
Orlando mencari cara untuk bisa lepas dari Valiant tanpa masalah. Dia tak mau namanya tercoreng di mata jenderal Wiley.
"Anda tampak sangat berpikir keras ya, tuan Orlando."
Pandangan pria itu teralihkan. Dia menatap gadis dengan penutup wajah yang kini duduk di depannya.
"Siapa kau.." Orlando penasaran sebab gadis itu selalu memperhatikannya.
"Aku tahu anda tengah berpikir bagaimana caranya untuk keluar dari sini tanpa menyebabkan masalah."
Orlando terkaget dengan jawaban Olivia karena memang itulah yang ia pikirkan.
Olivia mendekatkan wajahnya. "Aku punya cara, supaya anda bisa kabur dari sini." Bisik Olivia.
Orlando menatapnya. Dia tidak paham kenapa gadis itu tiba-tiba mau menolongnya, atau ini hanya jebakan?
"Darrel, kurasa yang satu ini tidak bersalah." Tukas Olivia pada Richi dengan wajah yang masih menatap Orlando.
"Kau ahlinya, kau yang lebih tahu siapa yang bersalah dan tidak." Jawab Richi pula dengan mata yang masih menatap Virgo dan Eline.
"Aku akan menolongmu tapi ada syaratnya."
"Apa? Apa Syaratnya? Aku akan memberikan apapun asal namaku bersih."
Mendengar Orlando yang begitu bersemangat membuat Olivia tertawa terbahak-bahak. Demi membersihkan diri, Orlando sampai mau memberikan apapun pada Olivia.
"Ikut aku." Olivia beranjak dan Orlando dengan cepat mengikutinya.
Olivia masuk ke dalam lift, begitu juga Orlando yang berdiri di belakang gadis itu. Ada rasa khawatir jika Olivia yang berada dibelakangnya.
Pintu tertutup dan Olivia membuka maskernya.
"Aku hanya bisa mengantar anda keluar dari tempat ini." Ucap Olivia memulai pembicaraan setelah beberapa saat hening.
Orlando ingin melihat wajah gadis itu, tapi dia tak punya nyali untuk maju. Karena semua petinggi negara pasti tahu, Valiant adalah kelompok resmi yang berada dibawah naungan Jenderal tertinggi, Wiley.
"Sebaiknya anda berlepas diri dari hal semacam ini. Aku tahu tuan dulunya ilmuan. Tapi anda juga seorang keturunan kerajaan dengan citra yang baik. Jika anda ketahuan, bukan cuma anda, anak anda juga akan menjadi korban."
Setelah memberi ceramah, Olivia keluar dari lift lalu berdiri menghadap Orlando.
__ADS_1
Mata Orlando seketika melebar saat melihat sosok Olivia adalah orang yang ada di depannya.
"K-kau.." Dia merasa bodoh dalam hitungan detik. Bisa-bisanya dia merasa takut pada seorang Olivia.
"Syaratku adalah, jangan pernah ganggu aku dan Bundaku. Aku tak segan-segan menyebarkan berita ini pada seluruh dunia jika anda masih mengusik kami." Tukas Olivia lalu tersenyum kecil.
"Jangan lakukan hal konyol. Kematianku adalah kesengsaraan bagimu. Kupastikan itu."
Pintu lift tertutup, Olivia sudah tidak ada di dekatnya tapi tubuhnya masih saja tegang. Pasalnya, dia memang sempat ingin menyingkirkan Olivia. Membunuhnya, menghilangkan jejaknya dan itu bukanlah hal yang sulit.
Sedetik kemudian Orlando tersadar bahwa gadis itu memang bukan sembarang. Ya, anggota kelompok Valiant memang orang pilihan. Itu sebabnya dia pun pasti akan kewalahan jika menghadapi gadis itu nantinya.
~
"Kau tidak bilang kalau dia Darrel." Lirih Eline pada Virgo. Dia kini menangis sesegukan. Bagaimana ia tidak merasa kacau saat ternyata yang ia hadapi adalah kelompoknya sendiri.
"Matilah aku.. hiks." Eline menghantuk-hatukkan kepalanya ke tembok.
"Kenapa dia?" Tanya Clair pada Richi yang tengah melamun. Gadis itu langsung melihat kearah Eline.
"Hei, jangan dulu pecahkan kepalamu. Kami harus menyaksikan kau diusir dari Valiant." Celetuk Bella sambil membagikan makanan kepada anak-anak di dalam. Suara riuh dan berisik bocah-bocah itu berebutan.
Eline sudah pasrah. Dia sampai enggan menatap Virgo, merasa dijebak oleh lelaki itu.
