
"Kok, aku tidak tahu kalau Hugo berpacaran dengan Richi?" Tanya Axel sambil berjalan di lorong rumah sakit.
"Iya, setahuku mereka hanya pura-pura. Apa keterusan?" Sambung Isac bingung. "Kau sepertinya tahu, Daren?"
"Kalian saja yang tidak peka." Jawab Daren santai.
Daren melihat Olivia tengah mencuci tangan di westafel sendirian.
"Kalian duluan, aku ada urusan." Ucap Daren lalu pergi.
Dia berdiri tak jauh dari gadis itu, memperhatikan Olivia yang masih terus membasuh tangannya.
Setelah selesai, Olivia mengelap tangannya. Dia terkejut saat mendapati Daren berdiri menatapnya dengan kedua tangan yang dimasukkan dalam kantong celananya.
"Ada apa?" Tanya Olivia heran.
"Kau tidak pulang?"
Olivia mengerutkan alis, pertanyaan Daren seolah mereka sudah akrab.
"Ini juga mau pulang." Jawabnya santai.
"Aku ingin memberi sesuatu untuk Bibi."
"Berikan saja langsung, kenapa harus aku." Jawab Olivia dan Daren memasang wajah kesalnya.
"Kau mulai tidak sopan padaku."
"Kau bukan atasanku, bukan tuanku juga, tidak ada masalah, kan?" Olivia berlalu melewati Daren begitu saja.
Melihat itu, Daren tersenyum miring. "Berani juga kau." Gumamnya dan berlalu pergi
~
Hugo menarik selimut setelah berhati-hati membaringkan Richi di tempat tidur tanpa membangunkannya.
Sejenak dia menatap wajah gadis itu. Mengelus lembut dahinya. Entah kenapa perasaannya pada Richi begitu dalam. Padahal hubungan mereka baru seumur jagung. Tetapi seorang Richi juga semua kelebihan dalam dirinya membuat Hugo takluk dan lagi-lagi ia merasa sangat beruntung bisa bertemu gadis sepertinya.
"Sudah puas memandangnya?"
Hugo berdiri, dia tidak menyadari orang tua Richi sudah berdiri di belakangnya, begitu juga Ricky dengan wajah tak sukanya.
"Terima kasih, Hugo, sudah membuat Richi banyak tertawa hari ini." Ucap Marry pelan sambil mengelus lembut kepala putrinya.
Hugo mengangguk, dia sudah bersiap ingin pergi.
"Kau pasti sangat menyayangi Richi, ya. Sepertinya Richi juga begitu makanya dia tidak bisa berpikir jernih saat menolongmu."
Hugo tak menjawab, dia memberikan senyum tipis sebab diapun masih merasa tidak enak soal itu.
"Saya minta maaf soal itu, Bu."
Marry mengangguk-angguk. "Ibu paham, sejak menikah dengan Ayah Richi, Ibu sudah menyadari kalau hidup Ibu tidak akan sama seperti dulu. Itu sebabnya Richi dan Ricky dibentuk sejak mereka masih sangat kecil. Hal yang seperti ini bukan sesuatu yang mengejutkan. Yang penting sekarang, Richi bisa segera sembuh."
"Benar. Yang penting, jangan sampai apa yang putriku korbankan jadi sia-sia." Sambung Wiley seperti memberi lampu hijau.
Hugo melongo, apa dia tidak salah dengar?
"Sudah sana pulang!" Sambung Ricky yang langsung mendapat delikan tajam dari Ibunya.
"Kalau begitu, saya permisi, Bu." Hugo menundukkan kepalanya pada Wiley dan diapun pamit keluar ruangan.
"Wah, lihat cincin yang dipakai Richi." Marry cekikikan. Padahal anaknya tidak mau memakai perhiasan, tetapi cincin dari Hugo benar-benar dipakai.
"Oh? Apa Richi dilamar? Aah, anakku sudah besar. Jadi tidak sabar menimang cucu." Celoteh Marry tiba-tiba.
"Ibu! Bicara apa, sih." Sanggah Ricky yang tak senang mendengar ucapan Marry.
"Iya, sayang. Richi masih terlalu kecil. Dia baru kugendong-gendong kemarin, kenapa mau dinikahkan? Aku tidak setuju dia menikah cepat." Protes Wiley pada istrinya yang semakin terkikik melihat dua orang pria kesayangannya menentang ucapannya.
...🖤...
Harry berjalan lesu di lorong sekolah. Bagaimana bisa anak buah yang ia kerahkan tak satupun bisa menemukan Shera.
Kemarin, ponsel Shera aktif di salah satu supermarket besar di tengah kota. Saat dikejar kesana, tidak ada tanda-tanda kehadiran Shera dan ponselnya pun sudah off kembali. Hal itu sangat membuat Harry stress.
