
Joy dan Sarah tengah bercerita seru mengenai rencana hari ini, dimana Erine mengajak mereka bertemu Hugo karena kebetulan Erine dan Hugo akan belajar bersama membahas materi dalam kerja kelompok mereka. Sarah, yang sejak dulu menyukai Hugo, sangat menanti hal itu.
Sementara di sudut lain, Richi tengah beristirahat. Setelah aktifitas olahraga yang agak melelahkan. Dirinya duduk sendirian sembari memegang botol kosong yang sudah habis ia minum.
Sejak kabar ia pacaran dengan Virgo menyebar, memang tak ada lagi yang berani mendekat, atau mereka bisa menjadi bahan rundungan kelompok Virgo.
"Sarah, kurasa kita menyerah saja soal poster Hugo itu." Ucap Joy sambil memperhatikan Richi.
"Kau takut, ya?"
"Aku tidak mau berurusan dengan Virgo." Jawabnya.
"Sayang sekali. Padahal Erine menawarkan bayaran yang sangat tinggi." Sahut Sarah lagi. Lalu tiba-tiba dia punya inisiatif membuat Richi cemburu.
"Eehm. Aku tidak sabar sekali menunggu sore untuk bertemu Hugo Erhard." Ucap Sarah dengan suara yang sedikit lebih keras.
"Oooh. Kau beruntung sekali." Sambut Joy, lalu terkikik saat Richi menoleh pada mereka.
Gadis itu mengambil ponsel lalu menelepon seseorang.
"Kau dimana?" Tanya Richi pada orang diseberang telepon.
'Kampus, sayang. Masih dikelas. Ada apa?'
"Sore nanti jemput aku, kita pulang bersama."
'Aku ada kerja kelompok, aku sudah bilang padamu, kan? Apa mau kujemput?'
"Batalkan. Aku mau pulang."
'Ada sesuatu?'
Richi diam. Tidak menjawab karena yang dia mau hanya Hugo menurutinya.
'Ada sesuatu rupanya. Baiklah, nyonya Erhard, akan aku batalkan diskusinya. Sore nanti kujemput dan kita pulang bersama.'
Richi tersenyum puas sambil melipat ponsel kemudian berdiri.
"Pulang saja. Hugo tidak bisa menemui kalian karena dia berkencan denganku." Richi berjalan saja walau kedua orang itu mencebik, mengasihaninya, dan menganggapnya terlalu mengkhayal soal Hugo.
Richi berjalan dengan kedua tangan yang berada disaku celana olahraganya. Dia berjalan santai melewati belakang stadion olahraga, lalu dia terhenti saat melihat kepulan asap dari salah satu tembok tinggi.
"Brengsek, bisa diam tidak?"
Itu suara Augy, Richi mengenalnya.
Lalu Richi pun melangkahkan kakinya kearah dimana kepulan asap itu berasal.
Dia diam menatap sekumpulan perempuan merokok dan beberapa orang yang mereka bully.
Augy, dia langsung berdiri saat melihat Richi datang. Perempuan itu ternyata menduduki Thomas, yang membungkuk sebagai tempat duduk bagi Augy.
Lalu, seorang laki-laki dan perempuan bertubuh kurus juga menjadi bahan rundungan mereka.
Ya, tak ada laki-laki. Hanya Augy dan lima orang temannya tengah merokok dan tampak bersenang-senang.
__ADS_1
"Richi, kau disini juga? Mari bergabung. Perkenalkan, ini Richi, kekasih V." Augy memperkenalkan Richi pada teman-temannya. Mereka menyapa lalu tersenyum pada Richi.
"Jangan ganggu mereka." Ucap Richi datar. Matanya menatap Thomas yang masih pada posisinya.
"Apa?"
"Kubilang, jangan ganggu mereka."
Mereka tampak bingung. Pasalnya, kekasih Virgo ini bukannya ikut bergabung, malah melarang mereka.
"Kau tidak mau bergabung?" Tanya Augy.
"Tidak. Aku tidak suka berkumpul dengan kalian. Lepaskan saja mereka." Jawab Richi tegas. Tangannya pun tak lepas dari saku celana.
"Hei. Aku tahu kau kekasih Virgo. Tapi bukan berarti kau bisa seenaknya!" Salah seorang perempuan di belakang Augy bersuara lantang.
"Kau mau jadi pahlawan kesiangan? Jangan karena kau kekasih Virgo, kau bisa mengatur kami. Kalau kau tidak mau bergabung, pergi saja sana! Sial." Sambung yang lain.
Richi menghela napas sambil mengadahkan wajah keatas. Ingin menghantami wajah mereka, tapi dia tak bisa melakukannya.
"Pergilah. Aku tidak mau menghajar perempuan." Tukas Richi lagi.
"Sialan, minta diberi pelajaran!"
Augy menghalangi temannya yang hendak menyerang Richi, dia menggeleng pelan, tidak mengizinkan terjadinya pertengkaran apalagi menyangkut kekasih Virgo.
"Pergi saja." Augy melangkah pergi, dan dengan berat hati teman-temannya mengikuti. Tentu dengan pandangan tak suka pada Richi, juga meninggalkan tendangan dan pukulan kecil pada orang yang mereka bully.
