Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Hugo's Birthday


__ADS_3

Hugo melirik jam di ponselnya. 2 menit lagi menuju pukul 00 untuk ulang tahunnya. Dia mencoba berpikir lagi, bisa saja Richi sengaja membuat kejutan untuknya dan pura-pura ada janji dengan orang lain.


"Ya, bisa saja seperti itu." Gumamnya lalu tersenyum sendiri menatap ponsel yang sebentar lagi akan meledak karena banyaknya notifikasi.


Biasanya Hugo akan memadamkan ponselnya supaya tidak mengganggu tidurnya. Tapi kali ini, dia sengaja begadang demi mengharapkan sebuah pesan dari Richi.


TING!


Pesan pertama masuk, Hugo cepat-cepat melihat pesan itu. Dia lesu karena bukan dari Richi melainkan Camilla. Tak lama, notifikasi terus bermunculan dan banyak pesan yang masuk mengucapkan selamat padanya yang bahkan tak dibukanya.


Hugo hanya melihat deretan nomor dan nama yang terus bergulir sementara nama yang ia cari tak juga muncul.


"Kemana dia. Apa benar-benar mengerjaiku, atau tidak tahu sama sekali?" Gumamnya saat menyadari tak satupun pesan Richi masuk.


Sudah pukul 1, Hugo merebahkan tubuhnya di ranjang. "Dia tidak ingat atau mengerjaiku, ya." Gumamnya lagi sambil menutup mata.


~


"Selamat ulang tahun, Hugo.." segerombol murid menyambut Hugo di depan lapangan basket. Tulisan besar tergulir dari atas genteng, bertulisakan selamat untuk Hugo juga terompet dan lainnya yang menjadikan lapangan ramai.


Anak-anak yang berada di lantai atas tak kalah seru, ikut bertepuk tangan menonton ke bawah.


Hugo menyambutnya walau matanya mencari sosok Richi diantara mereka.


"Ya ya, terima kasih.." Ucapnya sambil menerima berbagai macam hadiah dari orang-orang itu.


Meanwhile Richi...


Simon membukakan pintu mobil saat melihat Richi berlari kencang keluar rumah.


"Tidak sempat!" Teriaknya sembari melewati Simon lalu menuju motornya.


Richi menyalakannya dengan terburu-buru. "Aduh, kenapa aku bisa terlambat!" Ucapnya lalu melajukan motor dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya di sekolah, Richi langsung berlari ke kelasnya. Untung saja masih ada waktu 1 menit batas keterlambatan.


Richi masuk ke dalam kelas dan langsung duduk, membuka hoodie yang dari tadi menutup di kepalanya. Dia mengatur napasnya yang terengah, tak lama gurunya pun masuk dan memulai pelajaran.


~


Richi merenggangkan tubuhnya seketika saat mendengar lonceng istirahat. Lalu seseorang masuk dan meletakkan sebuah tas karton di depan gadis itu.


"Hei, apa ini?" Tanya Richi pada lelaki yang mengantar tas itu.


"Hadiah dari tuan Harry Draw." Ucapnya lalu beranjak pergi.


"Apa? Harry dari sekolah Palmy?" Pekik Greta yang langsung berjalan ke meja Richi dibelakang.


"Kau ada apa dengannya?"


"Entahlah, Greta. Akupun tak tahu. Sana, menyingkir!" Gumam Richi yang sangat malas membahas apapun saat ini.


"Wah, Richi. Kau hebat juga, ya. Bukankah Harry itu terkenal dan tidak mau berpacaran? Tahu-tahu mengirimimu hadiah. Aku iri, lho." Sambung Nelly dan teman-teman lain mengangguk setuju.


Richi langsung menyimpan hadiah itu ke dalam lokernya supaya teman-temannya berhenti berisik.


Dia keluar untuk mencari udara segar sekaligus ingin menemui Bella.


Richi menguap karena merasakan kantuk, lalu mulutnya yang terbuka lebar terhenti saat membaca tulisan besar-besar di atas genteng seberang kelasnya.


"Happy Birthday, Hugo?" Gumamnya sambil mencoba mencerna kata-kata itu.


Segerombol siswi berdatangan melewati Richi menuju kelas Hugo. Mereka masuk saja dengan jeritan yang memekik telinga di dekat mereka, meneriaki ucapan selamat untuk Hugo.


Richi membulatkan matanya. "Hugo ulang tahun??"


Dia langsung menutup mulutnya yang menganga. "Pantas saja dia mengajakku makan malam. Aahh.. bodoh, bodoh, bodoh!" Pekiknya memaki diri.


