
Aron membawakan dua gelas minuman dan meletakkan satu di depan Richi.
"Terima kasih." Ucapnya kemudian menggenggam gelas berisikan kopi panas. Sangat cocok diminum saat jalanan tengah basah karena hujan.
"Apa semua berjalan lancar?" Tanya Aron sembari duduk kembali ke kursinya.
"Ya, seperti biasa. Kau bagaimana? Kenapa tiba-tiba pulang?"
"Liburan. Hanya dua minggu. Kebetulan sekali bertemu disini." Jawab lelaki itu.
"Kau sudah bertemu Olivia? Siang ini aku akan ke kafe Clair."
"Belum. Aku memang ingin menemui gadis itu. Pasalnya dia jarang sekali membalas chatku."
Richi terkekeh saat mengingat bahwa Daren sempat memblokir Aron di ponsel Olivia.
"Dia sudah berpacaran dengan Daren."
"Daren? Laki-laki yang waktu itu?"
Richi mengangguk-angguk.
"Hah. Ucapannya memang sulit dimengerti. Padahal dia bilang tidak ingin pacaran dengan siapapun."
Richi kembali terkekeh. Percakapan semakin seru sampai akhirnya Aron meminta izin Richi untuk memposting fotonya saat ia melihat gadis itu memotret sesuatu di ponselnya.
"Ya, boleh saja." Ucap Richi dan Aron langsung memposting fotonya.
"Kalau gitu, ayo kita kesana." Ajak Aron pada Richi. Mereka pun pergi bersama menuju kafe Clair.
Sepanjang jalan, mereka saling bertukar cerita. Tentang pekerjaan, keseharian, atau perkuliahan di beda negara. Aron menghentikan mobil saat di lampu merah.
"Kau ingat, disini bertama kali kita bertemu." Kenang Aron.
"Aku pikir kau tidak tahu. Kulihat kau tidak memperhatikan kami."
"Wah, kau memperhatikanku, ya." Aron terkekeh senang.
"Bukan aku, tapi Bella. Aku juga tidak ingat, aku pikir pertemuan pertama saat kau menolongku."
"Haha. Aku sempat kesal karena kau meninggalkanku makan eskrim sendirian."
Richi terkekeh mengingatnya. Padahal waktu itu dia buru-buru karena Dachi Moon sialan itu.
"Hugo Erhard akhirnya menjadi model terkenal, ya. Dia bahkan lebih baik dari pada aku waktu di TheMost dulu. Kata mantan manager-ku, Hugo sangat digilai bahkan majalah yang belum terbit pun ludes terjual."
Richi diam, enggan menanggapi. Apalagi hubungannya dengan lelaki itu sebulan belakangan ini sedang tidak baik-baik saja.
"Sayang sekali, padahal karirnya lagi bagus. Tapi Hugo malah memilih berhenti."
"Apa?"
__ADS_1
Aron melirik Richi dan jalanan di depannya bergantian. "Kau.. tidak tahu?"
Richi malah bengong, Hugo berhenti jadi model? Apa itu sebabnya foto dirinya tidak ada pada bulan ini? Tapi kenapa?
"Eumm.. apa kau.. sudah tidak bersama Hugo Erhard lagi?" Tanya Aron tiba-tiba. Richi masih diam. Apa yang mau dikatakan? Richi bukan perempuan lugu. Dia paham maksud pertanyaan Aron. Kalau dia menjawab tidak, maka Aron pasti akan mendekatinya.
Lagi pula dia tidak mau itu terjadi. Dia masih sangat menyayangi Hugo. Lelaki itu benar-benar tidak menghubunginya sekalipun dalam sebulan ini.
Melihat Richi diam dan raut wajah yang tak biasa, Aron mengubah topiknya.
"Oh ya, kudengar dua minggu lagi ada karnaval besar-besaran di taman kota."
"Benarkah?"
"Sayang sekali aku sudah pulang di tanggal itu." Aron kembali melirik Richi. Dia curiga hubungan gadis itu dengan Hugo memang sedang tidak bagus. Tapi, dia tak mau lagi membahasnya karena tak ingin merusak suasana nyaman mereka berdua.
~
Olivia membuka ponsel. Dia melihat postingan terbaru Aron.
"Si sialan ini, begitu sampai malah memilih bersama Darrel. Memangnya siapa sahabatnya?? Dia bahkan tidak pernah memposting fotoku. Errghh." Olivia kesal, hendak membanting ponsel, kemudian mengurungkannya.
"Aron yang itu, ya?" Tanya Bella.
"Aron, model TheMost dulu. Bukannya dia tadi bertemu denganmu sebentar, Liv?" Tanya Clair yang tengah duduk bersama kekasihnya.
Olivia tersentak mendengar pertanyaan Daren. Dia lupa, lelaki itu masih duduk dibelakangnya.
