Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Bertemu Kembali


__ADS_3

Jonathan baru saja keluar dari mobil saat ia melihat mobil Hugo meluncur dengan cepat entah kemana.


Dia bersama Simon diperintah oleh Ricky untuk membereskan apa yang menjadi pekerjaan tim Fox malam ini, dan tentu saja mereka bersama Eddy, masuk kedalam rumah yang pintunya sudah terbuka lebar.


Eddy dengan segera berlari mendekati Erine yang menunduk dalam dengan kondisi tubuh yang penuh luka darah.


"Erine!"


Gadis itu mengangkat kepala. Membuat Eddy sontak kaget dengan apa yang terjadi pada Erine.


"Kau.. bagaimana bisa??" Eddy berdiri tegak menatap Clair, Olivia, dan Bella. Tiga perempuan yang tampak baik-baik saja. Artinya bukan mereka. Kalau begitu, pasti Darrel. Dia sudah menebak itu.


"Mana Darrel?" Tanya Jonathan saat menyadari bahwa apa yang terjadi pada Erine adalah perbuatan gadis itu.


"Dia pulang. Kurasa mengobati bahunya yang tertusuk gunting." Jawab Bella sembari memberitahu apa yang dilakukan Erine pada Darrel.


"Apa? Kenapa bisa sampai bertarung, hah? Tugas kalian 'kan hanya membawa barang penting itu." Tukas Jo dihadapan ketiganya. Mereka tertunduk, tak berani menjawab.


"Oh my God, Jo, kau harus lihat ini!" Suara Simon dari dalam membuat Jonathan segera datang. Dia masuk kedalam ruang dimana Simon sudah berdiri di dalamnya.


Jonathan menganga melihat deretan gambar Hugo. Dia tak tahu harus bagaimana saat menyadari mungkin saja itulah yang membuat Richi marah pada Erine. Tapi, dia tahu, adik komander itu cukup pintar menjaga emosi.


Jo memotret ruangan itu dan mengirimkannya pada Ricky.


"Ayo, kita pulang, Erine." Eddy menarik tangannya, tapi Erine menolak.


"Tidak. Aku mau disini."


"Untuk apa kau disini?? Kita sudah selesai."


"Selesai apa maksudmu??"


"Eline tertangkap sedang membantu Blackhole! Kau juga, kan? Barang itu ada di kamarmu!" Pekik Eddy geram. Pasalnya kedua kembarannya itu malah mempermalukan dirinya.


Erine tidak tahu kalau Eline tertangkap dan itu membuatnya terkejut.


"Kita sudah dikeluarkan dari Valiant dan itu semua karena ulah kalian. Sekarang, ayo pulang. Ayah memintaku menjemput kalian. Malam ini juga kita ke bandara."


Erine terbengong. Dia tidak mau pindah negara lagi. Dia tidak mau keluar dari Valiant apalagi ayahnya tahu. Dia pasti dihajar habis-habisan seperti dulu.


"A-aku tidak mau!"


Eddy mengabaikannya. Dia masuk ke kamar Erine, mengambil koper, dan memasukkan baju-baju Erine ke dalamnya.


"Eddy, aku tidak mau!" Teriak Erine keras.


"Buat apa kau disini? Apa masih mau menggoda Hugo?" Tanya Clair sungguh-sungguh dan membuat Erine mengatupkan mulutnya. Dia memang gagal mendapatkan Hugo, tapi dia tak ingin pindah.


"Coba saja sejak awal kau mengaku salah. Kurasa ini tidak akan terjadi." Kata Bella.


"Seharusnya kau cukup sadar diri, bukan malah memancing emosi Darrel. Kau pikir, kau sehebat apa sampai membuatnya murka?" Sambung Olivia


Erine teridam. Dia tahu, dia telah melewati batas. Itu semua karena dia terlalu menyukai Hugo dan menginginkan lelaki itu.


"Dasar gila." Imbuh Clair dan dia pun keluar, disusul Bella dan Olivia sembari membawa kotak berisikan bukti kejahatan Blackhole.

__ADS_1


...🦋...


Hugo buru-buru turun dari mobil. Dia masuk ke dalam rumah yang sudah dibukakan oleh pelayan. Tengah malam, Hugo bertamu ke rumah Richi. Dia tahu ini salah dan mungkin akan diusir Jenderal Wiley. Tapi dia tidak peduli, yang utama adalah menemui Richi.


"Mau apa datang jam segini?"


Langkahnya dihadang oleh Ricky. Wajah lelaki itu tidak ramah dengan tangan bersedekap di dada.


"Aku mau menemui Richi. Dia ada di dalam, kan?" Hugo ingin menerobos masuk, namun bahunya ditahan Ricky.


"Ini sudah malam. Dia tidur. Jangan ganggu."


"Tidak mungkin dia tidur. Mesin mobilnya masih panas."


"Aku bilang dia tidur, artinya aku tidak mengizinkanmu bertemu dengannya!" Suara Ricky yang meninggi mengundang perhatian seisi rumah.


"Ada hal penting yang harus kuberitahu!"


"Aku tidak mengizinkanmu, sialan! Kau pikir apa yang sudah kau lakukan pada adikku? Hah? Kau lihat!!" Ricky menunjukkan foto-foto yang dikirim Jonathan. "Kau mau mati, hah?"


Hugo dengan geram mencengkram baju Ricky. "Kau tidak tahu apa-apa dan jangan ikut campur."


Ricky dengan keras meninju wajah Hugo hingga lelaki itu hampir terjatuh kalau bukan dengan tangan ia menahan tubuhnya. Hugo bangkit kembali.


