Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Majalah Edisi Bulan Depan


__ADS_3

Richi mengetuk-ngetuk pulpennya diatas meja. Dia bertopang dagu, menatap ke depan saat dosen menjelaskan teori untuk praktek beberapa hari lagi. Tetapi gadis itu tidak fokus dan malah mengkhayal. Tentu soal Hugo dan para fans-nya, salah satunya Erine.


Memang selama ini gadis itu tidak pernah merusuh, bahkan mereka tidak pernah membahasnya. Tapi Richi cukup terkejut saat tahu Erine sebegitu menyukai Hugo sampai mengumpulkan foto-foto kekasihnya seperti itu. Lantas pikiran Richi langsung tertuju pada Damian, orang yang menguntit dan mengoleksi berbagai macam foto dirinya.


Richi mengambil foto Hugo di dalam sakunya. Ia membuka sedikit lipatan yang menunjukkan wajah hingga dada Hugo yang tebuka. Sial sekali, ini foto pertama Hugo membuka baju seperti ini dan serius, ini sangat seksi di mata Richi yang sudah sering melihatnya secara langsung. Apalagi mereka yang menggemari Hugo?


"Rindu pacar, huh?" Bisik Evan disebelahnya.


"Berisik." Balas Richi kembali melipat poster itu.


Setelah kelas selesai, Richi berniat kembali ke loker untuk meletakkan beberapa buku. Namun dia terkejut saat seseorang menarik tubuhnya kebawah tangga dan mengunci lengannya.


Sarah dan Joy? Apa yang mau mereka lakukan?


"Hei, kau dapat darimana majalah keluaran bulan depan ini?" Sarah mendekat, bahkan tak memberi ruang diantara dirinya dan Richi.


"Cepat jawab! Kau tidak mau jadi korban rundungan, kan? Aku bisa membuatmu jadi target bully disini!" Ancam Joy padanya.


Richi menghela napas. Rasanya dia ingin terus bersikap menjadi gadis anggun. Tapi kelakuan dua orang ini membuatnya kesal, apalagi ini soal Hugo.


"Pamanku bekerja disana." Jawab Richi bohong.


"Sekarang, cepat berikan poster tadi padaku!" Sarah mencengkram baju Richi.


"Kau akan mendapatkannya bulan depan." Jawab Richi santai.


"Hei, aku mau sekarang! Aku mau jual itu pada fan panatik Hugo supaya dapat duit, kau tidak paham, ya!"


"Boleh. Bagi dua dong, hasilnya." Celetuk Richi.


"Brengsek. Kau berani, hah? Perempuan sepertimu bisa apa selain merengek dan manja?" Sentak Joy pada Richi.


"Hei-heii!!" Andreas dan beberpaa orang yang lain berlari saat melihat Richi disiksa oleh dua orang itu.


"Apa-apaan kau, hah?" Seru Andrean dan mereka langsung melepaskan tangan Richi.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Evan yang ada disana. Richi menggelengkan kepala sementara Joy dan Sarah segera pergi.


"Kenapa kau tidak melawan?" Bisik Evan.


"Terlalu dini. Thanks ya, semua."


"Kalau ada apa-apa, jangan ragu hubungi kami, Chi." Ujar Andreas padanya.


"Akan kuingat." Jawabnya sembari pergi.


~


Richi duduk menjauh dari lalu-lalang orang-orang. Dia mencari website TheMost dan menemukan nomor yang bisa dihubungi.


'Halo, selamat siang. Studio TheMost disini, ada yang bisa kami bantu?'


Richi berdehem. "Eee.. apa majalah bulan depan sudah ready?"

__ADS_1


'Maaf, kami belum menerbitkannya. Mohon tunggu sampai bulan depan tanggal 1, ya.'


"Begini. Aku ingin membeli semua eksemplar majalah bulan depan yang bercover Hugo Erhard."


'A-apa..'


"Ada berapa eksemplar? Aku akan beli semua tapi kalian tidak boleh menerbitkannya dimana-mana."


'Wah.. kami sangat senang mendengarnya tapi, tidak bisa seperti itu, nona. Karena kami harus menerbitkan dan menyebarkannya pada masyarakat. Ada promosi dan produk-produk di dalamnya.'


"I get it. Tenang aja, aku juga akan menyebarkannya ke masyarskat secara gratis."


'Ah.. aku benar-benar tak tahu harus bicara apa.'


"Aku akan bayar dua kali lipat. Kirim invoice-nya padaku. Tapi ingat, kalian harus merahasiakan nama dari akun rekeningnya. Tulis dan tanda tangani itu. Jika bocor, maka kalian harus mengganti rugi."


'B-baik. Kalau begitu, akan saya siapkan. Mohon kirim alamat anda, nona. Ada 12ribu eksemplar bulan ini.'


"12ribu majalah?" Richi menelan ludah. Kenapa banyak sekali.


'Iya. Edisi yang bercover Hugo Erhard selalu laku banyak di pasaran. Akan saya kirim bill-nya nanti, nona. Terima kasih.'


Richi melongo. "65ribu rupiah dikali 12ribu eksemplar. Mana dua kali lipat lagi."


Langsung saja Richi mendapat pesan mengenai jumlah yang harus ia transfer.


Richi langsung mentransfer jumlah yang ditulis pihak TheMost. Cukup lama ia melihat daftar mutasi di rekeningnya, sampai ia menghela napas.


"Kali pertama aku mengeluarkan uang satu miliyar setengah untuk hal aneh. Hah. Aku benar-benar gila sekarang." Ucapnya kemudian beranjak dari sana.


