayangnya hotel ini milik keluarga Draw."


Hugo terduduk, merasa tidak mendapatkan info apapun.


"Ya sudah, kita hack saja." Olivia duduk dan langsung mengeluarkan laptop dari tas sandangnya.


"Hugo, coba cek pukul berapa Darrel mengirim pesan suara padamu." Ucap Olivia sembari fokus pada laptopnya.


"19.54"


Olive dengan cepat mengetik-ngetik di laptopnya, entah apa yang ia kerjakan namun nampak senyum samar di bibirnya. "Apa ini, tidak ada pelindung dan terlalu mudah diakses."


Daren menatap gadis itu dengan sedikit senyum, ternyata Olivia gadis yang cerdas.


"Aku butuh waktu beberapa menit." Ucap Olivia. Lalu Daren berdiri dari tempatnya, melangkah entah kemana.


"Liv, cepat. Kita harus bersiap." Clair mengguncang bahu Olive.


"Iya, sebentar. Dua menit lagi."


Hugo terlihat resah. Berulang kali dia menghembuskan napas di telapak tangannya yang mengepal.


Daren datang membawa beberapa minuman kaleng, dia memberikannya pada Hugo dan Clair. Lalu meletakkan minuman rasa coklat tepat di depan meja Olivia.


Gadis itu melihat minuman yang diberikan Daren, minuman kesukaannya. Bagaimana dia bisa tahu?


"Apa kau tidak suka?" Tanya Daren saat melihat reaksi Olivia yang terus menatap ke arah minumannya.


Olivia langsung menoleh pada Daren. "Suka. Aku suka."


Sejenak mereka bertatapan, ucapan Olivia membuat Daren sedikit salah tingkah.


"Hei, lihat. Prosesnya sudah selesai." Clair membuyarkan lamunan Olivia.

__ADS_1


"Sudah. Ini, coba lihat." Olivia meletakkan laptop di atas meja, mereka semua menonton potongan cctv mulai dari Richi yang masuk ke ruangan yang hanya ada mereka berdua.


Lalu, terlihat Richi yang meminum secara tidak sengaja.


"Astaga, Richi.." Clair menggigit kukunya. Dia tahu betul gadis itu tidak menyukai alkohol.


Hugo membulatkan matanya saat Harry menggendong Richi keluar dari hotel itu.


"Sial. Kemana dia membawanya?"


"Dimana alamat Harry?" Tanya Daren.


Hugo tidak menjawab, dia juga tidak tahu dimana lelaki itu tinggal.


"Hugo, aku serahkan ini padamu. Kami akan kembali kalau kami sudah selesai. Ayo, Liv." Clair beranjak, diikuti oleh Olivia dibelakangnya yang jalan dengan cepat.


"Aku rasa, Harry tidak akan melakukan apa-apa pada Richi." Tukas Daren.


"Dari mana kau tahu? Richi sedang tidak sadarkan diri!"


"Aku bisa melihat reaksinya dari rekaman cctv tadi. Dia begitu melindungi Richi bahkan saat perempuan itu ingin menyerangnya."


Hugo berdiri, "aku akan mencari alamatnya."


"Percuma. Kau tidak akan bisa masuk. Akses yang dia berikan untuk tempat tinggalnya sangat ketat. Kau tahu itu, kan."


Ucapan Daren membuat Hugo diam. Apa yang diucapkan Daren benar. Harry pula sudah tinggal terpisah dengan Ayah dan Ibu tirinya.


Hugo mengendarai mobil dengan gundah. Dia terus memikirkan Richi. Shera juga tidak bisa dihubungi. Dia pasti tahu dimana Harry tinggal.


Pada akhirnya, Hugo hanya diam di dalam mobil. Menunggu fajar terbit sambil terus mencoba menghubungi Richi dan Shera secara bergantian.


...🦊...


Clair menarik napasnya. Mereka sudah dijalan pulang setelah misi penghancuran markas Blackstone di jalankan dan sialnya, ketua mereka sedang tidak ada di tempatnya. Padahal menurut Jonathan si pencari info, seharusnya Eddy ada disana malam ini. Mengetahui Eddy tak ada ditempat, nampaknya Valiant akan mencari cara lain untuk menemukannya.


Mereka tidak bersemangat menjalani misi kali ini sebab mereka hanya melakukannya bertiga, tanpa ketua tim yang juga sahabat mereka.


"Setelah ini kita harus bagaimana?" Tanya Bella yang sudah mendengar penjelasan Clair dan Olive.


"Tidak ada, Hugo sudah memberitahuku kalau dia juga tidak bisa berbuat apa-apa." Jawab Clair sambil bersandar di dalam mobil. "Tunggu saja sampai Darrel memberitahu kita, kau ingat rapat terakhir dia bilang akan ke perusahaan yang menjadi markas Stripe, kan? Aku rasa besok adalah waktunya. Jadi, kita hanya bisa berharap dia akan baik-baik saja."


Kedua temannya mengangguk.


