Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Olivia-Daren


__ADS_3

"T-tuan.."


Olivia mulai ketakutan. Pasalnya, hal yang semacam ini bukan tentang kekuatan fisik, tetapi kekuasaan. Dalam hal itu, jelas dia akan kalah dari Camilla.


"Yah, mau bagaimana lagi. Tunggu saja waktunya. Kurang dari 2 jam kau akan dihubungi polisi." Tukas Daren sambil menyeruput minumannya.


Mendengar itu, Olivia langsung berdiri di depan Daren. "Tuan, to-tolong saya.."


Olivia memilin jari. Dia takut jika ia dipenjara, bagaimana ibunya?


"Kenapa aku harus menolongmu? Kau sendiri yang meninjunya."


"Tapi kalau saya dipenjara, bagaimana?"


"Ya tidak bagaimana-bagaimana."


Arg, Olivia mengutuk Daren dalam hatinya.


"Tuan, tolong saya kali ini saja. Potong saja gaji saya nanti."


Daren berdehem, "memangnya kau yakin, aku akan mempekerjakanmu lagi? Belum apa-apa sudah membuat masalah."


Apa katanya?


Olivia mulai lemas. Kalau saja bukan karena pekerjaan, dia juga pasti akan meninju Daren!


"Kalau saya dipenjara, kasian bunda akan hidup sendiri dengan adik saya. Siapa yang akan kasih makan bunda?" Suara Olivia mulai lembut. Dia menyeret nama ibunya supaya Daren kasihan dan mau membantunya.


"Aku yang akan kasih makan. Kau tenang saja."


APAAAA!! Olivia mengeraskan rahang, dia kesal setengah mati.


"Hah, ya sudahlah! Terserah kalau mau tangkap aku, tangkap saja!" Pekiknya lalu pergi meninggalkan Daren yang gelak karena tingkah Olivia.


"Lucu sekali dia hahaha."


...🦋...


"Hei, kau sudah sadar?"


Saver mengerjap, dia meringis saat merasakan sakit diseluruh tubuh dan wajahnya. Aksi tutup mulutnya berhasil membuat tulang rusuknya patah dan wajahnya babak belur.


Lexus menarik kursi, duduk menatapi wajah kembarannya yang sudah berubah membiru.


"Sudahi saja, Saver. Sudah kubilang, kita berada dijalan yang salah."


Saver tak bergeming. Matanya yang bengkak tidak bisa terbuka dengan sempurna.


"Jawab saja pertanyaan mereka, selamatkan dirimu. Benar yang dikatakan Jonathan, kau sampai seperti ini pun mereka tidak akan menolongmu karena mereka sudah tidak membutuhkanmu lagi."


Saver menunduk. Dia mulai memikirkannya. Sejak saat diskusi terkahirnya bersama Lexus menghasilkan perpecahan dan perdebatan. Lexus memilih bergabung bersama Valiant, sedangkan Saver yang merasa susunan strategi Stripe lebih bagus, memilih bertahan disana.


"Bagaimana..jika..mereka..membunuhku.."


"Tidak. Aku akan memohon pada mereka. Asal kau membuka mulut dan memohon juga pada mereka."


Saver tak lagi menjawab. Yang dipikirkannya sekarang adalah keselamatan dirinya.

__ADS_1


"Aku akan menghubungi Keen. Kau harus pegang ucapanmu. Berkata dengan jujur dan selamatkan dirimu." Ucap Lexus dan beranjak dari kursinya.


Dia terkaget saat mendapati Richi sudah berdiri diambang pintu.


Lexus tak bergerak. Dia sedikit gentar berhadapan dengan gadis itu.


Richi masuk dan duduk di hadapan Saver. Lelaki yang pernah hampir mati karena pisaunya.


"Apa aksi balas dendammu masih berlaku?"


Saver mengangkat kepalanya, dia sedikit terkejut dengan kehadiran gadis yang baru saja ingin ia hajar karena yakin akan kemenangan mereka tadi malam. Tetapi ternyata kini dirinya malah tertangkap dan tidak akan bisa lepas dari ruangan itu.


"A-ampun..."


"Wah, padahal aku belum melakukan apa-apa." Richi bersandar di kursi. Memperhatikan wajah yang sudah tidak jelas lagi bentuknya.


"Menjauhlah, sayang. Kau menakutinya." Ucap Hugo yang baru masuk ke dalam ruangan, disusul Keen dan Jonathan dibelakangnya.


"Jadi, bagaimana hasilnya?" Tanya Keen.


"Hasil apa? Aku bahkan belum bicara." Jawab Richi.


"Komander, Saver akan menceritakannya pada anda." Lexus yang berdiri di belakang menyampaikan keinginannya.


