Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Perlengkapan Bayi


__ADS_3

Hugo turun dari mobil terburu-buru, lalu ia berlari masuk kedalam rumahnya yang sudah dibukakan oleh palayan. Dia menuju ke taman belakang, dimana Richi tadi mengiriminya foto tengah makan di rumahnya bersama David, sang ayah.


Hugo terhenti saat melihat Richi berbicara sambil tersenyum cerah pada ayahnya. Mereka duduk berseberangan dengan banyak hidangan diatas meja.


"Siapa yang mengundangmu hadir, hah?" Ucap David saat melihat anaknya sendiri sudah berdiri tak jauh darinya.


Hugo berjalan dengan tatapan yang tak lepas dari kekasihnya. Antara ingin marah karena tak memberitahu soal makan malam atau memuji kecantikannya malam ini.


"Siapa yang mengizinkanmu bertemu orang tua ini?" Tanya Hugo pada Richi, yang hanya merengut mendengar ucapan kekasihnya.


"Hei, hei, jaga bicaramu. Kau tidak punya hak mengatur Richi. Pergi saja sana!"


"Dia milikku. Apapun yang dia lakukan, aku harus tahu dan dengan persetujuanku."


"Milikmu apanya. Richi belum tentu mau menikah denganmu. Ayah tetap ingin Richi mendapatkan yang terbaik walau jodohnya bukan denganmu."


"Jodohnya aku. Kalau kami menikah, aku takkan mengundang ayah." Cebik Hugo pada sang ayah.


"Richi yang mengundangku." Jawab David tak ingin kalah dari anaknya.


"Hugoo.." Richi menarik tangan Hugo untuk duduk di dekatnya. Lelaki itu menurut, lalu menatapnya dengan tajam.


"Kenapa kau tidak bilang kalau makan malam disini?" Tanya Hugo pada Richi.


"Aku pikir kau di rumah."


"Aku di rumah Axel, sayang." Jawabnya kemudian menoleh pada sang ayah. "Lain kali, ayah harus melalui aku untuk bertemu Richi."


"Kenapa harus kau? Aku izin pada ayahnya langsung." Ketus David, dan berhasil membuat Hugo bungkam.


"Ayo makan, Hugo." Richi membalikkan piring yang ada di depan Hugo, mengajaknya untuk makan bersama.


"Hugo itu memang begitu. Keras tak menentu. Untunglah ada yang mau dengannya dan bertahan cukup lama. Semoga Richi tidak bosan, ya. Yah.. walau bosan pun saya sangat memakluminya."


Hugo melirik tajam pada David yang tampak santai mengunyah makanannya.


Richi menggenggam tangan Hugo, membuat panas hati lelaki itu melebur seperti terkena es.


"Hugo luar biasa. Ichi sangat mencintainya."


Hugo tersenyum lebar saat Richi selalu membelanya. David pun tersenyum bangga mendengar jawaban Richi.


Setelah makan malam selesai dan perdebatan ayah-anak itu juga ikut berakhir. Hugo merangkul Richi menuju mobil untuk mengantarnya pulang.


"Sampaikan salam Ayah pada Jenderal Wiley ya, calon menantuku."


"Apa? Ayah?" Hugo tampak tak terima. "Sejak kapan Richi memanggil ayah dengan sebutan ayah? Lalu, bukannya kemarin sudah kubilang, ayah tak berhak memanggilnya begitu kalau aku berhasil menikahi Richi."


"Sejak tadi. Kami semakin akrab sebelum kau datang merusak suasana. Lagi pula ayah bilang calon menantu bukan berarti dia harus menikah denganmu." Ketus David. Lalu tersenyum lagi pada Richi.


"Hati-hati di jalan, ya. Kalau Hugo macam-macam padamu, segera lapor pada ayah."

__ADS_1


"Iya, Ayah. Terima kasih sudah mengundang Ichi makan malam."


"Sering-sering mampir, oke?"


Richi mengangguk, lalu masuk kedalam mobil yang sudah dibukakan Hugo pintunya.


"Hei, bawa pelan-pelan. Jangan sampai calon menantuku kenapa-napa!" Ucap David pada anaknya yang hanya menggelengkan kepala lalu masuk kedalam mobil.


Mobil pun berjalan. Hugo menautkan jari-jari Richi ke jarinya, lalu sebelah tangannya fokus menyetir.


"Terima kasih sudah datang menemani orang tua itu makan malam."


"Hugo.."


"Akus serius, sayang."


"Ayahmu itu baik sekali. Hanya.. dia tidak pandai mengungkapkannya. Tapi dia memberimu segalanya. Dia membebaskanmu dalam memilih, dia tidak menekanmu. Dia juga sangat setia pada ibumu."


Jawaban Richi menyadarkan Hugo. Selama ini dia enggan memikirkan hal semacam itu terkait ayahnya. Tapi dia tak mengelak apa yang dikatakan kekasihnya itu.


