
"Bagaimana, kak?" Tanya Richi saat dia sudah menceritakan detail kejadian yang ia alami tadi pada Ricky.
"Tapi yang namanya Darrel itukan banyak, bukan cuma kau." Jawab Ricky santai sambil mengangkat barbel di tangannya.
"Lalu bagaimana kalau memang mereka menyamar menjadi aku? Bukankah belakangan namaku jadi jelek?"
"Tapi mereka tidak membuat kerusakan di kota ini. Mana mungkin kita ikut campur dalam urusan kota lain?" Terang Ricky lagi.
"Walau mereka menggunakan namamu??"
Ricky menyeringai. Dia menatap puas tubuhnya yang mengkilap karena keringat melalui cermin di depannya.
"Kaaakk!!" Richi menghalangi pandangan kakaknya dan berdiri di depan lelaki itu.
"Akhh. Minggir!"
"Ini soal keselamatan anak-anak itu!" Pekiknya tanpa mau bergeser.
Ricky dengan terpaksa meletakkan barbelnya, lalu menatap lurus pada adiknya yang entah sejak kapan mulai begitu mengurusi kegiatan orang lain.
"Biar kuberitahu, ya. Dimuka bumi ini, disudut manapun, kau akan selalu menemukan ketidak adilan, kejahatan, penindasan, dan lainnya. Dan kau tidak bisa menghabiskan waktumu hanya untuk membasmi mereka, karena mereka akan terus tumbuh dimanapun dan kapanpun. Get it? Sekarang, minggir." Ricky menggeser tubuh adiknya yang dengan terpaksa menyingkir.
"Anak-anak itu akan menjadi korban, kak. Hidup mereka akan terus ditindas! Masa kau tidak kasihan?"
"Kasihan, tapi aku berharap ada orang yang membasmi kejahatan di kota sana, ya. Lalu soal si kembar itu, Jo dan Simon sudah selidiki. Dan tidak ada apa-apa."
Richi menatap sebal ke arah kakaknya. Walau sebenarnya apa yang dikatakan Ricky benar, tapi tetap saja dia tidak merasa puas.
"Hah. Ya sudah. Aku akan lakukan ini sendiri!" Tukasnya dengan kesal, kemudian pergi begitu saja.
Richi mendadak badmood. Ricky yang tak mau berurusan dengan penjahat kota Ventwon membuatnya mau tak mau harus melakukannya sendirian sampai ia tahu bahwa Darrel yang dimaksud Willy bukanlah orang yang menyamar sebagai dirinya.
"Morning, Baby."
Hugo turun dari mobil. Dia melihat Richi sudah berdiri menunggunya di depan pintu rumah.
"Kenapa? Kok cemberut gitu?"
"Ricky tidak mau menyelidiki Blackhole karena bukan daerah kekuasannya. Aku kesal."
Hugo merapikan anak rambut yang ada di kening Richi. "Sebenarnya apa yang dibilang Ricky itu benar. Kecuali Blackhole ada disini, pasti akan diusut tuntas."
Richi melepas tangan Hugo dari wajahnya. Lelaki itu malah setuju dengan kakaknya.
"Sudahlah. Kalian sama saja." Gerutunya kesal, lalu berjalan menuju mobil Hugo.
Langkahnya terhenti saat menyadari sesuatu yang berbeda.
"Kau naik mobil ini?"
Richi menunjuk Maybach hitam di depannya. Mobil itu berbeda dengan yang kemarin dibawa Hugo.
"Kenapa? Kau takut mobilmu itu terkena keringatku lagi?"
"Hei, bukan seperti itu. Astaga." Hugo langsung membukakan pintu untuk Richi. Dia tahu suasana hati perempuan itu sedang tidak baik.
Richi masuk dengan kesal. Begitu juga Hugo. Lelaki itu masuk tapi tidak langsung menjalankan mobilnya. Dia menatap Richi, yang tidak memasang seatbelt.
"Mau kubantu?" Tawar Hugo. Jika sudah seperti ini, dia tahu kemauan gadis itu sangat besar.
