
Langkah Hugo terhenti. Matanya menyelidik orang-orang yang telah mengepungnya dan Richi. Hugo bingung apa yang membuatnya sampai diganggu, padahal seingatnya dia tak melakukan apapun.
Mata Richi pula ikut membulat. Kenapa Virgo tiba-tiba saja ada di depannya? Menatap dengan tajam pula.
"Kau kenal?" Bisik Hugo pada Richi.
"Orang yang mau kuceritakan tadi padamu. Ikuti saja alurnya." Bisik Richi lagi.
"Sayang, sedang apa disana?" Virgo berjalan mendekat.
Richi seketika menurunkan tubuhnya dari punggung Hugo.
"Kau tengah asyik berkencan dengan orang lain, ya?" Sambung Virgo lagi dengan sedikit tawa.
Richi mengumpat keadaan. Dia ingin sekali memberi pelajaran pada Virgo. Tetapi kakinya sedang sakit. Richi tak bisa melakukan banyak hal sekarang.
"Kau benar-benar, ya. Baru satu hari pacaran, kau sudah membuatku kesal!"
"Pacaran?" Hugo menoleh kearah Richi, meminta penjelasan. Namun gadis itu mengedipkan mata sekilas, memberi kode untuk mengikuti saja.
"Oh, nampaknya kau tak tahu aku. Biar kukenalkan. Aku Virgo. Bos di fakultas olahraga!"
"Kau tahu, gadis dibelakangmu sudah memiliki pacar di kampusnya. Dan akulah pacarnya sekarang. Sebaiknya kau mundur sebelum aku menghajarmu." Tukas Virgo dengan lagak, lalu dia melangkah maju mendekati Hugo.
"Kalau kau masih berani mendekati pacarku-"
BUG! Hugo tak suka mendengar kata 'pacarku' keluar dari mulutnya. Dia menghajar bibir lelaki itu sampai terluka dan membuat Virgo terjatuh.
Lelaki itu mengerang, kemudian meludahkan darahnya kedepan kaki Hugo.
"V, kau tidak apa-apa?" Andrew membantunya berdiri.
"Bangsat!" Pekiknya kesal, namun menahan teman-temannya yang ingin menyerang.
"Biarkan aku saja." Ucapnya kemudian melangkah mendekat lagi.
"Bajingan sepertimu, beraninya mengusik bos kami!" Terdengar erangan dari yang lain, namun tak membuat Hugo gentar.
"Kau bilang dirimu siapa? Pacar Richi? Hah." Hugo tersenyum sinis. "Aku kakak Richi. Orang sepertimu mau jadi kekasih adikku?" Ucap Hugo tiba-tiba. Tak hanya orang-orang itu, Richi juga sama terkejutnya.
"A-apa?"
"Dia kakaknya Richi?"
"Kurasa dia berbohong."
__ADS_1
Ucap orang-orang itu semakin penasaran.
"Kakak?" Virgo menatap Richi dan gadis itu mengangguk cepat.
"Kau kemarilah. Tunjukkan padaku kalau kau mampu menjadi pacar adikku." Sambung Hugo lagi.
Virgo kaku di tempatnya. Dia merasa sudah salah jalan. Seharusnya dia bertanya dulu dengan siapa Richi berjalan.
"A-aku tidak tahu kalau Richi punya kakak. Kenalkan, aku Virgo." Tangan lelaki itu mengulur kedepan. "Maaf telah lancang pada kakak." Ucapnya tiba-tiba, membuat Richi terkikik.
"Aku tidak suka berkenalan formal. Mari bertarung!"
"A-apa?" Virgo tergagap. Terus terang pukulan lelaki di depannya tadi sangat membuatnya sakit. Lalu, dia mengajak untuk bertarung, di depan Richi dan teman-temannya pula.
Virgo menatap Richi. Gadis itu dengan senyum manisnya mengangguk padanya tanda bahwa ia setuju dan tentu saja itu semakin membuat Virgo menelan ludah. Apalagi Hugo sudah dengan kuda-kudanya.
Richi sangat bersemangat. Dia tahu, pasti seru melihat Virgo dihabisi oleh Hugo. Apalagi Virgo tidak punya basic bertarung dengan baik. Virgo hanya suka menghajar dengan kekuatan yang dia miliki.
Virgo ingin sekali mundur, tetapi dia tidak mungkin melakukan itu. Dia pasti malu.
"Kenapa? Kau takut?" Tanya Hugo mengejek.
"Tidak mungkin dia takut, kak. Dia kan, orang terhebat di kampusku." Sahut Richi lagi-lagi dengan senyum manisnya menatap Virgo.
"I-ini pertarungan perkenalan, kan?" Tanyanya Ragu. Kalau perkenalan, artinya bukan pertarungan sebenarnya.