"Kalau mau, aku bisa memposting fotomu." Sambung Darren lagi.
"Uuuu.." seru Bella dan Clair cekikikan.
"Ti-tidak, aku hanya..." Olivia tampak bingung menjawabnya. "Ah, mereka datang, mereka datang!" Seru gadis itu dan segera menyimpan ponselnya. Yang lain ikut bersiap.
Richi dan Aron keluar dari mobil. Gadis itu tampak bingung dengan kafe yang tertutupi tirai.
"Apa Clair tutup?"
"Entahlah. Ayo, masuk." Ajak Aron pada Richi.
Gadis itu membuka pintu. Ruangan begitu gelap. Ada apa? Richi tampak bingung.
"SURPRISEEEE!! HAPPY BIRTHDAY, DARRELL!!"
Seru semua orang yang ada di dalam ketika lampu dinyalakan.
Ruangan kafe kini tampak begitu indah dengan balon helium beterbangan diatas langit-langit. Kue ulang tahun tiga tingkat dan beberapa cupcake tersusun rapi diatas meja.
Tulisan besar ucapan selamat padanya tersemat di dinding. Richi mematung. Dia menatapi satu-satu temannya yang menyanyikan lagu ulang tahun. Matanya mencari seseorang. Apa Hugo ada diantara mereka? Tidak ada. Lelaki itu tidak ada disana.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun, cantik." Aron memberikan sebucket bunga mawar putih pada Richi. Entah dari mana dia dapat itu, Richi menerimanya dengan senyuman seadanya. Di momen ini, ada sesuatu yang hilang dari dirinya.
"Malah begong. Ayo, masuk." Aron mendorong tubuh Richi masuk ke dalam kafe. Dia memeluk satu persatu sahabatnya.
Padahal sejak dulu Richi tidak suka ulang tahunnya dirayakan. Entah kenapa hari ini anggota Tim Fox terlalu berani. Yah, walaupun Richi menerimanya dengan senang hati.
"Kau tahu, Rel, Aron langsung memilih menjemputmu saat aku baru merencanakan ini." Seru Olivia pada Richi. Aron yang tertawa mendengar cerita Olivia tentang dirinya.
"Padahal dia baru sampai. Bukannya memilihku, malah memilihmu." Gerutunya lagi dengan tatapan sebal pada Aron.
Richi yang tengah menikmati kue ulang tahunnya pun terkekeh.
"Selama disana, kau tinggal dimana?" Tanya Richi pada Aron.
"Aku di Annecy."
"Annecy? Itu juga kota tempatku tinggal dulu. Astaga, begitu lebarnya negara itu, kau juga ada disana!" Sahut Bella saat mendengar jawaban Aron.
"Benarkah? Kau juga tinggal disana?" Tanya lelaki itu dengan semangat.
"Ya, aku dua tahun disana. Aah, disana sangat seru. Aku jadi rindu."
"Benar. Aku juga suka kota itu. Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa tinggal disana?"
Bella dan Aron saling bertukar cerita. Richi yang ada diantara mereka hanya mendengarkan sesekali tersenyum kecil melihat tingkah keduanya. Apalagi pembicaraan mereka selalu tepat sasaran dan sangat nyambung satu sama lain.
Richi melihat sekeliling. Simon dengan Clair, Olivia dengan Darren, juga Bella.. sepertinya dia menemukan yang pas setelah lama mencari.
Hah. Richi menghela napas. Hugo memang menyebalkan tapi tidak ada dirinya sekarang ini begitu terasa. Apalagi, entah bagaimana, dia sangat tahan tidak menghubungi Richi dalam waktu yang cukup lama.
~
"Terima kasih sudah mengantarku." Richi turun dan melambaikan tangan pada Aron.
"Sama-sama." Ucap Aron kemudian pergi menjalankan mobilnya.
Richi masih berdiri di depan gerbang. Sudah hampir pukul 11 malam, hari ulang tahunnya akan berakhir dan kejutan itu seperti tidak ada rasanya.
Richi merasakan sesuatu. Dia membalikkan badan dan menyipit kearah dimana sebuah mobil hitam parkir tak jauh dari rumahnya.
Richi berjalan mendekat. Dengan jelas ia membaca plat nomor mobil yang ia sangat kenali. Tapi nampaknya, mobil itu kosong tak berpenghuni.
"Kemana dia?" Gumam Richi. Setelah merasa tak ada siapapun disana, Richi berniat kembali.
Dia membalikkan badan dan seketika tubuhnya menabrak tubuh besar yang ia sangat kenali harumnya.
Hugo berdiri menjulang di hadapannya, menatap gadis itu dengan napas yang berat. Jantungnya berpacu lebih cepat saat kini ia bisa melihat Richi dari jarak yang sangat dekat.
TBC
__ADS_1