
"Ha Ha Ha. Kau mau apa, Nona cantik?"
"Apa kau mau menjadi kekasihku? Ha Ha Ha".
Richi melangkah kedepan. Membelakangi Axel yang sudah tidak mampu berdiri.
Richi berdiri tegak. Tangan kanannya mengepal. Matanya memandang orang-orang itu secara bergantian.
Satu diantaranya maju mendekati Richi. "Minta dicium sepertinya gadis in..."
BUP!!
Lelaki itu terhempas dengan darah yang mengalir dari mulutnya.
"Aaaaaahhhh.. sialan! Gigikuuu".
Satu pukulan tepat di bibirnya sengaja Richi layangkan, pasti sudah cukup membuatnya tidak akan mau berhadapan dengannya lagi.
Axel yang menopang tubuhnya dengan tangan ternganga melihat siapa di depannya.
"Serang perempuan sialan itu! jangan kasih ampun!!" Murkanya pada Richi terlihat dari wajahnya yang sangat marah. Dia menutupi mulutnya yang terus mengalirkan darah.
"Sialan! Berani sekali! kau cuma perempuan. Berani-beraninya..."
BRAK!
Satu lagi tubuh terhempas mengenai susunan kayu dibelakangnya. Tendangan Yeop Chagi tepat di ulu hatinya. Mulutnya terbuka tanpa suara menahan sakit yang luar biasa di perutnya.
Yang lain saling pandang. Rasa ingin mundur karena takut masih kalah dengan gengsi mereka jika lari dari perempuan.
Wajah perempuan ini sudah berubah bengis.
Tiga orang maju bersamaan. Dengan sigap kaki Richi memutar mengenai wajah satu diantaranya. Dia melanjutkannya dengan menghantam wajah dan perut orang-orang itu hingga semuanya berhasil ia tumbangkan.
"Lumayan. Sudah lama tidak berantam hehe". Candanya kepada lawan yang sudah meringis menahan sakit.
Richi membalikkan badan menghadap Axel yang terkejut-kejut melihat pemandangan di depannya.
Saat Richi lengah, seseorang dari mereka bangkit memegang sebilah kayu besar.
"Richi, Awas!!"
Teriakan Axel membuat gadis itu segera berbalik.
"BUK!"
Lelaki itu terjerembap jauh karena tendangan yang amat sangat kuat. Dia berguling kesakitan sambil memegang pinggang kanannya yang di tendang dengan keras.
Richi melihat ke arah siapa yang menendang lelaki itu dari samping.
"Hu..Hugo". Axel bersusah payah berdiri. Seragamnya mulai terkena noda darah.
Hugo menatap wajah Richi dengan ekspresi datarnya. Namun, Richi bisa melihat goresan amarah dalam diri yang sengaja ditahannya.
☀️☀️☀️☀️
Hugo keluar. Dia ingin menjemput Axel yang izin ke toilet tetapi tak muncul-muncul. Dia lalu menyusul, namun tak menemukan Axel disana.
__ADS_1
"Tadi dia pergi bersama lima orang ke arah sana".
Mendengar itu, Hugo mempercepat langkahnya menuju tempat yang di tunjuk anak tadi.
""Aaaaaahhhh.. sialan! Gigikuuu"
Hugo mendengar teriakan seseorang dari belakang. Dia berlari dan menemukan Richi berdiri di sana dengan tangan yang terkepal berat. Dibelakangnya, Axel sudah berlumuran darah.
Entah mengapa, kaki Hugo terpaku. Dia menyaksikan gadis itu menghajar laki-laki disana dengan raut wajah yang seperti menyimpan dendam lama.
Lagi, seseorang terhantam kayu dibelakangnya dengan cukup keras. Gadis itu lalu dengan mudahnya menyerang tanpa mendapat serangan balik.
Hugo memperhatikan gadis itu dengan seksama. Jurus yang ia keluarkan dan cara dia memukul, benar-benar seperti terlatih bertahun-tahun lamanya.
Mata Hugo membulat saat melihat satu diantara mereka mulai berdiri dan meraih sebilah kayu dibelakangnya.
Hugo berlari karena tahu apa yang akan laki-laki itu lakukan.
"Richi, Awas!!" Suara Axel memekik, membuat Richi membalikkan badan dengan kuda-kuda.
BUK!
Hugo langsung menendang dengan keras perut samping lelaki itu hingga terjerembap jauh.
Sesaat, mata mereka bertemu. Dia memandang Richi. Gadis itu benar-benar membuatnya penasaran. Tenaga yang dia keluarkan sangat besar hingga mampu mengalahkan hanya dengan satu kali hantaman saja.
🐡🐡🐡🐡
Hugo, Axel, dan Richi duduk tertunduk di ruang penyidik siswa. Seorang penyidik kesiswaan berjalan kesana kemari. Dia mencoba meresapi masalah yang terjadi. Melibatkan 5 siswa Apollo yang terkapar dan tak berdaya.
Dia duduk di hadapan mereka bertiga. "Bagaimana caramu menanggung jawabi masalah ini, Tuan Axel?" Tanyanya pada Axel yang sudah di obati wajahnya dan berbalut perban di dagunya.