Mendengar itu, Virgo pun mulai mengambil kuda-kuda, bersiap untuk memulai pertarungan.
"Maju duluan." Ucap Hugo dengan mata tajam. Masker hitam itu malah semakin membuatnya terlihat sangar.
Virgo berusaha menguasai dirinya dahulu sebelum akhirnya menyerang ke arah Hugo. Satu gerakan tangannya sangat gampang dibaca Hugo.
Hugo tak memberi keringanan. Dia menahan tangan Virgo dan langsung menghajarnya dengan keras. Lelaki itu sempat terkejut dengan apa yang dilakukan Hugo, tampaknya bukan seperti pelatihan, namun sebuah pertarungan yang sebenarnya.
Lagi, Hugo memutar tubuh dan menghantam wajah Virgo dengan kaki panjangnya. Tubuh Virgo langsung terjatuh dengan keras.
"Lemah." Hugo tersenyum sinis menatap Virgo yang sudah terkapar.
Teman-teman Virgo tampak ingin menyerang, kalau saja Virgo menyerukannya.
"Menahan serangan saja tidak bisa. Kau menganggap dirimu bos dan ingin menjaga adikku? Hah." Hugo menggelengkan kepalanya.
"V, kau baik-baik saja?" Andrew membantu Virgo duduk, lalu menatap tajam pada Hugo. "Kalau kau izinkan, aku akan menghajarnya."
"Jangan." Sahutnya dengan sisa suara yang ada.
__ADS_1
"Kak, jangan terlalu kejam padanya." Richi berpura-pura di depan mereka.
"Putus saja dengannya. Dia lembek. Aku tak bisa menerima laki-laki lemah yang menjadi pendampingmu!" Tegas Hugo menatap Richi. Dia tersenyum dibalik maskernya.
"Tapi, kak-"
"Tidak ada tapi-tapi. Cepat naik, kita pulang." Hugo berjongkok lagi, menyuruh Richi naik dan gadis itu pun menurut.
"Virgo, maafkan kakakku. Aku akan menemuimu besok." Kata Richi pada Virgo yang sudah babak belur.
"Diam, kau! Kau harus dihukum juga." Hugo langsung berjalan cepat sambil menggendong Richi. Belum jauh melangkah, Richi sudah cekikikan, tak tahan dengan ektingnya sendiri.
Setelah merasa cukup jauh, Hugo menurunkan Richi dan mulai melipat tangan di dada.
"Jelaskan padaku dengan detail!"
Richi duduk di bangku panjang. Lalu mulai menceritakan detail keadaan yang baru saja ia alami. Bukan sengaja, tapi sebuah ketidaktahuan yang dijadikan kesempatan oleh Virgo.
"Sialan, tahu gitu aku hajar dia sampai mati." Ujar Hugo geram.
"Segitu saja sudah menjadi permulaan yang bagus, kok. Dia itu raja perundung di kampus. Aku mau membuat dia jadi budakku dan menghapus sistem yang dibuatnya." Terang Richi pada Hugo.
"Ya, aku percaya kau bisa melakukannya jika melihat bos yang tak kuat itu. Hah, aku jadi bingung bagaimana orang sepertinya bisa jadi bos begitu?"
"Aku akan menyelidikinya. Oh ya, Hugo. Apa aku pernah cerita, kalau Evan satu kelas denganku?" Ucap Richi tiba-tiba saat teringat lelaki yang pernah menolongnya.
"Evan? Siapa itu."
"Orang yang pernah menolongku saat penculikan di pernikahan Harry!"
"Oh, dia. Lalu?"
"Dia sudah semakin baik dan jago juga. Dulu tubuhnya kecil, sekarang lebih besar dan kuat."
Hugo menghela napas. "Kenapa aku tidak ambil satu jurusan denganmu, ya." Keluh Hugo, cemburu saat Richi memuji lelaki lain.
"Sudah, jangan menggerutu. Bisa belikan aku minuman? Aku haus." Pinta Richi sambil kembali memijit kaki.
"Tunggu disini."
Lelaki itu pergi menuju supermarket yang tak jauh dari tempat Richi duduk.
Cukup lama Richi menunggu, sampai dengan jelas telinganya mendengar suara pecahan botol tak jauh dari tempatnya.
Richi menoleh kebelakang, mencoba fokus pada orang-orang yang sepertinya akan berkelahi. Tapi, Richi juga melihat sosok Hugo disana. Lalu dengan seorang perempuan yang berdiri dibelakangnya dengan takut.
__ADS_1
"Erine?" Gumam Richi sembari memperhatikan pemuda-pemuda yang akan dihadapi oleh Hugo. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?