
"Thank you." Richi tersenyum manis pada Hugo yang membukakan pintu untuknya. Lelaki itu pula membalas senyum kekasihnya sampai menunjukkan sebelah taringnya.
Di dalam, sudah ada Olivia yang duduk bersebelahan dengan Daren. Gadis itu bermanja ria di bahu Daren, tak lupa lelaki yang biasa tak banyak senyum itu malah tersenyum terus melihat kelakukan pacarnya.
Richi duduk di depan keduanya. Pandangannya bergantian antara Olivia dan Daren yang tak merasa ada orang lain di depan mereka.
Tok.tok.. Hugo mengetuk meja, membuat Daren melirik sekilas, kemudian beralih lagi kearah Olivia sambil mengobrol kecil.
"Mereka sudah gila." Ujar Hugo terus terang, membuat Richi terkikik.
"Hei, Daren. Aku punya pertanyaan serius untukmu."
Lelaki itu beralih ke Richi. "Aku memang menunggumu. Ada apa tiba-tiba memintaku datang? Apa Hugo buat masalah?"
"Kami tidak pernah ada masalah, camkan itu!" Tukas Hugo sambil menunjuk wajah Daren.
"Masa sih, bukannya kau dekat dengan yang namanya Erine-Erine itu?"
"Apa?"
Olivia spontan merapatkan bibir, kakinya dibawah meja menyenggol Daren yang entah kenapa malah mengatakan itu.
"Hei, dengar, ya. Aku tidak pernah mendekati perempuan lain. Yang ada di hatiku dari dulu, sekarang, bahkan sampai aku mati hanyalah Richi!!" Tekannya pada kedua orang di depan yang manggut-manggut saja.
"Kau mengatakannya dengan sangat jelas, Hugo. Semua melihat kearahmu." Kata Daren, melirik pengunjung sekitar yang memang melihat kearah mereka. Sementara Richi menutup wajahnya dengan tangan karena merasa malu.
"Biar mereka dengar sekalian." Sahutnya. Dia melirik Richi disebelahnya yang masih menutup wajah.
"Dia sampai malu hahahha." Olivia terkekeh melihat Richi.
"Kau malu?" Tanya Hugo.
"Tidak." Jawabnya cepat kemudian membuka wajah, dan tersenyum cerah. "Bisa kita mulai, Daren. Aku benar-benar sangat butuh bantuanmu."
Daren lurus menghadap Richi. "Katakan."
"Kau pernah dengar soal Blackhole?"
"Pernah. Olivia baru menceritakannya beberapa hari lalu."
Richi sampai menghela napas.
"Lama-lama kau semakin bodoh ya, Daren." Celetuk Hugo.
"Aku dengar dari salah satu sumber, kalau Blackhole ada dibawah pengawasan keluarga kerajaan."
"Hah?" Olivia sampai melongo.
"Dia Benny Fernandez. Dekan Olahraga tempatku kuliah. Bisa kau cari tahu hubungannya dengan keluargamu?"
"Kau mencurigai keluarga Daren?" Tanya Clair yang ternyata berdiri dibelakang Richi.
Gadis itu menatap Daren dan dengan tegas menjawab, "Iya."
Olivia bahkan tak berani berbicara. Dia merapatkan bibirnya apalagi melihat Daren dengan keterkejutannya.
__ADS_1
"Aku tahu ini terdengar terlalu membela tapi, aku yakin ini tidak ada hubungannya dengan keluargaku."
Ucapan Daren tak membuat Richi memutuskan kontak mata, sampai akhirnya Daren menghela napas lalu mengangguk.
"Baiklah. Aku akan coba cari tahu."
"Terima kasih kerjasamanya, Daren." Kini Richi beralih pada Clair yang ada dibelakangnya. "Katakan pada Simon untuk puasa malam ini, Fox harus ikut aku." Clair memutar bola mata karena harus membatalkan janji dengan Simon.
"Hah, kemana?" Tanya Bella yang sejak tadi duduk disudut sambil bermain game di ponselnya.
"Misi baru unlocked. Mari susun strategi." Tukas Richi kemudian berjalan menuju ruang rahasia.
...🍇...
Eline tampak bersedih. Dia dengan hati-hati membersihkan luka-luka di wajah Virgo.
"Kenapa kau ceroboh sekali, sih.. hiks.." Dia menangis, merasa tak tega dengan apa yang terjadi.
"Coba saja ada aku disana." Tukas gadis itu lagi.
"Ya, benar. Coba kau dan Erine ada disana. Aku yakin dia akan mati. Aarkh.." Virgo memegang bibirnya karena tak bisa berbicara terlalu membuka mulut.
"Kita ke rumah sakit saja, ya."
"Tidak perlu. Obati saja aku."
Eline pun menurut. "Tapi, kenapa kau bisa seperti ini?" Tanyanya penasaran.