"Sudah tidak perlu. Kami sudah mendapatkan apa yang kami butuhkan." Kata Jonathan yang sudah memeriksa kotak dari Harry. "Lalu, akan kita apakan orang ini?"


"Tolong beri dia kesempatan, kumohon." Lexus menundukkan kepala, meminta pertolongan pada anggota terkemuka Valiant.


"Biarkan dia sembuh dulu. Setelah itu, akan menjadi urusanku." Kata Keen dan langsung keluar dari sana.


~


BRUK!


Hugo menuangkan satu plastik besar cemilan di hadapan Richi.


"Wuaa.. Banyak sekali.." Wajah Richi cerah melihat makanan yang dibelikan Hugo untuknya.


"Semoga tiga hari ke depan tuan besar sialan itu segera tertangkap. Aku ingin berkencan lagi denganmu." Ucap Hugo lalu menyandarkan kepalanya di bahu Richi.


"Hei, Markas ini bukan untuk pacaran!!" pekik Keen dari depan ruangannya.


"Sudahlah, kau mengacau saja." Jonathan langsung menarik Ricky masuk dan menutup pintunya.


Hugo terkekeh melihat itu. "Kakakmu itu, apa tidak bisa kita carikan saja pacarnya? Supaya dia tidak mengganggu kita lagi."


"Tidak perlu. Biarkan saja dia." jawab Richi sambil mengunyah keripik kentang kesukaannya.


"Darrel."


Olivia datang bersama Bella, mereka duduk di dekat Richi dan Hugo yang tengah mengemil di ruang tengah markas.


"Kenapa wajahmu itu?" Tanya Richi yang melihat wajah Olivia bertekuk-tekuk dan tampak bersedih.


"Gara-gara temanmu." Tukasnya pada Hugo.


"Temanku? Daren maksudmu?"

__ADS_1


Olivia mengangguk.


"Kudengar kau menerima pekerjaan itu, apa masalahnya?" Tanya Hugo bingung.


"Aku menghajar Camilla."


Richi membelalakkan mata. Menghajar Camilla, katanya?


"Kenapa kau menghajarnya?" Tanya Richi penasaran.


"Karena dia menghinamu! Dia masih meminta Daren sialan itu untuk mendekatkannya lagi pada Hugo." Jelas Olivia dengan napas memburu, kesal di ubun-ubunnya kembali muncul.


"Kalau gitu, mantap!" Richi mengacungkan jempolnya, setuju dengan apa yang dilakukan Olivia pada Camilla.


"Iyaa. Lalu kalau aku dilaporkan ke polisi, bagaimana??" Pekiknya frustrasi.


"Memangnya kau sekarang sedang dicari polisi?" Tanya Hugo dan Olivia menggelengkan kepala.


"Seharusnya kau sudah berada di penjara lima menit setelah menghajar Camilla." Terang Hugo lagi.


"Jadi, maksudmu?"


"Artinya, urusannya sudah diselesaikan Daren." Sambung Richi.


"Benar, begitu?" Tanya Olivia pada Hugo untuk memperjelasnya lagi dan lelaki itu mengangguk.


"Aaah..." bukannya senang, Olivia malah menepuk dahinya. Baginya ini merupakan hal berat. Dia yakin Daren pasti meminta ganti dengan hal yang tidak-tidak.


"Apa dia tidak menghubungimu?" Tanya Bella.


"Aku..." Olivia mengambil ponselnya di kantong celana. Lalu mulai mengaktifkannya.


Dari kemarin, dia sengaja menonaktifkan ponselnya karena tengah pusing dengan masalah itu.


Ponsel Olivia hampir terlempar saat ia terkejut dengan nada dering yang tiba-tiba memekik karena Daren meneleponnya.


Dia menatap lama layar ponsel sambil mengumpulkan nyali untuk mengangkatnya.


"Ha-halo.."


"KEMANA SAJA KAU, HAH??"


Olivia menjauhkan ponsel dari kupingnya. Benar dugaannya, Daren tengah berang.


"KAU MAU LARI SETELAH AKU MENOLONGMU??"


"Habislah kaauu.." Goda Bella pada Olivia yang mulai pucat.


"Ma-maafkan saya, tuan." Desis Olivia tak karuan mendengar amukan Daren.


"Cepat kesini!" Titah Daren dan Olivia langsung mengangguk dan menutup ponselnya.


"Aaah, mati aku. Aku harus kesana sekarang."


"Hei, Olivia. Kalau Daren marah, cium saja bibirnya." Ucap Hugo dan langsung mendapat jeweran dari Richi. Sementara mata Olivia melotot padanya dan langsung lari menuju rumah Daren.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2