
Richi sampai di puncak tangga itu, pemandangan yang ia belum sempat lihat karena napas yang terengah-engah.
"Haha kau kalah, Keong!" Tukas Hugo pada Richi yang memegang perutnya.
Gadis itu duduk di bangku panjang dan menyandarkan punggungnya. "Kau licik" ucapnya di tengah sesaknya.
"Kau duluan yang bermain licik". Jawab Hugo melipat tangan di dada. Bahunya sedikit naik turun karena naik tangga tadi.
Richi melihat sekeliling dan tekjub dengan pemandangannya. "Wah, indah sekali". Ucapnya melihat sekeliling yang penuh bunga-bunga dan meja yang tertata rapi.
"Sepertinya ini restauran" Hugo melangkah menuju tembok pembatas. Pemandangan dengan lampu-lampu yang berwarna warni membuatnya sangat indah.
Richi ikut berdiri di sebelahnya, menikmati angin yang bertiup ke wajah mereka.
"Kau mau ku fotokan disini?"
Richi menggeleng tanpa membuka mata, menikmati angin malam.
"Kau pernah kemari dengan Emerald, ya?"
"kau tahu dari mana?"
"Bukannya sangat jelas itu kau, Emerald mempostingnya".
Richi mengangguk lambat. Benar, dia sudah melihat apa yang dimuat Emerald di berandanya.
"Tapi tidak sampai sini. Karena aku letih waktu itu". Sambungnya lagi. Dia mengingat, dirinya sempat berdo'a supaya Hugo sembuh dan do'a itu benar-benar terkabul.
Richi mengeluarkan ponselnya yang bergetar, dan membaca pesan yang masuk.
"Kau tulis namaku apa di ponselmu?"
Richi menunjukkan nama yang ia tulis untuk Hugo.
"Apa!" Hugo terbelalak membaca namanya menjadi 'Si Gila' di ponsel Richi. "Kau dengan bebas menulis namamu di ponselku, tapi asal-asal menulis namaku disitu. Berikan ponselmu!"
Richi menyembunyikan ponselnya di balik tubuhnya. "No!"
"Cepat berikan!" Hugo berusaha merebut paksa, dia merapatkan tubuhnya lalu mengambil ponsel dibelakang Richi.
"Enggak." Richi terus memindah-mindahkan ponselnya dari tangan kiri ke kanan untuk mengecoh Hugo.
"Berikan! Aku tidak terima". Hugo terus mengambil ponsel Richi. Gadis itu menjauhkan ponsel ke belakang badannya, Hugo dengan cepat mengulurkan tangannya mengikuti tangan Richi hingga membuat wajah Richi menyentuh dadanya.
Richi menahan napas, wangi Hugo begitu harum padahal tentu saja mereka baru mandi keringat.
Hugo seperti menyadari sesuatu saat ternyata Richi berada tepat dibawah dagunya.
Richi mundur beberapa langkah, dia memalingkan wajahnya yang memerah dan dia terlihat gugup.
Begitu juga Hugo, dadanya berdetak kencang karena hampir saja dia memeluk gadis itu. Sudah sangat rapat, padahal tangannya tinggal melingkar di tubuh Richi supaya gadis itu benar-benar dalam dekapannya. "Sial!" Bisik Hugo.
"Permisi, apa mau pesan sesuatu?" Seorang pelayan mendatangi mereka dan menawarkan menu.
Richi dan Hugo langsung duduk di dekat tembok pembatas walau masih merasa canggung.
"Pesan ini." Richi menunjuk satu makanan.
"Samakan saja". Sambung Hugo tanpa tahu apa yang Richi pesan.
"Baik, mohon ditunggu". Pelayan itu berlalu, meninggalkan dua orang yang terlihat malu-malu.
__ADS_1
Hugo mengeluarkan ponselnya supaya tidak begitu canggung, dia mengetik sesuatu lalu menunjukkannya pada Richi.
Mata Richi membulat, Hugo mengubah namanya menjadi Keong.
"Haha, lucu juga". Richi tertawa dengan ekpresi datar di wajahnya.
Tak lama, pesanan mereka datang.
Richi mengambil sendok dan menyuapkan kuah hidangannya. "Wah, ini segar sekali" ucapnya dengan senang karena selain tempat yang indah, makanannya juga enak.
Sementara Hugo, menatap makanan yang ada di depannya. "Apa ini?"
"Itu Bouillabaisse".
Hugo menganga. Dia tidak bisa mengulang kata yang diucapkan Richi.
"Apa?"
"Bouillabaisse, makanan Prancis". Richi lalu menyantap makanannya dengan lahap.
Hugo mengaduk makannya dengan aneh.
"Kenapa? Enak tahu. Kalau kau tidak mau, berikan padaku."
"Aku lapar." Ucap Hugo lalu mulai menyendokkan kuah ke mulutnya.
Richi tergelak melihat wajah Hugo yang terlihat bingung.
"Rasanya aneh". Ucapnya sambil mengecap beberapa kali membuat Richi semakin terkekeh.