"Kau lihat tadi? Shera sepertinya tengah sakit."
Langkah Harry terhenti saat mendengar dua orang menyebut nama Shera melewatinya. Harry langsung mengejar dua orang itu.
"Permisi, apa melihat Shera?" Tanya Harry.
"Oh, dia di UKS. Sepertinya tengah sakit."
Harry langsung berlari ke arah UKS. Dia tidak sangka Shera masuk sekolah. Padahal dia sudah mengecek kelas Shera tetapi dia tidak hadir.
Harry langsung menerobos masuk ke dalam ruang UKS dan mendapati beberapa siswi di dalamnya.
"Apa ada Shera?" Tanya Harry dengan napas yang terengah.
"Dia baru keluar." Jawab seorang diantaranya.
Harry menoleh kiri dan kanan, dia mengejar ke arah yang dia rasa Shera ada disana, tetapi tidak ada. Harry berlari kesana kemari dan benar-benar tidak menemukan Shera. Apa benar dia datang?
Ponsel Harry bergetar.
"Bos, ponsel Nona Shera aktif di sekolah."
Mendengar itu, Harry langsung menelepon Shera. Ponselnya aktif, tetapi Shera tidak mengangkatnya.
"Shera, ayolah, jawab teleponku." Ucapnya sambil berlari, mencari Shera kesana kemari.
Shera menatap ponselnya. Harry meneleponnya berkali-kali dan dia enggan mengangkatnya.
"Sheraaa!"
Shera menunduk, dia mendengar suara Harry berteriak memanggil namanya. Kini Shera berada di gudang kecil bawah tangga, memegang dada kanannya yang sedikit denyut karena dia berlari sedari tadi.
Ponsel Shera bergetar lagi, dia mengangkatnya namun hanya diam.
__ADS_1
"Shera.. kau dimana? Aku mencarimu dari kemarin. Ayo, kita pulang. Aku akan membawamu bersamaku. Kau harus diobati. Kalau tidak, lukamu akan semakin parah."
Shera tak menyahut. Dia terus diam mendengarkan ocehan Harry.
"Shera, Ayolah. Berhenti bermain-main. Aku nyerah, aku kalah. Sekarang, beritahu aku dimana posisimu. Aku akan kesana."
Shera tidak juga menjawab walau dia mendengar suara Harry yang benar-benar khawatir.
"Shera, apa maumu, ha? Aku sudah cukup sabar menghadapimu."
Shera tersenyum miring, sabar katanya?
"Sheraaa, ayolaaah." Suara Harry terdengar frustrasi.
"Kau mau apa? Aku akan mengabulkannya."
"Pergilah, Harry. Aku sudah tidak ingin bersamamu."
"A-apa kau bilang??" Terdengar tawa frustrasi dari seberang. "Tidak ingin bersamaku? Shera, Ayolah. Lelucon apa ini? Kau yakin mengatakan itu padaku? Aku sangat mengenalmu, aku sangat tahu ambisimu terhadapku."
"Jangan mencariku. Aku tidak ingin melihatmu lagi, aku serius dengan perkataanku." Shera memutuskan sambungan telepon. Dia menonaktifkan ponselnya. Sepertinya Shera akan terus berada di gudang sampai semua orang pulang.
Di tempat lain, Harry menatap layar ponselnya dengan mata yang melebar. Dia tak percaya kata-kata itu keluar dari mulut Shera dan terdengar sangat meyakinkan. Tapi kenapa? Bukankah terkahir bertemu Shera masih baik-baik saja, bahkan Harry mengecup puncak kepalanya.
"Shera, sialan. Beraninya kau meninggalkanku. Beraninya kau.." geram Harry. Dia lalu memerintahkan semua anggotanya untuk mengawasi sekolah, dia yakin Shera pasti akan keluar dari tempatnya. Sekolah sangat luas, tidak akan bisa Harry menangkapnya sendiri. Dia membiarkan Shera yang keluar sendiri nantinya.
...🦋...
"Aku sudah boleh pulang nanti malam!" Seru Richi dengan wajah ceria.
"Kau mengancam dokter, ya?" Tanya Hugo tak percaya, sebab baru kemarin dia masih dilarang banyak bergerak.
"Dokternya sendiri yang tiba-tiba bilang begitu."
"Makan dulu ini." Hugo menyuapi Richi buah jeruk.
"Kau kenapa tidak latihan tinju?" Tanya Richi sambil mengunyah.
"Setiap malam aku latihan."
"Rajin sekali, memangnya untuk apa?"
"Ada pertandingan penting sebentar lagi."
Richi mengangguk, dia tidak bertanya lebih lanjut karena menurutnya tidak begitu penting.
