Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
The best Thing Ever


__ADS_3

Hujan mereda. tetesan air di dedaunan yang jatuh kebawah tertampung ke dalam payung yang sejak tadi tergeletak pasrah.


Tak jauh dari itu, Richi dan Hugo tengah duduk saling berdiam diri, meresapi apa yang baru saja terjadi diantara mereka.


Hugo menunduk dengan kedua tangannya yang saling bertautan. Dia terlihat malu dan menyesal.


"Maaf.." Lirihnya tanpa melihat Richi yang sudah ikut kebasahan karenanya.


Richi tidak menjawab, dia menggigit bibirnya yang memerah. Dia juga mengutuk diri yang ikut terhanyut dengan ciuman Hugo padanya.


"Maaf sudah lancang menciummu.. aku kira.. itu.. khayalan.." Ucapnya dengan terbata-bata.


Richi tidak menjawab, otaknya tengah berpikir apa maksud Hugo yang mengatakan kalau dia mengkhayal dirinya dan menciumnya? Apakah dia...


Hugo memberanikan diri melihat Richi disampingnya.


"Chi.."


"Hm.." Richi menoleh ke arah Hugo yang terlihat tampan dengan rambutnya yang basah.


"Aku... jatuh cinta padamu.."


DEG!


Richi beku ditempatnya, tanpa aba-aba Hugo mengatakan itu tepat di depan wajahnya. Deguban jantungnya amat kencang hingga jari-jemarinya ikut bergetar mendengar kalimat yang keluar dari mulut Hugo.


Hugo menunduk lagi, "Aku tidak bisa menahan diri, perasaanku tidak pernah tenang karena ini. Aku sampai tidak bisa tidur dengan baik dan gelisah. Dan aku menyadari, ini bukan sekedar perasaan suka. Lebih dari itu." Aku Hugo pada Richi dengan nada yang sangat lembut dan hati-hati.


Richi tak bergeming, darahnya kembali berdesir di sekujur tubuhnya. Dia bahkan tidak berkedip melihat wajah Hugo di sampingnya.


"A-aku.."


"Aku tahu kau berpacaran dengan Emerald." Ucapnya lalu tersenyum getir.


"Aku juga tahu kau membenciku sampai-sampai kau memotong rambutmu. Aku.. hanya mengucapkan ini supaya hatiku terasa lebih tenang." Hugo mengangkat kepalanya dan mendapati Richi yang tengah menatapnya lekat-lekat, dia membalas tatapan Richi dengan sendu karena sadar, perasaannya tidak terbalaskan.


"Aku tidak bisa fokus dengan baik, pikiranku selalu tertuju padamu." Hugo menunduk lagi. "Aku sangat-sangat menyukaimu sampai seperti itu.."


Hugo mengambil napas, mencoba mengatur getaran jantungnya yang tidak bisa ia tahan sembari menunggu, Richi tak juga bersuara.


"Maaf sudah membuatmu kerepotan. Aku berharap kau tidak lagi membenciku". Ucapnya dengan raut wajah yang muram.


Hugo berdiri, dia menoleh lagi pada Richi yang hanya diam saja sejak tadi. "Jika kau merasa ucapanku adalah beban, anggaplah itu hanya halusinasiku. Lupakanlah, anggap saja angin lalu.."


Richi meraih tangan Hugo yang hendak pergi, dia menggenggam jari-jari itu dengan memberanikan diri sebab Hugo pun sudah memberanikan dirinya.


"Kau tidak mau mendengarkanku dulu?"


Hugo terhenti, memandang tangan dingin yang menggenggam erat jari-jarinya.


"Aku.. merasakan perasaan yang sama denganmu."

__ADS_1


"A-Apa.."


Richi mendongak, melihat Hugo yang berdiri di depannya. "Dengar, Aku tidak berpacaran dengan Emerald. Dia memang menembakku tapi aku tidak menerimanya karena perasaanku bukan untuknya, jadi..." Hugo menarik lengan Richi hingga gadis itu berdiri dan ia memeluknya. Hugo tertawa lebar mengadahkan wajahnya ke atas langit.


"Haha, syukurlah.. aku sangat senang mendengarnya." ungkapnya sambil mengeratkan Richi dalam dekapannya.


"Hugo" Richi melepaskan pelukannya. "Aku belum menerimamu.."


"Apa? Kenapa?"


"Aku tidak bisa berpacaran dengan laki-laki yang punya banyak gadis simpanan." Wajah Richi berubah kesal.


"Gadis simpanan?"


"Kau bahkan mencuri ciuman pertamaku!"


"Hei, itu juga ciuman pertamaku!" Tukas Hugo.


"Yang benar saja.." Ucap Richi dengan nada mengejek.


"Aku tidak pernah mencium gadis-gadis itu! Justru merekalah yang menci.."


Richi mengangkat kedua alisnya. "Oh, Begitu ya."


Hugo tertunduk lesu. Dia menyadari kesalahannya yang selalu gonta-ganti pasangan.


"Jadi, kau tidak mau menjadi kekasihku?"


"Tentu saja tidak, kau bahkan sangat berpengalaman dalam ciuman. Itu membuatku curiga."


"Apa!" Bentak Richi karena Hugo membuatnya sangat malu.


"Jelas sekali, kau bahkan menutup matamu". Ledek Hugo lagi.


