Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Anonymous


__ADS_3

"Benarkah? Itu hal biasa." Ucapnya lalu tersenyum bangga.


"Apa aku yang mengantarmu?" Tanya Richi tiba-tiba. "Tanganmu pasti tidak bisa membawa motor dengan benar."


Hugo menyandarkan tubuhnya. Dia sedikit tidak enak karena dirinya selalu dibantu Richi.


"Aku akan minta asistenku yang membawa motorku".


"Baiklah, aku akan jalan dari sini." Richi berdiri dan keluar dari kafe diikuti oleh Hugo.


"Aku akan mencuci dan mengembalikannya besok". Ucap Richi di depan pintu Kafe.


"Ya, terserahmu saja".


Lalu seseorang dari dalam kafe mendorong pintu keluar hingga tubuh Richi juga ikut terdorong ke depan menuju tubuh Hugo di hadapannya.


Richi menahan napasnya, pipinya berhasil menabrak dada Hugo hingga lelaki itu spontan menahan tubuh Richi supaya tidak jatuh. Beberapa detik ia menahannya hingga tersadar.


"Hu-hugo, sorry. Apa sakit? Apa kepalaku mengenai lukamu?" Tanya Richi khawatir.


Hugo hanya terdiam, seperti terbodoh atas sesuatu yang baru terjadi.


"Hugo? Maafkan aku.."


"Ti-tidak.." Ucapnya saat tersadar.


"Baiklah. Aku pulang. Maaf ya Hugo. Kau harus cepat kerumah sakit". Richi langsung berjalan cepat. Dia menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.


Sementara Hugo memegang dadanya yang berdegub. Dia lalu menekan wajahnya yang merasakan nyeri di bekas operasi.


Hugo meringis, lalu tersenyum. Rasanya sakit, juga menyenangkan. Dua hal yang ia tahan supaya tidak terlihat di hadapan Richi.


...🦩...


Richi duduk di atas lantai basket, memutar bola basket di jari telunjuknya. Angin malam menerbangkan rambutnya dengan lembut, yang sengaja ia uraikan begitu saja.


Dia belum berganti pakaian, masih dengan seragam basketnya. sejak tadi Richi sibuk mengartikan perasaannya yang entah bagaimana bisa terasa begitu aneh. Dia terus memikirkan Hugo semenjak lelaki itu mengorbankan dirinya terkena timah panas, yang seharusnya mengenai Richi.


"Bukan. Ini hanya rasa bersalahku. Aku sangat tahu itu". Gumamnya menatap bola yang berputar-putar lalu terjatuh bergulir menjauh darinya.


"Tapi..." Richi memegang pipinya yang tadi berhasil menyentuh dada bidang Hugo.


Richi menggeleng membuyarkan pikirannya yang mulai menembus sekat dirinya dan Hugo.


"Ichi.."


Richi melihat ke depannya. Emerald berjalan, lalu ikut duduk di hadapannya.


Richi melihat wajah Emerald. Lelaki itu sempat membuatnya terpesona, tetapi dia tidak pernah memikirkan Emerald sampai seperti itu.


Dia lalu mengangguk saat meyakini sesuatu. Ya, dia tidak punya rasa bersalah apapun terhadap Emerald, sebab itulah yang membuatnya tidak memikirkannya.


"Hei". Emerald melambaikan tangan, sejak tadi ucapannya tidak didengarkan Richi padahal jelas-jelas mata gadis itu menatap ke arahnya.


Emerald tersenyum. "Melamun memikirkan apa?"


Richi menggeleng. "Tidak ada."


"Lalu? Kenapa menatapku seperti itu?"


Richi tertawa pelan. "Tidak, kok. Apa ada urusan dengan kak Ricky?"


Emerald menggeleng. "Denganmu".

__ADS_1


"Oh? Ada apa?"


"Aku datang karena kau sulit dihubungi".


Richi menepuk dahinya. "Ah, maaf kak. Ponselku mati".


"Kau memakai seragam Oberon?" Ucapnya saat teralihkan pada baju basket yang dipakai Richi.


"Iya, aku.."


"Bukankah itu nomor punggung Hugo?" Emerald menunjuk nomor kecil di dada bagian kiri.


Ah, benar. Richi tidak memperhatikannya. Berarti nama di belakang punggungnya adalah nama Hugo?


Mata Richi terbelalak. "Eh tunggu! Pinjam ponsel, kak".


Richi langsung membuka laman sekolah, membuka foto yang tadi tersebar dan apa yang membuat heboh adalah, Richi menegang. Benar, dia juga di potret bagian belakang hingga menunjukkan bahwa Richi memakai baju Hugo. 'Sialan!' Batinnya.


Dia membaca komentar-komentar semua anak-anak Oberon yang memilih menyembunyikan nama saat berkomentar, mereka banyak yang mencibir juga merasa kagum dengan pasangan yang mempunyai hobi yang sama.


Richi merapatkan bibirnya. 'Bukankah mereka keren, Sama-sama jago basket dan bermain bersama? Apalagi si cewek memakai baju cowoknya. Duh, aku juga ingin>,<' komentar salah satu murid yang menyukai hubungannya dengan Hugo. Richi menarik garis senyum yang tipis di bibirnya.


"Ada apa, Chi?"


Richi tersentak. Buru-buru dia mengeluarkan laman dan menyerahkan ponsel Emerald.


"Tidak kok. Oh ya, ada apa kakak sampai kemari? Apa ada hal yang penting?"