"Haah, bagaimana ini..!" Gumamnya lalu melihat orang-orang yang masih berkerumun di depan kelas Hugo.


Richi langsung menuju lokernya dan membuka paket apa yang dikirim Harry.


Dia terbelalak saat melihat isi kotak yang ternyata dress berwarna hitam.


'Pakailah malam nanti, aku menantimu'


Tulisan di kertas itu ia remuk, "gara-gara ini, hah. Tidak bisa dibatalkan kalau sudah mengirim pakaian begini!" Gumamnya lalu keluar kelas, dia ingin mengatakan sesuatu pada Hugo.

__ADS_1


Melihat orang yang masih ramai itu, rasanya tidak akan bisa berbicara padanya.


Richi mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan. 'Hugo, bisa keluar sebentar? Ada yang ingin aku katakan.'


Beberapa menit menunggu, tak juga ada balasan. Richi menelepon Hugo, juga tidak diangkat.


"Hah, Hugo. Aku jadi merasa bersalah padamu." Gumamnya lagi sambil membayangkan wajah Hugo tadi malam.


Richi mengingat seseorang yang bisa dimintai tolong.


"Bel, apa kau dikelas?" Tanya Richi via telepon.


"Ya, ada apa?"


"Tolong beritahu Hugo pelan-pelan, kalau aku menunggunya di taman belakang sekolah. Sekarang!" Ucapnya lalu Richi langsung menuju belakang sekolah.


Richi menunggu, duduk di sebuah bangku panjang. Beberapa menit berlalu, Hugo tak juga datang.


"Apa dia benar-benar marah padaku?" Gumamnya lagi.


Sampai bel masuk, Hugo benar-benar tidak menemuinya.


Richi mendesah, menyadari kesalahan besarnya. Dia memang salah, bagaimana mungkin dia mengatakan sayang pada Hugo sementara hari pentingnya saja dia tidak tahu. Dengan lemas, gadis itu beranjak dan masuk ke dalam kelasnya.


~


"Chi.."


Hugo berhasil meneleponnya setelah pulang sekolah.


"Maaf, aku tidak bisa keluar tadi." Ucapnya dengan nada lemas.


Richi duduk di tepi tempat tidurnya. "Tidak apa. Hugo, aku akan menemuimu setelah urusanku selesai nanti malam. Bagaimana? Kita dinner seperti yang kau bilang tadi malam, ya?"


"Benarkah? Baiklah. Aku akan menjemputmu. Kita ke restoran tangga seribu itu bagaimana?" Tanya Hugo dengan gembira.


"Iya, aku akan kesana. Kau tak perlu menjemputku. Akan ku usahakan cepat selesai." Ucap Richi dengan senyum lebar.


"Apa urusanmu benar-benar sesuatu hal yang penting?" Tanya Hugo lagi.


"Sebenarnya.. aku, akan dinner dengan Harry." Jawabnya dengan ragu.


"Maafkan aku, Hugo. Aku janji akan datang. Kami hanya makan malam dan tidak akan lama."


"Baiklah. Aku menunggumu."


...🥂...


Richi menuju ke sebuah apartemen yang menjadi alamatnya untuk dijemput Harry. Dia menunggu di lobi dan tak lama, Harry datang menjemputnya.


Harry tersenyum melihat Richi yang berbalut dress yang ia pilihkan.


"Kau cantik sekali" pujinya pada Richi dengan dress hitam sepaha, lebih pendek dari rok sekolahnya. Bagian bahunya terbuka, Richi memakai high heels yang tak begitu tinggi.


Mereka menuju tempat yang Harry sudah pesan. Tempat itu adalah lantai paling atas sebuah gedung tertinggi.


Harry bersikap manis, ia menarik kursi Richi dan mempersilakan gadis itu duduk.


Richi terpukau, pemandangan di sebelahnya sangat indah walau dia mulai takut pada ketinggiannya.


"Kau suka?"


Richi mengangguk cepat. Dia tidak berbohong dan benar-benar menyukai pemandangan di bawahnya.


Banyak bunga di sekelilingnya seperti sudah diatur dan ditata sebaik mungkin.


"Kau heran ya, Kenapa aku bisa memesan tempat ini?" Ucap Harry yang melihat kebingungan Richi.


"Aku tahu, ini hotel. Aku hanya menyewa lantai atasnya saja untukmu." Harry tersenyum hingga matanya menyipit.


"Harry, aku merasa tidak enak, kau sampai membelikanku dress dan makan malam seindah ini." Ungkap Richi.