Setelah kepergian Augy dan teman-temannya, orang-orang yang dibully itu masih diam ditempatnya.
"Ma-makasih, Richi."
"Terima kasih, Richi. Kami akan mengingat jasamu ini." Ucap mereka lagi.
Richi hanya mengangguk-angguk dan menyuruh mereka untuk segera pergi dari tempat itu.
...🦠...
"Aaah. Sial sekali. Kenapa sih, Hugo pakai membatalkan diskusinya segala!" Sarah melemparkan tasnya diatas tempat tidur. Lalu menghempaskan tubuhnya disana.
"Sabar. Masih banyak hari lain." Joy menarik kursi belajar Sarah, lalu duduk dan membuka jeket olahraganya.
"Aku kesal! Padahal sudah lama aku menanti ini. Sial sekali, kalau saja aku tahu, aku pasti memilih kelas bisnis." Ucapnya sembari memandang poster-poster Hugo di tembok kamarnya.
"Beruntunglah Erine." Joy mengangkat kakinya ke atas meja belajar. "Kupikir tidak ada yang lebih gila daripadamu soal Hugo. Ternyata Erine lebih gila lagi."
"Ah, aku yakin dia juga tidak akan bisa mendapatkan Hugo." Sarah bangkit, duduk dengan memeluk bantal menatap ke arah Joy.
"Waktu pertama kau mengenalkan aku padanya, kupikir dia perempuan setengah jadi. Tidak terlihat sedikitpun diwajahnya kalau dia menyukai lelaki."
Joy terkikik. "Kau benar. Aku mengenalnya sejak dulu, tapi baru tahu saat kau menunjukkan poster Hugo di loker. Dia histeris karena tidak punya poster limited edition itu. Aku sampai ternganga tak percaya."
Sarah ikut tertawa. "Untung saja aku punya dua. Jadi, tak masalah menjualnya satu dengan harga tinggi."
"Ah, by the way, si Richi itu, dia juga menggilai Hugo, kan? Sampai-sampai dia bisa memiliki poster super langka yang bahkan tidak akan keluar lagi." Tutur Sarah, tiba-tiba teringat Richi.
__ADS_1
"Kau ingat, dia bilang pamannya bekerja disana. Makanya dia bisa mengambil poster itu."
"Benar juga. Aah, aku sangat ingin poster itu.." ucap Sarah menjatuhkan tubuhnya. "Eh, tapi.." Sarah bangkit lagi. "Bukankah wajah Richi sedikit familiar??"
"Kau berulang kali mengatakan itu. Sudah kubilang, aku tidak mengenalnya. Mungkin saja kau dulu pernah bertemu dengannya tanpa sadar."
Sarah mengangguk-angguk. "Benar juga. Apalagi wajahnya sangat pasaran. Hahha."
Joy ikut tertawa. "Ya, perempuan centil sepertinya, pasti banyak dipasaran."
Setelah puas tertawa, Joy berdiri menuju lemari.
"Aku pinjam bajumu, ya."
"Ambil saja." Tukas Sarah.
Joy membuka lemari, lalu mendapati beberapa gulungan poster di dalamnya.
"Ini apa?" Tanya gadis itu pada Sarah yang tengah bermain ponsel.
"Oh, itu poster Aron Hamlet." Jawabnya setelah melihat sekilas ke arah lemari.
"Siapa itu?"
"Model TheMost juga. Sekarang dia sudah menjadi model luar negeri. Makin keren, sih. Tapi Hugo lebih keren." Jawabnya sembari terkikik.
"Lalu ini? Majalah lama?" Joy malah tertarik dengan tumpukan majalan TheMost yang masih tersimpan di lemari Sarah. "Buang saja kalau sudah tidak diperlukan."
"Enak saja. Itu banyak moment-nya."
Joy membuka majalah itu, mencari apa yang dimaksud moment oleh Sarah. Dia membuka halaman dengan cepat, lalu merasa ada sesuatu yang menarik tertangkap dimatanya. Dengan cepat Joy mengembalikan lagi halaman yang terlewat.
Dia diam memperhatikan foto besar yang ada di halaman itu. Memperlihatkan gambar sepasang model yang berpose cukup seksi.
"Hei, kau jadi mengambil baju, tidak? Cepat tutup lemari!"
Beberapa detik, tidak ada jawaban. Membuat Sarah menoleh pada Joy yang kini terpaku dengan majalah ditangannya.
"Sarah.."
"Apa?"
"Apa kau merasa mengenal orang ini?" Joy menunjukkan halaman tengah itu pada Sarah.
"Ya, dialah Aron Hemlet yang aku katakan tadi. Wajar kau mengenalnya karena dia memang seterkenal itu." Jawabnya kemudian kembali lagi menatap ponselnya. Beberapa detik, Sarah seperti tersadar sesuatu. Dia langsung menoleh lagi pada majalah yang masih ditunjukkan oleh Joy.
Sarah langsung terduduk setelah matanya menangkap dengan jelas wajah siapa yang dimaksud Joy. "I-itu.."
"Kau memikirkan hal yang sama denganku?" Tanya Joy.
"Dia.. bukankah dia.. Richi??"
TBC
**Jangan lupa Like dan Komentarnya guys**
__ADS_1