"Pokoknya kalian harus tetap pegang ponsel, jangan ketinggalan sedetikpun. Kalau bisa tidak usah sekolah." Ucap Clair yang sudah berhenti sekolah sejak dua tahun lalu.


"Gampang kalau itu. Aku akan menginap di tempatmu malam ini." Ucap Olivia tersenyum lebar.


"Ya, baiklah. Demi kalian aku rela bolos." Jawab Bella lalu memeluk kedua temannya itu.


"Aku sudah menelepon Nyonya Wiley dan mengatakan kalau Darrel menginap ditempatku. Rasanya seluruh tubuhku bergetar. Bagaimana kalau aku ketahuan menipunya?" Clair menyentuh lehernya. Bisa membayangkan bagaimana berangnya tuan Wiley jika tahu putrinya sedang menghilang.


"Harry tidak mungkin melakukan hal buruk pada Darrel. Aku yakin itu, karena aku bisa merasakan betapa dia menyukai Darrel." Ungkap Bella saat mengingat mata Harry terus mencari Richi yang berjauhan darinya.


"Aku jadi kasihan padanya, bagaimana rasanya jika dia tahu kalau Darrel menusuknya dari belakang." Olivia memeluk lututnya.

__ADS_1


"Eee.. terdengar agak jahat jika kau mengatakan Darrel seperti itu. Padahal dia hanya berusaha membatalkan rencana Harry." Sahut Bella.


"Benar, Harry saja yang tidak bisa melihat perempuan cantik, langsung naksir tanpa menyelidiki." Ucap Clair lalu terkekeh sendiri. "Kasihan sekali, dia pasti sangat kecewa. Aku tidak bisa membayangkannya."


Mereka bergeges ganti pakaian setelah tiba di markas dan saat akan pergi, ketiganya di jegat Simon.


"Fox, ke ruang Elang sekarang."


"Apa? Lihat jam dong, kak. Sudah jam berapa ini. Besok kami mau sekolah tahu!" Sahut Bella.


"Perintah komander."


Mendengar itu, ketiganya langsung menuju ruang Elang.


Mereka duduk di meja melingkar, Ricky sudah duduk di depan, melipat tangannya dan menatap dingin ke arah tiga perempuan itu.


Tangan Clair ikut dingin sebab dia takut Ricky ternyata tahu bahwa adiknya tidak tahu kemana dan Clair sudah berbohong.


Ricky berdiri lalu duduk di tepi mejanya. "Jelaskan padaku rencana ketua kalian."


Mereka berdiam, tidak tahu apa yang harus mereka katakan karena ini adalah rencana yang tidak boleh Ricky ketahui.


"Rencana apa, Komander?" Tanya Clair berusaha menutupi kegugupannya.


"Wah, kau jago pura-pura. Cepat, aku sudah tahu kalian sedang menjalankan misi ketua kalian. Katakan, apa rencana dia." Ricky melihat ketiga anggotanya yang tak ada membuka suara.


"Jadi, tidak mau bicara?" Ricky memandang mereka secara bergantian.


"Clair, kau tahu apa yang akan terjadi jika kau melawan pada pemimpinmu?"


Clair memejamkan matanya, mendengar ucapan Ricky membuatnya mau tak mau harus buka suara.


"Kami.." Clair menghembuskan napas, dalam hatinya mengucapkan beribu maaf pada Darrel, dia juga tidak paham kenapa Ricky bisa tahu kalau mereka punya misi.


"Darrel, dia mendekati Harry Draw untuk menyelidiki lebih dalam tentang pengeboman besar-besaran yang dibuat olehnya. Karena Darrel melihat Harry masuk ke helikopter saat misi penghancuran markas Stripe beberapa waktu lalu."


Ricky tak menyahut, dia tahu penjelasan Clair belum tuntas.


Clair menarik napasnya lagi, diamnya Ricky sangat ia pahami.


"Besok adalah hari terakhir, dimana Darrel harus bisa membuat Harry membawanya ke markas rahasia Stripe dan setelah itu, dia akan melaporkannya pada Komander. Karena malam senin kemungkinan penghancuran kota dimulai. Juga.. sepertinya bom itu bukan cuma di titik pada kertas itu. Tetapi juga di semua gedung besar ibu kota." Jelas Clair pada Ricky yang nampak seperti berpikir.


Pintu terbuka, seseorang muncul dari pintu.


"Maaf, aku terlambat."


Orang itu membuka hoodi dan maskernya hingga membuat ketiga gadis itu terbelalak tak percaya.


"K-kau!" Clair terperangah.


"Duduk, aku akan membuat rencana untuk besok dan ini adalah misi yang sangat besar." Tukas Ricky lalu menarik peta besar dari papan tulis putih di depannya. Dia berdiri tegak sementara seluruh anggota masuk dan duduk di tempat mereka masing-masing, rapat pun dimulai.


TBC


Sebenarnya tanda 🦍 dibuat saat cerita menggambarkan tentang Ricky Keen Wiley dengan misinya dan πŸ₯🐣 adalah tanda untuk cerita yang menyangkut Hugo Erhard yang konyol.

__ADS_1


Jangan Lupa Like Episode Ini😍


__ADS_2