"Saya minta maaf, pak."
"Hah. Yang benar saja. ini bahkan belum satu hari acara. Tapi sudah ada masalah besar". Keluhnya sambil menyilangkan kakinya.
Jacob memandang gadis yang duduk di tengah. "Kalau kau, Nona Richi Darrel? Bagaimana kalau Ayahmu tahu soal ini?"
Richi diam. Dia tahu konsekuensinya. Entah apa lagi yang akan Ayahnya larang untuk dia lakukan.
Axel mengingat ucapan Richi saat dia maju untuk menghajar anak-anak itu.
"Hei, Axel. Kalau terjadi sesuatu pada mereka, kau yang harus bicara pada orang tuaku, ya."
"Pak, masalah Richi, biarkan saya juga yang bertanggung jawab." Ucapnya kemudian yang mendapat lirikan dari Hugo.
"Kenapa begitu?" Jacob menurunkan kacamatanya.
"Karena dia membantu saya." Ucap Axel sambil menahan perih di wajahnya.
"Bagaimana jika orang tua mereka akan menuntut?" Tanya Jacob dengan pandangan dinginnya.
"Saya juga akan ikut bertanggung jawab, pak". Hugo bersuara sejak dari tadi terdiam.
Jacob menghembuskan napasnya. "Sebenarnya, dengan mengatas namakan Ayah seseorang saja, kalian sudah cukup aman".Ujarnya lalu melirik sekilas ke wajah Richi.
Richi menghela napasnya karena mengerti maksud Jacob. Untungnya tidak ada yang menyadari siapa yang dimaksud Jacob.
__ADS_1
"Tapi ya, semua itu tergantung kalian". Lanjutnya lalu berdiri menuju meja kerjanya.
"Tidak perlu, pak. Saya akan bertanggung jawab penuh soal ini". Kata Hugo dengan wajah tegasnya. Dia tidak menyukai penyidik ini. Seperti lepas tangan dan hanya mengandalkan sebuah nama.
Tok tok..
Pintu terbuka. Kepala sekolah masuk ke dalam ruangan. Dia duduk di sofa.
"Masalahnya sudah selesai. Jadi, tidak perlu kalian pusingkan lagi." Ucap pria paruh baya itu, Harisson.
"Benarkah, pak? Siapa yang membereskannya?" Tanya Jacob penasaran.
"Video CCTV salinan sudah dikirim ke Apollo dan orang tua siswa-siswa itu. Karena mengakui kesalahan, mereka meminta maaf dan tidak akan memperpanjang masalah." Ucapnya dengan tenang.
Setelah selesai menyampaikan urusannya, Kepala sekolah keluar dari sana. Tak lama, mereka bertiga juga keluar dari ruangan Mr. Jacob.
"Terima kasih, Richi. Aku berhutang budi padamu". Kata Axel saat dia baru saja menutup pintu.
Richi menyandang ranselnya. "Tidak perlu berhutang budi, aku cukup merasa puas sudah mengeluarkan amarahku melalui mereka."
"Baiklah. Aku duluan. Karena harus melapor pada Ayahku." Ucap Axel lalu pergi meninggalkan dua orang itu.
Melihat Axel yang menjauh, Hugo melirik gadis disebelahnya.
"Jadi kau sudah berlatih berapa lama?"
Richi mendongak melihat Hugo. Dia lalu berjalan pelan, di ikuti Hugo disebelahnya.
"Sekitar 14 tahun". Jawabnya enteng.
"14 tahun? Kau belajar dari bayi?" Tanya Hugo yang terkaget dengan lamanya waktu Richi mengikuti bela diri.
"Anggap saja begitu." Ucapnya sambil melihat sepatunya melangkah.
"Kau berlatih dari usia tiga tahun?" Tanya Hugo lagi tak percaya.
Richi mengangguk. Hugo bahkan tak bisa mengira, sekuat apa perempuan ini. Pantas saja, sejak awal taruhan basket, gerakan gadis ini sangat cepat dan bentuk tubuhnya juga sangat bagus.
"Kau mengikuti Bela diri apa?"
"Taekwondo".
"Lalu kau, apa sudah pernah belajar tinju?" Katanya mengingat teknik yang dia ajarkan dengan mudah gadis itu lakukan.
"Belum pernah.Aku hanya ikut Muay Thai selama 5 tahun".
Hugo melirik gadis disebelahnya. Benar-benar diluar dugaan. Selama ini dia memandang remeh gadis yang dianggapnya hanya bisa berbasket saja. Lalu sekarang, dia bahkan merasa perempuan ini hebat.
"Apa lagi?"
"Apa?" Tanya Richi balik. "Kau sedang mewawancaraiku?"
Hugo terdiam. Rasa penasarannya pada gadis ini sungguh meningkat. Dia ingin tahu lagi dengan kehidupannya. Kenapa dia sampai mengikuti bela diri dari usia 3 tahun. Lalu, siapa Ayahnya? Bukankah dia hanya pembantu di rumah itu?
To be Continued...
Dukung Author dengan cara Like setiap Episode ya. Terima Kasih🤗
__ADS_1