"Sebentar, aku mau ke toilet." Ucapnya lalu beranjak.
Tak lama, ponsel Hugo di atas nakas berdering. Richi melihat nama di layar itu. Shera. Namun Richi tak mengangkatnya.
"Hugo, ponselmu berdering terus."
Hugo mengambil ponselnya. "Biasalah. Banyak pesan masuk dari para gadis." Katanya sambil melirik Richi. Namun gadis itu tidak peduli dan malah asyik memakan jeruk, membuatnya menggelengkan kepala atas sifat Richi yang masih saja cuek.
"Shera menelepon tadi. Ada apa?" Tanya Richi.
"Itukan ponselmu."
"Kenapa? Kau kan, pacarku." Jawabnya tanpa menoleh, dia asyik membaca komentar-komentar di laman Oberon.
"Ada apa sampai tersenyum begitu?"
Hugo menyerahkan ponselnya, memperlihatkan apa yang ia posting disana.
Mata Richi terbelalak. "Kapan kau mengambil gambar ini?" Tanya Richi.
Hugo hanya tertawa. "Sini baca komentarnya." Hugo duduk di tepi ranjang bersebelahan dengan Richi.
Dua hari lalu Hugo menambahkan foto tangannya yang menggenggam tangan Richi yang diinfus. 'Cepat sembuh🤍' tulisnya disana. Sontak gambar itu banjir komentar.
'Haah? Siapa itu Hugo?'
'Waah, Hugo pacarmu sakit?'
'Aku juga sedang diinfus, apa Hugo datang diam-diam?'
'Wait, Hugo, sejak kapan kau memposting pacarmu? Biasanya tidak pernah.'
'Ayo Hugo, tunjukkan wajahnya!'
'Apa itu Richi? Sepertinya Richi juga tidak hadir beberapa hari karena sakit.'
Hugo tersenyum-senyum membaca komentaranya.
"Ada juga yang menebakmu, ya? Hahaa."
Richi tak merespon, dirinya tengah tersenyum melihat foto yang Hugo unggah. Tangannya yang disematkan di jari-jari Hugo yang besar, terlihat sangat manis.
"Kau juga harus mengunggah sesuatu di lamanmu. Masa tidak ada isinya." Protes Hugo.
"Mau diisi apa memangnya. Tidak menarik."
"Fotoku."
Richi mencebik. "Aku saja tidak pernah unggah fotoku, kenapa harus fotomu."
"Kalau begitu, unggah foto kita berdua. Bagaimana?" Usul Hugo dan Richi menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak pernah begitu, masa tiba-tiba."
Hugo diam, wajahnya tiba-tiba susah ditebak.
"Ya sudah." Katanya dan langsung pindah posisi, duduk di kursi sebelah ranjang.
"Nanti pasti akan aku unggah, kok."
"Aku akan unggah juga nanti malam. Kau lihat saja, ya!" Tukas Hugo. "Kalau tidak mau upload foto, ganti saja nickname-mu jadi Richi Erhard."
"Hah?" Richi melongo. "Kau minta dihajar Ayahku nampaknya."
__ADS_1
"Ayahmu kan, tidak ada di laman sekolah."
"Tapi kalau aku ubah jadi Richi Erhard sekarang, kesannya aku ini seperti istri Ayahmu, David Erhard."
"APAA!!"
Richi tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Hugo. Wajahnya terlihat kesal.
"Baiklah, aku akan ubah sedikit profilku." Richi meraih ponselnya lalu mengetik-ngetik disana.
"Sudah."
Hugo langsung melihat ponselnya, membuka laman Richi.
"Sudah, kan?" Tanya Richi yang melihat Hugo tersenyum.
"Iya, tapi kenapa E.H? Seharusnya H.E."
"Sudah, jangan protes."
"Iya iya.." Ucapnya sambil terus menatap layar ponselnya. Richi menulis inisial namanya di bagian bio yang biasanya dikosongkan oleh Richi.
Biasanya orang-orang akan menulis hobi atau apapun sebagai info penting bagi mereka. Tapi Richi menulis inisialnya disana, itu saja sudah membuatnya sangat senang.
...🦢...
Harry tersenyum senang saat memasuki lift, karena dia mendapat informasi bahwa Shera sudah di penthouse-nya sekarang. Anak buahnya berhasil membawa Shera pulang ke tempat tinggalnya.
Pintu lift terbuka, Harry tersenyum cerah mendapati Shera ada di atas ranjangnya.
"Shera, aku merindukanmu."
Harry duduk di tepi ranjang. Dia melihat mata Shera yang memerah karena menangis.
Tangan dan kaki Shera diikat, mulutnya yang dilakban itu ikut mengalirkan air mata hingga ke dagunya.
