
Hugo baru saja menjalani operasi. Daren dan yang lain sedang duduk di depan ruang ICU, menunggu Hugo siuman.
Mereka semua sangat panik saat mendengar suara tembakan. Sampai Daren yang sudah dekat dengan ruangan dimana Hugo disekap, harus mundur karena suara tembakan yang membabi buta.
Dia dan yang lain sampai tidak bisa menebak apa yang terjadi pada Hugo dan Richi. Hingga suara tembakan berhenti, mereka menerobos masuk. Tak menemukan Richi dan Hugo disana. Satu orang yang memegang pistol, langsung dihabisi Daren.
Mereka sangat bersyukur Hugo masih bisa diselamatkan. Kecemasan luar biasa mereka rasakan saat melihat Hugo yang sudah tidak berdaya dengan luka tembakan dan lumuran darah.
Entah apa yang terjadi sebenarnya, namun mereka harus mengucapkan banyak terima kasih kepada Richi yang sudah mau membantu mereka menolong Hugo.
Saat disana tadi, Axel sudah tidak menemukan Richi. Padahal dia baru saja ingin menemui gadis itu. Tetapi dia pergi saja tanpa mengatakan apapun. Juga mereka tidak tahu kondisi Richi, apakah dia terluka atau baik-baik saja. Gadis itu menghilang entah kemana.
"Apa yang terjadi?" Ayah Hugo datang dengan kepanikan. Mendengar Hugo harus operasi karena luka tembak membuatnya terpaksa membatalkan perjalanan panjangnya menuju negeri sebelah.
Daren dan yang lain berdiri. Mereka tidak tahu harus bicara apa. Walau sebenarnya David juga sudah tahu kelompok mereka yang sudah terpecah dua.
Daren menjelaskan garis besar masalah mereka. Para gerombolan penjahat itu juga sudah mereka bereskan dengan bersih.
Nampaknya, David cukup mengerti dan terduduk bersama Daren dan yang lain. Mereka belum dibolehkan masuk.
"Kalian baik-baik saja?" David menepuk-nepuk punggung Daren yang duduk disebelahnya.
Mereka mengangguk. Walau masing-masing punya luka di tempat berbeda, mereka masih lebih baik dari pada Hugo.
Daren, luka sabit di lengannya mulai terasa perih. Bekas jahitan masih basah, tetapi dia memaksa ikut menunggu Hugo.
"Suster, kapan kira-kira Hugo sadar?" Tanya Isac saat melihat seorang perawat keluar dari ruangan Hugo.
"Semoga besok sudah siuman, Tuan. Tuan Hugo juga akan pindah ruangan besok." Jawabnya lalu menunduk dan berlalu.
"Kalian pulang saja. Biar saya yang akan jaga. Pergilah, besok kalian bisa datang lagi." Ujar David pada teman-teman Hugo. Dia tahu mereka sudah bekerja keras saling membantu.
Mereka menurut dan berpamit pulang, meninggalkan David yang tengah berdiri di depan celah kecil pintu menatap anak satu-satunya terbaring dengan alat bantu pernapasan.
...🍉...
Richi baru saja pulang dan diantar oleh Emerald. Dia berdiri di depan cermin kamarnya, menatap noda merah bekas darah di bagian atas dadanya. Ingatan saat Hugo tertembak tepat di depannya membuatnya sulit untuk tenang. Bagaimana kabar Hugo? Dia belum mengetahuinya.
Richi menyentuh bekas darah yang mengering itu. Darah Hugo yang telah menolongnya. Dia menarik napas sedalam-dalamnya, memejamkan mata untuk menenangkan dirinya.
Richi lalu masuk ke dalam kamar mandi dan mulai merendamkan dirinya yang mulai bau karena banyaknya noda darah di sekeliling tubuhnya.
__ADS_1
~
Richi keluar dari kamar dengan seragamnya. Tapi sepertinya dia tidak datang ke sekolah, tetapi ke rumah sakit. Dia ingin tahu kabar dan perkembangan Hugo.
Lalu saat akan beranjak, ponselnya bergetar. Dia membukanya. Nomor baru mengirimkannya pesan yang membuat hatinya sedikit tenang.
'Hugo sudah dioperasi. Dia juga belum siuman. Untuk sekarang, dia belum bisa dijenguk. Terima kasih banyak, Richi. Kau jangan khawatir, Kondisinya sudah mulai membaik. Daren~'
Richi membaca pesan itu berkali-kali. Dia lega karena Hugo akhirnya selamat.
Bukan tanpa alasan, Daren mengiriminya pesan demikian karena sempat melihat Richi menghapus air matanya saat melihat Hugo yang didorong ke Ambulan. Daren tahu, hubungan Richi dan Hugo tidak begitu baik. Namun melihat Richi yang menangis karena Hugo tertembak, sepertinya terjadi sesuatu diantara mereka.
