Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Strategi


__ADS_3

Richi mengangguk setuju saat Hugo mengusulkan untuk makan eskrim dulu sebelum mencoba berbagai jenis permainan.


Dia mencari tempat sepi yang tak ada orang lalu lalang. Richi menuju satu bangku panjang yang warnanya hampir memudar, di depan sebuah toko yang nampaknya tak pernah dibuka.


Richi memandang toko di depannya, agak heran, sebab jejeran toko-toko itu benar-benar terlihat kusam tak terawat padahal di depan sana adalah pusat permainan dan ramai pengunjung, tetapi toko-toko ini malah tidak beroperasi.


Tak mau ambil pusing, Richi duduk dan membuka ponsel. Dia penasaran apa yang membuat Hugo panas dan enggan membaca komentar.


Ternyata, seseorang mengunggah foto dirinya dan Harry yang tengah berdiri berdampingan di acara ulang tahun Sonia.


Richi tergelak membaca komentar orang-orang yang baru tahu penampilannya saat memakai gaun alias mode anggun.


Tanpa dia sadari, tiga berdiri dibelakangnya. Dua orang berhasil menggenggam tangan Richi kiri dan kanan, dengan sigap seorang lagi membekap mulutnya dengan kain yang dibasahi minuman alkohol, supaya saat mulutnya terbuka, cairan alkohol masuk ke mulut dan membuatnya mabuk.


Dengan cepat dua orang lagi datang memegang kakinya yang hampir naik ke atas untuk menendang kepala dua orang di atas kepalanya.


Sebelum melakukan ini, mereka sudah tahu bahwa Richi jago bela diri. Itu sebabnya mereka sudah menyusun cara supaya gadis itu tidak berkutik.


Richi di gotong ke salah satu gang, dua orang lagi datang membawa tali. Kaki dan tangan Richi yang masih memegang ponselnya di ikat, mulutnya di plaster.


Salah satu diantara mereka yang berbadan lebih besar menggendong Richi di pundaknya, tidak peduli dengan tubuh gadis itu yang menggeliat. Suara tawa yang menggelegar mengusik telinganya sembari membawanya masuk ke dalam satu pintu yang terlihat usang.


Untungnya, tak ada yang berjalan di belakang Richi sehingga dia dengan cepat menjatuhkan ponselnya di depan pintu sebagai tanda untuk Hugo.


Lantai pertama, para lelaki itu tengah bermain game judi dengan hiruk piruk dan musik disko yang di setel ternyata tak kedengaran keluar.


"Hei, siapa yang kau bawa, gila tubuhnya tinggi dan langsing". Ucap seseorang yang berjalan ke depan pria yang menggendong Richi.


Lelaki itu mengamati tubuh Richi yang bergerak dan berteriak tanpa suara. Dia lalu melihat ke dalam rok Richi yang tersingkap karena posisi gendong yang membuat pantatnya berada di depan pria itu.


"Sialan si Gary, menghadapi satu perempuan saja harus bertujuh!" Keluh orang yang menggendong Richi.


"Hmmmpppp!" Mata Richi melotot tajam di belakang punggung lelaki itu saat dia merasa tangan seseorang berhasil merogoh ke dalam roknya.


"Masih pakai celana lagi dia hahaa!" Pekik lelaki yang merogoh rok Richi dibarengi tawa yang lain.


Mata Richi melotot sempurna, urat lehernya keluar menjerit atas tingkah tak senonoh laki-laki itu.


"Bodinya bagus. Pasti rajin olahraga. Aku juga mau pakek! Enak saja dia mau pakai sendiri!" Tukas yang dibelakang, membuat tubuh Richi mulai bergetar. Dengan mata yang sedikit tertutup rambutnya, dia melihat wajah orang yang mengucapkan kata-kata itu.


"Hhhmmppp" Richi teriak lagi saat seseorang mengelus pahanya semakin masuk ke dalam sambil tertawa-tawa. Mata Richi merah dan mulai berkaca. Hal yang paling ia benci dalam hidupnya kini ia alami.

__ADS_1


"Sialan, suruh cepat selesaikan. Setelah dia, aku juga mau!!" Pekik yang merogoh tadi.


Lelaki yang menggendong Richi, membawanya naik ke tangga. Richi melotot melihat kedua laki-laki yang tertawa-tawa seperti menanti kehadirannya. Richi menandai wajah-wajah itu. Dia akan memberikan pelajaran yang lebih keras karena telah berani menyentuhnya.


"Hei, jangan takut, itu enak kok!" Pekik yang di tengah memandang Richi diiringi tawa. Dia melambaikan tangannya kepada Richi yang darahnya mulai mendidih dilecehkan seperti tadi.


Bayangan hitam mulai muncul, tiba-tiba kepingan ingatan pada 11 tahun lalu muncul di pikirannya. Ingatan saat di depan matanya, teman kecilnya, diperkosa oleh seorang preman, membuatnya bergidik karena masa suram itu mulai terkupas lagi di benaknya.


Richi diturunkan, dia berdiri dan matanya dengan cepat menyapu ruangan. Tempat itu tak lebar namun memanjang ke samping dengan susunan 3 meja biliar.