"Ceritanya panjang." Virgo mengelak lantaran perempuan itu adalah yang ia jadikan sebagai pacar. Mana mungkin ia bercerita. "Lalu, aku harus bagaimana, ya."
"Kenapa? Ada masalah lagi?"
"Kurasa dia ingin bergabung." Ujar Eline.
"Entahlah. Aku tidak tahu. Tapi, kenapa dia sampai menghajarku seperti ini."
Eline mulai tenang sambil terus membersihkan noda darah diseluruh wajah Virgo.
"Kau.. kenapa tidak gabung saja ke Blackhole. Aku akan menjaminmu."
Eline sampai menghentikan aktivitasnya.
"Aku ingin sekali kau bergabung supaya aku semakin kuat."
"Aku tidak bisa. Ayahku akan marah jika ketahuan." Jawabnya sembari mengambil kapas baru dan membersihkan luka di tangan Virgo.
"Makanya, jangan sampai ayahmu tahu. Aku butuh orang kuat sepertimu dan Erine." Ujarnya, namun Eline hanya diam.
"Virgo."
"Hm."
"Apa.. kau masih menggunakan nama Darrel?" Tanya Eline tiba-tiba.
"Kenapa kau bertanya begitu. Aku hanya iseng supaya orang-orang takut padaku." Jawabnya sembari meringis saat merasakan perih.
__ADS_1
"Jangan lakukan itu lagi."
"Kenapa?"
"Aku melihat Darrel berkeliaran disekitar sini."
Virgo sampai menarik tangannya yang tengah dibersihkan lukanya oleh Eline.
"Kau mengenal Darrel?"
Eline menghela napas, dia kembali menarik tangan Virgo dan membersihkannya lagi.
"Jadi, kau mengenalnya?" Virgo agak tegang sebab Richi dan Eline ternyata saling mengenal. "Dia laki-laki atau perempuan??" Tanya Virgo penasaran. Pasalnya dia belum begitu yakin kalau Richi adalah Darrel dari Valiant.
"Aku mengenalnya. Dia perempuan dan kuliah disini bersama pacarnya. Pacarnya juga sangat hebat. Jadi jangan sampai kau memancing amarahnya."
Diperingati seperti itu, Virgo hanya diam. Dia sudah salah langkah, bahkan Eline terlambat menasehatinya. Coba saja gadis itu mengingatinya seminggu yang lalu, mungkin Virgo akan berpikir panjang. Apalagi yang menghabisinya memang Darrel.
"A-aku tidak pernah melakukannya lagi." Jawabnya berbohong.
Sebenarnya, dari dulu sudah pernah Eline ingatkan, tapi karena Darrel dan Virgo di kota berbeda, Eline tidak begitu ambil pusing. Hanya saja sekarang jelas berbeda.
"Sayang, aku.. sebenarnya butuh bantuanmu."
"Apa?"
"Nanti malam.. dia akan datang. Apa yang harus aku lakukan?"
Virgo punya ide untuk mempertemukan Eline dengan Richi, sebab tadi kekasihnya bilang dia mengenal gadis itu. Tapi bagaimana caranya supaya Eline meminta Richi untuk berhenti mengganggunya? Mana mungkin Eline mau menghajar orang yang dia kenal.
"Temui saja. Kurasa dia takkan melukaimu kalau kau tak memulai duluan. Dia hanya butuh akses untuk masuk."
Virgo menggenggam tangan Eline, "Kau ikut aku, ya. Bantu aku."
"Tidak bisa. Aku tidak pernah mau ikut campur urusanmu dan kelompokmu."
"Ayolah. Satu kali ini saja. Aku janji, aku akan menjadi lebih baik dan-"
"Ini sudah janjimu yang ke 1000, V." Jawab Eline ringan sembari melanjutkan mengobati lengan Virgo.
Lelaki itu sampai menghela napas kesal. Tapi tidak bisa melakukan apa-apa, karena dia memang masih sangat membutuhkan gadis itu.
...🦋...
Richi berdiri di dekat lapangan basket kampus. Dia menunggu sendirian dengan cahaya seadanya dari lampu lapangan.
Dari jauh, Richi melihat tiga orang mendekat kearahnya. Yang Richi tandai hanyalah Virgo.
"Aku tidak bisa membawamu masuk." Virgo langsung pada intinya.
"Kenapa?"
"Karena kau..." Virgo mundur beberapa langkah, lalu dua orang disebelahnya langsung maju sambil mengerahkan senjata api kearah Richi.
"Kau akan mati malam ini." Ucapnya dengan tawa jahat, sementara Richi hanya menghela napas karena nampaknya, lelaki itu belum juga mengampun.
__ADS_1
TBC
**Guys Sorry lama. Gw lagi fokus d Syahdu. Yook Like biar aku semangat dan up lagi.**