"Tidak. Aku bisa melakukannya sendiri." Jawab Richi tanpa menoleh.
Hugo mendekat. Dia meraih seatbelt Richi dan memasangkannya.
"Menjauhlah, Hugo." Tukas Richi saat Hugo masih diposisi yang sama. Wajahnya hanya berjarak 5cm dari wajah Hugo.
__ADS_1
"Aku akan bantu. Apa yang ingin kau lakukan? Akan kukerjakan dengan cepat."
"Benarkah?" Mata Richi membulat senang.
"Hm. Aku akan bantu apapun yang membuatmu senang." Hugo mengecup pelipis Richi lalu kembali kebelakang kemudi. Memasang seatbeltnya dan menjalankan mobil.
"Terima kasih." Ucapnya dengan riang. Kini wajah Richi berubah ceria. Hugo sampai tertawa kecil. Semudah itu membuat Richi berubah kembali.
Sebuah majalah masih berplastik putih diatas dashboard menarik perhatiannya.
"Majalah baru?" Richi mengambilnya.
"Iya. Aku ingin memberimu tadi. Itu majalah untuk keluaran bulan depan, jadi jangan disebar."
Richi membuka majalah itu. Dihalaman pertama sudah menampilkan wajah Hugo sebagai brand ambassador sebuah merek fashion terkenal.
SREK!
"Hei-hei, kenapa dikoyak??" Hugo sampai tidak fokus dengan jalan saat Richi mengoyak lembar paling depan.
"Aku cuma mau mengambil fotomu saja." Jawabnya, kemudian membentangkan kertas itu disebelah wajah Hugo.
"Kenapa?"
"Hmm.." Richi mengamati wajah Hugo yang di poster, juga wajah asli yang tengah menyetir itu.
"Kenapa wajahmu berbeda. Yang asli dan yang di foto ini..."
"Yaa, aku tahu kemana arah pembicaraanmu ini." Keluh Hugo, yang tahu Richi selalu mengatakan kalau foto Hugo di majalah itu lebih tampan dari Hugo yang asli.
"Tapi.." Kali ini Richi lebih mendekatkan poster dengan wajah Hugo. "Lebih tampan aslinya dari pada yang difoto. Kenapa, ya? Apa karena aku makin sayang?"
Hugo merasa banyak bentuk hati merah jambu beterbangan disekitarnya. Apa tadi kata Richi? lebih tampan yang asli? Dan dia makin sayang?
Hugo bahkan tak bisa menahan senyumannya.
"Mau mati, ya!" Tolak perempuan itu dengan tegas.
~
"Disini?" Hugo menghentikan mobil tepat dimana kekasihnya memintanya berhenti.
"Iya. Aku tidak ingin terlalu kelihatan." Richi membuka seatbelt. "Kau selesai jam berapa?"
"Sebenarnya aku masuk siang."
"Hah. Kenapa tidak bilang?"
"Aku ingin mengantarmu. Sana masuk, nanti terlambat."
"Oke." Richi langsung keluar dan nenutup pintu. Hugo mendesah. Memang perempuan itu tidak peka.
Richi berjalan melewati bamper depan Hugo. Dia berdiri sebentar disana, melihat-lihat ke arah Hugo yang di dalam, kemudian melanjutkan langkahnya.
"Ssstt." Hugo membuka kaca, jarinya bergerak meminta Richi untuk datang.
Gadis itu kembali lagi, membungkuk untuk melihat Hugo dari jendela.
"Ada apa?"
"Kau melupakan sesuatu." Hugo sengaja tak bilang apa-apa, melatih kepekaan gadis itu.
"Hm. Yaya." Richi memasukkan kepalanya melalui jendela mobil dan mengecup pipi Hugo. Tetapi laki-laki itu malah menarik tengkuknya dan mencium bibir Richi cukup lama, sampai Richi mendorong Hugo.
"Hehe. Lain kali biasakan dirimu, ya." Tukas lelaki itu sambil tersenyum senang.
__ADS_1
"Hai, Richi." Sapa seorang laki-laki.