Eline menatap Richi yang bengong. Dia tersenyum kecil. Melihat Richi dia tahu gadis itu kepikiran dengan ucapannya. Sekarang hanya perlu mengulur waktu. Mira bilang acara mereka bubar pukul 8. Sekarang baru pukul 7 dan Erine juga kesana saat Hugo sudah terlelap. Jadi, dia perlu membuat Richi berada disana sekitar satu jam lagi.
Yah, walaupun dia pasti akan keluar dari Valiant, setidaknya dia ingin gadis bernama Darrel itu hancur. Bukankah itu yang ia inginkan dari dulu?
"Kau ada masalah?" Bisik Clair pada Richi. Sejak tadi dia melihat gadis itu tidak tenang. Tangannya terus mengepal lalu terbuka, meregangkan leher, juga menatap kosong kedepan.
"Kalau ada sesuatu yang mengganggumu, pergilah. Aku yang akan mengurus disini." Sambung Clair yang sangat mengerti sahabatnya itu.
"Aku sudah menelepon Ricky. Mereka sedang di jalan." Ucap Richi, kemudian berlari keluar.
Melihat Richi pergi, Eline harap-harap cemas. Semoga saja Mira sudah menjalankan rencana yang ia buat untuk menjebak Hugo. Semoga Hugo sudah meminum minuman yang ia berikan dan tertidur di kamar hotel. Juga, semoga Erine dan Hugo sudah berada di dalam satu kamar. Do'a Eline dalam hati.
Richi menjalankan mobilnya ke hotel yang disebutkan Eline. Tidak sulit baginya, karena dia dan Hugo pernah menginap disana.
Gadis itu langsung masuk kedalam hotel dan mencari nomor kamar yang sudah ia hafalkan.
__ADS_1
Richi menemukannya. Dia berdiri di depan kamar yang disebut Eline tadi.
Richi memencet bel beberapa kali. Dia mengetuknya berkali-kali, tidak ada jawaban.
Richi turun ke meja resepsionis dan menanyakan perihal kamar 373.
"Maaf, nona. Kamar itu sudah dipesan."
"Aku tahu, karena aku yang memesannya. Maaf, saya ingin memastikan karena.. saya lupa nama hotel yang saya pesan." Tanya Richi dengan jantung yang berdetak lebih kencang. Pasalnya dia hanya mengarang. "Atas nama Erine." Ucapnya lagi.
"Maaf, bukan Erine, tapi atas nama Eline, nona."
"Aah, itu maksudku. Maaf." Richi menghela napas saat ternyata ini hanya jebakan Eline saja.
"Begini, saya menyuruh asisten saya yang memesan hotel tapi nampaknya dia melakukan sedikit kesalahan. Emm.. apa kamar sudah diisi oleh pacar saya?" Tanya Richi lagi. Dia tidak berani menyebut nama. Entah Erine atau Hugo yang tercatat disana.
"Belum, nona. Pesanannya juga belum diambil."
'Pesanan?' Richi menghela napas. Eline benar-benar merencakanan ini untuk menghancurkan hubungannya dan Hugo?
"Ada yang perlu saya tambahkan, boleh saya minta kembali?"
Resepsionis itu menatap Richi sebentar. Gadis di depannya tidak terlihat mencurigakan. Dia bersikap tenang.
Resepsionis itu mengangguk, lalu menyerahkan kotak berukuran kecil itu pada Richi.
"Terima kasih." Richi kembali ke dalam mobil. Dia membuka kotak itu dan mendapati minuman dan memo di dalamnya.
'Hugo, ini minuman kesukaanmu, kan? Jangan lupa diminum selagi aku menuju kesana. Love, Richi♡'
"Hah. Yang benar saja. Kau benar-benar kurang ajar ya, Erine. Aku yakin kau juga pasti yang menjebak Hugo saat drama itu!" Ucap Richi penuh kekesalan. Dia teringat Hugo pernah ingin mengenalkan lawan mainnya yang bernama Laura padanya.
Richi membuang memo lalu menuliskan yang baru untuk Hugo. Richi juga mengganti minuman yang ada di dalam khawatir itu sudah dicampur dengan obat-obatan.
Richi menutup kotak lalu menyerahkan kembali pada resepsionis.
"Tolong, jika ada perempuan yang meminta kunci 373, berikan saja." Pesan Richi pada resepsionis, lalu memberikan sedikit uang tip padanya.
"Huff.." Richi menyempatkan duduk di lobi hotel. Sejenak ia merasa lega. Dia yakin, memang Hugo tidak mungkin mengkhianatinya. Sekarang, giliran dia yang akan mengerjai Erine.
__ADS_1
TBC
** Hayo siapa yang udah emosi🤣. Padahal di memo tuh tulisannya bilang, kalau dia akan kembali setelah dari markas Blackhole, sementara Eline dan Erine aja ga tau kalau yang mau menyerang Blackhole itu Richi, jadi ga mungkin memo itu ditulis Eline atau Erine😩😩😩 **