Marry bersama suaminya mendekati Ricky dan Hugo yang mulai memanas.


"Hentikan!" Suara tegas milik Wiley membuat Ricky dan Hugo mau tak mau saling membuang wajah.


Di kamarnya, Richi mendengar kebisingan.


"Ya, kurasa ada yang tidak beres diluar." Jawabnya tanpa beralih dari jahitannya. "Bibirmu, apa sakit? Perlu kuberi obat?"


"Tidak perlu. Ini akan sembuh dalam waktu dekat." Richi menyentuh sudut bibirnya yang nyeri karena pukulan Erine.


"Kau melawan siapa sampai terkena luka begini?" Tanya dokter itu lagi.


"Erine."


"Apa?" Pearl sampai menghentikan aktifitasnya. "Kalian bertengkar lagi?"


"Lagi? Kau pikir aku selama ini pernah berkelahi dengannya?"


"Emm.. kurasa tidak. Apa hanya gosip?"


Richi tak menjawab, dia hanya meringis saat dokter itu menggunting jahitan sebagai tanda penyelesaian tugas.


"Selesai. Aku pergi dulu. Obatmu jangan lupa kau minum." Katanya sambil membereskan barang-barang.


Dokter itu keluar dari kamar Richi, sementara gadis itu berdiri di depan cermin memperhatikan jahitan yang masih basah.


"Aku tidak bisa pakai baju terbuka dalam waktu dekat. Huff.." Keluhnya. Richi menoleh kearah pintu saat mendengar keributan lagi. Dia tergerak untuk mengecek ke depan.


"Ricky, sudahlah!" Pekik Marry. "Dia hanya ingin bertemu adikmu, apa salahnya?!"


Ricky tak bisa menjawab jika sudah berdebat dengan ibunya. Dia mengalah.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu." Hugo menunduk pada Wiley, lalu berjalan menuju kamar Richi.


Baru dia hendak mengetuk, pintu terbuka. Richi berdiri dengan kaos kutung merah dan celana panjang. Mata Hugo mengarah pada jahitan di bahunya.


"Chi.." Hugo tampak lesu. Wajahnya begitu memelas dan darah di hidungnya mengalir, tapi dia mengelapnya dengan asal.


"Maafkan aku, ya. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku memang masih sangat banyak kekurangan tapi.. aku tidak bisa kehilanganmu."


Richi tahu, Hugo tidak bersalah. Hanya saja, foto-foto itu membuatnya sangat terganggu. Apalagi itu mengingatkannya pada Damian. Lalu, apa yang sudah Erine lakukan selama ini dengan foto-foto itu? Apakah dia segila itu sampai menyusun rencana supaya bisa bersanding dengan Hugo pada drama teater hingga mereka berciuman?


"Beri aku waktu sendiri, Hugo. Aku perlu menenangkan pikiranku."


"Jangan, Chi. Kumohon. Jangan putus. Mari kita bicarakan ini." Wajah Hugo sudah tidak bisa diungkapkan lagi. Dia sedih Richi memilih berlepas darinya.


"Hei, kau tidak dengar apa katanya?!" Teriak Ricky dari jauh, masih mengawasi Hugo.


"Aku butuh waktu untuk memulihkan pikiranku, karena setiap melihatmu, aku teringat kau dan Erine."


Hugo tak bisa berkata-kata walau bukan salahnya, tapi dia membenci dirinya sendiri.


"Jangan hubungi aku sampai aku yang menghubungimu. Semakin kau mengirimiku pesan atau apalah itu, maka semakin lama hubungan kita berakhir." Richi menutup pintunya. Dia bersandar di daun pintu sambil membuang napas perlahan.


Melihat wajah Hugo memang membuatnya teringat Erine, padahal dia sudah berusaha melupakan itu. Tapi foto-foto tadi.. Ah, sungguh berat, apalagi Richi sangat membenci kontak fisik seperti itu dengan orang lain.


...🦋...


Bulan baru berganti. Musim dingin kini tiba, membuat orang-orang merapatkan jeket supaya tidak menggigil.


Tak berbeda dengan Richi. Menjelang siang dia sudah berada di depan toko buku. Stok novelnya menipis. Sejak hari itu dia memilih berdiam di kamar membaca novel setelah pulang kuliah.


Hugo? Entah apa kabarnya. Setelah Richi mengatakan itu, Hugo benar-benar tidak menghubunginya dan Richi pun tidak.


Baru masuk toko, Richi bisa melihat deretan majalah TheMost ada di rak paling depan.


Richi berhenti, dia tidak melihat gambar Hugo pada cover depan.


Tangannya tergerak mengambil satu, lalu membalik halaman demi halaman untuk mencari sang model. Tapi tidak ketemu.


Richi kembali membuka lembarannya, dan benar-benar tidak ada wajah Hugo di dalamnya.


"Kenapa bulan ini dia tidak ada? Rasanya tidak mungkin.." gumamnya sendiri.


"Kau mencariku?"


Richi terlonjak kaget saat mendengar suara dari belakang. Dia menoleh dan matanya membulat.


Richi menutup mulutnya yang menganga.


"Hai. Lama tidak bertemu." Lelaki bermasker itu melambaikan tangan.


"Aron!!!"


"Sstt. Jangan kuat-kuat. Aku sedang menyamar." Jawabnya dengan senyum yang bisa Richi lihat dari mata yang menyipit itu.


TBC

__ADS_1


**Malam nanti up nggak yaaaa.. Like dulu deh**


__ADS_2