"Tutup kacamu, Hugo." Richi langsung pergi. "Hai." Sapanya balik pada tiga orang laki-laki.
"Pacarmu?"
"Ah, bukan."
Hugo mendelik. Apa katanya? Bukan? Apa-apaan itu?? Hugo terus memperhatikan Richi yang sangat akrab bercerita dan bercanda bersama laki-laki lain, sampai akhirnya ia pergi meninggalkan fakultas itu.
Disela candaannya bersama yang lain, Richi melihat seorang yang ia kenali. Erine. Apa yang dia lakukan di jurusan olahraga? Gadis itu duduk di bangku halaman, tengah mengganti sepatunya dan memakai heels?
Richi mengerutkan dahi. Sejak kapan Erine memakai Heels? Richipun memperhatikan gadis itu. Erine mulai berjalan. Dia tampak tak nyaman namun memaksa tetap berjalan.
"Hei, ayo!"
Richi tersadar dan langsung mengikuti teman-temannya.
~
Richi tengah mengambil barang-barangnya di dalam loker. Tak jauh darinya, Sarah dan Joy tengah asyik mengobrol dan tentu saja suara mereka terdengar oleh Richi.
"Kau lihat kan, dia bahkan sampai berubah seperti itu." Ucap Joy pada Sarah.
"Beruntung sekali. Kalau aku jadi dia, akupun akan totalitas dalam segala hal."
"Ya, seperti itulah Erine. Untung dia tidak mendengarkanku untuk masuk kesini. Kalau tidak, dia pasti menyesal seumur hidupnya."
Telinga Richi langsung naik saat nama Erine disebut. Ya, dia tadi memang melihat gadis itu.
"Itu sebabnya dia mengincar foto edisi terbatas Hugo darimu, sampai rela pagi-pagi datang kesini." Sambung Joy lagi.
"Hahaha, aku tidak sangka ada yang lebih gila dari aku soal Hugo. Tapi, yah, Kalau dia bisa mendapatkan Hugo Erhard, bukankah itu luar biasa? Aku benar-benar iri."
BRAK! Richi menutup pintu loker dengan keras sampai kedua perempuan itu terkesiap dan langsung terdiam.
Richi merogoh ponselnya dan menelepon seseorang.
"Kau punya foto edisi terbatas?"
Tanya Richi pada orang diseberang sana, membuat Joy dan Sarah saling toleh.
'Ya, saat foto ulang tahunku bulan lalu.'
"Kau tidak beritahu aku?"
'Beritahu apanya, semua foto sudah pernah kuberi, tidak ada yang terbatas untukmu. Semua bisa kau dapatkan bahkan hatiku. Iya, kan?' Kau saja yang tidak peduli." Jawab Hugo dari seberang. 'Ada apa? Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?'
"Tidak apa-apa. Ya sudahlah kalau begitu."
Richi menutup ponselnya. Lalu dia mulai sadar, ternyata Erine benar-benar menyukai Hugo sampai seperti itu.
"Wah, wah. Ada fan Hugo juga disini." Celoteh Joy memulai bertengkaran.
"Beruntung Erine, dia satu kelas dengan Hugo Erhard. Ah, kalau aku jadi dia, aku pasti berusaha mendapatkan hatinya." Sambung Sarah memanas-manasi.
Richi memutar bola mata, membuka lagi lokernya dan menunjukkan majalah yang baru ia dapat dari Hugo.
"Majalah TheMost keluaran bulan depan. Kau punya?" Pamer Richi pada dua orang yang matanya membulat menatap cover yang menampilkan otot perut Hugo dengan kemeja yang tak terkancing.
"Dari reaksimu sepertinya tidak punya. Ambillah!" Richi melemparkan itu pada mereka. Keduanya langsung mengambil dan membuka halaman bagian poster, namun sudah terkoyak.
"Ah, sorry. Sudah aku ambil." Richi menunjukkan foto Hugo dari halaman yang ia koyak, lalu berjalan dengan anggun meninggalkan kedua orang itu dengan rahang terbuka.
TBC
__ADS_1
**Support aku dengan cara like n komen ya, pen😆