
"Jaga dia. Jangan dekat dan jangan turunkan pistolmu karena dia berbahaya."
Titah laki-laki paruh baya itu mendapat anggukan dari anak buahnya yang berjumlah empat orang. Mereka masih mengangkat senjata pada Richi yang duduk diatas kursi sudut ruang.
Richi menatap tajam pada laki-laki yang entah bagaimana bisa ada di tempat ini. Tuan Henry Draw. Ayah kandung Harry yang seharusnya berada di dalam penjara, ternyata berkeliaran bebas di tempat ini. Nampaknya dia merencakan sesuatu saat tahu anaknya akan menikah disini. Apa rencananya? Richi akan mencari tahu itu.
"Aku akan keluar. Jaga dia, jangan sampai dia lepas. Jika dia bergerak, jangan ragu untuk menembak kepalanya." Ucap Tuan Draw. Dia menaikkan maskernya dan keluar dari ruangan itu.
Kelompok Stripe. Ternyata mereka mendukung ayah Harry. Bukan kepada Harry. Mereka benar-benar berkhianat padahal Harry sudah menyelamatkan mereka.
Di tempat lain, Hugo tengah sibuk mencari Richi. Upacara pernikahan akan dimulai tetapi gadis itu tidak kelihatan. Bahkan Shera bilang, Richi tidak ada datang menemuinya.
"Hei, kalian lihat Richi?" Tanya Hugo pada Daren dan yang lain. Mereka menggelengkan kepala.
Hugo mencari lagi, dia mulai merasa ada yang tidak beres karena Richi yang tiba-tiba menghilang entah kemana.
"Hugo, kau sudah bertemu Richi?" Tanya Clair.
"Belum. Aku ingin bertanya lewat earpiece tapi aku takut membuat semua orang khawatir." Jawabnya dengan raut yang panik.
"Tenanglah. Aku yakin Darrel akan baik-baik saja. Biar aku yang akan menanyakannya."
Clair menekan tombol di telinganya. "Ketua tim Fox, kau mendengarku?"
Di ruangan lain. Richi menggoyang-goyangkan kakinya. Dia tidak diikat sama sekali. Hanya saja mata dan senjata keempat orang itu terus mengarah padanya.
"Kalian tidak capek, ya?" Tanya Richi. Pasalnya mereka benar-benar terus mengarahkan senjata pada Richi. Mereka pula berdiri di dekat pintu sekitar lima meter dengan Richi. Nampaknya mereka benar-benar mendengarkan ucapan bos mereka.
Richi diam saat mendengar suara Clair di telinganya. Nampaknya orang-orang mulai sadar dengan ketidak hadirannya.
'Darrel, bisa temui aku di altar? Acara akan dimulai.'
Richi terbatuk, dia memegang dadanya sambil menunduk. "Aah, dadaku sesak karena batuk." Ucap Richi. Dia berhasil menekan tombol di telinganya, membuat para penjahat itu tidak mencurigainya.
"Jalankan sampai janji pernikahan selesai. Kau mengerti?" Richi menjawab Clair sambil menatap salah satu anggota Stripe, membuat lelaki itu mengerutkan dahi tanda tak mengerti.
'Apa ada sesuatu, Rel?' Tanya Clair dari seberang.
"Hei, apa aku bisa mengandalkanmu?" Richi menunjuk laki-laki lain sambil menjawab pertanyaan Clair.
"Apa maksudmu, nona?" Tanya lelaki itu sambil mengeratkan senjatanya.
'Tentu, kami akan melancarkan acara. Kau bertahanlah.' Ucap Clair yang paham situasi Richi.
'HEIII, KAU DIMANA??'
__ADS_1
Richi sampai bergidik mendengar suara kuat Ricky.
'APA TERJADI SESUATU? CEPAT KATAKAN!' Pekik Ricky dari sana.
"Apa aku harus katakan, kalau kalian juga harus berhati-hati pada Stripe?"
Keempat laki-laki itu saling pandang. Mereka adalah Stripe, apa yang perlu di hati-hatikan? Pikir mereka.
Di tempat lain, Ricky mengepalkan tangannya.
"Semua tim, perhatikan Stripe di dekat kalian. Ikuti jika mereka mulai menjauh dari tempat." Ucap Ricky melalui earpiece-nya.
Anggota Valiant yang mendengar itu saling pandang. Mereka mengerti dengan apa yang terjadi pada Darrel. Kini mereka pun siaga. Untung saja anggota Stripe memakai pakaian yang sama, tentu memudahkan mereka mengenali kelompok itu.
"Dia diculik, ya?" tanya Eline pada kembarannya.
"Aku rasa begitu. Kondisi mulai tidak tenang diantara anggota." Kata Eddy yang memperhatikan sekeliling. "Apa kita perlu mencarinya?"
"Jangan melakukan hal yang sia-sia. Dia bukan anak bawang." Jawab Erine sambil menggenggam wine di tangannya. Menurutnya sekelas Darrel tidak perlu dikhawatirkan karena akan membuang energi.
"Siapa yang diculik??" Tanya Camilla penasaran.
"Tidak ada." Sahut Eline dengan senyum lebarnya.