"Ayahmu itu suami idaman. Dia juga setia. Aku yakin, dia pasti menahan perasaan rindunya pada ibumu." Tambah Richi lagi.


"Kau tahu, Hugo. Ibu bilang, ayahmu mengagumkan. Dia sampai menurunkan gengsinya supaya bisa berpacaran dengan ayahmu. Katanya, ayahmu orang yang baik dan lucu."


"Tapi.. kenapa mereka putus?" Tanya Hugo penasaran.


"Supaya kita bersatu. Kalau mereka menikah, kau dan aku jadi kakak adik."


Hugo tergelak mendengar jawaban lucu Richi. Biasanya gadis itu tidak begitu pandai bergurau.


"Apaa?!" Richi terbelalak. "Kapan Shera hamil??"


Hugo terlihat bingung. "Apa aku belum bilang padamu, ya? Atau aku lupa."


"Aah.. Hugoo.."


"Maaf, sayang. Aku lupa. Atau mungkin waktu itu kita sedang bertengkar. Pokoknya besok pagi aku jemput, ya. Karena rumah mereka agak jauh."


Richi mengangguk-angguk. "Berarti kita harus membeli hadiah dulu."


🦋


Richi berjalan di lorong baby store bersama Hugo yang mengikutinya dari belakang. Perlahan gadis itu melangkah dengan mata yang menatapi satu persatu barang-barang bayi yang begitu lucu di matanya.


Richi memegang sebuah sepatu bayi dengan boneka bola kecil di atasnya. Matanya sampai berbinar melihat itu.


"Beli yang itu?" Kata Hugo.


"Anaknya laki-laki?"


"Iya."

__ADS_1


Richi tersenyum, lalu memasukkan sepasang sepatu bayi ke dalam stroller yang di dorong Hugo.


"Permisi, selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?" Seorang pramuniaga datang menghampiri Richi dan Hugo yang tampak bingung.


"Oh, kami ingin membeli peralatan bayi." Jawab Hugo cepat. Merasa bersyukur ada yang mau membantu.


"Wah, calon ibu dan ayah muda."


"Iya. Hehehe." Hugo mendadak mendekati Richi, merangkulnya, dan memegang perut rata gadis itu.


Richi mendelik kesal. "Apa sih, Hugo."


"Selamat ya, tuan dan nona. Semoga ibu dan bayi sehat-sehat sampai lahiran." Doa pelayan itu.


"Terima kasih, ya."


"Sama-sama, tuan. Lalu, untuk persiapan bayi, lorong ini sudah benar. Ada selimut, baju-baju tidur, juga kaus kaki." Jelas pramuniaga itu dengan ramah.


"Baik, terima kasih. Nanti kalau kami memerlukan bantuan, kami akan panggil lagi." Ujar Richi pada pramuniaga, secara tak langsung menyuruhnya untuk pergi.


Hugo terkekeh senang dengan kejadian barusan. Dianggap suami istri oleh orang lain, Hugo sangat senang.


"Huh, kau ini.." Keluh Richi manahan napas karena Hugo yang terus memegangi perutnya sejak tadi.


"Lucu juga, ya. Apa kita beli sekarang saja persiapan anak kita??" Mendadak Hugo melihAt dengan serius kearah baju-baju bayi.


"Sudah, jangan banyak mengkhayal."


Richi meletakkan selimut bergambar dinosaurus, kaus kaki, dan baju-baju mungil yang ia sukai hingga tanpa sadar stroller yang didorong Hugo dengan perlahan penuh.


"Kau yakin membeli ini semua?"


Richi menoleh kebelakang, dia sendiri tampak terkejut melihat isi stroller yang tak ia sadari itu.


"Aku rasa Harry sudah memiliki ini semua." Ujar Hugo.


"Aku tidak tahu mau memberi apa. Ini kali pertama aku mengunjungi bayi."


"Hah, ya sudahlah. Tidak apa, bawakan saja semua ini. Kurasa Shera pasti senang."


Richi mengangguk-angguk. "Ayo, ke kasir. Kau yang bayar, ya."


Hugo menggelengkan kepala heran walau sejak awal Richi memang selalu berterus terang.


"Iya, iya. Aku ini kan, memang ATM berjalanmu." Sahut Hugo pada Richi. "Lagi pula, memangnya kau pernah mengeluarkan dompet saat bersamaku?"


"Aku memang tidak mau mengeluarkannya. Dan pun, tabunganku hampir habis terkuras karena membeli majalahmu. Jadi aku akan menghemat."


Hugo membuka mulur, hendak menyahut. Tapi Richi kembali berbicara.


"Tapi tidak apalah. Toh, sudah diganti rumah kesayangan. Hehehe." Gadis itu cengengesan, membuat Hugo gemas melihat rambut panjangnya yang bergoyang dari belakang.

__ADS_1


TBC


**Guys maaf lama, ya. Oleng kapten banyakan gadang dgn tugas.**


__ADS_2