Banyak mata yang mengarah padanya sebentar lalu mulai fokus lagi pada permainan mereka. Laki-laki bersetelan serba hitam, meja yang penuh alkohol, kepulan asap rokok, wanita-wanita penggoda disisi pria, dan mata Richi menatap satu pajangan dinding disana.


Dua buah pisau berbahaya, Bayonet. Dengan mata pisau dan ujung atas bawah yang sangat runcing. Dua pisau itu tersimpan di dalam kaca bening menggantung di tembok, menjadi hiasan disana.


Richi di dekati beberapa pria yang tertarik melihatnya.


Plaster dimulutnya dilepas. Lalu seseorang yang sepertinya pernah Richi lihat mendekatinya.


"Hah, perempuan sialan yang membuatku malu!" Pekiknya.


Richi mengatur emosinya. Melihat dari jumlah pria bertubuh besar yang jumlahnya sekitar 20-25 orang di dalam ruangan itu, membuatnya tahu bahwa dia bisa saja kalah tenaga.


"Kau tidak akan bisa lolos disini, sialan! Lihat, gara-gara kau aku harus menahan malu dan pakai gigi palsu!!" Pekiknya lagi dengan mata lebarnya.


Ternyata benar, padahal kejadian sudah lama tetapi dia masih merasa perlu untuk menyalurkan dendamnya pada perempuan yang meninju giginya saat hari pertandingan basket Apollo melawan Oberon.


Diantara semua, hanya dia yang berbadan lebih kecil tapi entah kenapa dia sepertinya disegani.


Richi mengerjap untuk menghilangkan bekas air dimatanya, dia merapatkan pahanya karena tangan sialan tadi terasa mengilukannya.


"Haha! Nangis juga kau!" Tawanya, tak menyangka gadis tangguh yang menghajarnya ternyata cengeng juga.


Mata Richi melirik kanan dan kiri, dalam hitungan detik dia menganalisa tindakannya untuk kabur dari tempat itu.


"Tuan Gary, apa yang akan kita lakukan seterusnya?" Tanya laki-laki dibelakangnya.


"Perempuan seperti dia ini harus diberi pelajaran mental. Aku akan memper-kosanya lebih dulu setelah itu aku serahkan pada kalian untuk ramai-ramai dipakai. Hahaa" tawanya nyaring ditelinga Richi, badannya mulai bergetar karena takut. Apalagi kejadian dulu kecil mengusiknya, membuat nyalinya ciut.


"Aku kedua!"


"Aku ketiga!"

__ADS_1


"Hei, aku kedua!"


"Aku ingin sekali bagian dadanya hahaa"


"Sialan! Dadanya kecil!" Teriak yang lain.


"Tak masalah, aku tetap mau."


"Hei, simpan saja dia dirumahmu, jadikan budak sek's-mu!" Usul satu diantara yang lain.


"Boleh juga haha"


Satu ruangan dipenuhi tertawaan yang menggelikan, bahkan wanita-wanita disana ikut tertawa seolah mereka bukan satu gender dengan Richi.


Tubuh Richi bergetar, dengan jumlah sebanyak itu dia pasti kalah dan sulit melawan. Dia sangat takut apalagi kaki dan tangannya diikat sangat kencang.


"Bos, apa tidak mau buka ikatan tangan dan kaki? Boleh aku pegang dadanya?" Pinta salah satu dari mereka.


"Silakan, hahaa" Gary tertawa riang, membuat mata Richi melotot padanya.


"Apa? Kau mau apa, ha? Baru kau tahu apa akibatnya berurusan denganku, kan!" Ucap Gary sembari menjambak rambut Richi, tidak terima dengan tatapan tajam Richi padanya.


"Buka ikatannya!" Titahnya dan dengan cepat anak buahnya membuka.


Richi seperti kehilangan tenaga, dia terhuyung kebelakang, tersandar di tembok.


"Ayo, kau mau melawan? Haha sialan, kau layani dulu aku!" Gary tertawa lebar, tanpa dia sadari emosi dan amarah Richi berada di puncak, napasnya mulai naik turun, rahangnya mengeras.


Dalam hitungan detik, pikiran Richi melakukan penulusuran. Susunan botol alkohol ada disebelah kirinya. Dia ingin sekali mengambil pisau dalam kaca itu namun terhalang meja biliar dan banyaknya pria disana.


Richi mengatur emosi dan meningkatkan nyali, dia tidak mau berdiam dalam ketakutan.


Richi mulai menegakkan tubuhnya, menatap pria di depannya dengan tajam. Kemudian dia melebarkan kaki, sedikit mengangkang lalu menaikkan roknya ke atas secara perlahan hingga pahanya benar-benar tersingkap, membuat semua pria disana bersorak dan menjilati bibir mereka sendiri.


"Kau menawarkan dirimu, ya. Hahaha, murahan ternyata!" Gary tertawa senang melihat Richi.


"Sini, aku coba pegang sebentar.." Gary yang mulai penuh nap-su mendekat, namun dengan sigap kedua tangan Richi mengambil dua botol alkohol.


PRANG!!


Tangan kirinya berhasil menghantam kepala lelaki itu dengan keras hingga botol itu pecah berkeping-keping.

__ADS_1


TBC


__ADS_2