"Hugo, kau sudah dengar, kan? Darrel bilang, selesaikan sampai janji pernikahan." Bisik Bella pada Hugo. Lelaki itu hanya mengangguk walau dalam hatinya penuh kekacauan memikirkan Richi.
"Ricky, mana adikmu?" Tanya Marry. Dia menoleh kesana kemari mencari anak gadisnya.
"Dia sedang ada urusan, ibu. Ibu duduk saja dulu, ya." Ricky menggandeng ibunya dan menarik kursi untuk ibunya duduk.
"Urusan apa, sih?" Tanya Marry lagi.
"Ada. Nanti dia akan datang, kok. Tunggu sebentar." Ucapnya kemudian kembali ke tempat semula.
"Ricky."
Ricky menoleh. Kini giliran sang ayah yang menghampirinya.
"A-ayah.."
"Ayah tahu, pasti ada sesuatu yang terjadi. Ayah bisa menciumnya."
Ricky tertunduk. Dia tidak berani jika sudah menghadapi masalah serius pada sang Ayah.
Wiley menepuk punggung Ricky. "Kau ingat janjimu dulu, kan?"
__ADS_1
Ricky langsung mengangguk. "I-iya, Ayah."
"Bagus. Jangan sampai ada lecet sedikitpun. Kau mengerti, kan?"
Ricky mengangguk lagi. Dia menelan ludah. Saat ini dia juga tidak tahu Richi ada dimana. Aah. Dia langsung teringat dengan janjinya pada sang ayah.
Waktu itu, dia membawa Richi yang masih kecil ke pantai dan menggendongnya masuk ke dalam air. Richi yang percaya pada sang kakak, malah ditenggelamkan Ricky dengan alasan bercanda. Sampai gadis itu hampir terseret ombak. Untung Wiley cepat menangkap anaknya yang hampir kehabisan napas.
Tentu itu membuat Wiley marah besar pada Ricky. Disaat itulah Wiley memberinya beban untuk menjaga Richi, melatih dan menguatkan pertahanan Ricky supaya bisa menjaga adiknya dari bahaya apapun yang mendatangi Richi. Termasuk saat pelecehan itu terjadi, Ricky ikut menangis melihat adiknya yang sempat depresi.
Selama ini baik dia maupun Richi, selalu menyembunyikan apapun yang terjadi diantara mereka dari sang ayah dan ibu. Agar keduanya tidak mengkhawatirkan anak-anaknya.
"Darrel, katakan kau dimana. Aku akan menjemputmu."
Suara Ricky terdengar lagi di telinga Richi. Dia menoleh pada salah satu laki-laki yang menodongkan senjata padanya.
"Apa tuan Draw keluar dari penjara?" Tanya Richi.
"Tentu. Kau pikir sulit baginya melakukan yang seperti itu? Hahaha."
"Begitu, ya."
"Dia akan membalaskan dendamnya pada kalian semua. Termasuk keluargamu. Kalian sudah membuatnya jatuh miskin dan masuk penjara, kau pikir dia akan membiarkan kalian tertawa bebas?" Sambung yang lain dengan tawa yang menyala.
"Pertama yang akan dia habisi dengan tangannya sendiri adalah kau. Lalu setelah itu, kau mau tahu, siapa?" Lelaki itu tertawa sambil memegangi perutnya.
"Ibumu." Sambung yang lain sambil menunjuk wajah Richi yang memerah karena ibunya dibawa-bawa.
"Hei, ayahmukah Thomas Wiley? Jenderal keparat yang berani menerobos pertahanan keluarga Draw?" Tanya yang lain lagi.
"Bersiaplah. Selain kehilangan putrinya, dia juga akan kehilangan istri tercintanya.. hahahaha."
Semua anggota Valiant yang mendengar itu menegang di tempat. Mereka tidak sangka tuan Draw ternyata ada disekitar mereka.
Hugo masih mematung. Mencerna apa yang terjadi, apalagi disebelahnya, Clair dan yang lain ikut terdiam.
Ricky mengepalkan tangannya dengan geram. Wajahnya tampak memerah karena menahan amarah yang berkecamuk saat dua perempuan yang dia cintai ternyata akan menjadi korban balas dendam tuan Draw.
Ricky menatap ke arah meja sang ibu yang tertawa bersama teman bicaranya. Sementara di depan sang Ibu, Wiley menatap Ricky dengan dingin.
Tentu tatapan tak biasa sang ayah membuatnya gentar. Kalau saja Wiley tahu.. kalau saja ayahnya tahu.. Maka bukan cuma tuan Draw. Ayahnya akan membasmi habis semua kelompok Stripe dan siapapun yang terlibat dalam kebebasan Henry Draw tanpa pandang bulu. Andai saja dia tidak tahu siapa ayahnya. Tapi sial, Ricky menelan ludah saat ingat siapa sang ayah sebenarnya. Laki-laki hangat yang akan mengeluarkan taringnya jika ada yang berani menyenggol keluarganya, termasuk istrinya.
"Henry Draw.. Tamatlah riwayatmu.." Lirih Ricky dengan mata yang berkaca.
** Mari kita keluarkan taring ayah Richi yang selama ini hanya diam mengawasi.
__ADS_1