Harry diam sejenak, mata mereka bertemu tetapi Harry merasa berbeda. Sorot mata Shera tidak seperti dulu saat menatapnya. Melihat itu, Harry sedikit merasa bahwa apa yang Shera ucapkan siang tadi sebuah keseriusan.
Dia membuka lakbannya, tetapi Shera diam saja. Dia tidak bersuara dan malah menatap dingin ke arah Harry.
"Shera.." Harry mengelus pipi Shera tetapi gadis itu menepisnya, dia membuang wajahnya, membuat Harry mengepalkan tangan.
Harry mengangkat ke atas kedua tangan Shera yang terikat, lalu mencium bibir Shera dengan rakus.
Harry berhenti saat ia melihat air mata Shera mengalir di pipinya.
"Ada apa??" Sentak Harry dan membuat Shera memejamkan matanya yang berair.
"Bukankah kau bilang menyukaiku sampai mati?? Aku menciummu tanpa kau minta, seharusnya kau senang!" Pekik Harry yang tak terima dengan tangisan Shera atas ciumannya. Seolah ia terpaksa menerima ciuman itu.
"JAWAB SHERA!!"
Shera tak menjawab, dia memejamkan mata dan membiarkan air mata mengalir di pipinya.
"Kau ingat saat pertama kali kau menawarkan tubuhmu padaku??"
Shera, setahun yang lalu meminta Harry untuk datang ke apartemennya. Segala macam bujukan ia keluarkan supaya laki-laki itu mau datang, sampai akhirnya Harry menyetujuinya.
Lelaki itu datang saat Shera sudah siap-siap dengan parfum sensual dan baju yang minim. Dia ingin menggoda Harry supaya lelaki itu luluh terhadapnya.
Sesampainya di dalam, Harry merasakan tujuan Shera. Parfum yang berbeda, juga pakaian yang dikenakan gadis itu, memperlihatkan bagian dadanya.
Shera mendekatinya, lalu mencium pipi Harry dengan lembut.
"Malam ini kau tidur denganku, kan?" Ucapnya dengan nada yang manja.
"Tidak bisa, aku masih banyak pekerjaan." Jawab Harry dingin.
"Kalau begitu, tidurlah sebentar disini, bersamaku."
Harry menatap Shera. Gadis itu tengah memohon dengan matanya.
Harry menarik kancing Shera lalu menutupnya ke atas, "Simpan baik-baik untuk kekasihmu." Bisiknya di telinga Shera, membuat bibir gadis itu mengerucut.
"Tapi aku hanya ingin dirimu, Harry. Kau tahu itu, kan?"
Harry mengecup kening Shera. "Aku sibuk, jangan hubungi untuk hal yang tidak penting!" Ucapnya lalu keluar dari kamar Shera, membuat gadis itu kesal setengah mati.
Shera beberapa kali gagal mengajak Harry tidur bersamanya, sampai akhirnya Harry terjebak saat ia setengah mabuk dan Shera terus mencium dan membuka baju Harry di atas tempat tidurnya. Begitulah sampai Harry akhirnya melakukan itu karena tergoda akan Shera.
Shera yang selalu mengajak Harry tidur bersamanya, tanpa Harry minta.
"Kau ingat itu???" Teriak Harry lagi dan Shera hanya terus menangis tanpa suara.
Harry duduk di tepi ranjang, menghapus air mata Shera yang mengalir.
"Maafkan aku. Malam ini dan seterusnya, aku akan ada untukmu. Aku janji, aku akan meluangkan waktuku bersamamu. Tapi untuk sekarang, kau harus tetap kuikat supaya kau tidak kabur." Ucapnya lalu mengecup kening Shera.
Harry memencet tombol untuk membuka tirai lebar yang menutup tembok kaca di seluruh ruangannya. Kini terlihat jelas seluruh gedung dari atas tempat tinggalnya.
Dia menuang segelas anggur, lalu menatap ke luar.
"Lihat Shera, sebentar lagi akan ada pertunjukan." Ucapnya sambil meminum anggur, lalu melirik jam di tangannya.
"Ah, satu menit lagi."
Harry memutar anggur merah di dalam gelas sambil terus menatap ke luar kaca.
"5, 4 ,3 ,2 ,1, BUMMM!! HAHAHA"
Harry tertawa lebar melihat satu gedung besar di ujung meledak hebat.
"Shera, lihat itu, hahaha." Dia tertawa terbahak-bahak.
"Satu lagi.. BUUMM!" Pekiknya saat satu gedung lagi meledak hingga beberapa gedung disana roboh.
Shera menatap diam, sebab dia sudah hapal dengan tabiat Harry. Lelaki itu terus saja tertawa seolah menyaksikan pertunjukan yang sangat menggelitik di perutnya.
TBC
__ADS_1