~


Sejak tahu Hugo kuliah di kota Ventown, pihak TheMost meminta Hugo melakukan sesi foto di cabang Ventown supaya lebih memudahkannya.


"Thanks, Hugo. Semoga harimu menyenangkan." Ujar seorang photographer.


"Kau juga. Aku pergi dulu." Hugo menyandang tas dan menenteng jeket bombernya. Dia hanya mengenakan kaos kutung yang mengepas di badan, sehingga ia benar-benar terlihat gagah.


"Hugo, sebentar." Seorang perempuan yang berperan sebagai Chief Marketing menghampiri Hugo dengan wajah cerah.


"Kau tahu, ada fan beratmu membeli semua majalah bulan depan. Dia bahkan membeli dengan harga dua kali lipaatt! Gila-gila-gila, kau pasti dapat bonus besar dari bos."


Sorak sorai di ruang studio terdengar. Begitu juga Hugo, wajahnya tampak puas.


"Benarkah? Siapa?"


"Soal itu aku tidak bisa memberitahu. Dia merahasiakannya. Ah, kau tidak perlu pusing memikirkan itu, yang jelas kita akan bersantai bulan depan. Hahaha. Kau hebat Hugo. Belum pernah ada yang seperti ini sebelumnya." Perempuan itu memberi kedua jempolnya lalu kembali lagi ke ruangannya sambil berjoget-joget.


"Kau benar-benar anak emas, Hugo. Kau tahu, Aron yang sekarang diluar negeri saja tidak pernah seperti ini. Terima kasih ya, Hugo. Berkat kau, kami akan mendapat bonus bulan depan." Ucap yang lain sambil bersorak riang.


Hugo tersenyum puas. Dia merasa bersyukur dengan apa yang ia capai, keberhasilan yang luar biasa karena banyak orang yang merasakan dampak baiknya.


Hugo pun kembali ke kampus. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan lambat, sembari tangan yang lainnya mencoba menelepon Richi tapi tidak diangkat. Padahal dia ingin mengabari hal baik ini pada gadis itu. Tapi tidak masalah, dia akan mengatakannya langsung nanti.

__ADS_1


~


Erine berjalan perlahan menuju fakultasnya yang hanya berjarak 200 meter. Dia tengah merenung. Tadi Joy, sahabatnya, menelepon. Dia bilang teman sekelasnya memiliki majalah edisi Hugo untuk bulan depan dan sialnya, poster dihalamannya sudah dikoyak. Tentu hal itu membuat Erine kesal. Bagaimana mungkin ada orang yang bisa memiliki majalah Hugo untuk bulan depan??


Dia sudah bilang, akan membayar berapapun asal mereka mendapatkan itu. Tapi sialnya, mereka gagal. Erine sampai berdecak kesal. Siapa orang yang ternyata menyukai Hugo sampai seperti itu?


TIN


Erine terkesiap saat mobil hitam Maybach mengiringi langkahnya. Dia lebih terkejut saat jendela mobil terbuka dan Hugo ada disana.


"Erine, masuklah."


Erine membeku. Hugo mengajaknya pergi bersama??


"Cepat, nanti terlambat."


"I-iya." Erine dengan langkah gemetar membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.


"Wah, kau pakai high heels. Tumben."


"A-aku hanya mencoba.." jawabnya gugup. Erine bahkan tegang. Namun dalam hatinya senang karena ternyata Hugo memperhatikannya.


Erine memberanikan diri menatap Hugo. Lelaki itu fokus menyetir, tapi Erine bahkan tak berkedip melihat postur tubuh Hugo yang sangat seksi di matanya. Baju tanpa lengan itu, sungguh membuatnya menelan ludah.


Mimpi apa dia kemarin, sampai-sampai hal ini terjadi. Ia tak sangka bisa diantar dan satu mobil dengan Hugo. Mobilnya yang ini juga dia belum pernah lihat.


Erine sontak saja mengarahkan wajahnya keluar jendela saat Hugo menoleh ke arahnya.


"Erine, kau tahu tidak, aku sekarang jadi model TheMost."


"Oh-ya.."


"Hm. Dan kau tahu, majalah edisi bulan depan bahkan sudah sold out. Habis tanpa sisa."


"APA!"


Hugo sampai terkaget dengan respon Erine. Sementara gadis itu buru-buru membuang wajahnya karena malu sekaligus keheranan. Sold out?


"Haha. Iya, sold out. Padahal ada 12ribu eksemplar dan dihabiskan oleh satu orang."


Erine meremas ujung bajunya. Itu artinya dia tidak bisa mendapatkan poster Hugo yang terbaru? Siapa orang yang sampai membeli semuanya? Apa perempuan satu kelas Joy?? Batin Erine bertanya-tanya sampai tak sadar mereka sudah berhenti di depan gedung.


"Erine."


"I-iya."


"Aku bilang, sudah sampai. Kau melamuni apa, hah? Hahaha."


"Ma-maaf.." Erine langsung keluar. "Hugo, terima kasih." Setelah mengucapkan itu, Erine berlari menuju toilet. Dia membuka ponselnya kemudian menelepon Joy.


"Halo, Joy. Aku akan berikan kau berkali-kali lipat uang untuk satu poster yang ada di tangan cewek itu. Berapa pun! Besok harus sudah ada." Tukasnya pada Joy diseberang.


TBC

__ADS_1


**Kelipatan 50Like aku langsung Up, ya.


__ADS_2