Richi menatap Hugo dengan geram, diledek seperti itu amat memalukan dirinya. "Pokoknya aku tidak mau pacaran denganmu!" Pekiknya lagi.


Hugo malah tersenyum bahagia dan menarik Richi dalam pelukannya lagi. "Aku tidak peduli, kau milikku sekarang. Ah.. Rasanya seluruh bebanku runtuh seketika." Ucapnya sambil meletakkan pipinya di puncak kepala gadis itu.


"Aku sudah sangat menderita, jangan buat aku tersiksa lagi, hmm." Ucapnya lalu mengecup lembut puncak kepala Richi.


Richi tersenyum cerah di pelukan Hugo, dia tidak sangka malam ini adalah malam pengakuan cinta dari keduanya.


"Hugo, lepas." Tukasnya saat Hugo menahan tubuh Richi yang bergerak.


"Tunggu, sebentar lagi.." gumamnya sambil terus mempererat lingkaran tangannya di pundak Richi.


"Lepas, Hugo. Sebaiknya kita pulang. Nanti kau bisa sakit dengan bajumu yang basah ini." Ucap Richi mencari alasan supaya Hugo melepas pelukannya.


Tetapi, Hugo tidak juga melepasnya.


"Oh ya, Hugo, jangan bilang pada siapapun tentang ini.."

__ADS_1


Hugo dengan cepat melepas pelukannya. "Apa! Kenapa?"


"Nanti aku ceritakan padamu. Intinya, jangan beritahu siapapun dan bersikaplah seperti biasa. Oke?"


Hugo mengangguk lambat. "Baiklaaah.. tapi aku penasaran dengan sesuatu."


Richi menaikkan alisnya, "apa?"


"Sejak kapan kau menyukaiku? Sudah berapa lama? Apa kau duluan yang suka padaku? Atau jangan-jangan sejak kelas satu?"


Mendengar itu, Richi tersenyum sinis. "Aku suka padamu dari kelas satu?? Aku tidak peduli padamu sejak awal melihat wajahmu berkeliaran di sekolah. Aku bahkan sangat mem-ben-ci-mu." Ucap Richi penuh dengan penekanan dan membuat wajah Hugo kembali murung.


"Padahal aku menyukaimu sejak lama." Gumamnya.


"Oh ya? Sejak kapan?" Tanya Richi antusias.


"Sejak pertama kali kau bertanding basket denganku. Harum rambutmu terus menyiksa hidungku. Bahkan saat berdansa denganmu malam itu, aku tidak bisa mencium bau lain selain parfummu itu!"


Richi membulatkan matanya. "Jadi, kau tahu itu aku?"


"Tentu saja, bukankah sangat jelas? Apalagi harum rambutmu yang.. aarhh". Hugo mengerang karena Richi meninju perutnya. "A-apa yang..."


"Sialan, kau pura-pura tidak kenal, ya!" Berangnya saat mengingat sesaknya dia ketika Hugo tidak mengenalnya dan menganggapnya orang lain.


"A-aku begitu, su-supaya kau mau berdansa denganku!" Lirihnya sembari sebelah tangannya memegang perutnya dan sebelah lagi memegang tangan Richi. "Sa-sakit,, Chi.."


"Kau ini, benar-benar menyiksaku. Kau tidak tahu betapa aku... ah sudahlah!" Dia duduk lagi dan Hugo disebelahnya.


"Maafkan aku, ya. Aku banyak membuatmu menderita." Hugo meraih tangan Richi dan menggenggamnya. "Jangan abaikan aku seperti kemarin, itu sangat menyiksaku.." Gumamnya pelan, mengelus lembut tangan gadis itu.


"Tergantung bagaimana sikapmu padaku".


"Siap! Aku akan menjadi laki-laki yang baik, tidak memperdulikan perempuan lain selain kekasihku, Richi. Aku juga akan menjaga hatiku dengan baik supaya Richi tetap terjaga disana!" Tegasnya ala militer dan berhasil membuat Richi tertawa lepas.


"Baiklah, aku mau pulang dulu". Richi beranjak, mengambil payungnya yang sudah dipenuhi air.


Dia terkesiap saat Hugo meletakkan jeketnya yang basah di pundak Richi.


"Maaf sudah membuatmu kedinginan. Aku akan mengantarmu pulang."


Richi tersenyum cerah dengan perlakuan manis Hugo. "Kau tidak kedinginan?" Tanyanya karena kini Hugo hanya memakai kaos putih tipis di tubuhnya.


Hugo menggelengkan kepala. "Sama sekali tidak."


"Kau tidak perlu antar, aku akan naik taksi. Kau juga pulanglah." Ucap Richi lalu melambaikan tangan menuju pinggir jalan dan langsung mendapatkan taksinya.


Hugo melompat kegirangan saat itu juga, dia terus menyunggingkan senyum. Dan berlari menuju rumahnya karena kini beban berat yang menimpanya benar-benar telah lenyap.


Richi pula terus tersenyum di dalam taksi. Dia tidak bisa menahan tawanya dengan semua hal yang baru saja terjadi.


Dia menggenggam erat jeket merah Hugo, menciumi sisa bau harum parfum yang biasa Hugo pakai.

__ADS_1


"The best thing ever..." bisiknya tanpa berhenti tersenyum.


TBC


__ADS_2