"Serius sekali".
Ricky mengintip dari belakang. Dengan cepat Richi menyimpan ponsel ke saku roknya.
"Dari siapa? Pacarmu? Atau Emerald?" Tanya Ricky tanpa spasi.
Richi tidak menjawab. Dia berjalan menuju ruang makan keluarga.
"Hei, bagaimana kau dengan Emerald? Apa kencan kalian berjalan lancar?" Ricky bertanya sambil mengikuti jalan cepat Richi dari belakang.
"Ada apa, pagi-pagi sudah ribut." Mary menegur anaknya sambil mengolesi selai pada roti untuk suaminya. Sedangkan Richi, sudah mengunyah sandwich miliknya.
"Ibu, Ichi sudah berkencan dengan Emerald". Ucap Ricky asal sambil menyantap Pasta miliknya.
"Benarkah, sayang?" Mata Mary berbinar mendengar ucapan Ricky barusan.
Richi hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku tahu, aku melihat foto yang diunggah Emer. Itu kau, kan."
Richi berhenti mengunyah. Dia tidak memeriksa ponselnya sejak kemarin. Mengunggah? Apa yang diunggah kak Emer?
"Wah, Ibu sangat senang, Ichi. Lalu bagaimana dengan Hugo? Bukankah dia juga menyukaimu?" Tanya Mary lalu meminum susu coklat.
Richi tidak menjawab. 'Menyukai apanya?!' Batinnya. Dia melirik Ricky saat tiba-tiba teringat Saver. Bagaimana lelaki sialan itu? Apakah sudah mati? Richi bertanya dalam hatinya dan berharap lelaki terkutuk itu mati. Dia belum berubah. Bahkan semakin parah saja.
Wiley mengelus lembut punggung Richi. "Putriku sudah mengenal laki-laki, akhirnya berada di jalan yang benar".
Richi menelan sandwichnya dengan cepat. "Ayah, apa maksudnya itu?"
__ADS_1
Ayahnya tertawa tanpa penjelasan.
"Karena kami mengira kau tak menyukai laki-laki". Jawab Ricky santai sambil menyendokkan suapan terakhir.
Richi terbelalak. Rupanya diam-diam mereka mengkhawatirkan hal yang bahkan tidak pernah disangka-sangka oleh Richi.
"Ah, iya. Nanti malam, ada acara pembukaan restoran baru oleh keluarga Draw. Sebenarnya tidak begitu dekat, tetapi dia sangat memohon supaya Ayah datang. Jadi, kalian harus ikut". Ucap Wiley lalu menyeduh kopinya.
Richi sedikit berpikir. Keluarga Draw? Seperti pernah dengar, siapa ya? Richi menelan sandwich dan meminum air putihnya hingga habis.
...🌶...
Richi berjalan menuju toilet. Sepanjang jalan, dia mendengar dari orang-orang kalau Hugo dan yang lain tidak masuk sekolah hari ini. Sayup-sayup dia mendengar kalau mereka semua mengadakan perkenalan bisnis keluar negeri. Itu artinya, mereka memang menyembunyikan kejadian malam tadi.
Apalagi, Richi sempat melihat luka-luka di tubuh Daren dan yang lainnya.
Richi masuk ke dalam ruang besar toilet. Saat akan membuka pintu bilik, tiba-tiba Richi didorong dengan kuat masuk ke dalamnya hingga ia tersungkur ke atas Wc duduk.
Carina, dia sengaja mendorong lalu mengunci pintu dari dalam supaya apa yang akan dia lakukan pada Richi tidak diketahui oleh orang lain.
Richi memebenarkan posisinya. Dia duduk di atas Wc dan menatap Carina dengan dingin. Entah apa maksud gadis itu sekarang. Padahal, dia tidak pernah mencari perkara dengannya.
"Luar biasa sekali kau. Tidak takut pada ancamanku?" Carina melipat tangannya di dada. Menatap Richi dengan tatapan mematikan.
"Aku tidak mengerti maksudmu". Jawab Richi dengan santai. Tatapan Carina tidak membuatnya takut.
BRAK!
Carina menghentakkan keras kakinya ke tembok belakang badan Richi. Kakinya menjulang panjang disebelah kiri Richi hingga menampakkan pahanya. Gadis itu, melirik kaki yang tidak sopan itu. Ingin sekali dia mematahkannya.
Carina menundukkan wajahnya melihat Richi yang duduk tegak. "Kau kira, aku tidak tahu kalau kau mengadukan apa yang ku lakukan pada Hugo?"
Ah, itu rupanya. Richi mulai mengerti persoalan yang membuat Carina marah padanya.
To Be Continued....
Hallo♡
Terima kasih ya sudah mendukung Author dengan Like, Komen, Vote, dan Hadiahnya💐
Jangan lupa baca cerita Author "Duka Dua Garis Merah" 🙈
__ADS_1