"Aku bisa memberikan apapun yang kau mau".


"Ah, Harry. Aku terharu. Terima kasih banyak, ya."


Harry menggenggam tangan Richi. "Syukurlah kau menyukainya." Ucapnya dengan penuh kebahagiaan menatap Richi di depannya.

__ADS_1


Setelah makan, Harry mengajaknya pindah ke salah satu sudut ruang yang menampilkan pemandangan yang lebih luas. Disana sudah disediakan satu sofa panjang, dan Harry mengajaknya duduk disana.


Richi mencoba bersikap santai walau matanya melirik jam berkali-kali.


Pelayan datang membawa 2 gelas kosong dan sebotol anggur.


Pelayan itu menuangkannya di gelas Richi dan juga gelas Harry.


"Mari, bersulang." Ucapnya sambil menangkat gelas dan Richi menyambutnya.


Harry meneguk habis di gelasnya. Wajahnya berubah menahan rasa berat dalam anggur itu.


Dia menuangkannya lagi.


"Kau ada masalah?" Tanya Richi hati-hati.


Harry tergelak. "Tidak, aku hanya menyukai anggur".


Dia sudah menghabiskan 2 gelas dan matanya mulai sayu.


Richi mengeluh, dia ingin sekali kabur dan menemui Hugo, tetapi dia tidak tahu cara berpisah yang tepat supaya tidak menyakiti Harry.


"Chi.."


Suara Harry mulai berat, dia menatap Richi lekat-lekat.


"Kau itu, cantik sekali." Gumamnya dengan tatapan nanar. Tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan.


"Harry, kau mabuk. Biar aku bantu berdiri dan kita pulang saja."


"No, no, no. Aku mau habiskan malam ini bersamamu saja.." racaunya dan meneguk minumannya lagi.


Richi menghembuskan napas panjang. Dia benar-benar tidak bisa kabur.


"Hari-hariku berat sekali.." racau Harry lagi, kini dia benar-benar mabuk.


Richi memiringkan tubuhnya dan menatap Harry yang disebelahnya.


"Kenapa? Apa ada sesuatu?" Tanya Richi mulai menggali informasi.


"Hm. Yaa. Aku ini pembuat misi terbaik.." ucapnya sambil menepuk-nepuk dadanya.


"Misi? Apa itu?"


Harry menggeleng-gelengkan kepalanya. "No, no, no. Ini misi rahasia. Tapi, aku bisa melakukannya. Sedikit lagi saja.... Bussh! Hancur. Hahaa." Harry tertawa lebar, lalu menatap sendu ke arah Richi.


"Hari beratku.. sedikit ringan.. Sejak mengenalmu." Racaunya lagi dengan mata yang hampir menutup.


Richi membenarkan posisi kacamata Harry yang hampir jatuh. "Kita pulang."


Harry menggelengkan kepalanya layaknya anak kecil. "Tidaaak. Sudah aku katakan, aku ingin bersamamu. Kau membuatku nyaman, Richi.." Harry pingsan. Dia menjatuhkan kepalanya di bahu Richi.


"Misi besar, hm? Ternyata benar kau ketuanya." Gumam Richi pada Harry yang sudah tidak sadar.


Suara sepatu hak tinggi mendekat, Richi menoleh dan mendapati seorang perempuan cantik berdiri di belakang kursi mereka.


"Permisi, saya asisten pribadi tuan Harry. Bisa saya minta dia kembali?"


Richi membelakakkan mata, gadis itu.. bukankah dia yang kecurian tas dan berkenalan dengan Hugo saat kencan pertama?


Richi membuang wajahnya. 'Ah, sial. Bagaimana kalau dia tahu aku?' Gumamnya.


"Silakan.." ucap Richi tanpa menoleh ke arahnya.


Shera berjalan ke hadapan Richi dan mulai memapah Harry.


"Terima kasih sudah menemani tuan saya. Permisi." Ucapnya dengan tersenyum lalu membawa Harry.


"Tunggu, apa aku mengenalmu?" Tanya Richi yang penasaran kenapa gadis itu biasa saja padanya.


"Benarkah?" Shera menatap wajah Richi. "Aku tidak tahu, apa kau mengenalku?"


Richi langsung menggeleng. "Tidak, maaf. Saya mungkin salah orang."


Shera tersenyum lalu membawa Harry yang mulai meracau lagi.


"Ah, Sial..Hugo!" ucapnya dan berlari saat melihat jam sudah pukul 11 malam.

__ADS_1


TBC


__ADS_2