Emerald masih mengecek ponselnya, apa yang dilihat Richi sampai ia melihat senyum samar di bibir gadis itu. "Oh, itu ya.." Emerald menyimpan ponselnya saat tidak melihat bekas apapun disana.


"Masalah Oberon's Day.."


"Masalah? Ada masalah apa?"


Richi melongo. "Itu, kapan?"


"Tiga hari lagi, Chi."


Richi terdiam. 3 hari lagi, bukankah itu konser Avril Lavigne?


"Bagaimana?"


Richi terlihat bingung, apalagi Emerald sampai datang ke rumahnya hanya untuk mendengar jawaban Richi.


"Aku.."


"Iya, dia pasti mau tapi malu-malu". Ricky tiba-tiba berdiri menyandar di pintu kaca menyambung percakapan Richi dan Emerald.


"Tenang saja, Emer. Dia hanya pemalu". Lanjutnya lagi sambil tertawa-tawa membuat Richi melototkan matanya ke arah kakaknya yang kurang ajar itu.


"Benarkah? Baiklah kalau begitu. Aku senang mendengarnya." Ucap Emerald lalu bangkit dan berpamitan pada Ricky yang masih berdiri di tempatnya.


"Kau gila, ya!" Teriak Richi saat Emerald sudah menghilang dari pandangannya.


"Apa? Aku kan menyelamatkanmu!' Ucapnya tak bersalah.


Richi berdiri dan menghampiri kakaknya. "Aishh! Bikin kacau saja!" Bentaknya lalu pergi dengan kesal. Padahal dia sendiri tengah bingung dan pastinya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan menonton konser Avril Lavigne-nya.


Richi menyalakan ponselnya lalu membanting tubuhnya di tempat tidur. "Ricky sialan!" Umpatnya.


"Aaah! Bagaimana iniii.." Teriaknya lagi.


Tiba-tiba ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk.

__ADS_1


'Besok malam kau harus menemaniku kesuatu tempat.'


Pesan itu membuat alis Richi terangkat. Dia lalu membalas.


'Siapa ini? '.....


Di tempat lain, seseorang juga tengah berteriak saat membaca pesan balasan yang menanyakan siapa dirinya.


"Apaaa! Jadi dia tidak punya nomorku???" Hugo meninju samsak di depannya.


Dia lalu mengetik lagi.


'Jadi kau tidak menyimpan nomorku? Kau harus dihukum besok!'


Hugo menyimpan ponselnya lalu meninju samsak di depannya dengan kesal. Malam ini dia latihan tinju walau bahunya sesekali terasa nyeri, dia tidak memperdulikannya.


Richi membuatnya malu karena gadis itu melindunginya tadi dan itu merusak harga dirinya sebagai laki-laki yang seharusnya melindungi, bukan dilindungi.


Hugo berhenti saat bahunya berdenyut. "Haah! Sial." Umpatnya lalu duduk di lantai. Napasnya terengah dan badannya penuh keringat.


"Gadis itu kenapa bisa sekuat itu!" Hugo melepas paksa lilitan kain di tangannya.


"Dia bahkan tidak punya kelemahan." Hugo merebahkan tubuhnya yang basah di atas lantai.


"Richi.." gumamnya lalu membayangkan wajah gadis itu dengan rambut yang terurai.


Hugo mengambil lagi ponselnya dan membuka laman web sekolah. Dia tersenyum melihat Richi yang memakai baju basket miliknya.


"Bagus juga si mata-mata ini." Ucapnya sambil tertawa kecil.


Dia lalu membaca komentar-komentar murid disana, banyak yang mendukung hubungan mereka dan tak sedikit pula yang mencibir.


'Richi, bukankah dia perempuan idama**n? ' Tulis sebuah nama yang disembunyikan.


"Sial! Siapa ini? Beraninya dia!" Bentaknya karena nama yang tertulis adalah anonymous.


"Perempuan idaman?" Hugo tersenyum miring hingga menunjukkan taring kanannya.


'Dari dulu aku mengaguminya tapi tak berani mendekat sampai aku berpikir, gadis secantik dirinya kenapa tidak dikejar-kejar oleh lelaki? ' Tulis yang lain.


'Bukankah beberapa hari lagi Oberon's day? Aku akan mengirimkannya sesuatu, buat Richiā™”'


"Sialan! Beraninya kau menulis hati disana!" Bentaknya lagi.


'Sayang sekali Hugo melirik perempuan seperti dia. Padahal aku lebih cantik dari sudut manapun! ' Tulis seorang anonim yang sepertinya mengagumi Hugo.


"Tidak mungkin, Richi memang paling cantik!" Jawabnya dengan membentak ponselnya.


'Hugo, buka matamu. Kau lebih cocok dengan perempuan anggun, bukan lelaki tangguh haha'.


Hugo sedikit berpikir dan mengingat Richi dengan gaun putih yang dikirim Daren. "Tidak, Richi juga anggun pada situasi dan kondisi tertentu". Ucapnya lalu tersenyum lebar.


'Richi bodoh, kenapa dia mau dengan Hugo yang playboy bahkan tidak pintar dan menang tenar saja!' Tulis yang lain.


"Sialan kau! Apa kau tidak tahu aku, ha? Aku harus mencaritahumu, sialan!" Makinya dengan kuat.


"Apa kerjamu hanya memaki saja dari tadi?"


PLAK!


"AAARGH!" Hugo meringis, ponsel di tangannya terjatuh tepat di wajahnya saat suara Ayahnya mengagetkan dirinya.


To Be Continued....

__ADS_1


__ADS_2