"Coba lagi, ku jamin kau pasti suka".
Hugo menyuapkan lagi ke mulutnya sampai beberapa kali, tanpa disadari Bouillabaisse di mangkoknya habis.
"Karena aku lapar. Lagipula semua makanan yang kau pesan memang aneh". Katanya dan langsung berdiri.
"Aku akan membayar, kau disini saja."
"Biar aku bayar sendiri". Richi ikut berdiri. "Makanan ini mahal, tahu".
Hugo mengerutkan alisnya. "Kau menganggapku gelandangan?" Timpalnya lalu pergi meninggalkan Richi dan masuk ke dalam restauran.
"Richi, kau disini?"
Richi melihat ke sumber suara, dan itu adalah Jils, perempuan yang berlatih tinju ditempat yang sama dengannya.
"Ya, kau juga?" Kata Richi asal, karena dia tidak begitu dekat dengan gadis itu.
Dari jauh Hugo berjalan, "Memang benar mahal, Makanan apa itu sampai delapan juta perporsi?" Gerutunya sambil menatap bill di tangannya.
"Oh, kau bersama Hugo ternyata".
Hugo memicingkan matanya, dia melihat Richi tengah mengobrol dengan seorang perempuan.
"Halo, Hugo. Kau terlihat sehat sampai sudah lama tidak latihan, ternyata kau sedang sibuk bucin dengan Richi". Sapa Jils dengan sedikit sindiran.
"Bucin?" Kata yang ia pernah lontarkan untuk pasangan kekasih lebay di sekolahnya.
"Haha, baiklah, maaf sudah mengganggu. Aku pergi dulu" Jils melambaikan tangan dan masuk ke dalam restauran.
"Kenapa kau tegang?" Tanya Hugo pada Richi yang hanya diam menatap punggung Jils. "Seperti orang yang kepergok mencuri".
__ADS_1
Richi menyesalkan pertemuannya pada Jils barusan, karena perasaannya mengatakan, akan ada hal yang tidak enak akan terjadi nanti.
"Ayo." Hugo berjalan menuju tangga turun, diikuti Richi dari belakang.
"Permisi tuan, nona.."
Seorang pelayan menghampiri mereka.
"Kami baru saja meresmikan penginapan kami, ini brosurnya."
Hugo menerima brosur dan melihat-lihatnya.
"Khusus malam ini, kami akan adakan diskon 50% jika tuan dan kekasih tuan ingin menginap di hotel kami."
Richi mengerutkan dahi melirik Hugo yang menahan tawa.
"Kami juga akan memberikan tambahan menu spesial kami apabila tuan dan pacar tuan akan mengi.."
"Stop!" Richi memghentikan ucapan pelayan itu dengan kode angka 5 jarinya.
"Kami tidak berminat, permisi." Richi membalikkan badan bersiap menuruni anak tangga.
"Kami juga ada lift di dalam, Nona, jika anda merasa lelah menuruni tangga."
"Apa?"
"Ada di dalam restauran, Nona". Ucap pelayan dengan ramah, kemudian membungkuk dan berlalu pergi.
"Kau menipuku, ya" celetuk Hugo.
"Apanya! Aku juga baru tahu!" Richi mengutuk Emerald dalam hatinya dan berjalan membuntut pada Hugo masuk.ke dalam restoran.
Di dalam, ia melihat Jils tengah mengobrol mesra dengan seorang laki-laki.
Hugo terlihat cuek, bahkan tidak perduli pada tatapan Jils pada mereka.
"Hugo, siapa pacar Jils?" Tanya Richi saat pintu lift sudah tertutup.
"Mana aku tahu". Jawabnya dengan cuek.
Richi berpikir lagi, lelaki itu, dia seperti mengenalnya.
Lift berhenti, seorang laki-laki tengah menunduk memandang ponsel di tangannya. Menyadari pintu yang sudah terbuka, dia mendongak dan terkejut melihat siapa sosok di depannya.
"Kau!" Richi melototkan matanya saat sadar siapa yang berdiri dihadapannya.
Laki-laki itu balik kanan dan mengambil langkah seribu, namun dengan cepat gadis itu langsung mengejarnya.
"Hei, Richi." Hugo reflek ikut mengejar Richi yang berlari kencang sampai dirinya tak sadar memasuki daerah tanah yang penuh tanaman liar yang tinggi.
"Sial, bersembunyi dimana dia!" Gumamnya dengan kesal.
Hugo berhenti di belakangnya, ikut mencari orang yang dikejar Richi.
"Hei, siapa yang kau kejar?" Tanya Hugo dengan napas tersengal.
Richi berbalik arah sebab nampaknya orang itu lolos lagi.
"Dia Lexus. Adik Saver." Jawabnya sambil berjalan cepat.
"Apa?" Hugo tergemap, adik tuan Saver? Bukankah yang Richi sebut tuan Saver adalah Lexus yang menghajarnya tempo dulu?
__ADS_1
To be Continued....